Dear Nada

Dear Nada
Bikin Kue Bareng Mommy



“Kita mau bikin kue apa Mom?” tanya Nada setelah mereka berada di dapur.


“Emm...kita bikin brownies sama pie aja gimana?” Mommy Elen meminta pendapat pada Nada.


“Oke kayanya kita bikin itu aja Mom” ucap Nada menyetujui. mommy dengan semangat menyiapkan bahan-bahan yang sudah ada di dalam lemari persediaan.


Mereka hanya berdua di dapur, setelah sebelumnya Mommy mengusir beberapa pelayan yang ingin membantu. Ia hanya ingin membuatnya bersama Nada.


Nada mencampur bahan-bahan nya dengan lihai seolah ia sudah terbiasa melakukannya. Bahkan Mommy Elen terlihat terpukau dengan aksinya.


“Kamu terlihat mahir membuatnya” celetuk Mommy.


Nada mengulas senyum dan melirik Mommy disela ia mengaduk adonan. “Dulu sering bikin kue kaya gini Mom”


“Oh ya, wah mungkin aja lebih hebat kamu bikinnya dari pada Mommy” kelakarnya dengan tertawa kecil.


Nada ikut tertawa kecil juga mendengarnya, “Pastinya lebih hebat Mommy lah, kan aku cuma bantu-bantu” ucapnya merendah.


“Tapi liat kamu bahkan sangat cepat membuatnya” ucap Mommy yang melihat Nada begitu cepat membuat adonan.


“Dulu Mama sering ngajak bikin brownies, akhirnya aku udh terbiasa buatnya” ucap Nada dengan senyum terkembang di wajahnya yang cantik mengingat Mamanya dulu yang mengajarinya membikin kue.


“Mama kamu pasti hebat membuat kue, ya?” tanya Mommy penasaran dengan Mama Nada.


“Iya Mama memang hebat, biasanya kami sering berebut kue bikinan Mama”


“Kami?”


“Aku dan Papa” jawab Nada. Tapi kali ini ekspresi berubah gerakannya pun berhenti sebentar mengingat kebiasaannya dengan Papanya dulu.


Mommy yang melihat perubahan suasana hati Nada pun berusaha mengalihkan pembicaraan. “Eh ini udah bisa di tuangkan ke loyang adonanya”


Nada menggeleng menghilangkan ingatan yang tiba-tiba muncul itu. Ia mengambil loyang di samping dan menaruhnya di depannya lalu menuangkan adonan brownies di dalamnya. Terakhir ia menambahkan topping berupa taburan choco chips lalu memasukkan ke dalam oven.


“Tinggal tunggu aja selesai” ucapnya dengan senyum ke arah Mommy.


“Kelihatannya asik banget nih, aku gak diajak?” ucap Arkan yang bersandar di dinding samping kulkas membuat perempuan beda generasi itu menoleh secara bersaman ke arah Arkan.


Saat ini lelaki itu mengenakan celana selutut dan kaos berwarna putih lengan pendek membuat auranya terasa berbeda. Mungkin kalo perempuan di sekolah melihat Arkan yang seperti ini akan menjerit tapi bagi Nada hal itu sudah terlalu biasa.


“Ini khusus buat perempuan. Kamu mana boleh ikut” sewot Mommy pada Arkan.


“Nada gak bilang gitu tuh” ucap Arkan


“Nada ikut apa kata Mommy” sahut Mommy mewakili Nada.


Arkan hanya memutar bola matanya malas, ia tidak beranjak keluar dari dapur malah menarik sebuah stol dan duduk di atasnya. Ia menyangga dagunya dengan tangan kanan dan tangan kiri mengetuk meja


‘Kehadiran Nada sudah menjadi obat buat Mommy, senyum mereka berdua yang akan selalu aku jaga’ gumamnya dalam hati seraya tersenyum bahagia melihat interaksi Mommynya dan Nada.


Sekitar setengah jam brownies dan pie nya sudah jadi, Nada dengan hati-hati menaruh loyang yang masih panas ke atas meja. Sedang Mommy mengeluarkan pie nya dan menatanya di atas piring. Nada memotong dengan rapi brownies yang sudah jadi dan menaruhnya di atas piring juga lalu meletakkannya di samping pie.


Mommy lalu mengambil sepotong brownies dan memasukkannya ke dalam mulut, ia bergumam mengatakan browniesnya sangat enak. Nada tersenyum puas mendengar perkataan Mommy.


Arkan yang melihat itu juga terlihat menatap lama brownies di depannya.


“Kamu mau?” tanya Nada.


Arkan mengangguk tentu saja dia mau, karena tampilannya yang terlihat enak itu juga dibuat oleh Nada. “Suapin” pintanya.


Mommy mendelik mendengar permintaan Arkan ia menatsp sinis anak lelakinya, “Manja. Punya tangan itu digunain bukan buat jadi pajangan aja” cibirnya.


“Apasih Mommy sewot terus dari tadi deh” ucap Arkan dengan muka masam.


Nada menggeleng melihat perdebatan ibu dan anak itu. Ia mengambil sepotong brownies dan menyuapkannya ke Arkan yang disambut Arkan dengan suka cita dan senyuman penuh kemenangan ke arah Mommynya.


Mommy mendengus geli melihat tingkah kekanak-kanakan anak lelakinya itu. Cukup lama mereka berbincang-bincang ringan sampai Mommy ada pergi karena ada yang menelponnya.


“Mau ikut ke taman belakang?” tanya Arkan mengaja Nada.


“Taman belakang? Ayo” jawabnya bersemangat pasalnya di taman belakang rumah Arkan begitu asri dan indah. Arkan tersenyum melihat reaksi Nada, mereka berjalan beriringan menuju belakang rumah.


Di sana sudah ada kursi santai yang nyaman, Nada duduk tepat di sebelah Arkan.


“Rasanya menyenangkan setiap hari seperti ini” ucap Arkan dengan mata memandang ke air yang mengalir di antara bebatuan buatan. Taman buatan ini sepeti menyatu dengan alam dengan banyaknya tanaman di sekitarnya dan air mengalir yang dibawahnya ada kolam kecil tempat ikan hias kecil berenang bebas.


“Benar. Tapi bukannya akan sangat membosankan” sahut Nada


Arkan terkekeh mendengar perkataan Nada, “Sayangnya dunia gak memberikan kita kesempatan untuk bersantai sejenak” lanjutnya entah kenapa hari ini Dimata Nada Arkan menjadi begitu melankolis.


“Memang seperti itu kan cara kerja dunia, semua memiliki porsinya masing-masing. Kadang kita diberi bahagia hingga lupa semua hanya sementara sebelum kesedihan mengambil alih semuanya” ucap Nada dengan dalam. Pembicaraan mereka terlalu dalam untuk dikatakam random.


“Nada berjanji satu hal padaku” ucapnya dengan mengarahkan tubuhnya pada Nada dan menatap Nada serius. “Jangan pernah pergi dari aku apapun yang terjadi. Jangan tinggalkan aku dan terus bersamaku baik itu melewati bahagia maupun kesedihan” ucapnya dengan menggenggam erat tangan Nada.


Nada yang melihat Arkan menatapnya dengan serius dan terlihat cemas entah kenapa. Ia menghela nafas dan mengusap lembut tangan Arkan yang memegang tangannya.


“Kalo aku enggak mau janji gimana?” tanya Nada dengan jahil.


Refleks Arkan menatap tajam dan tidak percaya ke arah Nada. Melihat itu Nada tergelak kecil mengapa Arkan ini sangat mudah dijahili.


“Aku gak bisa janji. Tapi aku akan berusaha untuk bersama kamu dan kalo aku akan pergi aku akan selalu kembali. Aku enggak akan kemana-mana” ucap Nada serius meyakinkan Arkan.


Arkan terlihat menghela nafas lega. “Eh kamu sudah mulai menyukaiku?” tanya Arkan langsung begitu menyadari sesuatu.


“Apa yang maksudmu?!” ucap Nada dengan cepat dengan intonasi naik dan terdengar panik


Arkan tersenyum menggoda dan menjawil tangan Nada dengan jarinya, “Eii..akui aja kenapa sih. Malah aku bakal bersyukur tau” ucapnya


Nada memalingkan mukanya berusaha menahan kesal, dia saat ini sudah sangat malu tapi lelaki itu masih saja kekeuh. Benar saja ia sudah menyukai lelaki yang terus menggodanya itu


Ia yang merasa sudah malu beranjak dengan cepat meninggalkan Arkan yang masih menyunggingkan senyumnya dan sesekali terdengar tawanya. Mommy yang melewati taman belakang mendengar anaknya yang tertawa sendiri lalu senyum-senyum sendiri membuatnya khawatir kalau anaknya kesambet sesuatu di taman. Ia merasa ngeri lalu meninggalkan Arkan dengan bergidik.