
“Jangan liat!”
Nada kaget begitu penglihatannya di tutupi oleh tangan Arkan. Entah kenapa lelaki itu melakukan hal yang aneh ini tiba-tiba.
“Kenapa sih malah nutupin mata aku?” tanya Nada berusaha melepaskan tangan Arkan dari wajahnya.
“Liat aku aja jangan dia! Lagian apa bagusnya sih cowo kaya gitu bagusan juga aku Na” Arkan tidak menghiraukan usaha Nada, dia malah menarik wajah Nada untuk menatap dirinya.
Kali ini Nada tidak tahu harus berkata apa, ‘Dia kenapa jadi menggemaskan gini sih kalo lagi cemburu’ batin Nada berteriak gemas dengan raut Arkan yang menurutnya lucu.
Putri yang menyaksikan pasangan di sampingnya itu memutarkan bola mata malas. Jujur dia sedikit iri dengan Nada dan Arkan. Tapi keiriannya itu teralihkan oleh sebuah panggilan dari handphone nya. Sudut mulutnya mengembangkan senyum cerah melihat nama yang tertera di sana. Melihat Nada dan Arkan yang masih sibuk dengan kebucinannya membuat Putri memutuskan pergi dari sana tanpa memberitahu mereka.
“Ya ampun kamu mikir kemana Ar. Wajar dong aku liatin kak Alfi orang dia lagi menjelaskan gitu kok” bela Nada dengan tidak bersalahnya.
“Huh terserah” dengus Arkan lalu berjalan meninggalkan Nada.
Melihat hal itu membuat Nada tertawa pelan,
Ngambek deh bayi besarku lalu dengan cepat Nada menyusul Arkan sembari menyenggol lengan lelaki itu dan tersenyum jahil.
“Cemburu ya?”
Arkan masih diam dengan wajah tertekuk tapi tak ayal semburat malu sedikit tampak di wajah tampannya. Sial ketahuan lagi. Arkan berdehem pelan dan mengalihkan tatapan pada hal lain dan menghindari tatapan Nada.
“Benar kau cemburu” ucap Nada dengan senyum terkembang di wajahnya. Arkan bahkan sekuat tenaga menahan agar dia tidak ikut tersenyum.
Mereka berdua berjalan menuju bus yang berwarna putih masuk ke dalamnya. Arkan yang sudah berhenti ngambek dengan Nada membantu gadis itu menaruh barangnya.
Tempat duduk mereka berada di urutan ketiga dari belakang dengan Nada berada di samping jendela. Dibelakang mereka ada Emma dengan Putri yang duduk bersebelahan. Lalu Kafa berada di paling belakang.
Disudut sana bisa Nada liat Prissil duduk dengan teman-temannya. Ia merasa setelah Prissil keluar dari rumah sakit, gadis itu lebih terlihat diam dan belum ada membuat ulah dengan membully murid lain. Entah apa yang terjadi pada Prissil kali ini tapi Nada sungguh berharap itu membawa perubahan baik bagi gadis itu.
Sedang Deril, Nada belum melihat batang hidung lelaki itu. Tapi ia menduga kalau Deril menjadi panitia juga karena ia selaku ketua OSIS. Sedang yang menjadi ketua panitia acara camping ini adalah ketua PA.
“Mikirin apa?” tanya Arkan yang merasa dari tadi Nada hanya diam dan terlihat sedang berpikir.
“Nggak ada yang penting kok” Nada menggeleng dengan senyum tipisnya.
Arkan mengangguk tidak memperpanjang, ia menarik kepala Nada untuk bersandar pada bahunya karena perjalanan akan memakan banyak waktu. Nada menurut dan menjatuhkan kepalanya ke bahu Arkan, matanya juga terasa memberat bahkan kepalanya sedikit pening karena perjalanan yang berkelok.
Setelah melewati perjalanan panjang, bus yang membawa murid akhirnya sampai di tempat Camping. Tapi mereka harus berjalan beberapa meter lagi ke arah dalam.
“Aaaa!! Masa kita jalan lagi bawa barang berat lagi!!” keluh Emma dengan ekspresi tertekan melihat ranselnya yang menggembung.
Kafa gemas lalu mengaitkan tangannya ke kepala Emma, “Udah jangan ngeluh, ayo jalan kalo ngeluh aja gak bakal sampai!”
Emma mencibir tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia berjalan dengan pelan bersama Kafa meninggalkan Nada, Putri dan Arkan di belakang.
“Ayo!” ajak Nada penuh semangat. Ia menolak Arkan yang ingin membantunya membawa ranselnya. Nada hanya ingin mandiri dan tidak manja kepada Arkan.
“Eh apaan! Gue gak perlu dibawain, turunin gak!” ucap Putri tidak terima ketika Candra berusaha membawakan ranselnya.
“Lo gak boleh cape, oke. Jadi cukup jalan aja gak usah protes” Candra tidak peduli dengan penolakan Putri ia malah berjalan melewati Putri sembari membawa ransel milik gadis itu.
“Kenapa?” tanya Arkan ketika melihat Nada yang terkekeh seakan ada yang lucu.
“Lucu aja liat mereka berdua. Kayanya hubungan mereka udah ada kemajuan” gumam Nada dengan tatapan mengarah pada Putri yang mengejar Candra.
Arkan merangkul Nada dan berjalan perlahan dengan senyuman diwajahnya. “Kita juga lucu”
Nada hanya tersenyum dan tidak menanggapi perkataan Arkan. Tanpa terasa perjalanan mereka sampai di lereng gunung yang sangat asri. Sangat jauh dari suara bising perkotaan, hanya ada suara alam berupa kicauan burung atau angin yang berdesir.
“Oke teman-teman! Sudah cukup istirahatnya, kali ini kakak akan bagi kalian dalam beberapa kelompok. Jangan ada yang protes tentang pembagian ini ya, tujuan pembagian kelompok adalah agar kalian dapat lebih akrab dengan teman yang lain. Baik Kakak mulai dari kelompok satu ada Gina, Risya, dan Hasna. Kelompok dua, Emma, Frida, dan Debi. Kelompok tiga, Prissil, Nada, dan Wendy. Kelompok empat, Putri, Esya, dan Aran. Selanjutnya...” kak Alfi terus membacakan kelompok dalam satu tenda.
“Na Lo gak papa satu tenda sama tuh nenek lampir?” tanya Putri dengan khawatir karena Nada yang akan satu tenda sama Prissil. Begitu juga Emma yang khawatir walau ia tidak berbicara terlihat dari sorot matanya.
Nada menggeleng meyakinkan kalau ia tak apa-apa. “Dia udah gak pernah jahatin aku lagi, kalian tenang aja mungkin dia sudah tobat”
“Kalo dia berulah, kamu tinggal bilang sama aku” kata Arkan dengan tegas mengingatkan kepada kekasihnya itu.
“Iya iya udah tenang aja kalian” dengus pelan Nada. Ia juga penasaran dengan perubahan Prissil tapi ini juga yang sangat ia inginkan dari diri Prissil.
Mereka berpisah untuk mendirikan tenda masing-masing dan tempat laki-laki dan perempuan dipisah untuk kenyamanan.
Nada memperhatikan Prissil yang terlihat kesulitan menancapkan pasak, ia lalu meninggalkan pekerjaannya yang mengurus tenda dan membantu gadis itu.
“Gak usah!” sentak Prissil dengan ketus. “Gue gak perlu bantuan Lo!”
Nada menghembuskan nafas pelan, “Kita harus cepat mendirikan tenda, karena kata kak Alfi dalam dua jam harus sudah selesai semuanya”
Walau enggan akhirnya Prissil luluh dan mau dibantu oleh Nada. Mereka saling bantu membangun tenda akhirnya satu jam berlalu semua sudah beres.
“Gue keluar dulu mau buang air” ucap Wendy yang diangguki Nada.
Kini di tenda hanya tersisa Prissil dan Nada yang menghunjurkan betisnya untuk meredakan letih. Di dalam tenda kini tersisa canggung.
“Lo-”
“Kamu-”
Mereka saling bertatapan dengan canggung.
“Kamu aja duluan”
“Tentang di rumah sakit” Prissil membuat jeda seakan ragu untuk mengatakan. “Di rumah sakit kenapa Lo mau jagain gue. Padahal harusnya Lo benci sama gue gak mungkin kan ada orang yang baik kebangetan sampai masih baik bahkan kepada orang yang harusnya dia benci. Apa Lo ada maksud sesuatu tentang ini?” tanya Prissil curiga.