Dear Nada

Dear Nada
Malam Yang Panjang II



Nada menatap dengan kagum bangunan di depannya yang begitu indah dengan air mancur di depannya. Bangunan bergaya modern klasik itu begitu mewah terasa. Ia memperhatikan bangunan berupa rumah yang memiliki tiga tingkatan itu dengan seksama.


“Ayo masuk” ajak Arkan membuat Nada menoleh pada lelaki itu yang sudah berjalan di depannya dengan membawa kopernya. Nada mengikuti dengan mata yang terus melirik sekeliling.


Memasuki ruangan yang Nada tebak sebagai ruang tamu di situ netranya menangkap sesosok perempuan yang sedang duduk dengan memejamkan matanya.


“Mom!” sapa Arkan begitu mereka mendekati perempuan paruh baya itu. Matanya terbuka ketika mendengar suara Arkan.


“Dari mana aja kamu?” tanyanya dengan tatapan tajam menyorot Arkan.


Nada melirik Arkan dan terlihat lelaki itu meringis mendengar ucapan wanita yang di panggilnya Mom itu. Nada melihat Mommy Arkan yang menyadari kalau anaknya tidak sendiri. Dia memberikan tatapan menyelidik kepada Nada.


“Mom hentikan tatapan itu, Mommy membuat Nada tidak nyaman” ucap Arkan.


“Anak nakal! Pulang-pulang bawa anak gadis orang. Mau jadi apa kamu!” teriaknya.


Nada bisa melihat Mommy Arkan yang memukul lelaki itu dengan majalah yang entah kapan sudah ada di tangannya. Nada meringis ngilu melihat Arkan yang pasrah di pukul Mommynya.


“Ampun Mom! Mommy bikin Arkan malu aja di depan Nada” protes Arkan berusaha menghentikan Mommynya.


Mommy Arkan pun berhenti memukul anaknya dan berdehem singkat lalu menatap ke arah Nada. “Kamu siapanya Arkan?” tanyanya penasaran.


“Temannya tante” cicit Nada kecil dengan menundukkan kepalanya.


“Maafin Tante ya kamu jadi melihat pemandangan tadi. Santai aja jangan tegang Tante gak gigit kok” ucapnya sedikit bercanda ketika melihat Nada yang kelihatan canggung.


“Mommy terlalu ganas untuk ukuran ibu-ibu” cibir Arkan yang di balas Mommynya dengan majalah yang kembali terangkat.


“Oh iya kita belum berkenalan, panggil aja Tante Elen. Nama kamu siapa cantik?”


“Nada tante” balasnya dengan pipi memerah karena di katakan cantik oleh Tante Elen.


“Kamu ngegemesin pantes aja Arkan sampai gitu” celetuknya yang dibales tatapan tidak terima Arkan.


“Oh iya Mom, Nada bolehkan tinggal di sini untuk sementara” izinnya pada Mommynya.


Tante Elen mengerutkan kening, “Emang kenapa rumahnya?”


“Nanti aku jelasin sama Mommy ya, intinya bolehkan?” ucapnya dengan menatap Mommynya meminta kepastian. Tante Elen mengangguk mengiyakan saja.


“Yaudah kamu antar Nada ke kamar tamu sana” usir Tante Elen pada Arkan.


Arkan bangkit diikuti Nada yang terus mengintili nya. Arkan menuju kamar tamu yang terletak di lantai dua. Dia membuka pintu dan mendorong koper Nada ke masuk ke dalam diikuti Nada.


“Lo tinggal di sini gak apa-apa kan?” tanyanya memastikan.


“Gak apa-apa, aku justru sangat bersyukur kamu udah mau nampung aku” ucap Nada yang membuat Arkan tidak suka.


Nada menunduk merasa bersalah. “Lo istirahat gih, gue keluar dulu kalo Lo butuh apa-apa telepon gue. Nomor gue udah ada di handphone lo” ucap Arkan sebelum keluar dari kamar meninggalkan Nada sendiri yang duduk di kasur.


Nada menarik dan menghembuskan nafasnya lalu melangkah mengambil bajunya dan berjalan menuju kamar mandi. Rasanya otaknya perlu di segarkan dengan mandi air dingin.


***


“Jadi, kamu bisa jelasin ke Mommy?” tanya Tante Elen dengan menatap tajam Arkan.


“Mommy tau kan Nada siapa?” tanya Arkan santai.


Tante Elen mengangguk, “Tentu saja Mommy tau. Tapi apa hubungannya?”


“Tadi itu Arkan liat Om nya maksa Nada menjual tanahnya dan dia melakukan kekerasan pada Nada. Untung saja Arkan datang cepat kalo gak, Arkan gak tau apa yang akan dilakukan Om nya” jelasnya panjang dengan wajah tertekuk.


Tatapan Tante Elen melunak, “Bagus kamu bawa dia ke sini. Mommy gak bisa mmebayangin kalo dia di sana bisa saja sewaktu-waktu Om nya datang kan bahaya” ucap Tante Elen prihatin dengan keadaan Nada.


Arkan mengepalkan tangannya andai saja dia telat apa yang akan tejadi pada Nadanya. Rasanya dia akan mengutuk dirinya sendiri andaikata terlambat datang.


“Yaudah Mommy mau cek keadaan Nada dulu di kamar” ucap Tante Elen seraya bangkit meninggalkan Arkan menuju kamar tamu. Dia mengetuk pintu pelan, tak lama pintu kamar di buka oleh Nada yang baru saja selesai mandi. Gadis itu menampilkan ekspresi terkejut melihat kedatangan Tante Elen ke kamarnya.


“Tante boleh masuk?” tanyanya yang diangguki Nada. Gadis itu menyingkir ke pinggir dan membiarkan Tante Elen masuk ke dalam, setelahnya dia menutup pintu lalu menyusulnya.


“Tante turut sedih dengan apa yang menimpa kamu” ucap Tante Elen membuka suara.


“Gak apa-apa kok Tante, sungguh” ucap Nada meyakinkan. Dia tidak ingin ada yang mengasihaninya walau dia cocok untuk di kasihani.


“Kamu tinggal aja di sini ya, Tante malah senang karena ada kamu. Anak Tante dua-duanya cowo jadi Tante sangat senang dengan kedatangan kamu” ucapnya dengan lembut membuat Nada menatap Tante Elen dalam.


“Tapi aku gak enak kalo terlalu lama di sini Tan, mungkin kalo udah aman aku balik kali ya” ucap Nada dengan pelan takut menyakiti hati wanita baik ini. Dia juga tau diri kalo menumpang di rumah orang.


“Loh kenapa? Kamu bisa kok tinggal di sini selama yang kamu mau, rumah ini selalu menyambut kamu. Juga jangan panggil Tante panggil Mommy ya sama kaya Arkan. Mommy itu pengen banget punya anak perempuan dan kamu sering banget Arkan cerita ke Mommy” ucapnya panjang lebar.


Mata Nada membesar mendengar permintaan Tante Elen. Juga katanya Arkan sering cerita, perasaan mereka baru seminggu ini kenal deh. Nada semakin mengerutkan keningnya penasara.


“Nada..Nada hey kamu kenapa?” suara Tante Elen membuat Nada tersadar dari lamunannya.


“Eh iya Tan..eh Mom, hehe” ucapnya dengan cengiran di akhir kata. Nada memutuskan menuruti untuk memanggil dirinya Mommy juga.


“Yaudah mungkin kamu lelah, Mommy keluar dulu ya. Istirahat sayang” Tante Elen tersenyum ringan dan bangkit keluar dari kamar membiarkan Nada beristirahat. Nada terus memperhatikan sosok Tante Elen yang menghilang di balik pintu.


“Mommy?” tanyanya tertegun pada dirinya sendiri. Lalu gadis itu naik ke tempat tidur membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Kejadian hari ini sungguh menguras tenaganya. Kepalanya kembali memikirkan ucapan pamannya tadi. Dia jadi bertanya-tanya benarkah kecelakaan Papanya itu sudah direncanakan? Kalo direncanakan mengapa orang itu begitu tega.


Dia mencoba memejamkan matanya tetapi susah untuk terlelap. Banyaknya pikiran yang berlarian di kepalanya membuatnya terjaga Sampai jam menunjukan pukul 12 matanya baru bisa terpejam sepenuhnya.