Dear Nada

Dear Nada
Malam Yang Panjang I



Dengan cepat Arkan memapah Nada untuk duduk di kursi. Dengan tertatih Nada bangkit, nafasnya masih tersenggal dengan air mata yang tak juga berhenti mengalir. Arkan duduk di sampingnya dan merengkuh Nada. Dia membiarkan Nada melampiaskan rasa sedihnya dulu.


“Aku sama sekali tidak menyangka” ucap Nada di selingi isaknya.


Arkan melirik wajahnya yang menyiratkan kesedihan dan luka. Arkan membiarkan Nada berbicara dan dia akan jadi pendengar yang baik. Apa pun untuk Nadanya


“Dia lelaki yang sangat aku kagumi selain Papa, Om Glen yang dulu sangat baik dan selalu memanjakan aku. Tapi sekarang..” ucapannya terputus karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi. “Dia saudara Papa dan om aku Arkan. Tapi dia berubah hanya karena harta”


“Apa manusia begitu mudah berubah dalam sekejap, apa orang baik dapat begitu saja berubah jadi orang jahat?” tanyanya pilu.


Arkan tidak bisa berkata-kata, ternyata sedalam ini penderitaan Nada. “Keluarkan semua rasa sakit lo, gue sudah datang, jadi Lo boleh menyandarkan diri Lo ke gue. Lo juga boleh mengandalkan gue untuk apa pun” ucapnya yakin.


Nada mengangkat mukanya menatap wajah lelaki yang mendekapnya erat. Hatinya menghangat mendengar perkataannya, ada apa dengannya saat ia menatap netra biru lelaki itu rasanya jantungnya berhenti berdetak.


Mereka terus berada dalam posisi itu untuk beberapa saat. Arkan yang mengelus lembut rambut Nada dan Nada yang bersandar di dada Arkan sembari terus mengeluarkan air mata.


Setelah perasaan Nada sudah lumayan membaik, ia mengurai pelukannya. Mereka memisahkan diri dan merasa canggung.


“Maaf baju kamu jadi basah” ucap Nada dengan suara serak merasa tidak enak karena dia menangis membuat baju lelaki itu basah.


Arkan menatap bajunya yang sedikit basah, dia tidak mempermasalahkan hal itu selagi itu dapat membuat rasa sakit Nada berkurang dia tidak merasa keberatan.


“Lo gak bisa tetap tinggal di sini” cetus Arkan merasa kalau Nada tetap di sini akan sangat bahaya.


“Kenapa?” tanyanya mengerutkan kening heran.


“Karena sewaktu-waktu om Lo bakal datang dan nyakitin Lo lagi. Gue juga gak selalu bisa ada di sini kan” jelasnya.


Nasa mengangguk merasa perkataan Arkan benar. “Terus aku harus tinggal di mana?” tanyanya balik.


Arkan menyeringai, “Rumah gue” jawabnya membuat Nada terdiam membelalakkan matanya.


“Apa?! Emang harus gitu?” ucapnya merasa keberatan. Bayangkan aja masa dia tinggal di rumah lelaki itu.


“Hanya itu satu-satunya jalan, kecuali Lo punya tempat tinggal lain” Arkan mengangkat bahunya acuh.


Nada berpikir dengan keras, dia tidak punya tempat untuk menginap karena dia juga tidak memiliki kerabat lain lagi. Sedang menginap di tempat lain dia tidak tahu harus di mana.


Nada menatap Arkan ragu dan menggigit bibirnya bingung, Arkan yang melihat itu dibuat gemas dengan kelakuan Nada.


“Tenang aja di sana juga ada Mama sama Papa gue kok” ucapnya membuat Nada menatapnya lama.


“Udah ayo gak usah kebanyakan mikir deh” Arkan yang tidak sabar segera menarik tangan Nada untuk berdiri. Nada yang di tarik pun hanya merutuk dalam harinya.


“Tapi hanya untuk malam ini aja” pinta Nada.


Arkan mengerutkan kening tidak setuju, “Gak bisa paling nggak beberapa hari untuk menghindari om lo”


Nada mengambilnya dan bergegas menuju kamarnya untuk mengambil beberapa potong pakaian terutama seragamnya. Setelah semua dia masukkan ke dalam koper. Gadis itu membawanya keluar dan tanpa berlama-lama masuk ke dalam mobil Arkan yang sudah stand by di depan.


Arkan melajukan mobilnya dengan santai, dia melirik memastikan keadaan Nada. Lelaki itu menghela nafas ketika melihat Nada yang sedang melamun. Ia hanya terdiam sampai mobilnya berhenti di sebuah restoran. Bahkan saat ini pun Nada masih belum sadar kalau mobil yang mereka tumpangi berhenti.


Arkan menyentuh pelan tangan Nada membuat gadis itu tersentak dan menoleh menatap Arkan dengan kaget.


“Lo ngelamun lagi?” tanya Arkan menghela nafas.


“Ini kita di mana?” Nada tidak menjawab dan mengalihkan perhatian.


“Di restoran. Lo pastinya belum makan, jadi kita makan malam dulu” cetusnya seraya membuka seatbeltnya.


Nada mengikuti apa kata Arkan. Ia ikut keluaran mengintili langkah Arkan yang berjalan di depannya. Arkan berhenti tiba-tiba membuat Nada yang menunduk menabrak punggung lelaki itu. Nada mengangkat wajahnya kaget.


“Jalan samping gue” titahnya. Arkan tidak suka kalau Nada mengikutinya dari belakang.


Dengan cepat gadis itu maju dan berjalan bersisian dengan Arkan. Memasuki restoran yang tidak terlalu mewah dan masih sedang. Arkan menariknya untuk mengikutinya ke meja yang kosong tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Sesaat setelah duduk, Arkan memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan. Seorang pelayan datang dengan membawa buku daftar makanan.


“Mau pesan apa?” tanyanya sembari menyerahkan buku itu kepada Nada. Gadis itu menyambutnya dan melirik banyak makanan yang kelihatan lezat. Tak lupa dia melihat berapa harga makanan itu. Nada memesan makanan yang tidak terlalu mahal di restoran itu.


Arkan yang melihat Nada sudah menyerahkan daftar makanan ke arahnya, ia menaikkan alis ketika Nada menyebutkan pesanannya. “Udah itu aja?” tanyanya.


Nada mengangguk mantap. Arkan mengenal nafas pasrah, “Yaudah mbak masing-masing dua porsi ya” pesannya lagi yang diangguki oleh mbak itu.


“Gue tau Lo belum sempat makan jadi sebelum ke rumah gue Lo harus makan dulu” ucapnya membuat hati Nada menghangat. Gadis itu tersenyum pada Arkan membuat lelaki itu terpana dibuatnya.


“Arkan makasih” ucapnya singkat tapi membuat Arkan justru tertegun.


“Gak perlu berterima kasih sama gue” ucapnya sembari mengalihkan pandangannya ke arah luar restoran.


Nada masih belum melunturkan senyumnya. “Biar bagaimanapun kamu udah banyak banget bantuin aku. Aku banyak berhutang budi ke kamu aku gak tahu harus membalas kebaikan kamu bagaimana” ucapnya dengan menatap dalam Arkan.


“Kalo gitu Lo harus selalu bahagia. Itu aja permintaan gue” ucap Arkan balas menatap wajah teduh Nada.


Nada menatap Arkan tidak mengerti, “Kenapa kamu baik banget sama aku?” tanyanya menatap dalam netra biru Arkan. Entah mengapa Nada begitu menyukai iris lelaki itu seolah ada yang menariknya untuk selalu menatapnya.


“Karena gue emang baik, Lo nya aja yang gak sadar” celetuk Arkan mengalihkan perhatiannya dari wajah Nada.


“Tapi..”


“Lo akan tau tapi bukan sekarang yang pasti gue gak akan pernah biarin Lo di sakiti siapapun lagi” ucapnya dengan nada tegas dan sorot meyakinkan


Nada terdiam dengan mata yang tak luput untuk memperhatikan seseorang di depannya.