
Jatuh cinta? Menurut kalian ada berapa banyak orang yang sedang jatuh cinta setiap harinya. Pastinya tidak bisa dihitung dengan jari lagi. Tapi berapa banyak orang yang rela mencintai walau ia tau seseorang itu sudah dimiliki oleh orang lain.
Begitu juga dengan Deril, lelaki tampan yang menjabat sebagai ketua OSIS yang sedari lama menyukai Nada tapi sekarang ia harus dengan lapang dada membiarkan Nada bersama dengan orang lain.
Cinta Deril gak pernah salah walau banyak orang yang menyayangkan hal itu. Mungkin ia yang kurang berusaha hingga gadis yang dicintainya malah bersama orang lain. Tapi ia cukup bahagia kok bisa melihat Nada bahagia, karena bahagianya Nada juga bahagianya.
Tapi kenyataan yang dia ketahui tentang gadis itu membuatnya lebih banyak menghawatirkan Nada. Dia seolah tidak bisa lepas dari keterlibatannya dalam hidup Nada. Dalam hati ia terus bertanya-tanya apa yang sekarang dilakukan Nada? Apa dia baik-baik saja setelah apa yang terjadi beberapa hari lalu?
Dan tanpa sadar kakinya melangkah menuju ruang kelas gadis itu begitu lonceng sudah berbunyi. Gemuruh dadanya seakan bertalu-talu ketika melihat sosok Nada yang sedang duduk dan membaca bukunya di meja. Tidak ia temukan keberadaan kekasih gadis itu di sampingnya, entah kemana lelaki itu ia tidak tahu.
“Hai Na” sapa Deril yang membuat perhatian Nada teralihkan dari buku bacaannya. Ia menatap Deril dengan sedikit ketidak percayaan.
“Oh hai Ril, apa kabar?” tanya Nada yang membuat sudut bibir Deril terangkat kaku.
“Harusnya aku yang tanya gitu. Kamu lama gak kelihatan di sekolah, katanya kamu izin sakit. Tapi kamu udah gak apa-apa kan?” Deril menatap dengan seksama Nada.
“Aku gak papa, buktinya aku udah disini. Kemarin itu aku cuma kelelahan aja, beneran” ucap Nada meyakinkan lelaki di depannya.
“Aku hanya khawatir apalagi pertemuan terakhir kita sedikit bermasalah” ucap Deril dengan ringisan di wajahnya dan rasa bersalah. “Tapi Arkan tidak ngapa-ngapain kamu, kan?”
“Tentu saja tidak, aku sama Arkan udah berbaikan karena ini hanya salah paham kan” balas Nada cepat. Ia tidak mau membuat lelaki di depannya merasa bersalah. Mendengar jawaban Nada membuat Deril mengangguk pelan.
“Lalu sekarang dimana dia? Tumben sekali lelaki itu tidak ada bersamamu” cetus Deril
Sebelum menjawab pertanyaan Deril, terlihat Nada berpikir sejenak. “Dia sedang ada urusan di luar, makanya tidak hadir” jawabnya kemudian.
“Nada! Ayo ke kantin bareng!” ajak Emma yang baru saja masuk ke dalam kelas Nada disusul oleh Putri dan Kafa
Tentu saja kehadiran teman-teman Nada membuat Deril memutuskan untuk beranjak dari tempatnya. Ia cukup tahu kalau teman Nada tidak menyukai dirinya sehingga ia lebih baik pergi
“Aku pergi dulu Na, take care ya” pamitnya pada Nada. Setelah melihat Nada mengangguk, ia pergi keluar kelas diiringi tatapan menyelidik Kafa.
Nada yang tangannya diapit oleh Emma dan Putri serta Kafa yang berjalan di sebelah mereka seakan pengawal bagi para perempuan itu.
“Eits kenapa gue merasa cowo tadi suka sama Lo Na?” tanyanya yang sudah kelewat penasaran hingga bertanya pada gadis yang menjadi pacar dari sepupunya.
Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Kafa membuat Nada tidak bisa bereaksi selama beberapa saat. Hal itu juga dialami oleh Putri dan Emma yang berhenti berjalan dan menatap Nada.
“Kata siapa?” tanyanya dengan alis terangkat.
“Kelihatan kali dari tatapannya yang beda saat melihat lo”
“Lebih baik kita cari meja dulu dan duduk, baru bicara lagi” Putri menganjurkan untuk menuju meja di kantin dulu. Yang lainnya mengangguk saja dan kembali berjalan menuju meja yang kosong.
Setelah duduk dengan rapi di kursi, Kafa kembali menatap penuh tanya pada Nada yang merasa sedikit canggung. Ia bergerak-gerak dengan sedikit gelisah. Dan Putri dapat menangkap hal itu dengan jelas jadi ia berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
“Eh kalian udah tau belum kalo Minggu depan bakal diadain camping di daerah Bogor. Katanya bakal berlangsung selama tiga hari”
Dan berhasil semua atensi yang tadi ke arah Nada mulai memfokuskan pada topik yang dibawa Putri.
“Beneran? Aaaa pokoknya bakal seru nih! Kita ikutan ya, harus pokoknya” ucap Emma dengan binar antusias mendengar perkataan Putri.
“Ntar Lo hilang lagi dihutan, diculik orang utan lo” ejek Kafa pada Emma. Hal itu membuat Emma memberengut kesal dan memalingkan muka dari Kafa.
“Apa harus ikut camping itu?” tanya Nada. Jujur ia sedikit enggan mengikuti Camping itu.
“Enggak harus juga sih, yang mau aja”
Emma begitu ingin mengikuti Camping ini, dia dari dulu sangat penasaran bagaimana rasanya tidur di tenda dan di alam luar sana.
Mendengar Emma yang seperti itu membuat Nada merasa tidak tega untuk mengatakan kalau ia tidak ingin ikut. Akhirnya ia memilih mengalah, lagian dia juga penasaran bagaimana rasanya camping sama mereka juga.
“Betul juga, kenapa kita gak ikutan aja” ajak Nada pada dua temannya yang lain.
“Lo gak bilang Arkan dulu?” tanya Putri
“Dia pasti setuju kok, aku juga ingin merasakan Camping itu gimana. Lagian ada banyak orang juga yang ikut kan”
Akhirnya Putri mengangguk ikut menyetujui wacana mereka yang ingin ikut Camping. Kafa yang melihat semua sudah setuju akhirnya ikut menganggukkan kepala.
“Kalo kalian ikut, masa gue gak ikut gitu. Ntar siapa yang jagain kalian kalo gak ada gue” ucap Kafa dengan percaya diri.
“Ngomongin apa?” tanya seorang lelaki yang tiba-tiba saja duduk di samping Putri tanpa izin dan membuat semua yang ada disitu terkejut akan kedatangannya.
“Bisa gak jangan bikin orang kaget kaya tadi!” desis Putri menatap tajam Candra yang hanya mencengir tidak bersalah.
“Lagian kalian serius banget. Lagi bahas apa sih?”
“Siapa nih orang Put?” tanya Kafa mengernyit.
“Calon si Putri lah siapa lagi” celetuk Emma membuat Kafa membulatkan bibirnya dan menatap Putri yang wajahnya memerah sembari memukul kecil Emma dan Candra yang mengalihkan tatapannya.
Nada tertawa kecil melihat mereka semua. Tak pernah terbayangkan dalam benaknya akan memiliki teman-teman sepeti mereka dalam masa sekolah ini. Ia mengira akan selamanya sendirian saat melewati masa sekolah menengah akhir yang katanya masa paling manis.
Entah mengapa melihat Putri yang terlihat ada sesuatu dengan Candra membuatnya mengingat seorang lelaki yang sedang berada di daerah lain. Ia jadi merindukannya lagi kan, hah apa memang ia sudah terlalu jatuh ke dalam pesona Arkan hingga selalu merasa rindu pada lelaki itu.
***
Di meja lain sedang duduk Prissi bersama teman-temannya yang terus saja menggosipkan seorang adik kelas yang katanya sangat cantik itu. Tapi pikiran Prissil sedang tidak bersamanya, ia terus aja melihat ke arah Nada yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
‘Apa ini? Perasaan asing apa yang sedang gue alami?’ batinnya bertanya-tanya dengan gundah.
Rasanya saat ini ada sebuah rasa sedih dan rindu yang amat dalam. Ia merasa ada sesuatu yang sangat penting dan dia melupakan hal itu. Sejak semalam ia terus memikirkan apa itu, rasanya begitu mengganjal.
“Lagi mikirin apa sih Sil?” tanya Dizzy mengerutkan kening.
Prissil menggeleng pelan, “Gue cuma keinget sesuatu”
“Eh gimana kalo kita kasih aja pelajaran sama tuh adik kelas ganjen biar dia tau diri. Setuju gak guys?” ajak Lesta dengan seringai andalannya.
Hal itu disetujui oleh Dizzy dan Helen. Sebenarnya Prissil sedang tidak ingin melakukan hal itu, tetapi ia hanya bisa mengangguk dan ikut dalam rencana teman-temannya. Jujur gadis itu mulai malas ikut membully siswa lain, tetapi lagi-lagi ia hanya bisa diam dan menelan penolakannya karena ia tidak mau kehilangan teman-temannya saat ini.
Terlihat sekali pertemanan mereka penuh dengan toxic dan gak sehat, tapi apapun itu merupakan pilihannya sendiri.
🌷🌷🌷
Selagi kalian menunggu cerita ini update, aku mau nyaranin untuk baca cerita aku yang lainnya. Temanya masih tentang anak sekolah juga kok.
Judulnya 'Bad Boy Sekolah' atau kalian langsung aja cek di profil aku
Terima kasih😊