
#Flashback
Nada berjalan masuk ke dalam rumahnya yang di sambut dengan Mamanya yang terlihat berantakan dan di pegang dengan erat oleh dua orang lelaki berbadan besar. Ia mengalihkan tatapannya ke arah sofa yang diduduki pamannya. Nada melihat pamannya yang menaikkan satu kakinya dengan tatapan angkuh.
“Om ada apa? Apa yang terjadi pada mama? Siapa mereka?” todong Nada dengan banyak pertanyaan. Gadis itu menatap pamannya dengan tatapan tidak mengerti.
“Nah tokoh utamanya sudah datang” ucapnya dengan seringai yang terlihat mengerikan di mata Nada. Sedang Nada menatap tidak mengerti.
“Mama kenapa om?” tanyanya mulai tidak sabar.
“Nada..Nada, sebenarnya om tidak ingin melakukan hal ini. Salahkan saja papamu yang membuat hal ini” Glen menggeleng lalu berjalan mendekati Nada.
“Om akan lepasin mama kamu dengan syarat kamu menandatangani persetujuan bahwa perusahaan akan menjadi miliki om” ucapnya dengan senyum liciknya
Nada menatap tidak percaya kepada pamannya, “Jadi, om yang suruh mereka? Tapi kenapa om? Kuburan Papa bahkan belum kering” teriak Nada dengan geram.
“Om tidak peduli! Kamu mau menandatangani ini atau mamamu yang akan merasakan akibatnya” ancamnya seraya memberikan sebuah kertas.
“Nggak! Itu perusahaan Papa aku gak akan memberikan pada om!” tolak Nada sembari menggelengkan kepalanya kuat. Dia mencengkram bagian bawah bajunya erat.
Terlihat Glen memberikan isyarat kepada lelaki yang memegang mama Nada. Orang itu mengangguk mengerti lalu dia menampar mama Nada dengan keras. Nada sontak saja memekik kaget. Air matanya turun begitu saja melihat mamanya di siksa.
“Baik..baik om aku akan menandatanganinya! Jadi jangan sakiti mama” ia memelas dengan raut pucatnya.
Glen tertawa miring lalu menatap lelaki yang menampar mamanya memberikan isyarat untuk berhenti. Nada menatap nanar mamanya yang terlihat semakin kacau. Air mata terlihat di pelupuk mata mamanya membuat hati gadis itu semakin sakit.
“Ja-jangan nada..” ucap mamanya yang hampir tidak terdengar. Nada berusaha tersenyum pada mamanya untuk meyakinkannya.
“Cepat!” sentaknya nyaring.
Nada terkejut lalu menatap kertas yang sudah tergeletak di atas meja. Tangannya bergetar memegang pulpen dan mengarahkannya ke atas kertas itu. Dia memegang tangannya menghentikan getaran itu. Dengan sekali tarikan nafas dia berhasil membubuhi tanda tangannya di atas kertas itu. Membuat Glen tersenyum penuh kemenangan dan terdengar gelak tawanya.
***
“Na..Nada! Lo dipanggil” bisik pelan Arkan di samping telinga Nada. Nada tersentak dan refleks menoleh ke arah Arkan yang memberinya isyarat untuk menatap ke depan.
“Nada Ibu tanya kenapa kamu melamun dari tadi?” tanya guru di depannya seraya menatap Nada Geram
Nada terlihat sedikit linglung dia menjawab, “Maafkan saya Bu” ucapnya dengan nada penyesalan.
“Ya sudah untuk kali ini ibu maafkan tapi tidak ada lain kali” ucapnya mengingatkan. “Mari kita lanjutkan pada pertemuan lain hari karena sudah waktunya istirahat” sambungnya lalu membereskan buku dan melenggang keluar dari kelas.
“Lo kenapa?” Arkan masih penasaran karena sejak beberapa hari ini Nada terlihat seperti orang yang banyak pikiran dan kedapatan sering melamun.
Nada mengulas senyum untuk meyakinkan Arkan, “Gak apa-apa, beneran”
Arkan masih terlihat ragu tetapi dia akhirnya memilih mengiyakan saja. Ia memilih mengajak Nada ke kantin. Nada mengiyakan dan mengikuti langkah Arkan keluar dari kelas. Di perjalanan mereka berdua bertemu dengan Prissil yang berlainan arah dengan mereka.
Mata Prissil menyorot tajam Nada tetapi dia tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dan Nada baru menyadari kalau beberapa hari ini perempuan itu tidak pernah mengganggunya lagi. Tetapi saat mereka sejajar Prissil sedikit menabrakan bahunya ke bahu Nada. Nada meringis pelan.
“Apa-apaan dia itu gak bisa dibiarin nih!” ucap Arkan dengan nada tidak suka.
Nada memegang lengan Arkan yang hendak menyusul langkah Prissil dengan lembut dan menggeleng. “Jangan Arkan, aku gak apa-apa kok” ucapnya ringan. “Mungkin dia tidak sengaja gak usah diperpanjang” sambungnya lagi.
Arkan tidak setuju tetapi dia akhirnya hanya mengangguk tapi tidak tahu jika dia melihat perempuan itu melakukannya lagi.
Sampai di kantin mereka segara mencari meja untuk di tempati. Terlihat sebuah meja di deretan ujung yang kosong. mereka berdua melangkah ke tempat meja tersebut. Nada sudah mendudukkan dirinya di kursi sedang Arkan masih berdiri untuk memesan makanan.
“Mau pesan apa?” tanyanya
Nada sedikit berpikir lalu dia menjawab, “Nasi goreng sama es teh”
“Oke, gue pesan dulu” Arkan lalu berjalan menuju tempat memesan dan sedikit mengantri. Karena ini jam istirahat tentunya banyak yang mengantri untuk mendapatkan makan.
Nada terus memperhatikan lelaki itu dari tempatnya duduk. Ia sangat bersyukur lelaki itu hadir di hidupnya. Arkan sangat baik padanya.
“Hai Nad kami boleh duduk di sini gak?” tanya seseorang membuat Nada mengalihkan pandangannya dari Arkan. Dia menatap orang yang bertanya padanya
“Boleh kok, ini masih cukup tempatnya” ucap Nada mempersilahkan Putri dan Emma serta seorang lelaki untuk duduk di kursi dekatnya.
“Sama Arkan Nad?” tanya Emma.
Nada mengangguk mengiyakan. Lalu netranya menatap lelak yang duduk di samping Emma dengan penasaran.
“Oh iya gue belum kenalin, ini...”
“Kafa?!!” suara terkejut itu membuat mereka semua menoleh dan menatap aneh Arkan kecuali lelaki yang dikenalkan Putri tadi. Alih-alih dia malah meringis melihat raut kaget Arkan dan mengangkat dua jarinya ke udara dan mencengir.
Arkan menaruh piring berisi nasi goreng dan dan gelas di atas meja dan menatap garang lelaki itu.
“Ngapain Lo disini?!” tanya Arkan bersungut. Membuat Nada, Emma dan Putri menatap bingung mereka berdua.
“Nyusul Lo lah apa lagi. Baik kan gue” ucapnya seraya menaik turunkan keningnya.
“Pulang Lo Kafa! Entar Tante Nia ribut mencari lo”
“Apaan sih gue itu udah pindah ke sini. Lagian mami juga udah ngizinin kok” Kafa tidak terima dengan perkataan Arkan. “Harusnya Lo senang karena gue pengertian nemenin Lo di sini, Lo kan terlalu kaku jadi gue takut Lo gak punya teman di sini” sindir Kafa membuat Arkan kembali menatapnya kesal.
“Percaya banget gue sama kata-kata lo” sinisnya.
“Emang Lo harus percaya karena apa? Gue itu perhatian sama Lo, Lo nya aja yang selalu berburuk sangka sama gue” ucapnya seraya meniup pelan rambutnya yang jatuh di keningnya. Arkan hanya mendengus.
“Arkan ayo duduk” ucap Nada karena Arkan sedari tadi masih berdiri. Walau enggan dia akhirnya menuruti untuk duduk itu pun di samping Nada.
Dengan mata yang tidak lepas untuk mengawasi Kafa, Nada tidak tahu entah apa yang membuat Arkan tidak menyukai keberadaan Kafa.