
Mata Deril mengikuti arah tatapan Nada. Ia mengerutkan keningnya bingung apa hubungan permen dengan anak kecil yang disebutkan Nada.
“Dia memberi aku permen ini. Katanya aku harus kuat dan jangan nangis lagi. Padahal dirinya yang lebih butuh kalimat hiburan itu bukannya aku” kata Nada menatap rumit permen itu. Deril hanya diam dan menyimak apa yang dikatakan Nada.
“Anak kecil itu, Edo namanya. Dia mengidap sakit parah dan bahkan dia tidak memiliki banyak waktu lagi. Dia tidak bisa merasakan bermain dengan teman seusianya. Dan ia harus m nienjalani serangkaian pengobatan yang pastinya menyakiti dia” gumam Nada yang dapat di dengar dengan jelas oleh Deril. Dan juga setitik air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
“Pastinya Edo enggak akan suka kalau kamu nangis sepeti ini. Bukankah ia ingin kamu menjadi kuat” ucap Deril seraya tangannya mengusap pelan pipi Nada.
Untuk mengatakan hal lain lidahnya sudah kelu tak mampu mengatakan apapun. “Apa hasilnya sudah tiba?” tanya Deril dengan hati-hati dan menatap serius Nada
Gadis itu memejamkan matanya sebentar lalu membukanya lagi dengan perlahan seolah pertanyaan dari Deril begitu berat untuk ia jawab.
“Sudah. Dan hasilnya seperti yang dikatakan oleh dokter”
Untuk sekejap Deril menutup matanya dan tangannya tergenggam erat. Walau ia sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk, tetapi ia tidak menyangka akan sesulit ini.
Jika Deril saja sesulit itu untuk menerima, apalagi Nada. Ini perihal dirinya mana mungkin ia akan sesantai itu menghadapi kenyataan itu.
“Tapi gak papa soalnya masih belum memiliki stadium jadi harapan untuk aku sembuh masih banyak” ucapnya lagi berusaha membuat dirinya sendiri terhibur walau nyatanya tidak.
Kepala Nada memiring melihat Detil yang seakan tidak berada di sini. Hanya raganya yang ada tetapi jiwanya seakan pergi entah kemana.
Nada menyentuh pelan bahu Deril, “Ril kamu gak apa-apa? Kamu gak usah khawatirin aku lagian nanti aku bisa sembuh kok”
Seakan tersadar dari lamunannya, Deril menatap lama dan dalam mata Nada. “Tapi gimana kalo pengobatan itu gagal?” tanyanya dengan gamang
“Hush gak boleh gitu emang kamu ngedoain aku tiada” sentak Nada dengan cepat.
Deril tidak menanggapi ia mendekati Nada dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Tentu saja hal itu membuat Nada terkejut, ia ingin melepaskannya tetapi tidak bisa karena Deril mendekapnya sangat erat.
“Aku takut Na. Sejak kamu pingsan saat itu dan perkataan dokter itu aku terus berharap kalau ia salah dalam memeriksa. Tetapi hari ini ketakutan itu terjadi, perkataanya menjadi kenyataan” gumam Deril dengan suara rendah seakan berbisik di telinga Nada.
Memangnya siapa yang tidak takut, Batin Nada. Apalagi ini ia sendiri yang di vonis menderita penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obat pastinya. Ia juga frustasi, takut, kalut dan segalanya menguasai pikirannya.
“Aku juga takut Ril, rasanya seperti duniaku dalam sekejap dihancurkan. Tapi aku harus menguasai diriku sendiri bukan? Apa aku harus terus terpaku pada ketakutan yang belum tentu terjadi. Aku akan berusaha untuk sembuh selebihnya biarkan Tuhan dan takdir yang akan menjawab semuanya. Dunia gak akan berhenti berjalan walau aku sedang tidak ingin melangkah. Aku harus terus berjalan ke depan apapun yang terjadi” ucap Nada dengan perlahan dan senyum getir terlihat dari sudut bibirnya.
Deril memejamkan matanya erat sekali, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Nada berharap dapat menemukan ketenangan dari sana.
Tiba-tiba sebuah sentakan dan tarikan kuat dari arah belakang melepaskan dengan paksa dekapan Deril pada Nada. Dan sebuah bogeman lolos mengenai wajah Deril membuat wajahnya tertoleh ke samping.
Sedang Nada yang masih syok belum bisa bereaksi dengan cepat dan hanya bisa menyaksikan seorang lelaki yang sangat ia kenali memukuli Deril dengan keras.
Tapi tenaga perempuan bukannya akan kalah dengan tenaga laki-laki. Sehingga membuat Arkan lolos dari genggaman Nada dan kembali menyerang Deril dengan muka memerah.
Nada kembali berusaha memisahkan dua orang itu, “Deril! Arkan! Sudah berhenti aku mohon jangan berkelahi lagi” pintanya. Lalu ia kembali berusaha menarik tubuh Arkan yang hendak menerjang tubuh Deril.
Tapi tanpa Arkan sadari karena ia sudah terlalu terbawa amarah membuatnya menepis tangan Nada dengan sedikit kasar dan kencang membuat gadis itu terjatuh dan telapak tangannya tergores lantai taman yang kasar.
Setelah sadar ia membuat Nada terluka, Arkan lekas saja mendatangi gadis itu dan menangkan keadaanya. “Na kamu gak apa-apa?” tanyanya dengan khawatir dan berusaha menyentuh lengan Nada tetapi di tepis oleh gadis itu.
Tak beda jauh dengan Arkan, Deril juga dengan cepat mendatangi Nada untuk melihat kondisinya. Mukanya semakin memerah marah karena Arkan menyakiti Nada.
“Nada tangan kamu luka!” seru Deril memegang telapak tangan Nada yang sudah berdarah.
Arkan terkejut dan ia berusaha menyentuh Nada lagi tapi Nada selalu menghindarinya dan menatapnya dengan tatapan yang membuat Arkan merasa sesak dalam dadanya.
Tatapan itu terasa seperti keasingan, kekecewaan dan kesedihan yang terpendam. Hal itu membuat Arkan tercekat dan lidahnya kelu untuk mengeluarkan suara. Tetapi egonya kembali menguasai pikirannya. Ia dengan kasarnya menarik tangan Nada dari Deril dan membawa Nada pergi.
“Lo mau bawa kemana Nada hah baj**gan!!” bentak Deril dengan amarah.
“Bukan urusan Lo. Ini tentang gue dan Nada jadi Lo gak usah ikut campur!” tekan Arkan lalu membawa Nada dengan cepat pergi dari hadapan Deril. Tentu saja Nada berusaha dengan mengimbangi langkah kaki Arkan yang lebar.
Sebenarnya Deril ingin mengikuti tetapi ia melihat tatapan memohon Nada agar ia tidak mengikutinya. Akhirnya ia pasrah dan menghela nafas panjang lalu terdiam di tempatnya. Ia hanya berharap Arkan tidak akan menyakiti Nada, kalau hal itu terjadi ia akan merebut Nada dari lelaki itu.
Dengan langkah terseok Nada mengikuti Arkan yang seakan berbeda dari lelaki yang biasa dengan dirinya. Arkan yang ini sangat asing bagi Nada.
“Arkan sakit tangan aku” ucapnya berusaha melepaskan cengkraman tangan Arkan pada pergelangan tangannya.
Tapi lelaki itu seakan tuli ia terus saja berjalan sampai di parkiran mobilnya. Ia membuka dengan kasar pintu mobilnya dan memasukkan Nada ke dalamnya. Lalu ia dengan langkah cepat ikut masuk lewat pintu sampingnya.
Arkan mengeluarkan mobilnya dari parkiran dengan cepat, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Nada mengeratkan pegangannya pada sabuk pengamannya dan menatap takut pada Arkan.
Dia tidak tahu kalau lelaki itu kalau sudah marah sangat menyeramkan. Raut wajah Arkan yang seakan tanpa emosi tetapi tangannya sedari tadi terkepal erat.
🌷🌷🌷
**Halo semua readers bagaimana kabar kalian?
Kalo aku Alhamdulillah baik😊 Cuma mungkin aku agak sedikit update beberapa hari ini ya?
Aku mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon maaf lahir dan batin buat semuanya yang merayakan ya🤗**