
Setelah memulihkan diri beberapa hari, Nada akhirnya masuk kembali ke sekolah. Ia memutuskan untuk resign dari pekerjaan part time nya di restoran milik Arkan.
Sekarang ia hanya akan fokus untuk menemani Mamanya dan menyembuhkan penyakitnya. Ada banyak hal yang harus ia lakukan untuk ke depannya.
Saat ini perusahaan sudah di pegang oleh Bian, anak dari sekertaris sekaligus orang kepercayaannya Papanya yang juga ikut tewas dalam kecelakaan yang disengana itu. Nada sudah menganggap Bian sebagai kakaknya dan begitu juga Bian yang menganggap Nada adiknya. Ia akan berusaha membuat Nada kembali sembuh dari penyakitnya.
Sesampainya di sekolah, Nada melangkah ringan di koridor yang masih sepi. Ia berangkat pagi sekali, entahlah rasanya ia sudah rindu suasana sekolah. Pagi ini juga Arkan tidak bisa menjemputnya karena ia sedang di luar kota. Lelaki itu mengurus pembuatan cabang lain restorannya di kota lain.
Dret dret dret
Suara getar handphone membuat Nada lekas merogoh handphone nya yang terletak di kantong dan menilik siapa yang sudah meneleponna. Tangannya menggeser ikon hijau begitu melihat ternyata Bian lah yang menjadi penelepon.
“Halo, dek gimana kondisi kamu sekarang? Kakak dengar kamu sudah sekolah hari ini, ya”
Nada mengulum senyum mendengar perkataan Bian, “Aku sudah gak apa-apa kak, lagian juga aku nggak luka parah” balas Nada
“Huh adek kakak ini ngeyelnya minta ampun” suara di sana terdengar tidak berdaya.
“Ada apa kak, gak mungkin kan cuma mau memastikan keadaanku. Apa ada sesuatu yang harus kamu beritahu padaku?” tanya Nada langsung pada intinya.
“Kakak udah daftarkan nama kamu untuk menjalani pengobatan untuk penyembuhan kanker kamu. Nanti kamu datang saja untuk konsultasi dan yang lainnya” ucapnya menjelaskan lebih lanjut perkataannya.
“Jadi ngerepotin kak Bian” sahut Nada merasa tidak enak.
“Hei Dengar Nada, kamu itu udah kakak anggap adik sendiri jadi jangan pernah merasa sungkan dengan kakak. Terlebih sekarang perusahaan sudah kembali atas nama kamu, jadi berhenti bekerja ya dan fokus aja dengan pengobatan kamu”
Nada terharu dengan perkataan Bian, baginya yang tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk diandalkan dalam keluarga dan hanya memiliki seorang mama yang masih sakit, Bian begitu baik padanya.
“Makasih kak” hanya itu yang ia ucapkan untuk apa yang dilakukan oleh Bian
“Jangan berterima kasih, ingat saja kamu harus menjaga kesehatan kamu dengan baik. Kalau ada yang membuat membuatmu tidak nyaman langsung bilang dan pergi ke rumah sakit” ucap Bian dengan suara yang tersirat kecemasan pada Nada.
Nada tersenyum pada Bian seolah lelaki itu ada di hadapannya, “Pasti Kak, aku akan jaga kesehatan biar kakak nggak khawatir. Aku tutup ya kak soalnya aku udah di sekolah”
Setelah menutup teleponnya ia menghembuskan nafas pelan, sedikit rasa bersalah hinggap dibenaknya saat ia tidak mengatakan kebenaran kondisinya pada Arkan, pacarnya.
“Lo sakit?” sebuah suara bernada ketus menyusup di indera pendengaran Nada membuatnya berbalik dan menatap siapa yang berbicara.
Netranya melihat Prissil yang berdiri dengan ekspresi angkuh diwajahnya. Satu alis gadis itu terangkat seolah penasaran akan sesuatu.
“Kamu sudah sembuh, syukurlah” ucap Nada tersenyum manis kepada Prissil yang tidak ditanggapi oleh gadis itu.
“Lo cukup jawab aja pertanyaan gue gak perlu basa-basi segala” ucap Prissil sinis.
Entah apa yang tepat untuk menyebutkan Nada, sudah sering disakiti dan dibully tapi ia tidak pernah sedikitpun dendam dan benci terhadap Prissil.
“Baguslah. Oh iya, gue mau bilang thanks udah jagain gue. Dan lain kali gak usah sok perhatian lagi sama gue! Mau gue sakit kek mati kek, Lo gak perlu lakuin apa-apa!” ucapnya dengan penuh tekanan.
Apa yang dikatakan oleh Prissil sukses membuat senyum di wajah Nada luntur. Ia menghela nafas pasrah dengan pandangan Prissil yang selalu negatif tentangnya.
Setelah mengatakan hal itu, Prissil pergi dengan sedikit menabrakan bahunya pada Nada sebelum berjalan dengan angkuh. Nada yang melihat di belakangnya hanya menggelengkan kepala melihat Prissil yang melenggang pergi.
Dalam perjalanan menuju kelas Nada kembali bertemu dengan Putri yang berjalan bersama dengan Candra dimana Candra yang sedang mengelus kepala Putri dan gadis itu menunjukkan raut kesal dengan mengerucutkan bibirnya dan menepis tangan Candra.
Dalam hati Nada, ia lega karena melihat Putri yang kelihatannya sudah melupakan mantannya yang berbeda agama itu. Walaupun ia tidak tahu bagaimana Candra secara pribadi dan hanya mengetahui dari citra lelaki itu di sekolah.
Tapi ia yakin kalau Candra serius dan tidak main-main dengan Putri. Dan ia selalu berharap Putri bahagia dengan pilihannya siapapun itu, ia akan mendukungnya.
“Eh, Nada Lo udah sehat? Harusnya Lo tetap dirumah dulu gak usah sekolah” Putri yang menyadari kehadiran Nada bergegas mendatanginya dan bertanya dengan khawatir. Candra yang baru saja menyusul Putri terlihat memperhatikan Nada dengan seksama.
“Aku udah gak papa beneran. Lagian bosan kalo di rumah terus, udah kangen sekolah” balas Nada dengan tersenyum kecil.
Lalu Nada menatap bergantian Putri dan Candra dan tersenyum jahil. “Kayanya aku ketinggalan banyak berita nih ya. Turun-turun udah ngelihat kaya gini”
Putri terlihat panik, berbeda dengan Candra yang justru mencengir dan merangkul Putri dengan erat. “Doain aja, soalnya temen Lo ini masih jual mahal” refleks Putri memukul tangan Candra yang bertengger di bahunya keras hingga membuat lelaki itu mengaduh.
Nada terkekeh melihatnya, “Aku doain kok tenang aja” balas Nada dengan nada menggoda pada Putri. Hal itu tentu saja membuat Putri memberengut kesal dengan respon sahabatnya.
“Sana anterin Putri, aku ke kelas dulu” Nada pamit pada dua orang itu, lalu ia menepuk lengan Putri pelan tanda ia pamit.
Setelah meninggalkan dua orang yang salah satunya masih denial dengan perasaannya. Dia berharap Putri bisa kembali menyukai dan memulai hubungan dengan orang lain.
Nada masuk ke dalam kelas yang sudah banyak siswanya berdatangan. Begitu ia duduk di kursinya seperti biasa, netranya menatap kursi yang kosong disebelahnya. Sekarang ia sudah merasa rindu pada lelaki itu.
Apa yang sedang dilakukan oleh Arkan disana? Apa ia sudah makan? Apa lelaki itu juga merindukannya?
Dan banyak lagi pertanyaan bercokol dibenaknya, rupanya kehadiran Arkan di dalam hidupnya sudah begitu kuat. Terakhir mereka berkomunikasi malam tadi dan Arkan mengatakan akan pulang lusa karena ia masih memiliki beberapa urusan yang belum usai.
🌷🌷🌷
Hai semua para pembaca Dear nada, aku mau minta maaf banget kalau cerita ini hanya akan up satu kali setiap hari. Hal ini dikarenakan padatnya aktivitas real life aku yang gak bisa ditinggalkan
Tapi aku akan usahain untuk up Double setiap akhir pekan karena hanya itu waktu aku libur dari sekolah.
Terima kasih sudah membaca sampai sini..