Dear Nada

Dear Nada
Kafa dan Arkan Bikin Rusuh



Setelah insiden kepergok Mommy Arkan tadi. Saat ini Nada sudah berada di taman belakang bersama Mommy untuk menanam tanaman. Entah mengapa dua perempuan beda generasi itu memiliki banyak kesamaan.


Sedang Arkan yang tidak diizinkan ikut ke taman oleh Mommynya, duduk di ruang tamu dengan bosan. Ia memainkan handphone nya untuk mengusir rasa bosan tetapi tidak berhasil.


“Kenapa sih Mommy pake nggak ngijinin ikut segala, padahal gue gak bakal ganggu juga” gerutunya dengan muka tertekuk.


“HALO PARA MANUSIA!!! YUHUUU ORANG TAMPAN DATANG!” teriak Kafa dengan suaranya yang kaya toa membuat Arkan refleks menutup telinga dan menatap sinis lelaki yang datang itu


“Apaan sih Lo disini tuh rumah! Kalo mau teriak lebih baik Lo pergi kehutan lalu cari teman Lo sana!” ucap Arkan dengan muka yang semakin tertekuk.


Kafa yang melihat sepupunya itu sedang dalam masa tidak bersahabat mendekatinya di sofa. Ia duduk dengan merangkul bahu Arkan dan menampikan raut wajah cengengesan.


“Lo kenapa sih, kayanya muka Lo gak enak banget. Kaya cewe lagi pms aja lo” celetuk Kafa.


Dengan sekali hentakan ia melepaskan rangkulan Kafa dari bahunya. Ia menatap sinis sepupunya.


“Bukan urusan Lo! Terus Lo kesini mau ngapain?” tanyanya dengan mengangkat satu alisnya.


“Ya mau berkunjung aja, suntuk gue di apartemen sendirian gak ada yang nemenin” ucapnya dengan mendramatisir ekspresi wajahnya.


“Bukannya temen Lo banyak?”


“Temen siapa coba” Kafa menatap aneh Arkan.


“Iya temen Lo kan para demit di apartemen lo” ucap Arkan dengan santainya.


Menatap cengo Arkan, Kafa menghadiahi sebuah pukulan pada lengan Arkan yang dibalas lagi oleh lelaki itu. Akhirnya dia lelaki tampan itu saling adu pukulan dan lempar bantal sofa walau tidak terlalu serius.


Nada yang baru saja sampai di ruang keluarga setelah selesai menanam dan menyiram tanaman. Ia terpaku melihat kekacuan di ruang tamu akibat ulah Arkan dan Nada yang saling serang.


Bahkan Mommy yang menyusul di belakang Nada pun sampai tercengang melihat kelakuan anak dan keponakannya yang membuat berantakan ruang keluarga.


“ARKAN!! KAFA!!” teriak Mommy membuat dua lelaki itu berhenti dari kegiatannya dan menatap takut Mommy.


Langsung saja mereka berdua merapatkan posisi mereka dan saling lirik satu sama lain. Nada yang melihatnya berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Ia rasanya tidak tahan melihat wajah Arkan yang seperti anak yang takut dimarahi ibunya.


“Kalian itu sudah besar tapi kenapa masih saja kelakukan kaya anak kecil. Baru ditinggal sebentar aja ruangan ini kaya kapal pecah!” omel Mommy dengan berapi-api.


Dua pemuda itu hanya tertunduk tidak menjawab, mereka sama-sama mengerti kalau Mommy Arkan sudah marah mengerikan


Nada menatap kasihan mereka berdua. Salah siapa juga yang membuat sisi lain Mommy keluar. Setelah puas mengomeli mereka berdua, Mommy duduk di sofa single dan mengipas mukanya dengan tangannya sendiri.


Arkan terlihat mendekati Mommynya dengan raut menyesal. “Mom maafin Arkan udah buat keributan”


“Kafa juga Tante, maafin kami berdua” sambung Kafa ikut maju berdampingan dengan Arkan.


Mommy terlihat menghela nafas pelan lalu menatap serius dan tegas anak dan keponakannya. “Mommy udah maafin, tapi jangan ulangin hal ini lagi”


Mereka lekas mengangguk dengan mantap. Kemudian Mommy mengalihkan pandangannya ke arah Nada yang masih setia berdiri di ujung sana.


“Nada, sini sayang duh kamu jadi ngeliat drama keluarga kaya gini” ucap Mommy dengan gerakan menyuruh Nada ikut duduk di sofa.


Dua orang yang sekarang sudah duduk di sofa panjang di sebelah kanan Mommy menoleh melihat Nada yang berjalan menuju sofa di seberang Arkan dan Kafa.


“Jadi sedari tadi dia ngeliat kita yang kacau?” bisik Arkan pelan tetapi masih terdengar oleh Kafa. Membuat lelaki manis itu menoleh padanya dan memberikan tatapan kasihan


Bagaimana tidak, kekasihnya melihat dirinya yang begitu...duh ia sendiri tidak bisa menggambarkanya.


“Yauda Mommy mau ke kamar dulu, udah lengket soalnya jadi mandi dulu” ucap Mommy dengan beranjak dari sana dan menuju tangga untuk menuju kamarnya.


Saat ini yang ada di ruang keluarga tersisa mereka bertiga. Arkan juga berdiri dan duduk di dekat Nada, tentu saja dari pada duduk di samping Kafa lebih baik ia duduk di saling gadisnya.


“Gimana tadi dimarahin Mommy, enak?” tanya Nada cuek


“Kamu marah sama aku Na?” tatap Arkan tidak percaya.


“Sama aja. Na tadi itu aku kebawa aja, salahkan saja tuh Kafa. Dia yang memulai mukul aku!” sahut Arkan tidak terima ia menggoyangkan lengan Nada untuk menarik perhatiannya.


“Tapi kamu juga ikutan kan?”


“Ta-tapi. Huh iya deh aku minta maaf janji gak gini lagi” ucapnya dengan pelan


“Kok kaya gak niat minta maafnya” ucap Nada mengerutkan kening.


“Aku minta maaf sayang” ucapnya lagi disertai senyuman.


Sementara mereka larut dengan percakapan, ada Kafa yang melirik sejoli itu dengan malas. Sebenarnya ia sudah sangat dongkol dengan pemandangan di depannya bagaimana tidak mereka berdua melupakan keberadaanya seolah ia makhluk tak terlihat.


“Woy gue masih ada disini dan Lo pada jangan bermesraan di depan gue napa. Hargain para jomblo” sungut Kafa dengan memberengut.


Arkan hanya menjulurkan lidahnya mengejek Kafa membuat lelaki itu ingin melempar sepupunya itu ke laut biar di makan hiu.


Dari pada tetap disini dengan risiko ia iri setengah mampus lebih baik ia pergi dari sini.


“Dah lah gue pergi aja kayanya gak ada tempat buat para jomblo disini” ucapnya lalu melenggang pergi dari sana.


Arkan dan Nada hanya mengendikan bahu tidak peduli. Nada sebenarnya penasaran padahal yang selama ini terlihat Kafa itu sepeti playboy, tetapi anehnya ia tidak memiliki pacar bahkan tidak pernah kelihatan jalan sama cewe.


Beberapa kali ia melihat Kafa menggoda perempuan tetapi tidak pernah lebih dari itu. Lelaki itu seolah hanya menampilkan sisi yang lain saja.


“Na” panggil Arkan membuat Nada menatapnya.


“Apa?”


“Ayo kita kencan” katanya membuat Nada terdiam sebentar.


“Maksudnya kencan?” ia menatap bingung pada Arkan.


“Iya kita kencan, pergi ke tempat baru berdua atau menghabiskan waktu berdua” jelas Arkan membuat Nada memikirkannya lagi.


“Mau kan?” tanyanya lagi.


Tidak ada salahnya bagi Nada jadi ia mengangguk setuju. Ia juga merasa selama mereka jadian mereka belum pernah kencan seperti itu


“Kalo gitu ayo sekarang, tapi tunggu aku ganti baju dulu” katanya dengan jelas.


“Loh kita belum izin sama Mommy” ucap Nada sesekali menatap lantai atas.


“Tenang aja sebelumnya aku udah minta izin kok sama Mommy” Arkan meyakinkan Nada. Setelah itu ia beranjak menuju kamarnya untuk berganti baju.


Tak butuh waktu lama Arkan selesai berhenti pakaian dan menghampiri Nada untuk mengajaknya ke garasi. Kali ini Arkan memilih menggunakan mobilnya.


Setelah diperjalanan mereka bahkan tidak tau mau kemana masih, “Kita mau kemana?” tanya Nada menoleh pada Arkan yang fokus menyetir mobil.


“Kamu mau kemana?” tanya balik Arkan.


“Aku gak tau bingung juga” ucap Nada mengendikan bahu.


“Gimana kalo nonton bioskop aja” usul Arkan yang diangguki oleh Nada


Tidak ada salahnya kan mereka nonton karena itu tempat yang biasa para pasangan sambangi jika kencan seperti ini.


Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di sebuah mall. Mereka memutuskan menonton disitu.


Kini di depan Nada sudah ada bangunan mall yang luas dan kokoh. Ia dengan Arkan memasuki mal itu dan menuju tempat bioskop. Disana mereka kembali bingung mau nonton apa.


Dilihat dari daftarnya sih yang lumayan cepat tayangnya cuma film komedi anak-anak atau horor. Kalau sendiri sih Nada pasti memilih untuk menonton horor. Memang gadis itu juga merupakan penyuka film horor berbeda dari gadis lainnya yang tidak menyukai film itu.