
Nada terbangun cukup pagi, setelah mandi dan membereskan kamar Ia memutuskan untuk turun ke bawah. Menuruni satu persatu tangga hingga mencapai lantai bawah, segera saja ia menuju dapur. Di sana dia melihat seorang wanita yang sedang memasak di bantu beberapa orang.
“Mom?!” ucap Nada dengan sedikit terkejut.
Wanita itu berbalik dan memberikan senyum pada Nada, “Udah bangun sayang? Tunggu di meja makan sebentar lagi selesai ini”
“Aku bantuin aja ya” Nada mendekat ke arah Tante Elen yang sedang sibuk memotong sayuran.
“Eh gak usah kamu tunggu aja, udah banyak kok yang bantu” tolak Tante Elen tapi Nada tetap kekeuh untuk membantunya akhirnya Tante Elen pasrah saja.
“Mau dimasak apa Mom?” tanya Nada sembari mengupas bawang.
“Masak cah kangkung, ayam asam manis sama udang saus tiram. Kamu tau Nada Arkan itu sangat suka udang saus tiram makanya Mommy masak ini” ucapnya seraya berlalu mengambil ayam yang sudah dibersihkan. Nada manggut-manggut mengerti dengan ucapan Tante Elen.
Karena Nada sudah terbiasa mandiri dan dia tinggal sendiri, maka tidak heran lagi kalau dia mahir dalam memasak. Hidup dengan mengandalkan dirinya sendiri membuatnya banyak memiliki keterampilan bertahan hidup, salah satunya ya memasak.
“Wah, kamu sangat pandai memasak. Kayanya Mommy aja kalah nih” kagum Tante Elen dengan berbinar.
“Gak juga Mom, Nada masih belum semahir itu dalam memasak” ucap Nada merendah.
“Duh ini menyenangkannya punya anak perempuan bisa diajak masak. Andai aja dulu Cika gak meninggal mungkin dia akan berteman baik dengan kamu” ucap Tante Elen sendu. Nada menoleh seketika ke arah Tante Elen yang sudah terlihat murung.
“Cika..?”
“Oh Cika itu anak perempuan Mommy yang sudah istirahat dengan tenang di sana. Dia juga saudari kembar Arkan” ucap Tante Elen menjelaskan karena Nada yang terlihat bingung
“Jadi...Arkan punya saudari kembar” Nada sedikit tidak mengira. Dia bahkan dulu tidak tau kalau lelaki itu mempunyai saudara kembar padahal mereka sering ketemu.
“Eh kita malah ngobrol di sini, ayo lanjut aja masaknya sebelum para lelaki turun” ajak Tante Elen membuyarkan pikiran Nada.
Nada mengangguk lalu kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda, perempuan beda usia itu memasak dengan kompak sampai hidangan yang terlihat sangat lezat itu terhidang di meja makan.
“Masak apa Mom” celetuk seseorang masih dengan wajah bantalnya berjalan mendekat dan mengambil gelas lalu menuangkannya sebelum menegak minuman itu hingga habis.
“Arkan cuci muka dulu sana, kalo habis bangun itu biasakan cuci muka nggak malu sama Nada apa” omel Tante Elen yang membuat Nada sedikit terkekeh melihat Arkan yang hanya terdiam saat Mommynya mengomelinya.
“iya mom iya, nanti kalo udah selesai minum” seloroh Arkan.
“Kamu itu gak malu apa sama Nada, dia aja udah rapi gini masa kamu masih kusut gitu” cibir Tante Elen pada Arkan.
Lelaki itu hanya berubah cemberut mendengar cibiran Mommynya.
“Aku ini tampil apa adanya Mom, apalagi dihadapan Nada, ya kan?” ucapnya seraya menaik-turunkan alisnya seraya tersenyum manis pada Nada.
“Yang ada Nada bakalan ifill sama kamu” balasnya lagi seraya menatap sinis anaknya. “Mommy panggil Daddy dulu, dan Arkan jangan lupa cuci muka”
Setelah mengatakannya Tante Elen melenggang menaiki tangga menuju lantai tiga. Di meja makan hanya tersisa Arkan dan Nada yang mana Nada yang sedang berdiri canggung.
“Kaya orang marahan tau duduknya punya jarak gitu ya” sindir Arkan yang tidak ditanggapi Nada.
Arkan menelisik penampilan Nada yang sudah agak beda pagi ini, “Mau kemana pagi gini?” tanya Arkan penasaran.
Nada melirik Arkan sekilas, “Mau keluar nanti” jawabnya singkat.
Arkan mengerutkan keningnya, “Keluar kemana? Ini kan hari libur”
“Justru itu, aku ada bimbingan pagi ini” jawab Nada malas.
“Ada Deril juga dong” ucap Arkan dengan nada sedikit gelisah.
“Tentu kan bimbingannya di rumah Deril” ucap Nada santai tanpa melihat ekspresi Arkan yang sudah semakin jelek.
“Rumah Deril?! Kok bisa kenapa gak ditempat lain aja. Dari banyaknya tempat kenapa harus rumah bocah itu sih” mata Arkan membulat ketika tau Nada akan ke rumah Deril. Ia sangat tidak suka ketika Nada menjadi dekat dengan lelaki sok ganteng itu.
Nada menatap aneh Arkan, “Kamu aneh lagi kan, bukannya rumah Ibu Yeni berdekatan dengan Deril. Berhubung rumahnya gak bisa dipakai buat belajar dan rumah Deril menjadi yang terdekat jaraknya, jadi ya beliau memutuskan untuk belajar di sana” jelas Nada sembari mengalihkan perhatiannya pada Tante Elen yang sudah turun diikuti suaminya.
“Arkan kamu belum cuci muka dari tadi bukannya Mommy udah bilang. Sana cuci muka dulu!” semprot Mommy dengan kesal pada Arkan membuat lelaki itu mengurungkan niatnya untuk membalas perkataan Nada dan bangkit sembari menghela nafas menuju kamar mandi dekat dapur.
***
Saat ini Nada sudah berada di depan pintu rumah Deril, setelah perjuangannya untuk membujuk Arkan agar tidak mengantar dirinya dengan berbagai alasan. Ia memencet bel yang ada di samping pintu, menunggu sebentar. Sebenarnya ia sudah pernah ke rumah Deril satu kali makanya dia tidak sulit menemukan rumah lelaki itu.
Tak lama pintu depan itu dibuka dari dalam dan muncul sosok Deril yang mengenakan pakaian santainya.
“Eh Nada, ayo masuk. Yang lainnya sudah datang dan nunggu di dalam” ucapnya mempersilahkan Nada masuk dengan membuka pintu lebar. Nada masuk dengan pelan setelah memberikan seulas senyum sopan pada Deril.
Sampai di ruang tamu rumah Deril, Ia melihat Bu Yeni dengan Riko yang sedang duduk ditemani buku di atas meja. Rumah Bu Yeni sebenarnya dekat dengan Arkan, alasan tidak belajar di rumah Bu Yeni adalah karena rumahnya ada anak kecil yang merupakan anak dari Bu Yeni yang masih kecil. Jadi kalau mereka belajar di sana takutnya malah tidak konsen apalagi anak beliau sedang aktif-aktifnya.
Nada menaruh tasnya dan duduk di tempat yang kosong, setelah sebelumnya menyapa Bu Yeni dengan sopan. Mengeluarkan bukunya dan menaruhnya di atas meja, tetapi di sedikit tersentak saat ternyata Deril duduk di sampingnya dengan santainya.
Gadis itu hendak berbicara tetapi Bu Yeni sudah mulai membuka pelajaran dan membahas materi. Jadinya ia mengurungkan niatnya, toh hanya duduk di samping Deril saja kan.
Mereka fokus dengan materi yang sedang di bahas karena dalam olimpiade ini mereka bertiga membawa nama sekolah. Sampai kedatangan seseorang membuat suasana agak berbeda.
Perhatian mereka teralih pada seorang perempuan yang mengenakan rok selutut dan kemeja crop berwarna navy sedang melangkah dengan santai.
“Bu Yeni” sapanya begitu melihat ada seorang guru, Bu Yeni hanya mengangguk membalasnya.
“Hai Deril, Tante Nida tadi nyuruh gue ke sini. Sekarang dimana tantenya?” tanyanya tanpa melihat ke arah Nada.
Deril sedikit berdecak, “Ngapain Lo ke sini sih Prissil” Deril terlihat kesal melihat keberadaan Prissil.
“Udah gue bilang kan, gue disuruh Tante Nida” terlihat Prissil memutar matanya malas melihat tatapan tidak suka Deril. Pandangan gadis itu mengedar dan pupilnya sed