
Perhatian mereka teralih pada seorang perempuan yang mengenakan rok selutut dan kemeja crop berwarna navy sedang melangkah dengan santai.
“Bu Yeni” sapanya begitu melihat ada seorang guru, Bu Yeni hanya mengangguk membalasnya.
“Hai Deril, Tante Nida tadi nyuruh gue ke sini. Sekarang dimana tantenya?” tanyanya tanpa melihat ke arah Nada dan fokus menatap Deril.
Deril sedikit berdecak, “Ngapain Lo ke sini sih Prissil” Deril terlihat kesal melihat keberadaan Prissil.
“Udah gue bilang kan, gue disuruh Tante Nida” terlihat Prissil memutar matanya malas melihat tatapan tidak suka Deril. Pandangan gadis itu mengedar dan pupilnya sedikit melebar begitu menangkap sosok Nada ada di sebelah Deril.
“Eh kenapa si up-Nada ada disini juga?” sewotnya dengan dahi mengerut.
Nada sedikit menunduk ketika Prissil menunjuk dirinya dan memberikan tatapan tajamnya.
“Gak ada urusannya sama Lo, sana katanya mau ketemu mama” usir Deril pada Prissil dengan sedikit mendorong bahu gadis itu.
“Kalo gue gak mau gimana?” ucap Prissil main-main ”Iya udah gue pergi. Awas aja ya Lo modus sama Deril” Deril langsung saja menatap tajam gadis itu Prissil akhirnya pergi dari hadapan mereka walau dengan sedikit mengancam Nada. Bu Yeni hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Prissil.
“Jangan dengerin apa kata dia Nad” ucap Deril menatap Nada serius.
“Udah kembali fokus ke pelajaran” Bu Yeni menengahi dan menyuruh mereka fokus.
Mereka menyelesaikan belajar tepat pada jam 11.30, Bu Yeni dan Riko sudah pulang dan hanya tertinggal Nada dan Deril yang duduk berhadapan.
“Ehm..aku pulang juga kayanya” ucap Nada memecah hening.
“Sekarang? Kamu pulang pake apa?” tanyanya dengan cepat.
“Aku bisa pake ojek kok”
“Aku antar aja gimana?” tawar Deril menatap Nada bertanya.
“Gak usah beneran, aku jadi gak nyaman kalo kamu antar” tolak Nada menggelangkan kepalanya.
Nada bangkit dari duduknya dan pamit dengan Deril lalu tanpa berlama-lama lagi ia pergi ke luar. Saat Deril bersikeras ingin mengantar Nada, tiba-tiba ada panggilan dari Prissil menginterupsi keinginan Deril.
“Ril Lo dipanggil Tante ke belakang” panggilnya dengan santai.
Deril sedikit mengerang pelan lalu mengangguk pelan pada Prissil. “Maaf aku gak bisa ngantar sampai ke depan” ucapnya pelan.
“Gak apa, sana gih temuin mama kamu” suruh Nada kepada Deril dengan mengulas sedikit senyum tipis.
Setelah Deril berlalu dari hadapan Nada, tetapi Prissil tidak mengikuti lelaki itu melainkan melangkah mendekati Nada dengan angkuh.
“Lo gak pernah jera ya! Udah gue bilang jangan dekat-dekat sama Deril tapi kayanya telinga Lo gak berfungsi” desis Prissil dengan geram.
“Aku gak dengan sengaja dekat Deril, kami cuma belajar untuk olimpiade” Nada mencoba menjelaskan pada Prissil.
“Aku gak ada perasaan untuk Deril sedikitpun, kamu gak usah khawatir” ucap Nada tegas dengan tatapan serius menatap Prissil lurus.
“Emang seharusnya Lo sadar diri” sinisnya kemudian berlalu meninggalkan Nada sendirian. Nada juga membalikkan tubuhnya kemudian melenggang keluar dari rumah Deril.
Tiba di depan rumah, netranya tanpa sengaja menangkap keberadaan yang akrab. Dengan ragu kakinya melangkah menuju tempat dimana sosok itu berada. Di pinggir jalan itu sudah terparkir sebuah mobil yang Nada ketahui milik Arkan. Ia mengetuk pelan kaca mobil setelah tiba di sampingnya.
Kaca mobil diturunkan setengah dan seperti dugaannya di dalam mobil itu ada Arkan yang dengan santainya duduk. Ia menghembuskan nafas, “Kenapa ada di sini?”
“Aku mau bawa kamu ke suatu tempat, cepat masuk” perintahnya pada Nada yang masih menatapnya diam.
“Tunggu apalagi cepat atau mau aku bukain dulu pintunya atau mau aku gendong aja buat masuk” tawarnya dengan senyum jahil.
Nada sedikit mendengus lalu memutari mobil ke arah sebaliknya dan masuk ke dalam duduk di samping Arkan.
“Mau kemana sih?” tanya Nada ketika mobil sudah jalan beberapa saat lalu.
“Tunggu aja dan duduk diam nanti kamu juga tau” ucapnya misterius dengan senyum miring.
“Sok misterius” cibir Nada yang membuat Arkan terkekeh kecil.
Nada tidak bertanya lagi tujuan mereka kemana karena dia tau pasti lelaki itu tak akan memberitahunya. Netranya menatap seluruh interior mobil yang baru kali ini dia sadari ada sebuah gantungan kecil yang menggantung indah.
“Kamu suka keropi? Sampai di gantung gini aku aja baru sadar” gumamnya ketika melihat gantungan berbentuk katak yang biasa disebut keropi.
Arkan melirik sekilas Nada yang menatap penasaran dengan gantungan itu. “Suka, apalagi gantungan itu dari seseorang yang istimewa. Kamu ingat sesuatu tentang gantungan itu?” tanyanya ringan.
Nada berusaha mengingat karena dia juga biasa merasakan perasaan familiar dari gantungan berwarna hijau itu. Tak lama dia menatap tidak percaya Arkan. “Ini kok mirip punya aku dulu yang hilang?!” serunya tertahan.
“Iya itu dulu punya kamu terus aku ambil, itukan gantungan kesayangan kamu jadi aku ingin membawa barang kesayangan kamu saat aku pergi” ucapnya dengan kekehan yang tak henti tersungging di bibirnya.
Nada juga sedikit terkekeh, “Kapan kamu ngambilnya?” tanyanya penasaran pasalnya setiap barang kesukaannya pasti akan sangat dijaga dengan baik.
“Ingat gak waktu itu kamu keluar terus begitu masuk ke dalam kelas kamu ketemu coklat di dalam tas?” tanya Arkan.
Kening Nada terlihat berkerut, dia memang ingat kejadian itu, “Ingat kan waktu itu aku jadi diejek semua murid kelas” jawab Nada masih tidak mengerti sampai, “Jangan-jangan..coklat itu dari kamu?” tebak Nada dengan sedikit syok bagaimana tidak dulu dia sampai di soraki teman sekelas karena tiba-tiba ada coklat. Arkan hanya tersenyum kecil dan itu membuat Nada sedikit mengerang tidak percaya.
“Jadi saat itu kamu ngambil gantungan kunci aku terus sebagai gantinya malah naroh coklat” ucap Nada tidak bisa menyembunyikan senyumnya memikirkan perbuatan Arkan.
“Ya gak juga sih kalo mengganti, dulu aku tau kamu suka makan coklat sampai sering sakit gigi kan” ejek Arkan membuat Nada memberengut kesal.
Nada memalingkan muka dengan menulikan telinganya saat Arkan mengejeknya. Tetapi ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya untuk terbit.
Arkan mengangkat tangannya mengacak-acak rambut gadis di sampingnya dengan gemas. Nada memalingkan lagi mukanya menatap Arkan dengan memberengut kesal sambil memperbaiki rambutnya yang agak kacau itu.
Lelaki itu tertawa kecil lalu kembali fokus menyetir, sedang Nada menyandarkan bahunya ke kursi dengan nyaman. Walau dia masih penasaran kemana Arkan membawanya pergi