Dear Nada

Dear Nada
Kemarahan Nada Pada Arkan



Nada terpaku dan tidak tahu harus berekspresi seperti apa ketika sampai di tempat tujuan Arkan. Dia bahkan tidak menyadari kalau Arkan sudah memarkirkan mobil dengan aman di tempat parkir.


Batinnya batinnya berkali-kali mengatakan mungkin saja Arkan ada keperluan di sini lidahnya keluh hanya untuk bertanya tubuhnya seolah tanpa jiwa mengikuti lelaki itu keluar dari mobil berdiri di depan bangunan dengan pikiran yang sedang bertanya-tanya


Ia menatap lamat-lamat lelaki di sampingnya mencoba mencari tujuan apa yang sedang dibuat lelaki ini hingga membawanya ke tempat ini.


“Kamu pasti bingung kan kenapa aku membawa kamu ke sini” matanya menatap Nada dengan tatapan yang tak bisa terbaca


“Ayo”ajaknya menarik lembut tangga nada memasuki tempat yang sangat akrab bagaimana tidak akan membawanya ke rumah sakit tempat mamanya dirawat


Mereka terus berjalan di antara lorong-lorong yang agak ribut dengan para suster dan dokter yang sibuk merawat pasien dan menenangkan mereka dengan berbagai macam kondisi pasiennya.


Sampai di sebuah ruangan yang sangat ia kenali, kali ini pikiran Nada sudah kacau. Arkan mengetuk pintu dan membukanya setelah tak ada jawaban, Arkan menarik tangan ada yang dingin mengikutinya masuk dengan ekspresi menahan amarah diwajah gadis itu.


“Apa kabar Tante? Masih ingat kan siapa aku? Kalau nggak ingat kenalin lagi aku temenan anak tante dari kecil, nama aku Gema atau bisa dipanggil Arkan” ucapnya tersenyum manis dengan menekuk kaki kanannya di samping Mama nada yang tidak memberikan respon yang berarti.


Nada yang melihat hal itu memejamkan matanya berusaha meredam emosi, dia tidak ingin melampiaskannya di sini. Bahkan lelaki itu sama sekali tidak menyadari perubahan emosi Nada dari tadi.


“Kamu sudah datang? Aku kira kamu minggu ini enggak ke sini” suara suster Risa membuat Nada menoleh padanya begitu juga Arkan yang ikut menatap sumber suara.


“Mas Arkan ikut juga, ya” belum sempat nada menjawab suster Risa kembali bertanya pada Arkan yang dibalasnua dengan senyum simpul.


Nada tertegun mendengar ucapan Suster itu netranya dengan cepat menatap Arkan penuh tanya.


“Iya sus saya nemenin Nada tadi, jadi sekalian aja jenguk Tante Rinda” ucap Arkan dengan santai


“Maksudnya apa ini? Dia sering ke sini sus?” tanya Nada menginterupsi mereka seraya menunjuk ke arah Arkan.


“Iya mas Arkan beberapa hari lalu datang ke sini, udah beberapa kali jenguk ibu Nad” jelas Suster Risa dengan lugas.


Nada menatap tidak percaya pada Arkan, apa selama ini dia tahu tentang keadaan Mamanya tapi tidak pernah mengatakan apapun pada dirinya. Arkan yang menyadari tatapan kekecewaan Nada pun merasa bingung.


“Sus bisa jaga Mama bentar, aku sama Arkan keluar sebentar” pinta Nada pada suster Risa.


“Aah, oke bisa kok kan udah jadi pekerjaan aku” ucap suster Risa yang bisa merasakan ketegangan diantara dua remaja di depannya.


Nada berterima kasih pada suster Risa setelahnya menarik Arkan keluar dari ruangan menuju tempat yang agak sepi. Sampai di sebuah lorong yang agak jarang di lewati orang Nada menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Arkan dengan tatapan yang tidak biasa dia perlihatkan.


“Kenapa kamu lakuin hal ini?” tanyanya pelan tapi di setiap kata ada penekanan tak kasat mata di dalamnya.


“Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti.


“Aku beneran gak ngerti” ucap Arkan dengan serius.


“Kamu ngapain mendatangi Mama aku disini tanpa persetujuan aku! Dan lagi sejak kapan kamu tau tentang hal ini? Apa selama ini kamu membatu aku karena merasa kasihan dengan kehidupan aku yang menurut kamu begitu mengenaskan?!” seru Nada dengan suara naik satu oktaf, matanya sudah berkaca-kaca menatap tajam Arkan.


Arkan sedikit termangu mendengar penuturan Nada, “Nad, kamu salah paham aku gak pernah mengasihani kamu. Selama ini aku tulus bantu kamu, mengenai aku yang kesini tanpa izin kamu aku minta maaf. Sungguh aku gak bermaksud membuat kamu tersinggung sepeti ini” ucap Arkan menjelaskan dengan melunakkan kata-katanya.


“Mencari tahu tentang kehidupan pribadi aku tanpa izin itu hal yang lancang” ucap Nada dengan marah


“Aku minta maaf Nad...a-aku gak tau kamu akan semarah ini” lirih Arkan dengan tertunduk.


“Aku gak suka kamu ataupun orang lain mencampuri hal yang satu ini atau dengan lancang ingin tau. Walau kamu udah nolong aku tapi itu gak membuat kamu punya hak untuk hal ini” ucap Nada dingin tanpa ekspresi lalu meninggalkan Arkan sendiri di sana.


Gadis itu melangkah meninggalkan Arkan yang masih membeku di tempatnya dengan terus menatap kepergian Nada dengan sendu. “Gak punya hak, ya?” ucapnya seraya tertawa lirih.


“Apa aku terlalu asing buat kamu Nad?” lirihnya nyaris tidak terdengar. Dia merasa ada yang menusuk di ulu hatinya, rasanya sakit melihat Nada yang tidak menatapnya dingin padahal ia merasa sudah membuka sedikit hati gadis itu, tapi ternyata dia salah langkah.


Ia duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri, meremas kasar rambutnya dan menundukkan kepala dalam lalu menghembuskan nafas kasar. Dia mengusap kasar wajahnya dan menyandarkan punggungnya ke dinding di belakang.


...***...


Setelah berlalu dari hadapan Arkan, Nada kembali ke ruangan Mamanya dengan tubuhnya sedikit gemetar. Dia merasa kata-katanya sedikit keterlaluan memang, tapi dia juga tidak bisa menarik kata-katanya kan.


“Udah selesai? Mana mas Arkan Nad?” tanya suster Risa ketika Nada masuk ruangan sendirian tanpa Arkan.


Nada mengendikan bahu acuh lalu duduk di bangku memperhatikan Mamanya yang sedang membaca buku dongeng. Keningnya berkerut hingga menimbulkan lipatan samar.


“Siapa yang memberikan buku itu sus?” tanya Nada pada suster Risa.


Suster Risa menatap objek yang ditanyakan Nada, “Oh itu mas tadi yang membawa buku untuk di baca ibu. Katanya mungkin itu bisa menghibur ibu, dan ternyata ibu Rinda memang menyukai buku itu” terang suster Risa.


Nada terdiam tidak bersuara mendengar penjelasan suster Risa.


“Nad kalo boleh aku kasih sedikit saran, kamu jangan berburuk sangka dulu sama Arkan. Aku bisa liat kok dia itu tulus banget, dari perlakuannya pada ibu Rinda aja dia sangat hormat. Tapi aku juga gak berhak membela dia, mungkin bagi kamu dia salah tapi mungkin ini caranya menyayangi kamu dengan mengetahui semua tentang kamu. Walau itu sifatnya privasi” tutur Suster Risa dengan hati-hati. Ia tahu ada sesuatu yang salah sejak Nada kembali ke ruangan ini.


Nada terdiam mendengar perkataan suster Risa, dia tidak tahu harus menanggapi apa lagi semuanya terasa abu-abu.


“Yaudah kamu jangan terlalu banyak berpikir, jalanin aja semuanya dan yakinkan pada diri kamu semua akan baik-baik saja” ucap suster Risa dengan seulas senyum hangat terbit di wajahnya. Dia menepuk pelan bahu Nada lalu berdiri keluar dari ruangan meninggalkan Nada yang sedang larut dengan pikirannya dan Mamanya yang duduk sembari membaca buku dengan tenang.