
Sampai di perpustakaan mereka bergegas mencari buku yang di catatkan, agak sulit sih karena sangat banyak buku di perpustakaan ini.
“Itu bukunya” tunjuk Nada ke sebuah buku di rak atas. Deril mendongak dan mengangguk lalu dia mengambil buku itu dan memberikannya pada Nada tanpa menoleh padanya.
Mereka terus mencari sampai semua buku sudah terkumpul dan menuju meja peminjaman untuk meminjam buku-buku itu. Setelah selesai Deril berjalan lebih dahulu tanpa menunggu Nada. Melihat itu Nada menghela nafas memaklumi kalau lelaki itu akan sangat menjauhinya.
Nada memasuki kelas dan menuju tempat duduknya yang sudah ada Arkan duduk dengan santai di sana. Baru saja Nada mendudukkan dirinya di kursi Arkan sudan memberikan pertanyaan.
“Lo ngapain di panggil sama Bu Yeni?” tanyanya.
“Oh aku di suruh ikut olimpiade fisika” jawab Nada dengan ringan.
“Sama siapa aja?” tanyanya dengan menyipitkan matanya. Sebenarnya dia tadi melihat Nada yang keluar dari kantor bersama dengan Deril.
“Deril dan Riko” ucapnya tanpa sadar memelankan suaranya.
“Terus”
“Hah? Te-terus apanya?” tanya Nada bingung.
“Terus kenapa tadi cuma berduaan sama Deril?” Arkan memberikan tatapan tidak suka yang sangat kentara sekali.
“Eh dari mana kamu tau?” tanya Nada dengan tatapan menyelidik. “Kamu ngikutin aku ya” tebak Nada dengan sebal.
Arkan berdehem kecil dan menetralkan ekspresinya, “
“Siapa yang ngikutin, tadi itu gue cuma gak sengaja liat pas jalan” ucapnya sembari mengalihkan wajahnya menghindari tatapan Nada.
“Iya deh aku percaya”
Arkan mendelik, “Terserah Lo deh” putusnya.
“Terus Lo bakal sering ketemu si Deril itu” celetuk Arkan menyipitkan mata.
“Ya kan nanti ada belajar bareng, tapi gak berdua ada Riko sama Ibu Yeni kok” ucap Nada seraya memberikan penjelasan.
“Oh”
Nada merengut hanya 'oh' gitu balasan lelaki itu. Dia tidak memerdulikan lagi dan memilih fokus karena guru sudah datang. Dia memilih tidak peduli dengan respon Arkan yang menyebalkan.
***
Pulang sekolah ini Nada langsung bergegas menuju tempat kerjanya. Dia menolak untuk diantar Arkan karena tidak mau merepotkan lelaki itu lagi.
Sesampainya di restoran dia bergegas menuju loker untuk mengambil baju dan mengganti seragamnya. Setelah selesai dia menjalankan tugasnya tetapi karena hari ini Mbak Arin tidak masuk karena sakit ia diminta untuk menggantikannya di bagian kasir.
Sebenarnya Mbak Arin tidak sendiri bertugas di bagian kasir tetapi berdua dengan seorang wanita yang di ketahui Nada bernama Vika. Dia merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir di jurusan akutansi. Ia cukup akrab dengan Nada, pemilik restoran ini banyak memperkejakan staf yang kerja part time.
“Kamu tau ternyata bos kita itu masih muda banget tau” bisik Vika di telinga Nada.
Nada mengangkat alisnya, “Tau dari mana kak?” tanyanya.
“Terus kenapa dia tidak pernah kelihatan?” Nada juga sedikit penasaran karena selama ini yang mengurus resto juga Mas Abdi yang jabatannya manajer.
Vika tidak menjawab karena ada pelanggan yang ingin membayar jadi dia terlebih dahulu menyelesaikannya. Dan Nada juga ada pelanggan di depannya.
“Katanya dia selama ini di luar negeri dan mengurus manajemen restoran dari sana. Wah sungguh hebat bos kita” sambungnya lagi.
Nada terdiam dan mengangguk, dia juga merasa pemilik restoran tempatnya bekerja sangat hebat mengelola restoran di usia muda dan berhasil memajukan restoran ini.
“Jangan ngerumpi aja Vik, Lo ngajarin Nada hal yang gak baik” sinis Mas Erik, salah seorang koki yang ada di sana.
Vika hanya melengos mendengar teguran mas Erik, “Gue gak ngajarin yang gak baik mas, gue cuma ngasih tau informasi aja” bela Vika.
Mas Erik bersiul dan pergi meninggalkan Vika yang mencak-mencak di tempatnya. “Kenapa sih mas Erik kayanya sinis banget sama gue, ada dendam apa sih tuh orang” sungut Vika.
Nada mengendikan bahunya, sudah terlalu sering dia melihat dua orang itu yang tidak pernah akur entah karena apa. Entah itu apapun yang dilakukan Vika selalu aja di komentain sama koki tampan itu.
***
Nada sudah keluar dari restoran, dia berjalan santai dengan kepala menunduk. Tapi dia merasa menabrak seseorang dengan cepat dia mendongak melihat siapa yang ada di depannya.
“Kalo jalan tuh liat ke depan jangan ke bawah” tegur Arkan dengan datar.
Nada tidak menyahuti perkataan Arkan dia lebih penasaran kenapa lelaki itu ada di sini. “Kamu ngapain disini?” Nada menatap Arkan.
“Ayo, gue mau bawa Lo ke suatu tempat” ajak Arkan sembari menarik tangan Nada membawanya ke mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada.
Mereka sudah berada di perjalanan yang Nada sendiri tidak tau Arkan akan membawanya kemana. Ia menoleh pada Arkan dengan penasaran.
“Kita mau kemana?”
“Rahasia” ucapnya dengan seulas senyum misterius.
Nada menatap penuh selidik pada Arkan, “Bukan tempat aneh kan?”
“Hapus pikiran buruk Lo, tenang aja bukan tempat aneh kok” ucapnya dengan serius.
Nada memilih diam dan melirik ke arah luar lewat jendela mobil, tidak terlalu terlihat sih karena sudah gelap juga hanya cahaya lampu di rumah-rumah warga yang bersinar. Ia merasa jalannya mulai sepi dan sudah keluar dari perkotaan karena tidak ada gedung tinggi lagi.
Tak lama Nada merasakan mobil ini berhenti di suatu tempat yang dia rasa berada di pantai. Arkan sudah keluar dan memanggil Nada untuk keluar juga. Dengan pelan ia membuka pintu mobil dan berjalan ke kap mobil yang sudah di duduki Arkan.
“Sini duduk” tangan Arkan memberi isyarat kepada Nada untuk duduk di sampingnya. Nada sudah duduk di samping lelaki yang duduk sembari menatap bintang di atas sana.
“Lo tau dulu gue sering ke sini sebelum pindah, dan tempat ini gak banyak berubah” ucap Arkan dengan tiba-tiba.
Nada menoleh sekilas pada Arkan yang terlihat bernostalgia dengan suasana atau barang kali dengan tempat ini. Dalam ekspresi lelaki itu terlihat sebuah rasa rindu yang menggebu. Rupanya tempat ini memiliki banyak arti baginya.
“Gue tau Lo lagi butuh banget ngelampiasain ke Kalitan Lo selama ini” ucap Arkan dengan tatapan lurus menatap ombak yang menderu-deru. Angin lau terlihat membelai rambutnya yang di tidak tertata dan di biarkan begitu saja.
Nada menatap lautan yang berhiaskan langit malam yang cerah bertabur bintang. Angin yang berhembus pelan membelai lembut rambut halus Nada yang berterbangan di wajahnya. Menerawang banyak hal yang terjadi di beberapa waktu ini.