Dear Nada

Dear Nada
Dicegat di Jalan



“Bareng gue aja pulangnya”


“Nggak gue pulang sendiri aja” tolak Putri


“Kalo Lo mau ngebuktiin enggak benci gue, Lo harus mau” ucapnya dengan nada tidak mau dibantah.


Mata Putri membulat dan menatap penuh kekesalan pada Candra. “Gak bisa gitu dong! Itu beda lagi ceritanya” sanggah Putri.


Candra tidak menjawab atau menanggapi perkataan Putri, tangannya masih mencengram tangan Putri agar gadis itu tidak pergi.


Dengan wajah tertekuk Putri kembali menjatuhkan dirinya di atas kursi. Ia menghembuskan nafas kasar dan mengalihkan tatapan ke arah lain tidak ingin melihat Candra.


Tentu saja hal itu membuat Candra terkekeh melihat Putri yang kesal setengah mati karena dia. Kemudian ia cepat-cepat menyelesaikan makanannya dan mengantar tuan Putri sebelum ia berubah. Memangnya Putri Cinderella apa.


“Ayo gue udah selesai” Candra berdiri diikuti Putri yang ogah-ogahan mengikuti Candra menuju penjualnya untuk membayar.


“Mas sekalian sama punya cewe ini ya, kembaliannya buat ambil aja” ucapnya sembari menyodorkan selembar uang ratusan.


“Wah makasih banyak mas” ucap penjual itu dengan senyum sumringah yang diangguki oleh Candra.


Lalu tanpa basa-basi lagi, Candra menarik tangan Putri menuju motornya yang terparkir di samping kedai. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Putri dan mengambil sebuah helm dan melemparkan helm itu ke arah Putri.


Untung saja Putri sigap untuk menyambut helm itu, jika tidak bisa-bisa sudah ketimpuk helm dia.


“Lo gak bisa santai aja napa nyerahin helmnya” sungut Putri. Ia memasang dengan cepat helmnya ke kepalanya


“Gue tau lo pasti bisa nangkep tu helm” yakinnya seraya menghidupkan mesin motornya.


“Naik” titahnya menatap Putri.


Setelah Putri naik ke atas motor Candra, langsung saja lelaki itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


“Lo tau gak?” tanya Candra memecah kesunyian.


“Gak tau” jawab Putri singkat.


“Gue belum selesai ngomong. Tadi tuh gue udah ngeramal bakal ketemu sama cewe cantik” ucapnya


“Terus apa hubungannya Lo ngasih tau gue” sahut Putri dengan sewot.


“Ada hubungannya lah. Ya cewe itu kan elo” ucap Candra dengan cepat.


Tangan Putri dengan mulus menggeprak bahu Candra sadis. “Buaya Lo!”


Candra tertawa ketika Putri melampiaskan kemarahannya pada bahunya. Perempuan di belakangnya ini memang berbeda, jika perempuan lain pasti akan tersipu begitu dipuji. Tetapi ia malah marah dan tidak baper sama sekali.


Sesaat matanya teralih ke kaca spion yang menampilkan beberapa motor yang kelihatannya mengikuti dirinya. Ia belok motor itu ikut belok. Candra mulai sedikit gelisah, jika ia sendiri tidak mengapa tapi sekarang ia bersama Putri. Ia tidak ingin melibatkan gadis itu kedalam masalahnya.


Sadar akan keanehan Candra yang melajukan motornya sangat cepat membuatnya bertanya-tanya. “Ngapa Lo naikin kecepatan motor?”


“Gak apa-apa. Lebih baik Lo pengangan yang erat gue mau naikin lagi kecepatan motor” sahut Candra sambil sesekali melirik ke belakang lewat kaca spion.


“Sial!” desisnya yang didengar oleh Putri.


Gadis itu mengikuti pandangan Candra ke kaca spion. Matanya membulat begitu melihat ada tiga motor yang mengikuti mereka dari belakang.


“Mereka siapa?”


Candra tersenyum kecut dibalik helmnya. “Mereka musuh-musuh gue. Yang gue gak nyangka mereka mau nyerang di saat gue gini”


“Banyak amat musuh lo” cetus Putri datar.


Tanpa mereka sadari satu motor di belakang sudah membalap mereka dan menghalangi jalan motor Candra. Membuat lelaki itu mengerem secara mendadak sampai kepala Putri terantuk helm Candra.


Motor-motor dibelakang tadi mulai berhenti dan turun orang-orang di atasnya yang sekarang berjumlah enam orang. Candra menarik nafas kasar dan melepaskan helmnya. Begitu juga Putri yang turun dari motor Candra.


Sontak saja Candra menarik Putri ke belakang tubuhnya. Ia tidak menyukai tatapan yang mereka arahkan untuk Putri.


“Kalo ada masalah sama gue aja urusannya jangan libatkan orang lain” ujar Candra menatap tajam kelompok itu.


“Gak usah banyak bacot!” seorang lelaki bertindik maju menyerang Candra dengan pukulan.


Candra menyambut pukulan lelaki itu dengan keras. Mereka saling balas dan teman-teman lelaki yang menyerangnya itu ikut juga mengeroyok Candra.


“Pengecut Lo semua main keroyokan!” Candra meludah ke samping dengan marah.


Putri yang melihat Candra terpojok karena dia sendirian sedang lawannya memiliki banyak orang. Ia memutuskan untuk ikut membantu Candra. Ia melawan beberapa orang sekaligus sehingga meringankan beban Candra.


Melihat Putri yang ikut berkelahi Candra menunjukkan raut panik, “Lo ngapain ikutan! Pergi dari sini!” teriak Candra.


“Lo kayanya lupa kalo gue itu bukan cewe lemah” sahut Putri dengan datar.


“Ck pasangan yang menarik” seorang lelaki yang diam saja dan melihat jalannya pertarungan menyeringai.


Putri menendang tepat di perut lelaki itu dan memukulkan helmnya ke kepala lelaki yang lainnya. Ia terlihat sangat menikmati pertarungan ini.


Melihat banyak temannya yang tidak dalam kondisi baik dan sudah babak belur. Lelaki yang memperhatikan saja itu memberi kode untuk pergi dari sana.


Lekas saja mereka kabur dan menyalakan motor mereka dengan cepat. Ada yang agak terlambat lari dan Putri sempat menendangnya keras dan tertawa melihat lawan yang tadinya garang lari terbirit-birit.


“Lo hebat juga” ucap Candra mendekati Putri.


“Tentu saja” Putri mengusap hidungnya dengan bangga.


Candra menatap Putri lama dan mereka saling tatap sebelum tertawa bersama. Mereka tidak menyangka akan menjadi partner yang baik dalam hal bertarung.


...***...


Pagi ini suasana hati Nada masih saja buruk. Semenjak pertengkaran pertamanya dengan Arkan yang masih belum ada titik terangnya itu terjadi, ia masih memiliki ekspresi muram.


Ketika membuka pintu biasanya lelaki itu sudah ada bersandar di sisi mobilnya atau duduk di atas motornya tetapi sekarang tidak ada hanya ada kesunyian.


Berkali-kali Nada menarik dan menghembuskan nafas kasar berusaha mengusir rasa tidak nyamannya. Ia memilih berjalan menuju halte yang tidak jauh dari rumahnya. Saat ia keluar rumah dan menuju halte ia merasa ada yang mengawasi dan mengikutinya diam-diam.


Ia mempercepat jalannya karena di wilayah ini tidak banyak orang berlalu lalang. Instingnya semakin mengatakan kalau ada bahaya yang mengintai dirinya.


Sampai saat seseorang menempelkan sapu tangan ke mulutnya dan ia mulai kehilangan kesadaran.


Dua orang lelaki mengangkat tubuh Nada ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan mereka. Tetapi seorang lelaki paruh baya melihat hal itu tetapi tidak berdaya untuk menolongnya karena banyak lelaki berwajah sangat dan berbadan kekar.


...***...


Saat ini Nada sudah di tempatkan di sebuah rumah di daerah terpencil. Tubuhnya di dudukkan di atas sebuah kursi. Tangan dan kakinya terikat erat dan kepalanya terkulai ke bawah.


“Haha....bagus sekali kerja kalian. Akhirnya anak ini ada dalam genggamanku” ucap seorang lelaki dengan disertai gelak tawa puas.


“Sana kalian boleh pergi, bonus nanti akan diberikan kepada kalian” ucapnya dengan melambaikan tangan keluar.


Para penculik Nada tersenyum sumringah mendengar bonus disebutkan oleh lelaki itu. Mereka dengan cepat keluar dari ruangan itu menyisakan lelaki yang berbicara tadi dan seorang lagi lelaki yang memiliki wajah datar berdiri di samping lelaki yang berbicara itu.


Lelaki yang memerintahkan untuk menculik Nada adalah pamannya sendiri yakni Glen. Glen tersenyum miring dengan kaki melangkah mendekati Nada yang tubuhnya terikat.


“Ck ck,... Andai kamu tidak melawanku kakak maka anak kamu tidak akan mengalami hal ini” decaknya.


“Apa masih lama dia bangun?” Glen berbalik dan bertanya pada lelaki yang masih berdiri di sana.


“Sepertinya dia bangun satu jam lagi tuan” jawab lelaki itu dengan hormat.


“Huh baiklah aku memiliki banyak waktu menunggunya” ia mendengus lalu kembali ke tempat duduknya dan menghisap cerutu sembari kaki di angkat ke atas meja.