
Nada menatap hampa ruangan yang sudah kosong itu, pikirannya menerawang jauh entah kemana. Setelah melampiaskan emosinya tadi, Bian membawa Glen untuk diserahkan ke polisi beserta bukti percakapan kalau lelaki itu merencanakan pembunuhan.
Saham milik Glen bahkan sudah berpindah tangan menjadi milik Nada tanpa lelaki itu ketahui. Hak yang seharusnya menjadi milik Nada akan kembali padanya.
Nada tau selama ini Bian sudah berusaha sangat keras untuk menunggu momen ini. Saat dimana penjahat itu di tangkap dan dihukum dengan seberat-beratnya
Sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Setelah merasakan kelegaan karena berhasil mencarikan keadilan untuk Papanya, ia masih saja merasa kosong.
Apa setelah ini hidupnya masih memiliki arti? Apa dia masih bisa bertahan bahkan saat bayang-bayang penyakit menghantuinya saat ini.
“Nada!” panggil seorang lelaki dengan suara kencang membuat Nada yang termenung menjadi tersadar dan menoleh melihat siapa yang memanggilnya.
“Arkan...” gumamnya dengan suara rendah.
Lelaki itu adalah Arkan. Ia berlari mendekati Nada dengan raut cemas terlihat di wajahnya. Diikuti oleh Putri, Emma dan Kafa yang juga mendekatinya dengan langkah cepat.
Nada bisa merasakan hangat begitu Arkan merengkuhnya ke dalam dekapannya. Rasanya begitu damai, pelukan erat yang seolah menyalurkan rasa sayang dan rasa khawatir serta kelegaan.
“Aku sangat khawatir saat kamu tiba-tiba aja ngehilang dan dapat kabar kalo kamu diculik. Syukurlah kau sudah baik-baik saja” ujar Arkan dengan ekspresi penuh syukur.
Setetes air mata keluar dari matanya, ia tidak tahu kalau lelaki itu begitu mengkhawatirkan dirinya.
Ia menghembuskan nafas panjang, akhirnya ia tahu kalau ia punya banyak alasan untuk selalu bertahan. Ia ingin melihat ibunya dan menjaganya, ia ingin Selalu bersama Arkan dan mencintai lelaki itu. Ia juga punya teman-teman yang begitu tulus padanya.
Nada menguatkan hatinya dan tersenyum lebar sembari mengelus lembut punggung Arkan, menenangkan lelaki itu. Dengan perlahan mereka melepaskan pelukan dan senyum Nada terbit di wajahnya yang masih lebam dan ada sedikit jejak darah di sudut bibirnya.
Arkan memangkup wajah Nada dan menatapnya dengan teliti. Wajahnya mengerut dan jejak amarah terlihat di wajahnya yang tampan.
“Apa dia melakukan hal ini?” desisnya dengan tajam dan mata menyipit. “Apa sakit?” tanyanya lembut seraya mengelus pelan pipi Nada
Nada menggeleng pelan dan kembali menyunggingkan senyumnya. “Tadi sakit sekarang sudah tidak”
“Gini aja temen Lo lupain, serasa dunia milik berdua ya” sindir Kafa.
Merasa tersindir, Arkan melirik tajam Kafa, “Berisik Lo!” desisnya.
“Bericik li” ejek Kafa dengan wajah tengilnya.
Nada terkekeh melihat mereka, netranya beralih melihat kedua temannya. Ia berjalan dengan pelan ke arah mereka.
“Huaa Nada Lo, pasti luka Lo sakit banget kan? Gue gak nyangka ada orang jahat yang tega culik elo” rengek Emma memeluk Nada sembari menangis.
“Sudah sudah aku gak papa kok” kata Nada berusaha menenangkan Emma.
Matanya melirik Putri yang mengusap air matanya dan terlihat ekspresi lega di wajahnya. Nada melambaikan tangan ke arah Putri, agar gadis itu bisa mendekat. Melihat hal itu Putri terisak pelan sembari tersenyum ia menghambur memeluk dua temannya.
“Lebih baik kita pergi dari sini dulu, biarkan Nada diobati dan beristirahat nanti saja lagi bicaranya” ucap Kafa mendekati Nada yang berpelukan. Arkan juga mengangguk setuju dengan perkataan Kafa.
Arkan mendekati Nada yang telah melepas pelukannya, lelaki itu memegang lengan Nada dan tangan satunya merangkul gadis itu. Ia berjalan dengan memapah Nada dengan pelan
Apakah Arkan peduli dengan perkataan Nada? Jawabannya tidak. Tentu saja ia baru dibuat spot jantung karena kehilangan jejak Nada dan sekarang ia masih khawatir dengan gadis itu. Karena bagaimanapun Nada masih mendapatkan luka ditubuhnya.
Teman-temannya mengikuti dari belakang dengan Kafa. Arkan membawa Nada ke dalam mobil yang terparkir di depan bangunan itu. Setelah memasangkan sabuk pengaman, Arkan juga masuk kedalam mobil dan duduk dibalik kemudi.
Sedang yang lainnya pakai mobil satunya milik anak buah Arkan. Tempat ini jauh dari keramaian dan berada di pedalaman yang agak sepi. Jadi mereka lebih lama dalam perjalanan
Nada menyenderkan kepalanya ke sandaran mobil. Ia memejamkan mata dengan kepala yang berdenyut nyeri. Sesekali ia terlihat menghela nafas lalu menghembuskannya lagi.
Arkan melirik Nada di sampingnya, entah kenapa ia merasa saat ini Nada begitu misterius dan tidak dapat ia tebak.
“Apa tindakan aku sudah benar, Ar?” tanya Nada dengan suara serak.
Arkan mengerutkan keningnya, apa yang dimaksud oleh Nada sebenarnya.
Kelopak mata Nada perlahan terbuka dan menatap lurus ke arah depan. “Apa Papa akan marah karena aku hanya melaporkan Glen ke polisi dan tidak menghabisinya?”
Arkan rasa ia hampir saja mengerem mendadak tadi mendengar perkataan Nada. Apa gadisnya akan sanggup untuk membunuh seseorang.
“Kau pasti terkejut dengan perkataanku, tapi beberapa saat lalu aku begitu ingin menghabisi lelaki itu. Rasanya darahku mendidih saat memikirkan akan membunuhnya dan membalaskan kematian Papa dan Kakek serta kehancuran keluarga kami” ucap Nada dengan datar dan masih menatap kosong kedepan.
Sembari memastikan mobil tetap jalan dengan aman, Arkan melirik Nada dan menatap gadis itu dengan dalam.
“Lalu kenapa kamu berubah pikiran?” tanya Arkan hati-hati.
Nada menunduk dan mengeratkan genggaman tangannya, “Karena...aku tidak ingin menjadi seperti dia. Jika aku membunuhnya lalu apa bedanya aku dengan dia” jawabnya.
“Lalu kenapa kamu bisa berpikir Papamu akan marah? Sedang beliau pasti akan bangga dengan keputusan putrinya. Jangan pernah bersedih dan berpikir kalau Papa kamu akan marah”
Arkan mengatakannya dengan nada yang bijak dan tenang serta suara yang lembut. Tatapan matanya walau tidak mengarah ke arah Nada tetapi gadis itu tau Arkan berusaha menenangkannya.
Tanpa terasa mereka sampai di parkiran sebuah rumah sakit. Nada terperangah karena lelaki itu membawanya ke sini.
“Kenapa kita harus kesini?”
“Apalagi mengobati luka kamu lah” jawab Arkan menatap santai Nada.
“Aku gak papa loh, lukanya cuma sedikit dan diobati sendiri juga sembuh” ucap Nada berusaha menolak.
Tetapi Arkan menatap Nada dengan tatapan tidak bisa dibantah dan ia melepas sabuk pengaman Nada lalu luar dari mobil dan membuka pintu samping Nada. Ia menarik pelan tangan gadis itu walau selalu digelengi oleh Nada.
“Kafa sama yang lainnya kemana?” tanya Nada pada Arkan ketika tidak melihat keberadaan mereka.
“Kafa kesekolah dulu katanya, mau ngambil mobilnya” jawab Arkan.
Ia menuntun Nada memasuki rumah sakit dan memeriksakan dirinya serta mengobati luka yang ada ditubuh gadis itu.