Dear Nada

Dear Nada
First Kiss



“Aku gak tau harus apa” lirih Nada dengan ekspresi frustasi.


“Dulu Papa bilang kalo orang yang sudah meninggal itu akan menjadi bintang. Saat itu nenek aku meninggal aku selalu duduk di balik jendela kamar melihat bintang. Bertanya-tanya apakah salah satunya ada nenekku” ucapnya dengan pandangan lurus dan suara sedikit bergetar.


Arkan hanya terdiam membiarkan Nada menceritakan banyak hal dengannya dan bisa sedikit mengurangi beban yang di bawa gadis itu.


“Sampai aku menyadari kalau orang mati tidak akan menjadi bintang, bahwa bintang itu merupakan hal seperti matahari. Tapi aku masih dengan bodohnya selalu beranggapan kalau Papa menjadi bintang di langit. Betapa indahnya kalau aku bisa selalu melihat Papa walau sudah berubah jadi bintang” Nada tersenyum dengan mendongak melihat langit yang di penuhi konstelasi bintang yang sangat indah.


“Lo tau Nad, bintang berkilau yang memanjakan mata kita barangkali sudah mati dan menyatu dengan alam semesta. Tapi mereka tetap bersinar di wilayah yang jauh, mereka mati tapi sinar mereka tidak sedikitpun meredup. Sama seperti Papa Lo, mungkin beliau sudah tiada tetapi apa sosok Papa di hati Lo ikutan mati? Nggak kan” ucap Arkan penuh arti seraya menatap lekat wajah cantik Nada.


Nada menoleh pada Arkan, “Kamu suka bintang?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari Arkan.


“Sangat suka, kalo gue dalam masalah gue selalu melihat bintang, cerita apa masalah aku dan setelahnya hati gue jadi tenang” ucapnya dengan pandangan yang sudah kembali ke arah bintang yang berkelap-kelip.


“Dulu gue pernah ketemu sama seseorang yang mengatakan kalau gue gak punya tempat cerita, cerita aja sama bintang dilangit. Dulu gue merasa konyol mendengar perkataannya tapi lama-kelamaan gue ikutin perkataanya”


“Lo tau siapa yang gue bicarain?”tanya Arkan dengan ringan.


Nada menggeleng tidak tahu, dia mungkin menebak seseorang itu sangat penting bagi Arkan.


“Seorang anak perempuan berkuncir dua yang menggemaskan, dia begitu polos juga satu-satunya teman ku sekaligus teman pertama” ucapnya dengan binar di matanya tapi ekspresi lelaki itu tidak berubah.


Nada menyimak perkataan Arkan, “Terus sekarang dia dimana?” tanyanya penasaran.


Arkan melirik Nada dan menatapnya dengan tatapan yang Nada tidak mengerti. Nada selalu gagal mengartikan setiap tatapan dari lelaki itu.


“Dia ada. Sangat dekat dengan gue” ucapnya terlihat memeberi jeda.


“Satu sekolah sama kita?” tanya Nada dengan kening berkerut.


“Iya”


“Siap-”


“Lo” potong Arkan dengan cepat bahkan sebelum Nada menyelesaikan perkataannya.


Nada dibuat membatu karena ucapan Arkan. Ia mengedipkan kedua matanya berkali-kali gagal paham dengan perkataan Arkan.


“G-gue” tunjuknya pada dirinya sendiri dengan lidah tercekat.


Arkan hanya tersenyum mengalihkan wajahnya dari Nada. “Iya, Lo orangnya Odi” ucap, tanpa menoleh pada Nada pun lelaki itu tau bagaimana ekspresi Nada saat ini.


Nada tercekat mendengar panggilan Arkan kepadanya. Panggilan itu sudah lama dia tidak mendengarnya, biasanya orang akan memanggilnya Nada Atau Melodi tapi tidak ada yang memanggilnya Odi. “Kok?” tanyanya heran dan tatapan terkejut tergambar jelas di netra hitam legam miliknya.


“Gue cowo gemuk yang selalu di bully dulu, Lo inget dulu setelah Lo tolongin, gue selalu ngikutin Lo kemanapun” ucapnya menatap lagi wajah cantik Nada yang terkesiap. Dia menemukan bahwa wajah polos khas anak-anak itu sekarang sudah sangat cantik.


“Gema” gumam Nada dengan lirih tetapi masih dapat di dengar oleh Arkan.


Mata Nada terlihat berkaca-kaca dia tidak menyangka akan bertemu dengan Gema, temannya di masa kecil dulu. Setaunya keluarga Arkan pindah ke luar negeri dan dia bahkan tidak tau mengapa mereka pindah. Gema, sahabatnya itu pergi gitu aja tidak pamit kepadanya. Awalnya dia selalu menyambangi rumah Gema yang tidak jauh dari rumahnya yang dulu. Sampai pada akhirnya dia mulai menyerah dan mulai lupa tentang dirinya karena banyak masalah juga dalam hidupnya.


“Selama ini kamu kemana aja? Tau gak dulu aku selalu menunggu kamu datang dan mengajak main. Tapi kamu gak pernah datang lagi” pecah sudah tangis Nada.


Arkan merasa tidak tega dan menarik Nada ke pelukannya, dia mengusap puncak kepala Nada dengan lembut. “Maaf Odi. Maaf aku telat datangnya” ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Nada masih berada dalam dekapan hangat Arkan dia seakan menyurkan kerinduan selama bertahun-tahun.


“Dulu kamu gemuk, sekarang udah kurus ya” celetuk Nada setelah tangisnya berhenti tanpa menguraikan dekapan mereka.


“Yaiya lah sekarang aku udah jadi cowok idaman para cewek ya” ucap Arkan dengan bangga.


Nada melepaskan dekapan Arkan dengan cepat dan sedikit mencubit lengan Arkan yang membuat si empu lengan mengaduh walau baginya tidak terlalu sakit. “Mau jadi playboy?” tanya Nada dengan sewot.


“Nggak lah enak aja, aku gak pernah mainin cewek. Kalo orang pada naksir sama aku wajar karena aku tampan” narsisnya yang membuat Nada mencibir lelaki itu.


“Terus” ucapnya dengan mengangkat alisnya.


“Aku hanya mencintai seorang perempuan aja selama ini” ucap Arkan yang membuat Nada merasa sedikit terganggu dengan pernyataan lelaki itu.


“Siapa?” tanya Nada menatap penasaran Arkan.


Arkan menatap diam Nada dengan netra yang seakan memberikan tatapan berbeda.


“Melodi Denada”


Oh Melodi Denada. A-apa?!” kaget Nada. Dia terdiam berusaha mencerna perkataan Arkan. Apa yang terjadi di sini, mengapa dirinya? Benarkah lelaki seperti Arkan menyukainya? Entahlah sudah begitu banyak pertanyaan bercokol di kepala Nada.


“Aku sayang kamu Odi dari dulu dan itu gak akan terganti” ucapnya lembut pada Nada.


Nada masih tidak bergeming di tempatnya, bahkan dia tidak menyadari wajah Arkan yang sudah sangat dekat dengannya. Bahkan hembusan nafas lelaki itu terasa di wajah Nada begitu dia tersadar, tetapi matanya seakan terhipnotis oleh tatapan lembut lelaki itu.


Mata Nada membulat seketika ketika merasakan bibir terasa dingin itu menempel tepat di bibirnya. Selama beberapa detik mereka terdiam dalam posisi itu, sampai Nada merasakan bibir lelaki itu bergerak dan ********** lembut. Nada ingin memberontak tetapi entah sejak kapan lelaki itu sudah mengungkung dirinya. Tangannya menekan tengkuk Nada agar mendekat padanya dan memperdalam ciuman mereka. Mata Nada bisa melihat netra Arkan yang tertutup tanpa sadar dirinya ikut terbuai dengan perlakuan lelaki itu dan mengalungkan tangannya dengan perlahan ke leher Arkan.


Entah berapa lama mereka berciuman, mungkin mereka ingin melampiaskan rasa rindu mereka yang menggebu. Perlahan Arkan melepas ciumannya dari Nada, mereka saling tatap dengan Nada yang pipinya sudah bersemu malu dan Arkan dengan senyum manisnya. Lelaki itu mengusap sudut bibir Nada dengan pelan.


“I love you” ucapnya yang terasa berbisik tetapi Nada dapat mendengarnya bahkan diantara deburan ombak.


Sorot Nada menatap Arkan dengan rumit, sungguh bingung. Satu sisi jantung dia terasa berdebar kencang saat mendapat perlakuan Arkan dan pernyataannya tetapi ada satu hal yang membuatnya ragu.


Arkan yang melihat itu memilih memeluk Nada saja dengan erat, dia membiarkan Nada merasakan debaran jantungnya. “Aku gak meminta kamu menjawab pernyataanku tetapi aku hanya ingin kamu tau perasaan aku yang sesungguhnya” ucapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Nada gak bisa munafik, ia juga menikmati perlakuan lelaki itu tapi untuk saat ini saja dia ingin seperti ini saja. Menikmati pelukan lelaki itu dan rasa sayangnya yang akan selalu ia ingat.