
Nada mengerjapkan matanya pelan ketika cahaya terang memasuki netranya. Dia menoleh pada jam weker di samping tempat tidurnya. Dia membulatkan matanya ketika melihat jarum jam sudah berada di angka 6.30, dengan cepat dia bangkit dari tempat tidur dan membuka matanya lebar.
“Mati aku! Udah jam setengah tujuh!” pekiknya kecil sembari menepuk kepalanya. Dia berlari kecil menuju kamar mandi. Demamnya sudah turun dan dia tidak lagi merasakan pusing di kepalanya jadi dia memutuskan berangkat ke sekolah.
Setelah mandi dia bergegas memakai seragam dan menyambar tasnya dengan cepat memasukkan buku pelajaran. Dia melirik jam dan semakin mempercepat gerakannya karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Sedang dia butuh waktu yang cukup lama untuk perjalanan ke sekolah.
Saat dia membuka pintu rumahnya dia dikejutkan dengan Arkan yang sudah bersandar di samping mobilnya. Nada terdiam di tempatnya sampai Arkan berjalan menghampirinya.
“Udah sembuh?” tanyanya.
Nada mengangguk, “Sudah”
“Ayo” ajaknya seraya menarik tangan Nada untuk mengikutinya. Tetapi Nada tidak ikut berjalan yang membuat Arkan menatap Nada yang juga menatapnya dengan tatapan seolah bertanya.
“Bareng gue aja berangkatnya” ucapnya datar
“Tapi aku bisa berangkat sendiri” bantah Nada
Tatapan Arkan menajam ketika Nada menolak berangkat bersamanya. “Cepat Na ini udah mau telat kalo kita masih di sini aja” ucapnya dengan tegas.
Nada terkesiap ketika ingat jam sudah mepet, Nada memutuskan untuk mengikuti Arkan. Lelaki itu menunjukkan senyum tipis ketika Nada menuruti perkataannya.
Arkan membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Nada untuk masuk. Nada meringis canggung dengan perlakuan lelaki itu. Setelah Nada duduk dengan aman dia memutari mobilnya dan masuk lewat pintu sebelahnya. Dia memajukan mobilnya dengan santai.
“Arkan bisa lebih cepat gak? Udah mau telat kita” pintanya dengan raut wajah yang gelisah.
Arkan melirik sekilas Nada lalu mengangguk samar. Lalu tanpa peringatan dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nada yang tidak siap itu langsung saja memekik kaget. Jika tau Arkan akan segila ini ketika membawa mobil dia tidak akan menyuruhnya untuk melajukan mobilnya lebih cepat. Nada lebih baik dihukum karena telat dari pada jantungan dini.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka tiba di sekolah dan pas sekali gerbangnya belum tertutup. Nada keluar dari mobil Arkan dengan lemas. Sedang Arkan menatapnya dengan tatapan tidak bersalahnya.
“Lo gak apa-apa kan?”
“Iya gak apa-apa” ucap Nada seraya tersenyum paksa. Percayalah saat ini tangannya masih bergetar karena kejadian tadi.
Mereka berjalan menuju kelas dengan bersisian. Nada sebenarnya risih ketika banyak yang melihatnya dengan tatapan penasaran dan penghianaan karena berjalan dengan murid baru yang terkenal itu.
Sampai di kelas suasananya masih ramai dan tidak terlihat guru. Ternyata pagi ini guru yang mengajar ada keperluan dan tidak bisa masuk jadi hanya meninggalkan tugas. Jadi kelas ini sangat ribut dengan aktivitasnya masing-masing.
Tak berselang lama keadaan kelas jadi cukup heboh, Nada terlihat tidak peduli dengan semua itu. Dia sedari tadi hanya fokus mengerjakan tugasnya bersama Arkan. Tanpa dia sadari penyebab kelas menjadi heboh itu adalah kedatangan seorang most wanted sekolah yang digadang-gadang menjadi salah satu cowo tertampan di sekolah.
Sampai sebuah suara mengalihkan perhatiannya. “Nada aku denger Prissil gangguin kamu lagi. Bener?” tanyanya.
Nada mendongak menatap Deril yang berdiri di depannya. Dia memberikan tatapan serius, “Aku rasa itu tidak penting buat kamu” ucapnya dengan nada cuek.
“Tentu saja penting! Semua karena aku jadi tentu sangat penting!" Tekannya tidak terima dengan pernyataan Nada.
“Karena itu, lebih baik kamu jangan menemui aku lagi! Agar Prissil tidak salah paham lagi sama aku” sahut Nada dengan kesal.
Brakk!!
Untuk sekejap seluruh kelas hening karena terkejut. Mereka semua menatap Arkan yang sudah berdiri dengan sorot yang menyeramkan.
“Terus apa yang Lo bisa! Jangan jadi pecundang deh!” bentak Arkan dengan tatapan dingin.
“Apa urusannya sama lo?” Deril terlihat tidak terima ketika ada yang ikut campur urusannya dengan Nada.
“Tentu saja ada! Semua yang berkaitan dengan Nada akan menjadi urusan gue!” desis Arkan dengan mata berkilat tajam menghunus kearah Deril ketika mengatakan hal itu.
Nada terdiam menatap Arkan, dia semakin merasa Arkan seseorang yang rumit. Dan lebih lagi Nada tidak tahu maksud lelaki itu mendekatinya dan baik padanya.
“Lo bukan siapa-siapanya Nada. Jadi Lo ga usah sok begitu bro” Deril terkekeh ketika mengatakannya sembari mengirim tatapan menantang.
Arkan mendekat ke arah Deril lalu menyentuh bahunya dan berbisik, “Nada itu dari dulu sudah jadi milik gue begitupun sekarang! Jadi lebih baik Lo kubur perasaan lo” ucapnya seraya tersenyum miring.
Nada tidak tau apa yang Arkan bisikkan kepada Deril sehingga membuat pria itu mengeraskan wajahnya marah
“Lo mau tau siapa gue bagi Nada? Gue pacarnya Nada jadi, Lo gak usah khawatirin pacar gue. Lebih baik Lo jagain cewe Lo supaya menggunakan otaknya dengan baik” celetuk Arkan dengan tangannya mengetuk kepalanya seraya menatap penuh kemenangan ke arah Deril yang di
Sambut raut masam Deril.
Nada terkejut mendengar pengakuan Arkan. Dengan sigap dia berdiri tetapi di tahan Arkan. Lelaki itu berdiri di depan Nada dan menatap Nada lembut.
“Sejak kapan?” tanyanya seraya menatap Nada.
“Sejak kemarin dan Lo berhenti muncul di hadapan Nada” bukan Nada yang menjawab melainkan Arkan. Lelaki itu tidak memberikan kesempatan bagi Nada untuk berbicara.
“Selamat ya” ucapnya dengan raut kekecewaan terlihat di wajahnya. Deril keluar dari kelas dengan langkah cepat, tangannya mengepal kuat. Lagi-lagi dia terlambat untuk mendapatkan orang yang di cintai nya.
Nada memperhatikan Deril yang melangkah keluar kelas dengan tatapan rumitnya. Kemudian dia menoleh pada Arkan dan memberikan tatapan kesal.
“Apa-apaan tadi Arkan. Kita gak pernah pacaran kenapa kamu bilang gitu” seru Nada tertahan ketika Arkan sudah duduk di sampingnya. Gadis itu menatap Arkan kesal.
“Gue itu ngelindungin Lo, supaya lelaki tengil tadi nggak mendekati Lo lagi” terang Arkan.
Nada ber-oh ria, tetapi dia kembali mengerutkan keningnya. “Apa harus dengan mengatakan kita pacaran?” tanyanya heran.
Arkan mengalihkan pandangan ke arah lain dan berdehem, “Harus! Supaya dia tidak berharap lagi sama lo” ucapnya dengan tegas.
“Jadi kita pacaran pura-pura dihadapan Deril?” tanya Nada lagi memastikan.
“Nggak di hadapan Deril aja tapi sama semua siswa di sini” ucap Arkan
Nada hanya mengangguk lalu melanjutkan kembali mengerjakan tugasnya. Sedang Arkan dia merutuk kesal dalam hatinya karena Nada yang tidak peka dengan perasaan dirinya.