Dear Nada

Dear Nada
Pertemuan Putri dengan seseorang



Seorang gadis berpakaian sekolah sedang berjalan di trotoar jalan sambil sesekali menggerutu. Tangannya sibuk mencari sesuatu di handphone nya sampai ia mengumpat kesal. Seseorang itu bernama Putri yaitu teman dari Nada.


“Apes banget sih gue! Udah motor pake mogok segala, gak bisa pesan ojek lagi mana udah jam segini” gerutunya sembari sesekali melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.10 menit.


Ia menendang batu kecil yang tergeletak di depannya dengan sekuat tenaga untuk melampiaskan rasa kesalnya.


Praakk


Gadis itu menyipitkan matanya ketika mendengar suara benturan batu dengan sesuatu. Tidak jauh dari dirinya hanya berjarak beberapa langkah, seorang pengendara motor berhenti sembari memegang bagian belakang helmnya.


Melihat hal itu ia meringis pelan, duh pake kena kepala orang lagi, batinnya mengeluh. Orang itu memutar motornya mendekati gadis yang masih berdiri di tempatnya.


Saat mendekat barulah ia melihat kalau orang yang kena batu itu juga satu sekolah dengannya. Cuma ia tidak bisa melihat wajah orang itu karena dia menggunakan helm full face.


“Lo yang lempar batu ke gue?!” tanyanya dengan tidak ramah. Tentu saja siapa yang akan dengan ramah dan senyum manis ketika sedang menjalankan motor tiba-tiba ada yang melempar pake batu lagi


“Gue gak ngelempar cuma nendang aja. Lagian gue gak dengan sengaja mengenakan ke elo kok. Cuma Lo nya aja yang apes kali” ucapnya tidak mau kalah, walau bagaimanapun juga itu tetap salah dirinya.


Lelaki itu terlihat semakin kesal, lalu ia melepaskan helmnya dan terlihat wajah memerah penuh amarah dari lelaki itu.


“Elo?!” pekik Putri. Ia terkejut kenapa dari sekian banyak manusia,.ia harus ketemu lelaki ini. Areksa Candra J. Lelaki yang kalo dalam list orang yang ingin dia temui secara tidak sengaja dan Candra tidak ada dalam list itu.


Candra yang didepannya itu mengerutkan keningnya bingung. Apakah perempuan aneh di depannya itu mengenalnya. Lalu ia menatap menelisik pada Putri dan menyadari kalau mereka memakai baju yang sama, berarti mereka satu sekolah.


“Lo kenal gue?”


“Enggak! Gue gak kenal. Udah gue mau pergi gak ada untungnya gue disini” kata Putri dengan emosi yang kian bergejolak. Ia ingin cepat-cepat pergi dari hadapan lelaki di depannya itu.


“Eits Lo gak bisa gitu aja pergi” tangan Candra menarik lengan Putri yang membuat gadis itu menghentakkan tangannya agar terlepas dari cekalan lelaki itu.


“Apaan sih? Cuma ke lempar dikit juga, gak bakal amnesia mendadak juga lo” Ucap Putri dengan kesal dan mata yang menatap Candra tajam.


“Harusnya gue yang marah perasaan, tapi kenapa Lo yang marah. Lo ada dendam sama gue?” ucap Candra dengan heran


“Gak ada” jawabnya singkat. “Udah gue mau pergi gak ada gunanya gue disini” Ia kembali melenggang tetapi baru beberapa langkah suara Candra membuatnya kembali menghentikan langkahnya.


“Lo tau tindakan Lo yang ngelempar batu dan kena gue itu bisa membuat orang celaka. Andai aja tadi gue gak bisa ngendaliin motor saat tuh batu kena kepala gue, bisa-bisa gue udah jatuh. Dan sekarang Lo dengan entengnya tanpa rasa bersalah pergi gitu aja” cetus Candra dengan suara datarnya.


Putri tertegun, benar juga disini ia yang salah. Jadi pantaskah ia pergi gitu aja tanpa minta maaf atau apalah itu. Menyadari itu ia berbalik dan mendekati Candra yang masih duduk di atas motornya dengan santai


“Yaudah gue minta maaf” kata Putri dengan tulus.


“Ada syaratnya” sahut Candra dengan miring.


“Syarat apaan Lo makin ngelunjak ya” ucap Putri kesal dengan Candra.


“Mau gue maafin gak?” tanyanya dengan satu alis terangkat.


Terlihat Putri menimbang-nimbang apakah ia harus menyetujuinya atau tidak. “Iya deh gue gak mau utang rasa bersalah sama Lo, ya” ucap Putri ketus.


“Bagus. Oke syaratnya Lo harus turutin tiga permintaan gue” ucap Candra dengan senyum kemenangan.


Putri tercengang ia tidak menyangka kalau Candra akan selicik itu. “Lo!!” ucapnya tertahan, wajahnya memerah tanda ia sedang marah


Melihat Candra yang seakan membaca pikirannya membuat Putri mendengus kasar dan menatap sinis Candra.


“Ayo naik, udah mau telat kalo Lo mau tau” katanya dengan mata mengarahkan supaya Putri menaiki motornya.


Putri melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan jarum jam 07.20. Matanya membulat, “Sial! Tinggal 10 menit lagi gerbang ditutup” decaknya dengan muram


Lalu tanpa pikir panjang ia naik dengan cepat ke atas motor Candra. “Ayo cepat jangan lelet!” ucapnya dengan menepuk kencang bahu Candra.


“Sakit njir! Lo cewe apaan nggak ada lembut-lembutnya” keluh Candra.


“Gak usah banyak omong deh! Udah mau telat” sahut Putri.


Menghidupkan mesin motornya lalu melakukan motornya dengan perlahan membuat Putri kembali geram.


“Bahkan siput aja lebih cepat dari pada lo” cibirnya membuat telinga Candra berkedut panas. Ia menaikkan laju kendaraannya dengan harapan Putri akan ketakutan. Tetapi ia ditakdirkan untuk kecewa, nyatanya tidak ada perubahan dalam ekspresi Putri. Gadis itu tetap santai seakan menikmati saja.


Karena Candra membawa motor dengan sangat cepat, sehingga sebelum gerbang tertutup mereka sempat datang. Candra memarkirkan motornya di samping beberapa motor serupa dengan miliknya.


Putri turun dari motornya dengan bertumpu pada punggung Candra. Ia kembali menepuk lengan Candra membuat si empu tangan menoleh padanya dengan malas.


“Apa?”


“Makasih tumpangannya” ucapnya dengan mencengir.


“Putri!” teriak Nada diujung sana dengan Arkan. Rupanya Nada baru juga sampai sekolah dan ia melihat Putri yang berangkat dengan seseorang lelaki yang tidak dia kenal tapi ia yakin satu sekolah.


Nada berlari kecil mendatangi tempat Putri berada, ia menatap Putri yang terlihat panik melihat dirinya. Lalu netranya menatap lelaki yang masih dengan santai berada di samping sahabatnya.


“Kamu baru datang juga?” tanya Nada.


“Aah...haha i-iya gue baru dateng juga” ucapnya dengan terbata dan tertawa sumbang. Membuat Nada menatapnya aneh, merasa hal itu Putri berdehem kecil. Rasanya dia kikuk sekali berada di situasi ini.


‘Tunggu kenapa gue kaya orang abis kepergok aja sih?’ tanyanya dalam hati.


“Oh jadi nama Lo Putri” kata Candra menatap Putri dengan seringai senyum miring.


Nada menatap dua orang itu bergantian entah mengapa ia merasa ada yang salah dari dua orang di depannya.


Candra melangkah mendekati Putri lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Nada menatap aneh pemandangan di depannya, dimana Putri yang menjadi kesal setelah lelaki dengan baju tidak di kancing itu dan dengan rambut acak-acakannya berisik sesuatu yang ia tidak tahu


Menyadari tatapan ingin tahu dari Nada, Putri memilih mengalihkan perhatian dengan mengajak Nada pergi dari situ bersamaan dengan Arkan yang sudah berada di samping gadis itu.


“Ayo kita kekelas” ajaknya berjalan ke arah kanan.


“Ta-tapi kelas kamu ada di arah sana” teriak Nada pada Putri dengan menunjuk ke arah kanan.


“Oh benar, haha” Putri tertawa paksa dengan langkah kaku dan cepat ia meninggalkan Nada dibelakang bersama dengan Arkan.


“Dia kenapa lagi?” tanyanya menatap Arkan. Lelaki disampingnya itu hanya menggeleng dengan santai.


“Ayo kita ke kelas juga” ajaknya lalu menggenggam tangan Nada dan membawa kekasihnya itu menuju kelas mereka.