
Tanpa terasa sudah memasuki akhir pekan, yang artinya Nada harus menjalani kemoterapi untuk pertama kalinya.
Bian sudah menawarkan diri untuk menjemputnya ke rumah sakit. Tapi ditolak oleh Nada, ia ingin mereka bertemu di rumah sakit saja. Nada ingin pergi ke suatu tempat dulu.
Dan disinilah ia berada sekarang, di dalam kamar perawatan mamanya. Ia berdiri diam memperhatikan Mamanya yang sedang menyisir rambut pelan tetapi masih dengan tatapan kosong.
“Ibu udah beberapa kali merespon jika ia diajak bicara dan ia mulai melakukan aktivitas sedikit-sedikit. Mbak merasa sangat bahagia begitu melihat tadi pagi ibu mulai menyisir rambutnya walau masih dengan tatapan kosong”
Suster Risa menjelaskan dengan wajah penuh bahagia. Tentu saja penjelasan suster Risa membuat Nada hampir meneteskan air matanya karena terharu melihat mamanya yang sudah memiliki sedikit kemajuan
“Nada berharap mama cepat sembuh dan kembali menjadi mama yang sepeti dulu. Nada udah kangen banget sama mama mbak” ucap Nada lirih dan suaranya bergetar.
“Mudahan mama kamu cepat memabaik ya, mbak akan selalu bantu dan doain kamu dan mama kamu” ucap suster Risa dengan tulus.
Nada mengangguk dengan senyuman, tak lama suster Risa pergi keluar untuk memberikan waktu pada ibu dan anak itu untuk melepas rindu.
Nada perlahan mendekati mamanya dan duduk dikursi tepat di depan mamanya. Seakan tidak merasakan ada orang di depannya, mama Nada masih saja menyisir rambutnya.
Senyum pilu tersungging diwajah Nada yang sedang berusaha tersenyum. “Apa kabar ma?”
Hening. Tidak ada jawaban. Dan tentunya Nada sudah tahu hal ini yang akan terjadi. “Terlalu basa-basi ya ma. Pastinya kabar mama baik walau Nada tidak ada disini”
“Nada belum sempat cerita sama mama kalau om Glen udah ditangkap dan kejahatannya sudah terungkap. Akhirnya kita dapat keadilan ma, apa tindakan Nada sudah benar ma. Mama gak akan menyalahkan Nada kan?”
Nada berusaha tersenyum, walau hasilnya begitu aneh. Entahlah ia saat ini merasa sangat sensitif.
“Tapi kenapa ya takdir selalu tidak memihak kita ma, saat harusnya Nada sudah bisa bebas dan bisa menghirup nafas dengan baik tapi malah datang lagi sesuatu yang bakal mencengram Nada erat sekali”
“Rasanya Nada nggak sekuat itu ma, apa nanti malah Nada bakal menyerah di pertengahan jalan?”
Setiap kata yang diucapkannya terasa sangat menyakitkan. Untung saja mamanya seperti ini, andai tidak Nada bahkan tidak bisa membayangkan betapa sedihnya mamanya.
Mama Nada tiba-tiba berhenti menyisir rambutnya dan mendongak menatap Nada lalu mengangkat tangannya mengelus pipi Nada yang ada setitik air mata. Lalu setelahnya kembali lagi menyisir rambutnya.
Tubuh Nada membeku rasanya, ekspresinya agak terdistorsi. Ia berusaha menyadarkan dirinya kalau hal tadi bukanlah mimpi. Ia ingat dirinya tidak sedang tidur bagaiamana bisa bermimpi.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan jemari mamanya yang mengusap lembut tubuhnya. Hal tadi itu seperti sebuah ilusi yang nyata. Air mata kembali tumpah di matanya, tapi kali ini sebuah air mata kebahagiaan.
“Ma..” panggilnya dengan lembut dan nyaris tanpa suara
“Apa itu cara mama buat memberikan dukungan kepadaku. Bahkan saat ini aku sudah merasa sangat kuat dan tidak merasa takut lagi ma. Aku harus sembuh demi mama, demi orang-orang yang selalu menanti dan menyayangi aku”
Ucapan tegas dengan penuh kesungguhan diucapkan oleh Nada. Ia tahu hal ini sulit tapi ia tidak akan pernah menyerah.
***
“Baiklah, kalau begitu kita segera menuju ruangan kemoterapi” dokter Kris beranjak dari duduknya dan keluar ruangan diikuti Nada dan Bian serta Deril dibelakang
“Kalian berdua tunggu di depan saja” perintah dokter Kris menghentikan dua lelaki yang akan ikut masuk ke sebuah ruangan.
Bian menghela nafas pasrah, lalu netranya beralih menatap Nada dan mengatakan beberapa patah kata untuk memberikan semangat pada Nada. Gadis itu mengangguk dan tersenyum seolah mengatakan jangan khawatir.
Setelah Nada dan dokter Kris masuk ke dalam ruangan, diluar hanya tersisa Deril dan Bian. Dimana Bian yang sedang duduk di kursi tunggu sedang Deril sedang berdiri tak jauh dengan kepala tertunduk.
Mereka saling diam, tidak ada yang memiliki keinginan untuk berbicara. Mereka saling bertanya dan berharap dalam hati.
Agak lama mereka menunggu diluar sampai akhirnya dokter Kris keluar dari ruangan dan menyuruh mereka berdua masuk dan melihat Nada.
Disana Deril dapat melihat seorang gadis yang terkulai lemah di atas tempat tidur dengan wajah yang tidak nyaman. Ia tahu pasti sakit sekali habis melakukan kemoterapi ini.
Bian dengan sigap menaikkan bantal dikepala Nada ketika gadis itu ingin bersandar. Ia juga menatap teliti Nada yang pucat.
“Pasti berat untukmu, kamu hebat udah ngelakuin hal yang benar” hibur Bian dengan mata tepat menatap bola mata Nada.
“Makasih kak” jawab Nada dengan pelan dan setengah berbisik
Deril sendiri tak sanggup mengatakan apa-apa lagi, ia tahu begitu sakit yang dirasakan Nada tapi ia masih bisa menyembunyikannya.
“Dia cukup beristirahat disini tiga puluh menit lalu sudah bisa pulang. Tapi ingat jangan banyak melakukan aktivitas yang berat, karena ia sedang masa lemah.” ucap dokter Kris.
Nada mengangguk lemah dan memejamkan matanya sejenak, menikmati sensasi yang ada di tubuhnya. Sedang dua orang lelaki dihadapannya ini hanya diam denga. Pemikirannya masing-masing.
Tak terasa tiga puluh menit berlalu dan Nada sudah berjalan keluar rumah sakit dengan dipapah oleh Deril dan Bian. Tapi yang akan mengantarkan Nada pulang hanya Deril karena Bian mendapatkan panggilan dari kantor katanya ada masalah penting sekali.
Sebenarnya ia menolak dan memilih menemani Nada saja, tetapi gadis itu tidak ingin Bian meninggalkan pekerjaan yang sangat penting hanya demi dirinya. Kalau ada masalah diperusahaan Bian sangat dibutuhkan. Betapa banyak nyawa yang bergantung hidup dari perusahaan itu dan berapa banyak keluarga yang bisa kenyang dari perusahaan itu. Jadi ia tidak ingin ada masalah yang nantinya merugikan orang lain
“Kalo udah sampai pastikan kasih kakak kabar, ya Na” ucap Bian dengan nada perintah.
Nada mengagguk lemah dan lekas saja, ia masuk ke dalam mobil Deril. Setelah berpamitan dengan Bian, mobil Deril mulai melaju membelah jalanan perkotaan Jakarta yang padat.
Nada menyenderkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya pelan. Rasanya ia mengantuk sekali dan lemas sangat.
Deril sesekali melirik Nada, memastikan gadis itu nyaman dengan posisinya. Ia tidak berusaha mengajak Nada bebicara karena ia tahu Nada butuh istirahat saat ini.
Mobilnya sudah masuk ke dalam pekarangan rumah Nada, dan mata Nada sudah terbuka lalu ia membuka pintu dan langsung disambut oleh pegangan Deril
Lelaki itu merangkul tubuh lemah Nada, wajah gadis itu sekarang pucatdan terlihat lesu sekali. Tapi netranya tanpa sengaja melihat sebuah motor yang lumayan dia kenali. Dan benar saja di teras rumah Nada ada seorang lelaki yang mengenakan jaket denim itu berdiri dari duduknya dan menatap penuh selidik pada mereka berdua
Mata Nada sontak membelalak melihat Arkan ada di hadapannya padahal lelaki itu bilang ia akan pulang besok, hari Minggu tetapi kenapa malah hari ini?