
Hari semakin cepat berlalu, tanpa terasa waktu olimpiade tinggal beberapa hari lagi. Nada, Deril dan Riko terlihat semakin keras belajar karena mereka akan membawa nama sekolah. Bahkan Nada ketika mendekati hari H ia mengajukan cuti bekerja di restoran.
Selain itu hubungan Nada dan Arkan juga semakin membaik walau belum ada kepastian jelas diantara mereka. Tapi beberapa orang tau-nya Nada itu pacaran dengan Arkan. Nada juga sudah tidak lagi tinggal di rumah Arkan, berhubung om nya tidak terlihat mengusiknya lagi jadi ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya sendiri. Mommy Arkan memang tidak membolehkan karena beliau sudah begitu sayang dengan Nada, tetapi akhirnya mau juga setelah dibujuk oleh Nada.
Hari ini setelah pulang dari tempat kerja sekaligus meminta izin untuk cuti, Nada berjalan pulang menuju rumahnya. Sebelum pulang ia memutuskan untuk membeli makanan di ujung jalan sana, tetapi ia harus menyeberangi jalan dulu. Nada menengok ke kanan dan ke kiri, setelah memastikan aman dia melangkah untuk menyeberang.
Tetapi baru saja ia melangkah setengah dari jalan tangannya sudah di tarik dengan kencang membuat tubuhnya terguling ke trotoar. Tentu saja Nada syok, ia melihat seorang lelaki yang juga ikut terguling bersamanya. Lekas saja ia bangkit walau dengan sedikit meringis karena lengannya sedikit tergores oleh trotoar.
“Loh Deril, kamu ngapain tarik tangan aku” ucap Nada kaget ketika melihat orang yang menariknya itu adalah Deril.
Lelaki itu duduk dan mengedarkan pandangan dengan mencari mobil yang hampir menabrak Nada.
“Tadi aku liat kamu nyeberang tapi ada mobil yang melaju kencang hampir saja menabrak kamu” ucap Deril menjelaskan. “Tapi kamu gak apa-apa, kan?” tanya Deril khawatir. Matanya memeriksa tubuh Nada dengan seksama kalau saja ada luka dan benar saja tangan di bagian siku gadis itu terlihat berdarah.
Deril membantu Nada berdiri, “Ayo kita ke sana dulu, obatin luka kamu dulu” ajak Deril membawa Nada ke depan minimarket dan mendudukkannya di sebuah kursi di depan mini market. Sedang dirinya setelah memastikan Nada duduk dengan aman, ia masuk ke dalam mini market.
Nada menatap kepergian Deril yang masuk ke dalam mini market. Ia masih sedikit syok karena tadi hampir saja tertabrak jika tidak ada Deril yang menariknya. Tapi ia juga bingung jelas-jelas tadi dirinya sudah memastikan bahwa tidak ada mobil yang melaju ke arahnya, tapi mengapa? Juga harusnya pengemudia itu tau kalau ada orang yang menyebrang tetapi mengapa ia tidak memelankan laju mobilnya.
Suara langkah kaki yang berjalan ke arah Nada membuat Nada mendongak dan melihat Deril yang keluar dengan menenteng kresek berloga. Ia mengeluarkan barang yang ada di dalamnya, itu terdiri dari obat untuk luka.
“Sini tangan kamu” pintanya pada Nada untuk memberikan tangannya.
“Aku beneran gak papa Ril, ini cuma luka kecil” tolak Nada dengan menggeleng.
“Biar kecil kalo gak diobati bahaya” kekeuh Deril. “Lagian tadi kenapa kamu bisa gak liat sih ada mobil” omel Deril kepada Nada.
“Mana aku tau, tadi aja gak ada mobil yang mau lewat. Tiba-tiba aja ada mobil yang melaju” ucap Nada mengangkat bahunya tidak tahu.
“Sini” pinta Deril dengan sedikit memaksa. Akhirnya Nada pasrah membiarkan sikunya di obati lelaki di sampingnya.
Deril mengeluarkan sedikit kapas dan meneteskan alkohol untuk membersihkan lukanya membuat Nada sedikit meringis perih. Deril yang melihat itu refleks meniup pelan sikunya dan hal itu membuat Nada sedikit tersentak mendapat perlakuan tidak terduga dari Deril.
“Kalo perih bilang aja ya” tuturnya lembut.
Ia meneruskan mengobati luka Nada dengan telaten, dan terakhir ia menempelkan plester di luka Nada.
“Oke, selesai” ucapnya seraya menepuk ringan tangannya lalu membereskan obat-obatan kembali ke dalam plastik.
Nada yang melihat begitu lihainya Deril mengobati lukamu sedikit terpana, “Makasih udah repot” ucap Nada dengan tulus.
“Enggak ngerepotin aku senang lagi bisa ngobatin kamu” sebuah senyum manis tersungging di sudut bibir lelaki itu. Nada akui Deril memiliki wajah yang tampan apalagi saat dia tersenyum matanya jadi membentuk bulan sabit.
“Tapi kamu lihai banget ngobatinnya tadi” cetus Nada menatap lurus Deril.
“Aku bercita-cita ingin menjadi dokter makanya aku senang mengobati orang” ucap Deril dengan binar terlihat dimatanya ketika membahas impiannya.
Nada ber-oh ria mendengarnya. Tidak heran batinnya ketika mengingat betapa pintarnya lelaki itu.
“Kamu tadi mau pulang?” tanya Deril.
“Iya tadinya sih aku mau membeli makan dulu di seberang sana eh taunya kejadiannya jadi gitu” jawab Nada tidak berdaya.
Nada terdiam menimbang penawaran Deril, sebenarnya ia memang sangat ingin pulang. Moodnya sudah tidak bagus dan dia butuh istirahat karen kejadian tadi cukup menguras tenaganya.
“Udah ayo” Deril berdiri dan menarik tangan Nada membawanya ke parkiran sampai tiba di samping sebuah motor Deril.
“Nih pakai” tangan Deril terulur memberikan helm pada Nada yang langsung di sambut gadis itu.
“Kamu bawa dua?” celetuk Nada sembari memasang helmnya di kepalanya.
Deril menolah sekilas pada Nada, “Iya tadinya aku mau jemput adik aku, tapi ternyata dia malah ikut temannya. Jadi yaudah aku singgah aja dulu di mini market. Tau-taunya malah ketemu kamu” ucao Deril sedikit terkekeh.
Setelah ia memasang helmnya dengan sempurna, lelaki itu menaiki motornya dan menghidupkan mesin. Setelah mesin motor hidup ia menatap Nada seolah memberi isyarat untuk naik ke atas motor.
Nada agak kesulitan saat naik ke atas motor karena motornya agak tinggi sehingga dia harus memegang bahu Deril.
Setelah memastikan Nada duduk dengan aman di belakangnya Deril melajukan motornya keluar dari parkiran mini market, melaju melewati jalanan lenggang.
Tak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di depan pagar rumah Nada. Deril menghentikan motornya dengan pelan, Nada turun dari motor dengan bertumpu pada bahu Deril.
“Terima kasih udah ngantar aku” ucap Nada dengan senyuman. Ia melepas helm di kepalanya dan memberikannya pada Deril.
Deril hanya memberikan senyum andalannya membalas terma kasihnya Nada, “Jangan lupa nanti ganti plesternya” peringatnya lagi pada Nada dengan serius.
“Iya bakal aku ingat kok, terima kasih udah obatin luka aku”
“Apasih terima kasih terus dari tadi” ucap Deril pura-pura kesal pada Nada.
Nada hanya tertawa kecil menanggapinya.
“Yaudah aku pulang dulu Nad” pamit Deril.
“Enggak mampir dulu?” tawar Nada.
“Gak usah udah malam banget juga” tolak Deril dengan halus. Nada mengangguk mengerti lalu membiarkan Deril berlalu dari hadapannya setelah itu dia membuka pagar dan keningnya segera saja berkerut melihat ada sebuah mobil yang terparkir rapi.
Ia mendekat ke teras dan melihat Arkan yang sedang duduk di sana dengan tangannya berada di keningnya.
“Udah pulang” suara dingin Arkan menyapa indera pendengaran Nada membuat gadis itu mengerut kenapa lagi suara lelaki itu menjadi dingin.
“Udah puas pacaran sama lelaki itu” ucap Arkan menatap tajam Nada.
“Apa sih maksud kamu? Aku pacaran sama siapa coba” ucap Nada bingung.
“Sama Deril”
“Hah? Deril? Dia cuma teman aku tau” ucap Nada sebal.
“Terus ngapain dia ngaterin kamu, mana kamu akrab banget sama tuh cowok” seru Arkan nyaring dengan berdiri dari duduknya membuat Nada sedikit terhenyak di tempatnya.
“Ayo masuk dulu gak enak ngobrol di sini” ajak Nada pada Arkan karena ia tidak enak membahas hal ini di depan rumah kaya gini.