Dear Nada

Dear Nada
Tidak Sengaja Bertemu Candra



Kesunyian yang mencekam terus mengisi seisi mobil. Arkan yang menyetir dengan muka tertekuk. Sedang Nada sedang menutup matany dan bergumam sendiri karena Arkan menjalankan mobil dengan sangat cepat.


Tak lama ia bisa merasakan kalau mobil ini berhenti tetapi ia tidak tahu berhenti dimana karena ia menutup matanya.


“Buka mata kamu!” seru Arkan.


Dengan pelan ia membuka mata dan menemuka mereka berhenti di pinggir jalan yang agak sepi. Ia dengan cepat menoleh dan menemukan Arkan menatapnya dengan datar.


Lelaki itu mengambil sesuatu dari dasboard mobil yang dapat Nada ketahui adalah obat untuk luka. Arkan mengambil telapak tangan Nada dan mengobatinya. Bagaimanapun itu kesalahannya karena ia Nada harus terluka.


Dia mengobati tanpa bersuara hanya menampilkan raut muka datarnya seolah tanpa emosi. Rasanya Nada ingin berteriak, ia sangat tidak menyukai Arkan yang seperti ini. Walau dia marah tapi masih memerdulikan dirinya.


“Kamu ngapain di sana?” tanyanya dengan nada datar setelah selesai mengobati tangan Nada yang luka.


Nada masih belum merespon pertanyaan dari Arkan. Apa yang akan dia katakan? Tidak mungkin kan ia bilang habis ngejenguk Prissil.


“Enggak mau jawab?”


“Bukan gitu, a-aku cuma mau–”


“Mau nemuin Deril terus pelukan sama lelaki itu!” suara Arkan mulai meninggi disertai tatapan mata tajam


“Kamu salah paham, bukan gitu ceritanya” sahut Nada berusaha menjelaskan.


“Apanya yang salah paham?! Apa tangan lelaki itu mengusap pipi kamu dan meluk kamu itu salah paham?!” bentaknya dan terlihat nafas memburu menandakan kemarahan lelaki itu hingga membuat Nada terkejut dan air matanya lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


“Dia cuma ngusap air mata aku aja dan pelukan itu hanya untuk menenangkan aku” jelasnya dengan suara serak


“Tapi kamu bahkan nggak ngehidar sedikitpun!” ucapnya dengan tatapan tidak percaya.


“Oke kalau itu seperti perkataan kamu. Apa yang menyebabkan hal itu sampai Lelaki itu menghibur kamu sampai segitunya dan meluk kamu lagi?” tanyanya dengan tatapan menyelidik dan penuh tanya.


Tidak bisa, batinnya menjerit. Sungguh Nada tidak bisa mengungkapkan hal itu kepada Arkan. Ia tidak ingin lelaki itu menghawatirkan dirinya dan ia akan semakin merasa berhutang Budi dengan lelaki itu.


“Lihat bahkan kamu enggak bisa jawab kan” ucapnya dengan kekehan meremehkan. Dan sorot mata penuh kekecewaan.


‘Kamu cuma perlu mengatakan alasannya walau itu sebuah kebohongan aku akan percaya Na’ gumam Arkan ndalam hati.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Arkan kembali menjalankan mobilnya. Kali ini ia akan mengantar pulang Nada. Sepertinya mereka butuh waktu sendiri dulu untuk mengintrospeksi diri.


Di perjalan tidak ada obrolan lagi, mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing bercokol di kepala mereka.


Setelah sampai di depan rumah, Nada keluar tanpa bersuara dan tanpa basa-basi Arkan melajukan mobilnya dengan cepat berlalu dari depan rumah Nada.


Melihat hal itu, Nada menatap sendu mobil yang mulai hilang dari pandangannya. Kemudian menunduk melihat plester yang ada di telapak tangannya.


“Maaf Arkan....harusnya kamu memang nggak pernah dekat sama aku” lirihnya dengan tatapan kosong.


Setelah terdiam sebentar, sebelum melangkah menuju rumahnya dan menutup pintu dengan keras. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan kencang dan menghela nafas kasar. Mata memejam erat dan setetes air mata keluar dari sudut matanya.


...***...


“Rencana sudah mau dilaksanakan”


Raut muka dingin di wajah tegas lelaki yang menggunakan jas hitam itu terdengar menggema.


“Kapan?” tanya seseorang yang diteleponnya.


“Baik aku yang akan memastikan rencana pria tua itu berhasil dan kamu cukup memastikan rencana kita juga berjalan lancar” suara halus tetapi datar di seberang sana membuat lelaki berjas hitam mengangguk walaupun orang diseberang sana tidak melihatnya.


Klik


Telepon itu dimatikan dan handphone nya di taruh di atas meja kaca di ruangan itu. Jari-jari lelaki itu terus mengetuk pelan di atasnya dengan tersenyum miring.


“Riwayat anda sudah tamat” ucapnya dengan nada rendah.


...***...


Dilain tempat, di sebuah kedai makanan terlihat Putri yang sedang menyantap makanannya sendiri. Ia kali ini menggunakan celana panjangn dan kaos yang dibalut jaket Levis.


Gadis itu makan dengan lahap di temani bisingnya kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali matanya melirik sekitar dengan cermat. Ada beberapa orang yang juga sedang makan, baik itu bersama temannya, pasangannya mungkin.


Sesaat matanya terhenti pada seorang lelaki berwajah oriental yang mengenakan jaket denim yang juga memasuki kedai ini dan terlihat memesan makanan pada penjualnya.


Lalu tanpa direncanakan mata mereka bertemu pandang satu sama lain membuat Putri langsung mengalihkan tatapannya kembali ke arah makanannya.


Tanpa di duga lelaki berwajah oriental itu mendekatinya dengan langkah ringan tapi pasti.


“Kita ketemu lagi” ucapnya senyum miring.


Putri memutar matanya malas dan meletakkan sendoknya dengan sedikit kasar. “Kenapa gue harus ketemu Lo lagi sih”


“Bukannya ini sebuah kebetulan yang didukung takdir” ucap Candra seraya menaik turunkan alisnya.


“Hah, bukan takdir yang ada malah kesialan” berdecih dengan sinis.


“Lo kenapa sih kayanya benci banget sama gue? Padahal kita baru aja kenal lho” Candra menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Putri.


“Gue belum ngijinin Lo duduk ya” Putri menyipitkan matanya


“Gue gak butuh izin Lo kali. Orang ini aja bukan tempat milik lo” balasnya dengan menyeringai.


Putri hanya berdecak dan tidak mengatakan apapun lagi. Ia memilih melanjutkan makannya walaupun nafsu makannya sudah tidak ada lagi.


“Lo belum jawab pertanyaan gue apa sih yang membuat Lo gak suka sama gue?” tanyanya sekali lagi.


“Gak ada alasan. Memangnya harus semua orang suka sama lo gitu” ia mendengus kasar.


“Ini pertama kali aja gue dibenci tanpa alasan yang jelas” Candra mengendikan bahunya.


Ia terlihat mengambil makanan yang di bawakan oleh penjual dan menaruhnya di atas meja. Lalu berterima kasih kepada penjuaknya. Terlihat asap mengepul dari mangkuk berisi bakso.


“Kenapa Lo bisa ngumpulin kalo gue benci Lo coba?”


“Keliatan dari cara Lo natap gue, terus cara bicara Lo yang kaya sinis sama mau ngajak baku hantam aja” jelas Candra serya memakan makanannya.


Putri sedikit terkekeh, “Gue gak benci kok sama Lo cuma ya kalo ngeliat Lo bawaannya kesal melulu”


Candra termenung menatap Putri, sungguh jawaban gadis itu diluar dugaannya. Ia tertawa kecil, “Jadi selama ini cuma salah sangka aja, huh syukurlah”


Putri yang kelihatan sudah menyelesaikan makannya ia merapikan sedikit meja bekasnya dan hendak berdiri. Tetapi tangan Candra tiba-tiba menahannya. Ia melirik tangan itu dengan tatapan heran.


“Kenapa?”