Dear Nada

Dear Nada
Nonton Film di Bioskop



“Kita pilih film yang mana?” tanya Nada pada Arkan


Menatap dengan seksama papan yang menuliskan jadwal tayang film. “Kalo film horor gimana?” tanya Arkan.


“Yakin nonton film horor ini?” tanya Nada memastikan sembari menunjuk filmnya.


“Iya kan cuma film ini sama yang komedi yang cepat” jawabnya dengan pasti. “Kamu gak masalah kan nonton film horor?” tanyanya lagi.


“Gak masalah” jawab Nada memberikan senyum tipis.


“Kamu tunggu disini dulu aku beli tiketnya” ucapnya kemudian berlalu menuju loket pembelian tiket.


Sedangkan Nada duduk di kursi yang disediakan. Sembari menunggu Arkan datang ia menelusuri setiap sudut tempat ini. Keningnya sedikit berkerut ketika melihat seseorang yang mencurigakan. Tapi ia acuh kembali dan menatap punggung lelaki itu yang sedang berbicara dengan seorang perempuan yang sepetinya penjual tiket.


Tak lama Arkan berbalik ke belakang dan memberikan senyum dari jauh untuk Nada. Yang tentu saja di balas oleh Nada.


Ia baru tahu mempunyai pacar itu se-menyenangkan ini, kalo mau nonton ada yang nemenin. Kadangkala ia selalu berpikir apa nanti hal seperti ini akan dapat dia rasakan lagi. Entahlah.


“Hai sendirian aja?” tanya seseorang.


Kening Nada berkerut ketika ia tidak mengenal lelaki yang tiba-tiba mengajaknya bicara ini


“Enggak” jawab Nada singkat.


“Oh sama temen ya” sahutnya lagi sok akrab.


Nada berusaha menghiraukan lelaki itu karena ia tidak mengenalnya dan ia juga risih dengan kehadiran lelaki ini. Tetapi lelaki asing itu terus mengajak Nada bicara walau hampir tidak pernah ditanggapi oleh Nada.


Mungkin karena Nada yang acuh, lelaki itu akhirnya tau diri dan pergi dari sana tanpa pamit. Setelah kepergian lelaki itu akhirnya Nada bisa menghela nafas lega.


Setelah selesai membeli tiket film, Arkan berjalan kembali mendekati Nada yang terlihat menopang dagunya dengan tangan kirinya.


“Beli popcorn dulu disana Na” ucap Arkan begitu tiba di depan Nada.


Nada mengangguk lalu berdiri dan mengikuti Arkan membeli popcorn. Mereka lebih memilih membeli berdua karena Arkan tidak mau Nada di dekati oleh lelaki saat ia tidak ada di sampingnya.


Sebenarnya saat Arkan di loket pembelian tadi ia melihat ada seorang lelaki yang mencoba mendekati kekasihnya.


“Tadi siapa?” tanya Arkan sesaat setelah mereka menjauh dari situ.


“Cowo tadi? Nggak tau orangnya sok akrab gitu” jawab Nada menggelengkan kepala.


“Kalo ada orang kaya gitu lagi pergi aja sama jangan di tanggapi omongannya” ucap Arkan mewanti-wanti Nada.


Siapa juga yang mau nanggapin orang kaya gitu, gumam Nada dalam hatinya. Memang sekarang sudah banyak orang kaya gitu dan targetnya selalu perempuan apalagi saat sendiri.


Sesampainya di tempat membeli popcorn dan minuman, Arkan menoleh pada Nada bertanya.


“Kamu mau rasa apa popcorn nya sama minumnya?” tanyanya sembari memperlihatkan berbagai varian rasa.


“Aku yang caramel aja popcorn sama minumannya coklat dingin aja” jawabnya.


“Baik mas silahkan ditunggu”


Arkan mengangguk dan memilih menatap Nada, matanya menangkap rambut gadis itu yang terurai dan ada bagiannya yang menghalangi wajahnya. Tangannya terulur membenarkan rambut Nada membuat sang empunya menatapnya kaget.


Selama Nada pacaran dengan Arkan, lelaki itu sering sekali melakukan adegan sentuhan ringan. Awalnya Nada tidak biasa tetapi sekarang ia sudah terbiasa karena memang gaya pacarannya Arkan seperti itu.


“Ini mas popcorn nya” ucap mbak-mbak itu menyodorkan dua wadah berisi popcorn ke arah Arkan. Dengan cepat Arkan mengambilnya.


“ini minumannya juga mas”


Menyodorkan dua Cup berisi minuman dan di sambut oleh Nada. Setelah mereka mengucapkan terima kasih. Arkan dan Nada berjalan menuju ruang bioskop karena penayangan filmnya sudah mau mulai.


Mereka memilih kursi dipojok bagian tengah, karena disitu terlihat masih lenggang. Mereka duduk dengan nyaman di kursi dan setelahnya Arkan menaruh popcorn di bagian tengah, sedang Nada mengulurkan tangannya untuk memberikan minuman cappucino pada Arkan


“Udah mau mulai tuh” tunjuk Nada pada layar besar di depan sana


Sound pembuka film mulai terdengar, khas sekali dengan film horor. Lampu mulai dimatikan dan gelap merebak di seluruh ruangan itu.


Nada mulai menatap layar dengan sesekali mencomot popcornnya dan menyesap minumannya. Ia bersemangat sekali karena film ini ternyata film horor yang sudah dirinya tunggu.


Ia terlihat menikmati setiap adegan, karena ini merupakan bagian kesukaannya. Sebutlah dia aneh bahkan saat nonton film yang sangat mengerikan pun ia masih bisa sambil tersenyum.


Saat ada adegan hantunya muncul dengan mengejutkan, ia tersentak ketika ada sebuah tangan memegang tangannya erat sekali. Matanya melirik lelaki di sebelahnya dengan terperangah. Apakah pacarnya ini takut dengan film horor


Mata Arkan saat ini tertutup rapat dengan wajah pias. Tangannya mencengkram erat Nada. Persetan dengan image nya sebagai lelaki tetapi takut film horor seperti ini. Heol apa salahnya kalau dia laki-laki, bukankah laki-laki juga manusia.


“Kamu takut?” tanya Nada hati-hati. Biasanya ego lelaki selalu tinggi terkait hal ini. Kali ini Arkan tidak menjawab ia lebih memilih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nada, membuat gadis itu meremang bukan karena merinding. Justru karena perbuatan lelaki itu yang terlalu tiba-tiba.


“Terus kenapa tadi milih nonton film ini sih” ucap Nada setengah kesal dan juga khawatir karena tangan Arkan begitu dingin dan ia juga berkeringat.


“Aku liat tadi kamu menatap terus film ini jadi aku pikir kamu menyukainya” jawab Arkan seraya berbisik.


Nada menggeleng mendengarnya dan ia jadi merasa bersalah karena dirinya Arkan harus mengalami ketakutan sepeti ini.


“Kita keluar aja gimana? Aku gak mau kamu malah jadi sepeti ini” kata Nada. Tangannya terulur mengusap bahu lelaki itu.


Gelengan pelan terasa di leher Nada, “Gak mau. Aku tau kamu suka film nya. Aku gak apa-apa kan aku bisa melihat kamu aja nggak melihat filmnya” sahut Arkan dengan cepat dan yakin.


Helaan nafas terdengar dari Nada, “Aku beneran gak papa kok kalo kita harus keluar sekarang” ucap Nada meyakinkan.


Arkan menggeleng lagi, “enggak liat filmnya, aku cuma liat kamu aja” ucapnya pelan


Akhirnya Nada mengangguk saja, ia tidak bisa memaksa lelaki itu. Ia kembali melihat filmnya yang terasa semakin seru. Sedangkan Arkan terus saja menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Nada.


Sebenarnya Nada merasa sedikit canggung menonton dengan posisi seperti ini, apalagi ada beberapa orang yang berada di samping dan belakang mereka memperhatikan mereka dengan tatapan aneh


Lelaki itu memang unik, jika orang melihat penampilannya yang cool dan terlihat tegas tetapi Nada baru tau kalau dia tidak berani melihat film horor.