
Nada membereskan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Pembelajaran hari ini sudah selesai ia menoleh pada Riko
“Nih makasih Rik” ucapnya seraya memberikan sebuah pulpen ke arah Riko.
Riko mengambil pulpennya dan mengangguk kecil ke arah Nada.
Deril terlihat mendekat ke arah Nada dan berhenti di depannya, ia menatap lurus Nada.
“Luka kamu gimana?” tanyanya setelah terdiam sejenak.
“Udah baik kan kamu obatin semalam” ucapnya dengan menatap balik Deril dengan seulas senyum
“Gue duluan guys” pamit Riko seraya menyampirkan tasnya dipunggung dan melambai kecil. Nada dan Deril balas mengangguk bersamaan.
”Yang semalam...aku rasanya curiga ada yang sengaja mau nabrak kamu” ucapnya setelah ragu-ragu dan berpikir sejenak
Kening Nada berkerut ternyata bukan hanya dia yang merasa agak janggal sepeti ada yang sengaja ingin menyakiti dirinya
“Mungkin perasaan kamu aja” elak Nada tidak ingin Deril khawatir ia tidak ingin melibatkan lelaki di depannya.
“Tapi aku merasa janggal aja Nad” ucapnya lagi dengan kekeuh dan tatapan yakin.
“Memangnya siapa yang bakal celakain aku? Aku gak se bermanfaat itu kali buat di bunuh, yang ada mereka rugi lagi” kelakar Nada dengan kekehan diakhir.
Mendengarnya Deril sedikit tidak suka dengan perkataan Nada, ia selalu merasa Nada seolah nganggep dirinya tidak berguna.
“Aku gak suka kamu ngomong gitu”
“Udah kamu gak perlu khawatirin tentang itu, em aku harus pulang. Pamit ya” ucapnya dengan memberikan senyum simpul lalu berlalu dari hadapan Deril.
Ia terdiam sejenak di tempatnya tadi berbicara dengan gadis itu, ia merasa sifatnya yang terlalu kaku membuatnya agak sulit membangunkan suasana yang menarik.
Nada melangkah keluar dari gerbang tetapi langkahnya Terhenti ketika melihat keberadaan Arkan yang berdiri di depannya. Ia menatap diam Arkan berpikir ada apa lagi ini.
“Pulang bareng aku ke rumah Mommy, katanya Mommy kangen sama kamu” ucapnya perlahan.
“Harus hari ini banget” katanya dengan ragu ia berpikir sebentar.
“Mommy kangen loh, kamu mau bikin Mommy sedih” ucapan Arkan membuat Nada akhirnya mengangguk.
Arkan tersenyum begitu melihat Nada menyetujuinya. “Ayo” ajaknya berjalan menuju parkiran diikuti Nada. Tetapi tiba-tiba Arkan berhenti dan membuat Nada menubruk punggungnya. Arkan berbalik dan melihat ada yang mengusap pelan keningnya.
“Ceroboh. Makanya jangan jalan di belakang, sini jalan itu disamping aku. Nah kalo gini kan enak” ucapnya memindah posisi Nada menjadi di sampingnya.
“Kamunya yang berhenti enggak bilang” protes Nada tidak terima dibilang ceroboh.
Arkan tidak menjawab, ia malah memegang telapak tangan Nada. Tentu saja hal itu membuat Nada tersentak membeku, entah mengapa seperti ada aliran listrik menjalar di sekujur tubuhnya. Jantungnya pun mulai berdetak tak karuan, padahal lelaki itu hanya memegang tangannya saja.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya membuatnya tidak sadar kalau Arkan sudah melepas tangannya dan duduk di atas motornya. Arkan yang melihat Nada terdiam seperti itu membuatnya mendorong pelan kening Nada.
“Ngelamun lagi. Ayo!” serunya
Nada mengaduh pelan dan menatap Arkan sebal. Iamemperhatikan Arkan yang sudah duduk di ata motornya sedikit heran karena ia tidak pernah melihat Arkan membawa motor selama ini. Ia melirik antara motor dan roknya yang pasti akan sangat pendek jika ia naik di atasnya.
Arkan yang menyadari hal itu, melepas jaket yang melekat di tubuhnya dan memberikannya pada Nada. “Nih pakai”
Nada menerima jaket itu dengan pelan. Ia terkejut begitu helm terpasang di kepalanya dan ia mendongak melihat Arkan yang dengan telaten memasang talinya. Entah sudah berapa kali hari ini lelaki itu membuatnya jantungan.
“Pakai helm dulu biar aman” ucapnya dengan senyum tersungging di wajahnya. Ia menatap Nada yang juga menatapnya dalam dengan sorot tak biasa.
“Enggak” ketus Nada lalu dengan cepat naik ke atas motor menyembunyikan rona merah di wajahnya. Sedang Arkan terkekeh kecil lalu ia melajukan motornya keluar dari sekolah.
Tanpa mereka sadari di sudut sana ada Deril yang menatap sendu kepergian Nada dengan Arkan.
“Dia udah bahagia Deril...harusnya kamu ikut bahagia” ucapnya berusaha biasa saja tapi malah menjadi terasa menyedihkan.
“Dia aja gak peduli perasaan Lo, tapi Lo masih aja mengharapkan dia. Bego!” ucap sinis seseorang yang berada di sampingnya
Deril melirik seseorang itu, “Lo gak ngerti Sil” ucapnya.
“Apa yang gue gak ngerti Ril?! Gue malah sangat ngerti!” seru Prissil dengan tidak terima saat Deril mengatakannya tidak mengerti padahal ia yang paling tau rasanya.
Deril menatap lurus ke arah Prissil yang terlihat marah. Dia lalu meninggalkan Prissil berjalan menuju motornya. Ia tidak menghiraukan panggilan Prissil yang terus memanggilnya.
Prissil terdiam ketika melihat Deril sudah berlalu dari hadapannya, lagi-lagi ia ditinggalkan sendiri. “Kapan Lo bisa kaya dulu lagi sih Ril” lirihnya dengan nanar
“Semua ini karena Nada! Andai aja dia tidak datang maka Deril gak bakal mengabaikan gue!” desis Prissil dengan tangan terkepal dan sorot kemarahan. Lalu ia juga berbalik menuju mobilnya, membanting keras pintunya dan melajukan mobilnya dengan cepat.
...***...
Nada turun perlahan dari motor Arkan dan melepas helmnya. Arkan yang melihat rambut Nada agak berantakan setelah ia melepas helmnya, memilih membetulkan dan merapikan rambut panjang Nada dengan jemarinya.
“Berantakan nih” ucapnya pelan.
Nada menatap Arkan yang hari ini selalu memperlakukan dengan sangat manis. Kalo sikap Arkan selalu sepeti ini Nada yakin tak butuh waktu lama ia akan jatuh cinta pada lelaki ini atau mungkin dia sudah jatuh cinta dengannya. Entahlah
Nada menghempaskan tangan Arkan yang berada di kepalanya dan melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Arkan yang melihat itu tertawa kecil. “Imut sekali” gumamnya sembari mengikuti langkah Nada memasuki rumahnya.
“Non Nada..?” tanya bi Asti menghentikan langkah Nada. Ngomong-ngomong bi Asti merupakan bibi yang akrab dengan Nada.
“Iya bi. Bibi apa kabar?” tanya Nada dengan ramah dan penuh senyuman.
“Bibi baik non, non Nada kesini cari nyonya kan?” tanya bi Asti balas senyum.
“Iya bi, Mommy ada kan?”
“Pas banget Nyonya dari tadi nunggu non. Cuma tadi ke kamarnya nanti bibi panggilin pasti nyonya senang melihat non Nada udah datang” ucap bi Asti dengan semangat lalu berlalu menaiki tangga menuju kamar Mommy Arkan
“Ayo duduk sini” ajak Arkan yang baru datang memegang bahu Nada dan mengarahkannya ke sofa lalu mendudukkan gadis itu di atasnya. Lelaki itu sendiri juga ikut duduk di samping Nada.
“Mommy sering banget nanya tentang kamu waktu kamu udah balik ke rumah” ucap Arkan dengan tatapan lurus ke depan.
Nada yang tidak tahu harus mengatakan apa hanya bisa terdiam dan menunggu kelanjutan perkataan Arkan.
“Semenjak Cika pergi Mommy selalu ingin punya anak perempuan, dengan kehadiran kamu membuat Mommy kembali bersemangat” ucap Arkan menerawang jauh.
“Aku tau, Mommy juga baik banget sama aku” ucap Nada lembut dengan senyum lebarnya.
“Nada?!” seru Mommy Elen tertahan matanya berbinar melihat keberadaan Nada di sofa sedang duduk. Lekas saja ia memeluk Nada dengan erat penuh kasih sayang. Tentu saja Nada juga balas memeluk wanita paruh baya itu.
“Akhirnya kamu kesini lagi, kemana aja kamu gak pernah ke rumah?” tanya Mommy Elen ketika mereka melepas pelukan.
“Mom kan sudah Arkan bilang Nada sedang sibuk persiapan olimpiadenya jadi waktunya tersita buat belajar” jelas Arkan pada Mommynya.
“Itu gak penting lagi. Ayo Nada Mommy sudah pengen banget ngajak kamu masak kue” ucapnya lalu membawa Nada ke dapur dan meninggalkan Arkan yang termangu di tempatnya cengo.
“Ini nih anaknya aja sampai di lupain, yang anaknya aku atau Nada sih” gerutunya pelan tapi tak urung senyumnya terkembang di bibirnya.