
Setelah pemeriksaan di rumah sakit dan tidak ditemukan luka yang fatal, Nada sudah pulang tetapi dengan tetap menebus obat untuk luka di wajahnya. Saat mereka sampai rumah, di sana sudah ada Kafa, Putri dan Emma yang menunggu.
Tetapi Arkan mengusir mereka semua dari rumah Nada dengan alasan Nada butuh istirahat dan ia masih syok atas penculikannya. Akhirnya dengan berat hati teman-teman Nada pulang dari sana dengan sederet kata penyemangat untuk gadis itu.
Kini di dalam kamar Nada hanya ada Arkan yang duduk dikursi belajar Nada yang ditariknya hingga berada di samping ranjang Nada.
Lelaki itu mengeluarkan salep yang sudah di beli dan mengoleskannya ke bagian wajah Nada. Dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak membuat Nada terlalu sakit. Serta sesekali meniup pelan bekas olesannya.
Tentu saja hal itu membuat Nada terharu dan baper dengan perlakuan kekasihnya itu.
‘Kau sangat baik Arkan, bahkan disaat kita sedang ada masalah saja kau masih mau merawat aku seperti ini’ gumam Nada dalam hatinya.
“Jika sakit bilang padaku” ucap Arkan sesekali menatap mata Nada.
Mendengar itu, Nada hanya mengangguk pelan, ia memilih memandang wajah tampan Arkan yang sedang serius itu. Ketampanan lelaki itu semakin meningkat saat ini. Wah dia harusnya merasa cemas karena wajah Arkan yang begitu tampan akan membuat banyak perempuan menyukainya.
“Aku tau aku tampan, jadi kamu boleh sepuasnya lihatin. Dan ini cuma buat kamu” celetuk Arkan dengan senyum manisnya.
Perkataan Arkan tentu saja membuat Nada tersipu, gadis itu berusaha menyembunyikan rasa malunya karena kepergok oleh Arkan.
“Udah beres. Sekarang kamu pasti lapar, biar aku masakkan kamu bubur dulu” ucap Arkan dengan lembut. Ia mengelus pelan kepala Nada yang sedang bersandar di ranjangnya.
Nada menangkap tangan Arkan yang hendak keluar membuat lelaki itu mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Apa nggak ngerepotin kamu. Lebih baik pesan saja” usul Nada. Rasanya ia ingat kalau Mommy pernah bilang kepadanya bahwa Arkan itu tidak bisa memasak. Dan sekarang lelaki itu ingin memasak untuknya.
“Udah biar aku aja yang masak” ucapnya dengan kekeuh dan melepaskan tangan Nada dari tangannya dan mengulas senyum simpul lalu pergi keluar dari kamar.
Nada menatap kepergian Arkan dengan nanar, apa ia harus makan makanan yang rasanya bakal dipertanyakan itu. ‘Habislah sudah’ benaknya mengeluh.
Dalam hatinya Nada berdoa semoga saja Arkan tidak jadi memasak dan memilih memesan saja makanan.
Sedang Arkan yang baru sampai di dapur, ia melirik alat-alat memasak yang masih agak asing di kepalanya.
“ahh iya tutorial!” serunya mendapatkan ide untuk membantunya memasak. Lekas saja ia membuka handphone dan mencari video cara memasak. Setelah mendapatkannya dan menontonnya sebentar, Arkan mengangguk mengerti.
Ia mengambil sebuah panci dan mengisinya dengan beras secukupnya lalu membasuhnya. Setelah itu ia menyalakan api dan menaruh panci berisi beras itu di atasnya.
Arkan berusaha dengan teliti mengikuti semua petunjuk yang ada di video. Setelah ia merasa matang, Arkan menarunya di dalam sebuah mangkuk dan bergegas membawakan ke ke dalam kamar.
Dengan mata yang berkedip tidak yakin, Nada menyendok bubur yang ada di mangkok dengan diiringi tatapan Arkan. Ia melihat tampilan dari bubur ini yang lumayan, membuatnya berharap rasa dari bubur ini juga akan sebaik tampilannya.
Begitu sesuap bubur masuk ke dalam mulutnya, ia merasakan rasa manis yang sangat. Ia berpikir apa Arkan menambahkan banyak gula ke dalamnya. Tapi rasanya masih bisa ditoleransi oleh Nada walau agak aneh sih.
“Gimana enak?” tanya Arkan dengan tatapan penuh harap.
Hal itu membuat Nada menjadi tidak enak mengatakan yang sejujurnya. Ia hanya mengangguk sembari tersenyum menanggapi.
Refleks tangan Nada menjauhkan mangkuk itu dari jangkauan Arkan. Ia tidak ingin lelaki itu kecewa, ia yakin Arkan berusaha keras untuk memasakkan bubur untuknya jadi ia tidak ingin membuatnya kecewa.
“Ini kan buat aku, kamu gak boleh minta” ucapnya menolah memberi Arkan.
Melihat hal itu membuat Arkan terkekeh geli, ia tidak tahu kalau Nada begitu menyukai masakannya. Akhirnya ia mengalah dan mengurungkan niatnya.
“Yaudah kamu istirahat saja, aku keluar dulu. Kalo ada apa-apa panggil saja aku” ucap Arkan.
Sebelum keluar dari kamar Nada, Arkan mencium lembut kening Nada. Tatapannya penuh kasih sayang terhadap gadisnya ini. Tentu saja hal ini membuat Nada tersentuh sekaligus baper
Netranya terus menatap Arkan yang menghilang dibalik pintu. Tanpa ia sadari air matanya menggenang di pelupuk mata. Ia merasa bersalah karena masih banyak hal yang ia sembunyikan dari Arkan.
“Aku hanya berharap kamu nggak kecewa saat tau kebenaran itu” gumamnya dengan lirih.
Rasa takut sedikit menyusupi hatinya ketika mengingat penyakit yang dideritanya. Penyakit itu bukan hal mudah untuk menyembuhkannya. Walaupun masih stadium satu dan bukan termasuk kanker yang penyebarannya ganas, tapi tidak menutup kemungkinan ia akan gagal sembuh.
Selain itu ada banyak hal yang terus saja mengganggu pikiran Nada, yaitu tentang pamannya yang ternyata berberda ibu. Kakeknya yang ternyata kematiannya bukan karena serangan jantung tetapi di rencanakan oleh Glen.
Ia merasa kepalanya semakin berdenyut nyeri memikirkan hal ini.
‘Pah kenapa keluarga kita pada akhirnya akan sekacau ini. Andai aja papa ada disini aku gak akan kebingungan seperti ini’ pikirnya dibenak terdalamnya.
Meninggalkan Nada yang bergumul dengan pikirannya. Arkan yang juga sedang memikirkan kejadian tadi, ia merasa gagal menjadi orang yang selalu melindungi Nada. Bagaimana bisa ia sampai kecolongan dan membuat Nada diculik.
Dret dret
Suara getar handphone menyadarkannya, ia melihat nama yang tertera dari si penelepon. Dengan cepat ia menggeser ikon hijau untuk mengangkat telepon itu. Ia melangkahkan kaki menuju luar rumah ketika telepon sudah tersambung.
“Tuan. Glen sudah ditangkap dan dituntut dengan tuduhan perencanaan pembunuhan dan penculikan serta penggelapan dana perusahaan. Baru saja ia menyerahkan diri beserta bukti-bukti yang memuat kebenaran tuduhan itu”
Terdengar helaan nafas dari Arkan mendengar laporan dari orang suruhannya.
“Apa kau tau siapa yang membuatnya menyerahkan diri?”
“Setahu saya, seorang tangan kanan dari Glen yang membawa lelaki itu ke kantor polisi beserta seluruh bukti kejahatannya” jawabnya.
‘Benar saja’ batin Arkan.
“Baiklah, terus pantau saja dari jauh”
Setelah mengatakan itu ia mematikan sambungan telepon dan memasukkan handphone nya ke dalam saku. Mata menerawang jauh seolah memikirkan sesuatu. Lalu helaan nafas panjang terdengar dari lelaki itu.
Selama ini Nada sudah merencanakan ini semua, rasanya ia semakin merasa bersalah karena ia tidak banyak mengetahui tentang kehidupan Nada.