
Nada masih saja duduk di kursi halte, bahkan sudah ada beberapa bus yang singgah dan pergi tetapi ia masih ada disana. Entahlah rasanya ia masih ingin duduk diam disini, ia masih tidak ingin pulang. Setidaknya saat ia disini tidak akan ada air mata yang akan mengalir, jujur saja Nada sedang tidak ingin menangis tapi hatinya akan mudah lemah saat sendirian.
Jadi pilihan terbaiknya saat ini, ialah tetap berada disini. Setidaknya ia akan melihat banyak orang disini, ia tidak akan merasa kesepian, kan?
Nada bukan gadis sekuat itu, ia hanya remaja biasa yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Siapa yang tidak akan terpukul ketika mengetahui kalau ia mengidap penyakit ganas yang sewaktu-waktu akan merenggut nyawanya. Sedang masih banyak yang ingin ia lakukan, umurnya baru menginjak 17 tahun tapi umurnya sudah diprediksi akan berakhir dalam beberapa tahu. Ia tidak bodoh, sangat sedikit kemungkinan ia akan sembuh sepenuhnya.
Drett drett
Getaran handphone di dalam tas selempangnya membuatnya cepat-cepat membuka tas itu dan mengambil handphone untuk melihat siapa yang menelepon. Setelah tahu siapa peneleponnya ia langsung menangkap teleponnya.
“Halo, Arkan” sapa Nada.
“Halo, sayang. Maaf aku baru telepon kamu seharian ini” ucap Arkan dengan nada penyesalan.
“Nggak papa, lagian kamu sibuk juga kan. Aku paham kok” balas Nada.
Ia tahu disana Arkan bukan hanya berdiam diri, tapi ia bekerja dan ia sangat bangga dengan lelaki itu diusianya yang masih sangat muda tapi sudah mengembangkan usaha sendiri dengan kepintarannya.
“Gimana hari ini apa menyenangkan? Atau ada yang mengganggu kamu?”
“Em cukup menyenangkan” angguk Nada walau Arkan tidak akan melihatnya.
“Kenapa cukup aja?”
“Bawel ya kamu. Ya pastinya karena enggak ada kamu jadi kelas sepi deh” ucap Nada dengan senyum-senyum sendiri.
“Udah pinter ya ngegombal siapa sih yang ngajarin”
Nada hanya terkekeh mendengar suara Arkan yang sedikit berbeda, ia tahu lelaki itu pasti salah tingkah. Andai aja ia ada di muka Arkan pasti menyenangkan melihat wajahnya yang memerah.
“Udah makan?” tanya Nada mengalihkan pembicaraan.
“Belum lagi ngerjain berkas perizinan nih, bentar lagi kayanya selesai”
“Udah jam segini Arkan dan kamu masih belum makan. Dan kamu lebih milih nelpon aku padahal kerjaan kamu belum selesai bahkan belum sempat makan” omel Nada kesal dengan Arkan.
“Iya ini udah mau selesai kok, nanti abis selesai aku makan kok”
“Awas kalo gak makan, nanti aku bakal nanya mas Abdi kamu makan apa gak”
“Na Aku kangen” ucap Arkan tiba-tiba dengan suara berat membuat Nada membeku. Rasanya ada kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Lelaki ini selalu sukses bikin ia salah tingkah.
“Na masih disana kan, belum kamu matiin teleponnya kan?”
“Oh iya masih. Kamu sibuk kan aku tutup aja teleponnya ya” ucap Nada dengan suara agak terbata.
“Enggak bakal sebelum bilang kamu juga kangen sama aku” ucap Arkan dengan kekeuh.
“Iya”
“Iya apa?”
“Kangen” tanpa mendengar jawaban Arkan, Nada langsung saja mematikan sambungan teleponnya. Ia menutup mukanya erat. Sungguh Arkan merupakan mood booster untuknya, saat ia sedang tidak baik-baik saja lelaki itu membuat perasaanya menjadi lebih baik.
Tapi apakah semua akan sama suatu hari nanti, apa lelaki itu akan sedih saat tahu tentang dirinya atau tidak. Apa ia sudah cukup layak untuk mendapatkan cinta Arkan? Tuhan mengapa begitu banyak halangan untuk bahagia. Begitu satu masalah selesai mengapa masalah lainnya berdatangan lagi.
“Na.” panggil Deril lirih ditelinga Nada.
Nada tersenyum kecut, ia tahu lelaki itu dari nada bicaranya sudah tahu tentang hal ini. Entah dari mana ia tidak tahu, tapi bukankah Deril juga sudah tahu dari awal.
Kepala Deril menunduk menyembunyikan kesedihannya, rasanya seperti dirinya yang mengalami hal ini padahal nyatanya Nada yang mengalami. Sesaat kemudian ia mendongak lagi dan menatap tepat bola mata Nada.
“Kalo kamu mau melakukannya, bilang aku biar nanti aku yang dampingi kamu. Aku akan selalu siap kok” ucap Deril dengan mantap.
Melihat kesungguhan di mata Deril membuat Nada terharu, ia sungguh beruntung memiliki teman seperti Deril. Walau ia tahu lelaki itu tidak hanya menganggapnya teman melainkan lebih. Tapi bukankah ia tidak bisa mengatur hati seseorang, dia jatuh cinta itu merupakan suatu pilihannya.
“Tapi aku gak ingin merepotkan kamu, aku gak apa-apa kok. Ini cuma pengobatan untuk menyembuhkan aku kan”
Karena itu Nada memilih menolak tawaran Deril, jahat banget dia kalo menerima tawaran lelaki itu sedang ia hanya bisa menyakiti hatinya saja.
“Gak sama sekali. Dan aku memaksa Na, lebih baik ada yang menemani kamu. Aku gak mau melihat kamu sendirian menghadapi hal ini. Dan kamu belum ngasih tau Arkan kan?”
Nada menggeleng lemah, ia tidak ingin lelaki itu tahu tentang hal ini. Biarkan hanya dirinya yang menjalaninya
Deril menghela nafas pelan, “Jadi jangan membantah lagi, pokonya aku ikut menemani kemoterapi”
“Tapi aku gak sendiri Ril, ada kak Bian juga yang nemenin aku beneran” ucap Nada kembali membuat alasan.
“Aku akan tetap datang, hari Sabtu kan. Ayo aku antar pulang, kamu gak boleh terlalu lelah Na. Hari sudah hampir malam, suhu sudah mulai dingin juga” Deril berdiri dan mengajak Nada untuk ikut bangkit dan menuju mobil. Untung saja tadi Deril memakai mobil bukan motor, mungkin ia sudah feeling akan mengantar Nada.
Nada mengangguk saja, karena ia juga sudah merasa lelah dan sedikit pusing. Mungkin efek ia terlalu banyak berpi
kir tadi. Di dalam mobil tanpa sadar Nada tertidur dengan ditemani alunan musik yang relaks. Sesekali Deril melirik Nada yang terlihat pulas sekali, ia memberikan jaketnya untuk menutupi tubuh Nada.
Mobil Deril sudah berhenti selama lima belas menit, mereka sudah sampai di depan rumah Nada. Tapi Deril tidak tega membangunkan Nada, jadi ia hanya diam menunggu gadis itu bangun. Menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil dan menghembuskan nafas pelan, matanya menatap lurus kedepan.
“Ukh udah sampai, kenapa gak bangunin aku” ucap Nada dengan suara serak dan mata yang mengerjap-ngerjap.
Deril menoleh menatap Nada dengan senyuman, “Kamu nyenyak banget tidur aku gak mau ganggu”
“Tapi kamu jadi nunggu lama kan” ucap Nada merasa tidak enak karena merepotkan Deril.
“It's oke. Gak masalah beneran” ucap Deril mantap meyakinkan Nada.
Nada melepaskan sabuk pengaman dan mengembalikan jaket milik Deril pada lelaki itu dan diterimanya lalu ditaruh di kursi belakang. Nada membuka pintu mobil dan keluar dengan perlahan diikuti Deril yang keluar dari mobilnya juga.
“Mau mampir dulu gak?” tanya Nada berbasa-basi.
“Gak usah aku langsung aja, udah ditunggu mama kayanya” tolak Deril dengan halus.
“Terima kasih udah ngantar aku sampai rumah dan udah ngerepotin kamu lagi”
“Nggak ngerasa repot kok, udah kamu masuk aja istirahat yang banyak. Aku pulang dulu” Deril pamit dengan senyum tulusnya.
Nada terus memperhatikan mobil Deril yang mulai hidup dan klakson tanda dari Deril sebelum mobil itu menghilang dari pandangannya.
Ia menghela nafas panjang lalu berbalik masuk ke dalam rumahnya. Nada menaruh tasnya di atas sofa dan ia sendiri menuju dapur untuk mengambil minuman.
Sepertinya ia harus mandi dulu sebelum tidur karena tubuhnya yang lengket sekarang. Walaupun mandi malam tidak dianjurkan tetapi mau bagaimana lagi ia merasa tidak nyaman saat tidak mandi.