
Sampai sudah hari keberangkatan menuju Bandung. Sejak pagi Arkan sudah menyambangi rumah Nada, katanya sih mau mengantar dirinya menuju bandara.
“Sebenarnya gak perlu kamu antar aku ke bandaranya” ucap Nada mempersilahkan Arkan duduk di sofa.
“Aku hanya ingin” jawabnya singkat dengan mata mengawasi Nada yang terus berlalu lalang menyiapkan barang bawaannya.
“Tapi kamu sekolah Arkan, enggak baik membolos” tegur Nada menghentikan langkahnya dan menatap Arkan serius.
“Cuma sehari aku bolos gak masalah” ucapnya santai, “Ayo aku bantu kamu menyiapkan barang bawaan” lelaki itu bangkit dan melangkah menuju Nada yang berdiri di ambang pintu kamar.
“Gak ada lagi yang perlu dibantu udah selesai semua. Lagian aku enggak bawa banyak barang”
“Ya udah kapan jam keberangkatan kalian?” tanyanya seraya kembali duduk di sofa diikuti Nada yang duduk di depannya.
“Nanti take off jam 11.45, tapi aku harus ada di sana jam 11.00 siang” jawab Nada
Arkan mengangguk pelan, “Nah sekarang masih jam delapan masih banyak waktu sebelum kamu berangkat” ucapnya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Sana kamu mandi aku tunggu. Cepat!” Arkan bangkit dan mendorong Nada menuju kamarnya.
“Loh kenapa sih, masih lama juga bakal keburu kok kalo nanti mandinya” ucap Nada menatap heran kelakuan Arkan.
“Udah sana mandi dulu baru aku bilang” ucapnya membuat Nada berdecih pelan dan membatin sok misterius.
Nada mengendikan bahu malas lalu melangkah masuk ke dalam kamar dan mengambil satu set pakaian lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
Arkan mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja dengan gelisah, entah apa yang mengganggu pikiran lelaki itu hingga keningnya pun berkerut.
“Udah selesai?” tanyanya bangkit melihat Nada yang sudah rapi dengan rambut diikat tinggi.
Nada mengangguk sembari menarik kopernya keluar, ia berjalan mendekati Arkan yang menatapnya tanpa berkedip.
“Ye malah bengong” celetuk Nada sedikit kesal.
Arkan segera tersadar lalu menggeleng pelan, ia menatap dalam Nada.
“Kita berangkat, ayo” ia mengambil alih koper yang dibawa Nada. Melihat itu Nada bingung ada apa lagi dengan lelaki ini
“Masih lama loh ini masih setengah sembilan” katanya
“Memang kenapa kalo masih jam segitu. Kita enggak langsung ke bandara, mampir dulu ke suatu tempat” ujarnya menatap Nada penuh pengertian.
“Kemana? Ke tempat Mama lagi?” tebaknya dengan perubahan raut muka
Arkan terdiam menatap lurus gadis di depannya, “Kamu pasti belum cerita kalau hari ini kamu berangkat untuk mengikuti olimpiade, kan?” tanyanya membuat Nada tertegun.
“Tapi...”
“Aku janji gak akan masuk ke ruangan Mama kamu, tapi kamu harus ke sana kan” ucap Arkan meyakinkan Nada.
Akhirnya Nada mengangguk membuat senyum lebar terkembang di muka Arkan. Ia mengikuti Arkan menuju mobilnya, ia masuk lebih dahulu sementara Arkan memasukkan kopernya ke dalam bagasi
***
Mereka sudah berjalan bersisian menyusuri lorong dalan rumah sakit sampai pada sebuah pintu yang tertutup. Nada menatap Arkan sebentar dan melihat Arkan yang mengangguk pelan pada Nada.
Ia menatap pintu itu lagi lalu membukanya dan masuk ke dalam lalu menutup pintu lagi meninggalkan Arkan yang berdiri di depan pintu
Nada mendekati Mamanya yang sedang mengupas jeruk dengan duduk di atas ranjangnya.
“Ma..” panggilnya pelan, Nada menarik sebuah kursi dan duduk di atasnya.
“Mama apa kabar hari ini?” monolognya.
“Jadi hari ini Mama dukung aku dan doakan aku supaya kami menang, ya”
Nada memeluk Mamanya pelan walau tak ada balasan. Ia keluar dari ruangan dengan langkah yang cepat. Tanpa dia sadari gerakan mengulas Mamanya terhenti dan tatapannya menunjukkan sebuah kesedihan.
Arkan yang melihat Nada keluar dari ruangan Mamanya dirawat, bergegas menghampirinya. Ia melihat air mata yang masih keluar dari mata Nada. Arkan menarik tubuh ringkih Nada ke dalam pelukannya serta mengusap pelan punggung gadis itu untuk menguatkannya.
“Ayo kita pergi dari sini” ajak Nada mengurai pelukannya setelah bisa mengendalikan dirinya.
Arkan mengangguk lalu merangkul Nada berjalan kembali menuju parkiran dan pergi ke bandara.
Sampai di bandara mereka keluar dari dalam mobil dan Arkan yang mengeluarkan koper dari bagasi.
“Sini aku bawa” pinta Nada ingin membawa kopernya sendiri.
“Eiit biar aku aja, ayo kita pergi” larangnya alih-alih memberikan koper ia malah mengaitkan tangannya dengan tangan Nada sehingga mereka terlihat bergandengan.
“Arkan! Nada!” teriak seorang saat mereka sampai di ruang tunggu.
Arkan dan Nada menoleh bersamaan dan melihat Mommy Arkan yang melambaikan tangan pada mereka.
“Mommy?!” ucapnya serentak dengan Arkan
Bergegas mendatangi wanita paruh baya yang kali ini terlihat sangat anggun dengan kacamata hitamnya seraya menyunggingkan senyum lebar.
“Mommy kenapa disini?” tanya Arkan pada Mommynya
“Nganter Nada lah apa lagi” jawab Mommy seraya mendekat ke arah Nada.
“Sayang, udah semua kan barang-barang yang mau kamu bawa” ucap Mommy memastikan kalau tidak ada barang yang tertinggal.
“Udah semua Mom tenang aja” ucap Nada membuat Mommy menghembuskan nafas lega.
“Nada!!”
“Kalian?” tanya Nada heran dan agak terkejut.
“Huh..huh..tunggu nafas gue stabil dulu” ucap Emma dengan berpegang pada tangan Nada.
“Bukannya kalian sekolah hari ini?” tanya Nada menyelidik.
“Arkan aja enggak sekolah dan milih ngantar kamu ke bandara. Mana mungkin kami tetap sekolah” ucap Putri dengan tertawa yang diikuti Emma.
“Terus tadi kalian bolos dari sekolah” terkanya yang disambut cengiran dari temannya. Ia menghela nafas berat.
“Kafa yang najakin” tunjuk Putri pada Kafa yang tentu saja menyebabkan seluruh perhatian tertuju pada Kafa.
“Kalian mau juga dibawain ya udah” sindir Kafa pada Emma dan Putri
“Eh Nada udah datang? Terus apa ini kenapa kalian juga ada di sini?” tanya Bu Yeni yang baru datang dan menatap tajam pada Kafa, Emma dan Putri yang masih memakai seragam mereka
“Kalian bolos sekolah?” tanya Bu Yeni membuat mereka merutuk karena lupa kalau yang berangkat bukan hanya murid tetapi juga ada guru.
Mereka semua hanya menyengir lebar dan memelas agar tidak dimarah oleh beliau.
“Kami itu ngantar Nada Bu, jadi kami bela-belain datang walau harus membolos andai sekolah libur kami gak akan bolos kok bu” ucap Kafa dengan gaya santainya walau sudah keciduk gini.
Bu Yeni menggelengkan kepala dan pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh muridnya.
“Ini...” tatapan Bu Yeni mengarah pada seorang wanita paruh baya yang duduk saja di kursi dengan terus menatap pembicaraan mereka.
“Dia mama saya” jawab singkat Arkan. Membuat Bu Yeni mengangguk mengerti.