
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam dan Nada masih terjaga di samping Prissil dengan tangannya yang terus menggenggam erat tangan Prissil. Sedang Deril ia tertidur di sofa bed yang tak jauh dari ranjang.
Tak bosan Nada memperhatikan sahabat yang tidak ingat akan dirinya itu. Raut damainya saat ini seperti ironi tersendiri bagi Nada. Ia masih ingat bagaimana gadis ini menyelamatkan dirinya dari tabrakan sehingga dia harus mengorbankan dirinya
Tanpa Nada sadari jari-jari tangan Prissil mulai bergerak pelan. Sedang Nada masih dengan dunianya sendiri. Sampai sebuah suara pelan memasuki telinganya. Ia menatap Prissil yang sudah terlihat membuka matanya walau masih belum sempurna.
Nada dengan cepat memencet tombol untuk memanggil dokter. Sedangkan ia cepat-cepat berusaha keluar tetapi tangan Nada di cekal oleh Prissil. Untung saja karena ia sedang lemah jadi Nada bisa melepaskan cekalan dan berbalik pergi dari situ. Ia masih belum siap untuk bertemu Prissil dalam keadaan sekarang. Biarlah gadis itu mengenalnya hanya sebagi siswa yang selalu di bully nya.
Ia duduk di kursi depan ruangan, matanya menangkap para dokter dan suster yang tergesa-gesa masuk ke dalam ruang perawatan Prissil sampai tidak menyadari keberadaannya.
Beberapa saat kemudian para dokter itu keluar dari ruangan diikuti oleh Deril. Nada menoleh pada Deril yang juga menatapnya.
“Dia sudah baikan?” tanya Nada pada Deril yang mendekatinya.
“Dia sudah sadar, jadi jangan khawatir lagi” jawab Deril mencoba menenangkan Nada.
“Syukurlah” Nada menghembuskan nafas lega. “Tolong jaga dia untuk malam ini bisa” Nada memohon pada Deril.
“Tentu” jawabnya.
“Aku bisa tenang kalo kamu yang menjaganya. Aku akan pulang” ucap Nada, lalu berpamitan dengan Deril.
Sampai di rumahnya, Nada bergegas mengisi daya Handphone nya karena sedari tadi sudah kehabisan baterai. Menunggu terisi penuh ia pergi membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Nada keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar. Ia membasahi rambutnya walaupun memiliki resiko dia bisa saja sakit. Ia mengecek handphone nya yang sudah ada terisi, dan dia merasa terkejut melihat begitu banyak pesan berasal dari Arkan. Ia menepuk pelan keningnya bagaimana bisa sampai melupakan kalau ia belum memberikan kabar pada Arkan.
Arkan
Mommy kangen kamu katanya
Aku ke rumah kamu
Lho kamu dimana? Jawab pesan aku Na
Kamu baik-baik aja
Menatap lamat pesan berantai yang dikirimkan Arkan, ia membalas pesan itu walau tau sudah telat.
^^^Nada^^^
^^^Maaf tadi handphone aku habis baterai, ini baru aja aku isi^^^
^^^Aku baik-baik aja, jangan khawatir^^^
Tak ada balasan dari Arkan. Nada menghela nafas lalu mematikan handphone nya. Sekarang sudah jam satu lewat pastilah lelaki itu sudah tidur. Begitu pikir Nada.
Ia merebahkan tubuhnya ke atas kasur dengan pelan. Hari ini cukup melelahkan bagi dirinya, menatap langit-langit kamarnya yang polos lalu pikirannya tanpa dikomando kembali menerawang jauh.
...***...
Di suatu tempat atau lebih tepatnya kamar bernuansa gelap, seorang lelaki duduk di atas sebuah kursi dengan tangan memegang gelas berisi minuman. Sesekali seringainya terlihat ketika ia menyesap pelan minumannya.
“Sebentar lagi! Huh tunggu sebentar lagi kalian semua akan merasakan apa yang kami rasakan!” desisnya tajam disertai senyum miring di wajahnya.
Ia menaruh gelas itu di atas meja dan mengambil handphone nya lalu menekan sebuah nomor dan menempelkan ke telinganya.
“Bagus! Lalu bagaimana, kapan ia menjalankan rencananya?” suara di seberang tidak kalah dingin.
“Dia menundanya karena sedang ada perjalanan bisnis ke Singapura” tangan satunya yang tidak memegang apa-apa mengambil gelas berisi minuman dan menyesapnya lagi.
“Terus beri kabar kalau dia sudah datang! Dan jangan sampai membuat kecurigaan!”
“Tenang saja” ucapnya lalu mematikan panggilan dan menaruh kembali handphone ke atas meja.
Sebuah tawa meledak diantara kesunyian malam. Lelaki itu tertawa seolah ada hal yang menyenangkan. Untung saja tidak ada orang yang melihatnya jika tidak percaya saja bulu kuduk orang itu pasti akan berdiri.
...***...
Tok tok tok
“Sebentar!” sahut seseorang dari dalam.
Cklek
“Arkan?” ucap Nada pelan. Matanya yang semula masih mengantuk dan sesekali terpejam langsung membulat.
“Kamu baru bangun tidur?” tebaknya melihat Nada dari ujung kepala sampai kaki. Penampilan gadisnya yang masih memakai baju tidur dan rambut acak-acakan khas orang baru bangun tidur membuat ia merasa gemas.
Setelah linglung sesaat Nada mempersilahkan Arkan masuk, “Masuk dulu, aku mau mandi sebentar aja beneran” ucapnya. Lalu setelah memastikan bahwa Arkan duduk di sofa ia melipir hendak pergi ke kamar mandi.
“Tunggu! Duduk dulu deh sini” Arkan menarik dan mendudukkan Nada di sampingnya.
“Eeh tapi aku mau mandi dulu, nanti telat ke sekolah” Nada berusaha untuk pergi dari hadapan Arkan. Ia sangat malu saat ini, bayangkan saja penampilannya sangat berantakan dan rasanya ia ingin bersembunyi saja.
“Jam masuk masih lama, jadi enggak bakal telat” kekeuhnya.
Akhirnya Nada pasrah dan duduk di samping Arkan walau dengan sedikit enggan.
“Kemarin kamu kemana?” tanyanya pelan.
“Emang kenapa?” tanya balik Nada.
“Kamu ini orang nanya malah tanya balik” Arkan menggelangkan kepala. “Kemarin aku kesini terus kamunya gak ada, emang kamu kemana?”
Nada terlihat menatap sekeliling berusaha menemukan jawaban yang tepat. Tidak mungkin kan kalau dia bilang kemarin ia menjenguk Prissil di rumah sakit dan bilang bahwa Prissil itu sahabatnya. Ia yakin Arkan tidak akan percaya.
“Kata kamu Mommy kangen sama aku, gimana kalo hari Sabtu lusa aku ke rumah kamu ketemu Mommy” kata Nada berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Benar, Mommy udah tau kita pacaran dan sangat senang sekali. Katanya mau bawa kamu ke pertemuan arisannya biar bisa pamer katanya” ucap Arkan dengan terkekeh kecil.
Arkan memutuskan tidak memperpanjang pertanyaannya tadi. Ia bisa melihat Nada merasa tidak nyaman dengan hal itu, Arkan tau Nada butuh privasinya sendiri. Mungkin ia tidak ingin seseorang mengetahui tentang hal itu.
Nada yang mendengar perkataan Arkan pun ikut terkekeh. Ia merasa sangat beruntung Mommy Arkan bisa menerima dirinya walau ia bukan dari kalangan atas. Terlebih wanita itu begitu menyayangi dirinya dengan tulus.
Tentunya ia tahu dulu Mommy Arkan memiliki anak perempuan tetapi sudah tiada. Mengenai penyebabnya ia tidak tahu, Mommy tidak pernah menyebut dan Arkan tidak pernah juga mengungkit. Ia memang samar-samar ingat tentang adik dari Arkan dan ia dulu pernah mendengar Arkan bercerita tentang adiknya kepada dirinya waktu masih kecil.
“Aku mandi dulu, udah siang soalnya” ucap Nada lalu berdiri menuju kamarnya.
Sedang Arkan duduk di ruang tamu dengan mata menelusuri seluruh ruangan itu. Terdapat banyak foto Nada bersama mamanya dan papanya sewaktu Papanya belum tiada. Ia juga melihat foto Nada dan Papanya saja, senyum terukir di wajah orang beda usia itu, terlihat sangat bahagia dimata Arkan.