
Mata Nada membesar melihat pemandangan yang ada di depannya. Terdapat banyak bunga dan balon serta lampu yang cantik. Tempat ini terletak rooftop, terlibat banyak tulisan selamat padanya diujung sana ada sebuah meja yang dihiasi oleh lilin cantik.
Nada melangkah pelan dengan mata menelusuri seluruh tempat ini. Arkan dengan senyum tipis mengikuti dari belakang.
“Kamu yang nyiapin ini semua?” Nada berbalik ke arah Arkan.
“Kamu suka?” tanya balik Arkan dengan menatap langsung mata Nada.
“Aku suka, cuma agak terkejut aja dapat kejutan gini” ucapnya dengan mata berbinar.
“Namanya aja kejutan” kekeh Arkan lalu mengarahkan Nada untuk menuju meja itu.
“Duduk sini dulu, aku ke sana sebentar” kata Arkan dengan menunjuk ke arah samping. Nada mengangguk dan duduk dengan patuh di kursi yang di depannya ada meja yang sudah dihias sedemikian rupa.
Nada terus menatap sekeliling dengan antusias, ia sangat suka bunga apalagi bunga mawar putih. Apalagi saat ini ada banyak sekali bunga mawar putih.
“Nada” panggil Arkan membuat Nada menoleh padanya.
Matanya membulat terkejut melihat lelaki itu berdiri di depannya dengan tangan memegang sebuah Teddy bear kecil berwarna ungu.
“Arkan..maksudnya apa ini?” tanya Nada tidak mengerti.
Arkan tersenyum sampai matang terlihat menyipit, ia memajukan boneka itu ke arah Nada
“Aku memang tidak pandai merangkai kata-kata indah atau manis, kamu juga tau itu. Tapi untuk kali ini aku akan mengatakan lagi kalau aku mencintaimu. Mungkin bukan yang pertama kalinya aku mengatakannya tapi kali ini aku ingin bertanya bukan hanya sekedar berkata. Apa kamu mau jadi kekasihku, menemaniku untuk waktu yang tidak bisa ditentukan, melewati suka suka bersama-sama?” ucap Arkan dengan penuh ketulusan, ia menatap dalam netra Nada.
Kaget. Tentu saja ia tidak menyangka akan sepeti ini. Nada sampai tidak bisa berkata-kata lagi, entahlah rasanya seperti mulutnya terkunci rapat. Mereka saling pandang dengan tatapan tak bisa diartikan
“Jujur, aku kaget dengan pernyataan ini. Terlalu tiba-tiba untukku” kata Nada setelah terdiam beberapa saat, ia bangkit dari duduknya dan mensejajarkan tubuhnya dengan Arkan.
Entah mengapa sekarang Arkan jadi gugup seperti ini. Ia menatap dengan harap-harap cemas akan jawaban apa yang diberikan Nada.
Tanpa Arkan ketahui saat ini batin Nada sedang berkecamuk, bagian dari dirinya mengatakan kalau ia tidak pantas untuk Arkan terlebih kalau penyakit yang dikatakan dokter itu benar adanya. Tetapi hati kecilnya yang lain memberontak dan menyuruhnya untuk tidak memedulikan semua itu, dan hanya peduli tentang cintanya pada Arkan.
‘Apa yang kamu pikirkan Nada bukankah ini kesempatan kamu untuk bahagia’ batinnya berteriak.
Nada menatap Arkan sebentar, lalu tatapannya turun ke arah boneka Teddy bear yang lucu itu. Tangannya terulur mengambil boneka itu dari tangan Arkan. Ia melirik Arkan dengan senyum manisnya.
Suasana hening, Arkan yang terdiam ketika Nada yang mengambil boneka itu ia masih belum sadar juga.
“Jadi?” tanyanya memastikan.
“Harus banget Teddy bear?” tanya Nada dengan jahil membuat mereka bertatapan dan tak lama terdengar gelak tawa diantara keduanya.
Nada mengangguk dengan senyum yang masih berada di wajahnya. Hal itu jelas saja membuat Arkan tanpa pikir panjang memeluk Nada erat dengan senyum terukir lebar.
Untuk kali ini aja Nada ingin egois, dia sungguh juga mencintai lelaki di depannya ini. Menikmati pelukan mereka berdua yang membuat hatinya menghangat.
Refleks Arkan dan Nada melepas pelukan mereka dan menatap asal suara. Ia menutup mulutnya ketika melihat teman-temannya membawa sebuah kue yang cantik dengan lilin diatasnya.
“Selamat ulang tahun...selamat ulang tahun Nada” nyanyi Putri, Emma dan Kafa bersamaan dengan senyum sumringah.
Saat ini saja, Nada tak bisa berkata apa-apa lagi, hari ini begitu banyak kejutan tak terduga. Ia bahkan lupa kalau hari ini berulang tahun yang ke-17. Perasaan terharu memenuhi relung hatinya saat teman-temannya mengingat ulang tahunnya padahal ia tidak pernah mengatakannya.
“Huuu..Tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga sekarang juga” lanjut mereka mengarahkan kuenya ke arah Nada.
“Eiits sebelum tiup lilin jangan lupa make a wish dulu” ucap Emma mengingatkan Nada.
Nada mengangguk tanpa bisa menahan senyum, lalu ia menutup matanya membuat sebuah permohonan. Setelah ia membuka matanya ia meniup lilin yang berbentuk angka 17.
“Yeayy sudah tertiup semuanya” ucap Emma dengan antusias.
Arkan yang tadinya bermuka masam akibat kedatangan temannya membuat momen romantis mereka buyar, kini tak bisa tidak tersenyum melihat raut bahagia Nada
“Nah sekarang potong kuenya dan berikan potongan pertama pada orang spesial” kata Kafa memberi usul
“Nah iya tuh, bentar gue taroh di meja dulu” timpal Putri dengan menaruh kue itu ke atas meja dan memberikan pisau untuk memotong kuenya.
Nada memegang pisau dan memotong sedikit bagian kue, ia mengambilnya dan menatap satu-persatu orang yang ada di sana.
Kemudian ia tanpa ragu mengarahkan sepotong kue ke arah Arkan menyuapkannya pada Arkan yang menatap lembut Nada. Lelaki itu menyambut suapan dari tangan mungil Nada tanpa melepas tatapannya ada Nada yang sedang tersipu.
“Cieee...ekhm..ekhm dunia serasa milik berdua ye, yang lain mah numpang” kelakar Kafa dengan pura-pura batuk.
“Duh kapan gue bisa gitu juga ya” iri Emma dengan mata terus tertuju pada Nada dan Arkan yang sedang romantis sekali.
“Elo? Gue gak yakin deh ada cowo yang mau sama lo” ejek Kafa dengan sewotnya.
Emma melemparnya tatapan tidak sukanya pada Kafa, “Sirik aja Lo. Lagian Lo juga gak bakal ada cewe yang mau sama lo” balas Emma dengan sinis
“Udah-udah jangan ribut. Gue jodohin juga nih kalian” ancam Putri membuat dua orang itu membuang pandangannya.
“Jadi kalian udah resmi nih?” tanya Putri pada Arkan dan Nada yang sedang memperhatikan mereka. Ya putri dan Emma percaya kalau mereka dulu itu belum jadian makanya mereka ikut membantu dua orang itu buat jadian dan tentunya itu adalah ide dari Kafa.
Nada menunduk dengan muka memerah, sedang Arkan merangkul Nada dengan senyuman yang tak lepas dari wajah tampannya.
“Gercep juga lo” sahut Kafa dengan cengiran dan dibalas sinis oleh Arkan.
“Gue gak kaya Lo ya” sinis Arkan membuat Kafa mencak-mencak ditempat diiringi kikikan kecil dari Emma dan Putri.
“Gak usah bawa-bawa gue ya” ucapnya berdecak kesal.
Mereka tertawa ketika melihat muka kesalnya Kafa. Terlihat Emma dan Putri yang mendekati Nada yang sudah lepas dari rangkulan Arkan. Mereka berdua memberikan senyum menggoda pada Nada.