
“Em Lo belum pulang?” tanya Kafa dari dalam mobil.
“Lo liat aja gue masih disini artinya gue belum pulang” ucap Emma sarkas membuat Kafa tertawa canggung.
“Mau ikut gue? Lagian kost Lo searah sama rumah gue” tawar Kafa yang membuat Emma menatapnya antusias.
“Beneran?” tanyanya memastikan.
“Iya bener”
Sontak saja Emma bangkit dan menuju mobil Kafa tanpa pikir panjang. “Na gue pulang bareng Kafa” katanya pada Nada yang masih memakai helm.
Nada menoleh pada Emma dan mengangguk dan melihat gadis itu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Kafa.
“Ayo naik Na” ajak Arkan membuat Nada menoleh kembali pada Arkan.
Dengan menggunakan bahu Arkan Nada naik ke atas motor lelaki itu. Salahkan saja tempat duduk yang tinggi membuatnya kesulitan untuk naik.
“Pegang yang erat” tangan Arkan mengambil kedua tangan Nada dan mengarahkannya agar memeluk perutnya dengan erat.
Saat Nada berusaha melepaskan, kedua tangannya ditahan oleh Arkan dengan kuat. Akhirnya ia membiarkan saja, lagian gak masalah kan karena Arkan juga pacarnya.
Setelah memastikan aman, Arkan melajukan motornya setelah sebelumnya mengklakson Kafa tanda ia jalan lebih dahulu. Arkan pun terlihat mengangguk.
Arkan melajukan motornya dengan kecepatan sedang, tujuan mereka berdua adalah ke restoran milik Arkan dan tepat kerja Nada.
“Arkan nanti turunin aku sebelum sampai di restoran” pinta Nada dengan memajukan tubuhnya agar suaranya terdengar oleh Arkan
“Kenapa harus turun sebelum restoran?” tanya Arkan dengan suara nyaring. Maklum saja mereka sedang ada di jalan makanya harus menaikkan volume suara.
“Aku gak mau pekerja restoran tau kalo kamu ngantar aku” Nada mencoba menjelaskan.
Dibalik helm nya Arkan mengerutkan keningnya. “Kamu malu aku antar”
Nada lekas-lekas menggeleng, “Bukan gitu, cuma kan nggak enak dianterin sama pemilik restoran lagi” ucapnya.
“Apa salahnya kan kamu pacar aku, bukannya wajar” Arkan masih menyangkal kehendak Nada.
Melihat itu, Nada terus memohon dengan nada memelas dan menyertakan banyak alasan. Akhirnya lelaki yang bergelar pacarnya itu luluh juga dan menyetujui kalau ia di turunkan sebelum sampai restoran.
Begitu tinggal beberapa meter lagi sampai di restoran, Arkan menghentikan motornya di sebuah halte. Nada bergegas turun dari motor lelaki itu dan melepaskan helm di kepalanya dan memberikannya pada Arkan.
“Kamu yakin sampai sini aja?” tanya Arkan lagi dengan raut ragu ingin meninggalkan Nada.
“Iya yakin” ucapnya dengan sungguh-sungguh. “Sana gih duluan, lagian enggak jauh juga sampai”
“Ta-tapi—”
“Udah sana aku beneran gak papa” ucap Nada lagi tapi kali ini dengan nada memaksa.
Akhirnya Arkan pergi juga walau dengan sedikit tidak rela. Setelah motor Arkan menjauh, Nada baru melangkahkan kaki menuju restoran yang sudah tidak jauh lagi.
Enggak lucu kan kalo dia datang bersama dengan Arkan bisa-bisa jadi gosip diantara para pelayan. Jelas saja Nada tidak mau, walaupun bisa memakai alasan kalau mereka satu sekolah. Tapi siapa yang percaya?
Apalagi di jaman sekarang jika begitu dekat dengan atasan bisa-bisa dibilang menggoda atasan buat dapat privilage lah, buat naik posisi lah dan masih banyak lagi.
Tentu saja tidak semua akan beranggapan begitu. Tapi Nada hanya ingin ketenangan selama ia bekerja. Lagian walau mereka tidak mengakui pacaran di restoran tidak merubah kenyataan kalau mereka punya hubungan lebih kan.
Tanpa terasa Nada sampai di restoran, lekas saja ia menuju ruang ganti ganti baju untuk mengganti seragamnya dengan baju kerjanya.
Nada melihat kesibukan di dapur, para koki yang memasak hidangan untuk pelanggan. Bau minyak dan bumbu-bumbu masakan memasuki hidung Nada khas sekali dengan dapur ini.
“Nada syukurlah Lo udah datang, resto sedang sibuk-sibuknya hampir. Lo bawain ini ke meja nomor 6 ya” ucap chef Erik dengan wajah kelihatan lega sembari menyerahkan nampan yang sudah terisi makanan dan minuman.
“Meja nomor 6 kan mas? Oke sini Nada antar ucapnya menerima nampan dan lekas berjalan membawa nampan berisi makanan keluar dari dapur.
Matanya mengedar mencari meja nomor 6, dan akhirnya ia melihat meja itu juga. Terlihat seorang lelaki dan perempuan yang masih muda. Dalam pikiran Nada ia menduga mereka pasangan dilihat dari tangan mereka yang berpegangan di atas meja
Dengan senyuman khas Nada menurunkan makanan ke atas meja dari nampan. Ia mengucapkan kata-kata manis sembari terus tersenyum agar membuat kesan bagus dimata pelanggan. Memang seperti ini para waiters di restoran ini, tetapi mereka hanya tersenyum dengan sopan bukan dengan tidak semestinya.
Setelah berlalu dari meja itu, Nada kembali ke belakang untuk mengambil dan mengantarkan pesanan lagi. Melewati meja kasir ia melihat Vika yang sedang menangani pelanggan yang ingin bayar, saat mata mereka bertemu Nada dapat merasakan kalau Vika ingin bercerita tentang sesuatu dari sorot matanya.
Tetapi karena pelanggan hari ini padat sekali jadi Nada memutuskan untuk menemui Vika saat jam pulang saja. Nada juga berpapasan dengan Arkan yang menuju ruangannya. Saat seperti itu sempat-sempatnya lelaki itu mengait tangan Nada tanpa terlihat oleh orang lain
Nada tersentak dan menatap Arkan jengah, selalu saja cari kesempatan. Tapi tak urung gak itu membuat hati Nada berbunga-bunga. Arkan mengedipkan matanya pelan lalu kembali berjalan menuju ruangannya tanpa rasa bersalah.
Setelah selesai semua dan ia sudah berganti pakaian, Nada menemui Vika yang menunggunya di depan. Tetapi sebelum itu ia memberi pesan pada Arkan agar tidak usah menjemputnya karena ia akan pulang terlambat.
Nada
Arkan gak usah jemput aku
Aku akan pulang telat
Good night sayy..
Nada menutup handphone nya dengan senyum malu. Ia keluar dari ruang ganti dan menuju depan restoran. Disana terlihat Vika yang duduk di sebuah kursi sedang asyik memainkan handphone nya.
Setelah berada di dekat Vika, Nada menepuk pelan bahu Vika membuat sang gadis yang berambut kuncir itu menoleh ke arah dirinya.
“Nada! Gue kira siapa tadi” ucapnya setengah teriak. Vika sungguh kaget ketika ada yang menepuk bahunya ia sudah mengira hal yang buruk tadi.
“Ye ka Vika noh asik sendiri main HP sampai enggak sadar aku ada dibelakang” ucap Nada dengan mengerucutkan bibirnya.
“Mana gue tau, Lo sih datang kok gak ada suaranya” sungutnya
“Oh iya kenapa kak Vika cari aku?” tanya Nada sembari tangannya menaruh tasnya di samping.
Nada bisa melihat Vika yang sedikit ragu dan sorot mata meredup.
“Sebenarnya kemarin Chef Erik nytain perasaanya sama gue” ucapnya setelah diam beberapa saat.
Mendengar hal itu Nada tidak terlalu terkejut, soalnya dia sudah lama yakin kalau chef Erik pasti menyimpan perasaan pada Vika.
“Kok Lo gak kaget?” tanya Vika menyipitkan matanya
“Karena aku sudah menduga hal ini akan tiba cepat atau lambat” ucap Nada santai. “Terus kakak jawab apa?”
Vika meringis mendengar pertanyaan Nada, “Gue bilang perkataan chef Erik cuma prank dan candaan aja terus gue pergi deh dan menganggap kalo itu hanya hal isengnya chef Erik. Tapi...” potongnya.
“Tapi tadi saat gue tiba di restoran, dia mendatangi gue dan bilang ucapannya itu serius dan bukan prank. Dan lebih parahnya lagi dia bilang akan menunggu jawaban gue tentang pernyataannya semalam” sambungnya dengan raut frustasi.
“Yauda Kak Vika tinggal jawab kan” sahut Nada santai.
“Gak bisa gitu aja, selama ini kan yang gue tau chef Erik itu kaya gak suka gitu sama gue. Tapi tiba-tiba ngatain perasaanya siapa yang gak syok coba” sangkal Vika dengan menggebu-gebu.
“Kalo gitu Kak Vika coba minta waktu buat ngejawab, terus kak Vika pikirin deh matang-matang perasaannya kak Vika ada atau nggak ada buat chef Erik” saran Nada.
“Benar juga. Thanks ya Na udah bantu dan dengerin gue curhat gini” ucap Vika seraya memegang erat tangan Nada dan balas diangguki oleh Nada.
...***...
Setelah kepergian Vika, Nada masih berada di sana. Ia terlihat memanggil seseorang dengan handphone nya.
“Halo Ril”
“Iya halo Na”
“Gimana kabar Cill—ah Prissil?” tanyanya dengan cepat.
“Dia udah kelihatan baikan tapi harus menjalani konseling sama dokter psikolog besok” jawab Deril di seberang sana.
“Bokap Nyokapnya ada jenguk dia sudah?”
“Katanya masih ada urusan yang gak bisa ditinggal di luar negeri, jadi aku yang jaga dia tapi besok asistennya yang akan ngejaga selama aku sekolah”
Nada terdiam mendengar jawaban Deril, dia tak habis pikir apa pekerjaan lebih penting dari anak mereka yang hampir tiada.
“Na kamu masih disana?”
“Iya, makasih Arkan udah jaga Prissil. Maaf aku gak bisa datang atau gantiin kamu” ucapnya lirih.
“Gak papa Na. Ini kemauan aku juga kok lagian walau bagaimanapun Prissil itu juga teman aku” ucapnya menenangkan Nada.
“Yaudah aku tutup Ril. Selamat malam”
“Selamat malam juga”
Setelah memasukkan handphone nya ke dalam kantong ia menatap langit malam yang cerah dengan pikiran yang semrawut.