Dear Nada

Dear Nada
Kepergok Kafa



Setelah lonceng tanda istirahat berbunyi, Arkan membawa Nada kesebuah tempat di sekolah yang membuat Nada bertanya-tanya kemana Arkan membawanya.


“Mau kemana sih?” tanya Nada pada Arkan yang menggandeng tangannya erat.


Saat ini mereka sedang menaiki tangga yang menuju ke atap. Setau Nada pintu untuk menuju ke atap selalu dikunci. Lalu mereka akan kemana


“Ke atas” jawabnya singkat dengan terus naik ke atas.


Nada tidak bertanya lagi ia hanya terus mengikuti Arkan. Dan mereka sampai di depan pintu yang menuju atap gedung sekolah atau rooftop.


“Mau ke atas? Gak bakal bisa pintunya kekunci” ucap Nada menghela nafas.


Dulunya pintu ini memang tidak dikunci, tetapi karena dibuat tempat merokok dan bolos oleh para siswa guru-guru memutuskan untuk mengunci pintu ini dan tidak memperbolehkan siswa masuk ke atas.


Tetapi apa-apaan ini, Nada melihat Arkan yang mengeluarkan kunci dari sakunya dan memasukkannya kedalam lubang kunci.


“Sayangnya aku punya kuncinya” ucap Arkan dengan entengnya. Ia menarik Nada masuk dan menuju sebuah sofa yang agak lama tetapi terlihat bersih. Arkan membawa Nada duduk di sampingnya.


Nada bisa melihat rooftop ini terlihat terawat dan ada beberapa tanaman kecil yang ada di sudut.


“Kenapa kamu bisa punya kuncinya?” tanya Nada menatap penasaran pada Arkan.


“Mau tau?” jawabnya ingin membuat Nada penasaran. “Rahasia” ia tergelak melihat raut wajah Nada memberengut kesal, lelaki itu sangat menyebalkan untung ia sayang jika tidak sudah ia sumbangkan.


Suasana disini lumayan tenang selain karena tidak ada orang disini selain mereka juga karena angin sepoi-sepoi yang menerpa lembut wajah Nada. Tanpa ia sadari Arkan mulai merebahkan kepalanya di atas paha Nada.


“Arkan bangun. Kamu kenapa malah tidur di paha aku” ucap Nada sedikit terpekik ketika kepala lelaki itu berada di pahanya.


“Biarin gini aja dulu” ucap Arkan pelan.


“Na elus kepala aku” pintanya membuat Nada menghela nafas kasar. Tetapi akhirnya ia mengelus lembut kepala Arkan.


Matanya menelusuri dengan teliti wajah lelaki yang sedang terpejam itu. Ia tahu Arkan tidak tidur hanya menutup mata saja. Dan inilah kesempatan dirinya bisa puas memandangi wajah tampan kekasihnya itu.


Entah bagaimana ia bisa menyukai lelaki ini, lelaki yang posesif, over protektif padanya ini. Tetapi semuanya terjadi seperti itu saja, mungkin ia mulai menyukainya karena perlakuannya yang lembut pada dirinya. Atau juga karena Arkan adalah sosok yang dirinya tunggu selama ini. Entahlah.


Kadang ia bingung apa yang dilihat oleh Arkan dari dirinya. Jika hanya karena cantik, ada banyak perempuan cantik diluar sana yang akan dengan sukarela bersamanya. Ia merasa tidak memiliki keistimewaan untuk dicintai oleh orang seperti lelaki itu.


Tapi kini lelaki itu sudah menjadi kekasihnya, Arkan mencintai dirinya dan dirinya juga mencintai lelaki yang ada di bawahnya ini.


“Apa aku begitu tampan hingga kamu enggak mengalihkan pandangan sedikitpun dari wajahku” ucap Arkan tiba-tiba dengan mata yang sudah terbuka


Nada yang tidak siap hanya tertegun saat mata Arkan menatapnya intens. Saat ini jarak wajah mereka agak dekat karena Nada menunduk dari tadi.


Kini gantian Arkan yang juga menatap diam Nada yang ada di atasnya. Tatapannya jatuh kepada bibir pink alami Nada yang hanya memakai lip balm.


Nada juga menyadari tatapan Arkan, tetapi saat ini syaraf-syaraf tubuhnya terasa lumpuh jadi ia hanya diam diposisi seperti ini. Ia menelan ludah berat melihat Arkan yang semakin memajukan wajahnya, bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas hangat lelaki itu menyapa wajahnya.


‘Apa dia akan melakukan hal itu lagi’ batinnya berteriak.


Jarak mereka semakin dekat saja, Nada bahkan sudah menutup matanya erat.


Cklek


Tentu saja lelaki berwajah manis itu menjadi canggung, ia mengutuk dirinya kenapa harus masuk ke sini mana di waktu yang tidak tepat lagi.


“Ahh hahaha. Lanjutkan sorry gue ganggu” ucapnya dengan tertawa paksa sembari tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kafa!! Lo kalo mau buka pintu minimal ketuk dulu” ucap Arkan datar pada Kafa.


“Pintunya kekunci elah. Lagian mana gue tau Lo pada mau cipokan” ucapnya frontal membuat mata Nada membulat dan pipinya memerah malu karena kata-kata frontal Kafa dan berarti lelaki itu memergoki mereka.


“Terus ngapain Lo masih disini” kata Arkan dengan nada mengusir.


“Iya gue keluar” ucap Kafa dengan mendengus pelan.


Lelaki itu membuka kembali pintu dan keluar dari sana. Dan kini hanya tertinggal Arkan dan Nada yang menjadi canggung akibat hal tadi. Nada berusaha mengalihkan pandangan dari menatap Arkan.


Tanpa sadar matanya menangkap sebuah gitar yang kelihatannya bagus. Ia menoleh pada Arkan dan berkata.


“Gitar itu punya siapa?” tanyanya sambil menunjuk ke arah gitar.


Arkan mengikuti arah yang ditunjuk Nada, “Oh gitar itu, punya aku” jawabnya lalu berdiri mendekati tempat gitar itu berada. Ia mengambilnya dan membawa ke arah tempat duduk tadi.


“Kamu bisa mainnya?” tanya Nada antusias begitu Arkan duduk di sampingnya lagi.


“Bisa. Kamu mau dengar” tawar Arkan seraya memangku gitar itu dengan benar.


“Mau banget” jawab Nada semangat.


“Oke, siap-siap aja makin terpesona sama aku” ucap Arkan dengan ekspresi bangga


Arkan mulai memetik senarnya dengan ringan, matanya menatap dalam Nada sambil jarinya terus menari di atas senar. Ia memilih menyanyikan lagu berjudul 'Girls Like You' dengan senyum terus berada di bibirnya dan mata tak lepas dari Nada


Suara Arkan cukup bagus dan enak di dengar membuat Nada hanyut di dalamnya. Apalagi tatapannya seolah menghipnotis dirinya. Benar dia lagi-lagi kembali terpesona pada lelaki ini.


Setelah selesai menyanyikan lagu itu, Arkan menaruh gitarnya di samping dan melirik Nada yang bertepuk tangan riuh.


“Bagus banget beneran” ucapnya dengan riang.


“Kamu suka?” tanya Arkan.


“Sangat suka” Nada mengangguk kencang.


“Nanti aku akan nyanyi buat kamu lagi” sahut Arkan dengan senang karena gadisnya menyukai suaranya.


Emang sih suara Arkan tidak bisa diragukan, suaranya yang bagus itu memang nyata adanya. Dia juga hobi main gitar tapi jika ia sendiri saja. Dan kali ini ia ingin memainkan gitarnya di depan Nada.


“Atau kamu mau aku ajarin main gitar?” tawarnya dengan sungguh-sungguh.


“Beneran? Mau banget! Janji ya nanti kamu ajarin aku” ucapnya lalu mengangkat jari kelingkingnya sebagai tanda.


Melihat apa yang dilakukan Nada membuat Arkan


Tergelak kecil. Tapi tak urung ia menyambut hari kelingking Nada dengan kelingkingnya. Gadisnya ini memang unik sekali.