Dear Nada

Dear Nada
Konsultasi dan Membuat Keputusan



Setelah pulang sekolah dan berganti baju, Nada pergi ke rumah sakit yang dikatakan oleh Bian. Dia tahu cepat atau lambat ia harus menjalani pengobatan untuk menyembuhkan penyakitnya.


Dia menatap bangunan besar yang banyak orang berlalu-lalang mengenakan pakaian putih khas baju dokter. Ia melangkah memasuki rumah sakit dan menuju tempat resepsionis.


“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu” ucap seorang suster dengan ramah


“Saya ingin bertemu dengan dokter Kris dan sudah membuat janji atas nama Melodi Denada”


Suster itu mengecek terlebih dahulu komputernya dan kembali menatap Nada. “Baik mba, bisa ditunggu dulu. Karena dokter Kris sedang melakukan operasi. Tidak lama, mungkin sekitar lima belas menit lagi” suster itu menjelaskan dengan lugas.


Nada mengangguk, setelah ia berterima kasih kakinya melangkah menuju kursi ruang tunggu dan duduk di sana. Aroma khas obat-obatan menyeruak ke dalam hidungnya, sejujurnya Nada sangat tidak menyukai bau khas ini. Tapi apa daya sekarang ia juga harus bertahan hidup dengan obat.


Tak terasa sudah lima belas menit berlalu dan suster itu sudah mempersilahkan Nada untuk menuju ruangan dokter Kris, dokter yang direkomendasikan oleh Bian.


Ruangan dokter Kris terletak di lantai dua, begitu ia sampai di depan pintu bertuliskan dr. Kris Hudaya. Nada mengetuk terlebih dahulu pintu ruangannya.


“Masuk” sahut suara dari dalam, membuat Nada membuka pelan pintu. Di sana ada seorang lelaki yang mengenakan pakaian dokternya dan terlihat seperti lelaki paruh baya.


“Selamat sore, dok” sapa Nada dengan sopan


Dokter Kris mendongak dan memberikan senyum ramahnya lalu mempersilahkan Nada untuk duduk di kursi depan mejanya.


“Selamat sore juga, Nada. Bagaimana keadaanmu sekarang?”


“Saya baik-baik saja dokter” jawab Nada dengan sedikit menyunggingkan senyum.


“Kamu sudah tahu tentang bagaimana kondisi kamu saat ini?”


Nada mengangguk, tentu saja ia mengetahuinya. Walau ia masih tidak dapat menerima dengan keadaannya, tapi ia tahu betul bagaimana kondisinya saat ini.


“Sebenarnya penyakit yang kamu diderita agak sulit untuk diobati karena memang belum ditemukan obat spesifik untuk mengobati penyakit ini. Tapi kita bisa melakukan kemoterapi untuk mengurangi pertumbuhan kanker di dalam tubuh kamu. Apalagi kamu menderita kanker darah”


Terlihat dokter Kris yang menatap iba pada Nada, ia merasa usia Nada masih begitu muda untuk mengalami hal ini. Sedangkan Nada hanya tersenyum kecut, apa akhirnya ia akan melakukan pengobatan kemoterapi. Padahal ia sangat tidak ingin melakukan pengobatan itu.


“Apa tidak bisa kalau tidak melakukan kemoterapi dok?”


“Bisa, tapi lebih dianjurkan untuk melakukan kemoterapi. Karena kalau hanya menggunakan obat kurang efektif untuk mengurangi pertumbuhan kanker kamu. Walaupun kanker kamu masih stadium satu, tapi tidak menutup kemungkinan akan naik menjadi stadium dua”


Badan Nada melemas ketika mendengar penjelasan dokter Kris. Tapi ia menguatkan hatinya, ia harus sembuh apapun caranya ia akan menahannya.


“Baik dok saya setuju dengan pengobatan itu” ucap Nada dengan berusaha yakin.


“Baik kalau begitu saya akan mengatur jadwal untuk pengobatan kemoterapi kamu” ucapnya sembari membolak-balikan jadwalnya.


“Kayanya kita bisa mulai hari Sabtu ini sekitar jam 2 siang. Kamu luang sekitar jam segitu?”


“Tidak saya bebas dok” Nada menggeleng.


Dokter Kris mengangguk lalu ia menulis sesuatu di sebuah kertas dan memberikannya pada Nada.


“Untuk sekarang kamu bisa tebus obat ini untuk menahan menahan penyebarannya”


Nada mengambilnya dan mengucapkan terima kasih pada dokter Kris sebelum keluar dari ruangannya. Kakinya melangkah sembari membawa kertas berisi obat apa saja yang akan ia tebus.


“Mba itu hidungnya berdarah!” pekik seorang apoteker wanita melihat darah yang keluar dari hidungnya.


Nada ikut tersentak, refleks tangannya meraba hidungnya dan ia membeku melihat darah di tangannya.


“Ini bersihkan dulu pake tisu mba. Pencet hidungnya biar gak makin keluar”


Melihat uluran tisu di tangan apoteker itu Nada menyambarnya dan menyumpalnya di hidung. Ia memencet hidungnya agar darah tidak makin keluar dan akhirnya darah sudah berhenti keluar dari hidungnya.


“Makasih mba” ucapnya dengan tulus.


“Gak apa-apa. Tapi mba udah gak papa, kan?” tanyanya dengan khawatir.


Nada menggeleng, “Ini mba aku mau nebus obat” kertas yang ada di tangannya ia berikan pada apoteker itu.


Kening apoteker itu mengerut lalu menatap Nada dengan rumit setelahnya menghela nafas pelan. “Baik, tunggu sebentar ya mba”


‘Ternyata ia sakit, kasihan mbak nya masih muda udah sakit kaya gitu’ gumam apoteker itu dalam hati.


Setelah diberikan obatnya dan selesai membayar Nada keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju halte bis. Ia duduk di atas kursi sembari menunggu bis datang


***


Sisi lain Deril yang tidak sengaja melihat Nada di rumah sakit dan keluar dari ruangan yang dikenalinya. Deril ingin menyapa tapi ia mengurungkan niatnya karena melihat Nada yang tatapannya kosong.


Deril memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan yang tadi dimasuki oleh Nada. Dokter Kris yang melihat kedatangan Deril tanpa salam dan mengetuk pintu membuatnya kesal.


“Datang itu salam atau paling tidak ketuk pintu dulu” sindir dokter Kris.


“Tadi yang masuk kesini buat apa om?” tanyanya tanpa menghiraukan sindiran dokter Kris.


“Untuk apa om bilang sama kamu, lagian itu privasi pasien”


“Tapi dia teman aku om bukan orang lain” Deril menegaskan hubungannya dengan Nada.


“Biarpun dia teman kamu tapi privasi tetaplah privasi tidak bisa dilanggar walupun kamu adalah keponakan om” dokter Kris tetap pada pendiriannya membuat Deril menghela nafas gusar.


“Apa ini tentang penyakit Nada?”


Terlihat dokter Kris terkejut dengan pertanyaan Deril ia menegakkan tubuhnya menatap Deril serius.


“Apa kamu tahu tentang hal ini?”


Deril mendudukan tubuhnya ke kursi dan menyandarkan punggungnya ke belakang. “Aku yang pertama kali tahu tentang penyakit Nada om. Dan om tahu seberapa khawatir aku dengan keadaan dia. Jadi apa om bisa beritahu aku tentang apa yang dibicarakan kalian tadi. Aku yang akan bertanggung jawab” ucap Deril berusaha meyakinkan om nya.


“Baiklah, Nada akan menjalani pengobatan dengan kemoterapi untuk pemyakitnya”


“Apa harus kemoterapi om?” tanya Deril dengan lirih. Ia tahu pengobatan kemoterapi itu memiliki efek samping yang yaitu mungkin rambutnya akan rontok dan sehabis menjalani pengobatannya tubuh akan terasa sangat sakit. Ia tidak ingin Nada mengalami rasa sakit ini.


Dokter Kris mengangguk dan menghembuskan nafas panjang. Ia tahu kekhawatiran keponakannya, tapi mau bagaimana lagi ini juga pilihan pasiennya. Ia tidak dapat berbuat banyak.