Dear Nada

Dear Nada
Pencarian Nada Yang Diculik



Di sekolah


Karena hari ini Arkan tidak menjemput Nada ia berangkat agak siang dan hampir saja terlambat. Saat memasuki kelas keningnya berkerut ketika tidak mendapati sosok Nada di tempatnya.


Ia menduga gadis itu terlambat, tetapi sampai sudah belajaran Nada belum juga datang. Hatinya mulai dirayapi kecemasan akan ketidakhadiran Nada hari ini


‘Kemana Nada sampai tidak masuk? Apa ia sakit? Tapi semalam tidak terlihat kalau ia sedang sakit’ gumam Arkan dalam hati.


Sepanjang pelajaran berlangsung ia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan guru yang mengajar. Pikirannya terus berkecamuk, entah mengapa perasaanya tidak enak


Akhirnya jam istirahat tiba, ia lekas saja mengambil handphone nya dan menelepon orang yang ia suruh mengawasi Nada.


“Sekarang dimana dia?” tanyanya langsung begitu panggilan terhubung.


“Maaf tuan kami kehilangan jejak nona Nada. Saat ini kami sedang mencari keberadaannya”


“Bodoh! Kemana saja kalian sampai kehilangan Nada?!” bentak Arkan.


Firasatnya benar kan, ada yang tidak beres dengan ketidakhadiran Nada ke sekolah. Rahangnya mengeras ketika ia memikirkan seseorang yang memiliki alasan untuk menculik Nada.


“Maafkan kami tuan” ucapnya dengan rasa bersalah


“Tapi kami mendapatkan informasi dari orang yang melihat saat nona di masukkan ke dalam mobil. Sekarang kami masih mengecek CCTV yang ada di sekitar untuk mencari tahu kemana mobil itu membawa Nona” jelas orang itu.


Arkan berusaha tenang dan berpikir jernih. Saat ini yang paling penting ia pergi dulu dari sini dan mendatangi orang suruhannya untuk mengetahui kejadian lebih lanjut.


“Tunggu saya di sana. Sebentar lagi saya akan tiba” perintahnya lalu menutup penggilan sepihak.


Ketika ia hendak berjalan pergi menuju parkiran ada yang mencegatnya


“Tunggu! Lo bilang apa tadi? Nada hilang kemana?” tanya Putri cepat dan raut panik.


“Lepas!” desis Arkan


“Nggak sebelum Lo jawab gue!” Putri menggeleng menatap kuat Arkan.


Arkan menghela nafas kasar, “Nada diculik oleh orang yang tidak dikenal”


“Apa?! Bagaimana bisa?” teriak Emma yang berada di belakang Putri.


“Gue gak tau” geleng Arkan. “Makanya gue mau ke tempat dia diculik katanya ada orang yang melihatnya” jawabnya lagi dengan kecut.


“Kita berdua ikut” ucap Putri dan Emma bersamaan.


“Gak bisa” sahut Arkan cepat menolak.


“Bisa! Kami harus ikut gue gak bisa tenang diam aja disini sedang keberadaan Nada tidak diketahui” ucap Putri kekeuh dengan keinginannya untuk ikut mencari Nada.


Arkan menatap lama Putri dan Emma bergantian. Ia berpikir sebentar sebelum sebuah suara ikut menimpali.


“Kalian gak ngajak-ngajak gue gitu?” celetuk Kafa.


Saat ini Arkan memijit pelipisnya pelan, mengapa makin bertambah saja orang yang ingin ikut. Sekarang bahkan Kafa ingin ikut.


“Lo harus bawa gue karena gue akan sangat berguna nantinya” ucap Kafa dengan menatap serius Arkan.


Menatap satu persatu orang yang yang ada di situ, akhirnya Arkan mengangguk pelan. “Ayo cepat pergi” ajaknya diikuti Putri, Emma dan Kafa.


Mereka ikut di mobil Arkan karena lebih simple dan lebih cepat daripada mereka berpisah. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan dimana semuanya berpikir sendiri. Arkan bahkan terlihat mengeraskan mukanya dengan perasaan campur aduk antara menyesal, khawatir dan takut bersamaan.


“Permisi pak” ucap Arkan begitu tiba di depan lelaki itu.


“Iya dek ada apa?” lelaki paruh baya itu menatap bingung Arkan


“Dia kenalan gadis yang diceritakan bapak tadi” buru-buru lelaki yang mengenakan jaket hitam di samping lelaki paruh baya itu menjelaskan. Ia merupakan orang yang di tugaskan mengawasi Nada, Danu namanya.


“Oalah iya. Tadi pagi bapak liat ada gadis pake baju sekolah terus dia lagi jalan kaki sendiri. Bapak gak ingat giamana prosesnya tapi tiba-tiba aja dia sudah pingsan dan diangkat masuk ke dalam mobil. Mau bapak kejar tapi keburu pergi cepat mobilnya” jelas bapak itu yang mereka ketahui bernama bapak Farid.


“Bapak ingat gak bentuk mobilnya?” tanya Kafa maju mendekati pak Farid.


Terlihat pak Farid berpikir sembari mengetuk-ngetukan kepalanya dengan jarinya. “Ah iya, bapak ingat. Mobilnya berwarna hitam dan sepertinya jenis mobilnya agak besar”


“Kalo plat nomornya bapak ingat juga?” tanya Kafa bersemangat karena itu juga merupakan petunjuk penting untuk menemukan Nada.


“Kalo plat nomor, bapak lupa soalnya mobilnya cepat pergi” jawab pak Farid dengan meringis pelan.


“Danu kamu sudah cek CCTV di sekitar sini?” tanya Arkan pada Danu.


“Saya sudah mengamankan tetapi belum mengecek karena keburu anda datang” jawab Danu. Lalu ia mengambil laptop yang berada di sampingnya dan memberikannya pada Arkan.


Dengan cepat Arkan membuka laptop dan membuka rekaman CCTV yang menyorot kejadian sebelum diculiknya Nada.


Yang lainnya juga mendekati Arkan agar bisa melihat kejadiannya. Sampai pada Nada yang dibius dan dimasukkan ke dalam mobil. Arkan mempause bagian belakang mobil dan terlihat nomor plat mobil.


Arkan menatap Kafa mengangguk, “Lo bisa kan mencari posisi terakhirnya?”


“Tentu, berikan gue laptopnya” ucapnya dengan anggukan kepala.


Emma dan Putri menatap bingung Arkan dan Kafa, terlebih lagi Emma.


“Kenapa diberikan ke Kafa?” tanya Emma


“Shutt Lo cukup liat Kafa beraksi aja deh” Kafa meletakkan jari telunjuknya pada bibir Emma dengan senyum miringnya. Lalu mulai fokus dengan laptopnya mengabaikan Emma yang sudah akan mencakarnya.


Tidak ada yang berbicara setelah pak Farid pamit pergi dan tertinggal mereka yang saling diam hanya ditemani oleh suara ketikan di keyboard. Serta mereka sudah berada dalam mobil milik anak bawahan Arkan.


“Ketemu!” seru Kafa membuat yang lainnya terutama Arkan mendekati Kafa.


Bisa dilihat kening Kafa berkerut, “Sepertinya mereka bukan pemilik asli mobil ini. Disini tertulis kalau pemiliknya sudah meninggal, jadi kita tidak bisa mengetahui siapa yang menculiknya. Dan buruknya lagi saat ini posisi mobil ini sedang ada di pinggiran kota yang sangat sepi dan tidak memungkinkan ada bangunan” ucap Kafa menjelaskan.


“Lalu bagaimana kita menemukan Nada?” tanya Putri dengan putus asa.


“Nada akan baik-baik saja kan disana” gumam Emma sendiri.


“Kita tidak tahu. Apa Putri memiliki orang yang membencinya atau apa gitu?” tanya Kafa.


Arkan terdiam tidak menjawab pertanyaan Kafa. Dalam benaknya ia sudah memiliki perkiraan orang yang bisa melakukan hal ini. Paman Nada.


Tapi ia masih belum yakin dengan tebakannya, “Danu coba tanya orang yang mengawasi tuan Glen apakah ia ada di perusahaan atau tidak” perintah Arkan setelah berpikir dengan keras.


“Baik tuan” setelah menjawab Danu terlihat menelepon seseorang yang diperintahkan oleh Arkan


“Siapa tuan Glen?” tanya Kafa dengan menyipitkan matanya.


“Apa dia orang yang Lo curigai?” tanya Kafa lagi. Dan diangguki oleh Arkan walau terlihat ragu-ragu.


Mata Kafa membulat diikuti tatapan penasaran Emma dan Putri. Tapi ia merasa janggal bagaimana Arkan bisa mencurigai tuan Glen itu yang melakukan hal ini.