
Nada membereskan peralatan belajarnya dan membuatnya ke dalam tas, suasana di dalam kelas sudah agak lenggang karena sudah waktunya pulang.
Sedang Arkan memperhatikan Nada sedari tadi tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun ke arah lain. Nada menghentikan gerakannya dan menatap kesal Arkan.
“Kenapa sih liatin aku terus” risih Nada.
Arkan menggeleng dan menahan senyumnya melihat Nada yang terlihat kesal padanya. Tetapi atensinya teralihkan ketika melihat seseorang yang tidak dia harapkan ada. Matanya menajam dan tatapannya mengikuti langkah lelaki yang datang itu sampai berhenti di depan mereka.
“Dipanggil Bu Yeni” ucapnya singkat dengan datar.
Nada mendongak menatap Deril lalu mengangguk, berdiri dari kursi tetapi tangannya di tahan Arkan yang ekspresinya tidak dapat di tebak.
“Aku mau ke kantor” ucap Nada pelan kepada Arkan.
Deril memutar matanya melihat Arkan yang terus menatapnya tajam, lelaki itu semakin menampilkan raut datarnya.
“Harus sama dia” tunjuknya pada Deril dengan tidak puas.
Nada menghela nafas, “Iya, udah lepasin tangan aku” ucap Nada sembari berusaha melepaskan cekalan di tangannya dan meninggalkan Arkan dengan Deril keluar kelas.
“Posesif banget Lo bro, takut Nada gue ambil?” ucap Deril dengan seringai di wajahnya.
Arkan mengepalkan tangannya dan uratnya mulai menegang. “Cih Lo terlalu percaya diri” tekan Arkan.
“Tenang aja gue gak akan ambil dia, tapi kalo Lo sakitin Nada siap-siap aja gue akan rebut Nada dari lo” bisik Deril dengan tajam lalu melangkah keluar dengan senyum kemenangan tersungging di wajahnya.
Arkan menyaksikan kepergian Deril dengan perasaan yang sangat marah, dia menendang bangku di sampingnya sampai terjatuh untuk melampiaskan amarahnya.
“Berani banget dia ngancam gue!!!” desisnya dengan tajam.
...***...
Nada membuka pintu kantor dan melangkah masuk menuju meja Bu Yeni yang terlihat guru perempuan itu masih sibuk di mejanya.
“Permisi Bu, ada apa ya?” tanya Nada dengan sopan.
Bu Yeni mendongak melihat Nada yang sudah ada di depannya, “Oh Nada, eh mana Deril sama Riko?” tanya Bu Yeni sembari melirik heran karena hanya Nada yang ada di hadapannya
“Bu Yeni” ucap Deril yang diikuti Riko di belakangnya.
“Nah sudah terkumpul semua, jadi Ibu memanggil kalian bertiga adalah kita melakukan bimbingan pembelajaran besok. Ada yang keberatan?” tanyanya sembari menatap satu persatu wajah siswa di depannya.
Mereka saling lirik dan menggelengkan kepala.
“Yaudah nanti bimbingannya bisa di rumah Deril. Kamu bisa kan Deril?” tanya Bu Yeni memfokuskan tatapannya pada Deril yang balas diangguki lelaki itu.
“Oke jadi besok silahkan datang jam 9 pagi” putus Bu Yeni.
Nada, Deril, dan Riko keluar kantor secara bersamaan. Riko pamit berjalan lebih dahulu karena sudah di tunggu. Setelah Riko berlalu, kini hanya Deril dan Nada yang berjalan perlahan diiringi kesunyian dan kecanggungan.
“Kamu”
“Kamu”-
Deril dan Nada memanggil secara bersamaan membuat situasi semakin canggung.
“Ladies first” persilahkan Deril.
“Menurutmu?” Deril balas bertanya pada Nada sembari kakinya terus melangkah dan tatapannya lurus ke depan.
“Aku gak tau” geleng Nada.
“Secara fisik aku baik kok, tapi...aku gak bisa bohong di sini masih terasa sakit” ucapnya menunjuk bagian dadanya dengan senyum yang membuat Nada makin merasa bersalah.
“Giliran aku. Kamu bahagia dengan Arkan?” tanya Deril dengan menelisik teliti raut wajah Nada.
Sontak saja gadis itu sedikit tersentak, lalu menormalkan kembali ekspresinya dan tersenyum. “Tenang aja aku bahagia kok”
“Syukurlah” ucapnya dengan nada terdengar lega dan sedikit kecewa bisa telinga Nada tangkap. Rasanya gadis itu semakin merasa bersalah karena membohongi lelaki baik di depannya. Lelaki itu merupakan sedikit orang yang tidak pernah memandangnya sebelah mata.
Tanpa terasa langkah mereka sudah mencapai gerbang, Deril pamit pada Nada karena di depan sana sudah ada Arkan yang bersandar di samping mobilnya. Nada melangkah mendekati Arkan, sampai lelaki itu menoleh menatap Nada yang mendekatinya.
“Udah selesai?” tanyanya dengan alis terangkat.
“Udah, terus kamu ngapain masih di sini. Perasaan jam pulang sudah lama” ucap Nada sedikit heran.
“Nunggui kamu” jawab Arkan dengan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
“Aku antar Odi, jangan membantah ini usahaku untuk membuat kamu mencintaiku” ucapnya dengan cepat ketika melihat Nada hendak membantahnya.
“Ayo masuk” Arkan menarik pelan tangan Nada dan mengarahkannya ke dalam mobil.
”Kamu keliatan akrab dengan Deril” celetuk Arkan tiba-tiba membuat Nada menoleh pada lelaki yang sedang menyetir itu.
“Rasanya kami cuma ngobrol biasa deh” ucap Nada ringan.
“Aku cemburu” ucap Arkan yang tak urung membuat Nada tersedak walau sedang tidak minum.
Nada menatap horor Arkan, “Kita gak beneran pacaran ya” sangga Nada.
“Aku tau tapi tetap saja aku cemburu, bisa saja kamu malah menyukai dia bukan aku” protesnya.
“Emang suka sama Deril salah, lagian Deril itu baik orangnya jadi gak ada alasan untuk tidak menyukainya” ucap Nada dengan santai
Arkan mendelik mendengarnya, apa-apaan masa dirinya kalah saing sama lelaki kaya Deril sih jelas-jelas dia lebih baik segalanya dari lelaki itu.
“Aku juga baik, malah lebih baik lagi dari cowo itu” Arkan mendengus kasar.
“Iya kamu juga baik, sangat baik sama aku lagi. Kamu juga selalu lindungin aku dari awal kamu masuk. Menyelamatkan aku dari om-ku, terus mau menampung aku di rumah kamu dan aku sangat berterima kasih” ucap Nada panjang dengan senyum tulus yang tersematkan di bibirnya.
Arkan menoleh sekilas dan ikut tersenyum, “Apapun untuk Odi”
“Manggilnya harus Odi terus?” tanya Nada dengan kening berkerut, dia merasa panggilan Odi sudah sangat asing di telinganya.
“Itu panggilan istimewa dari aku yang gak dimiliki Deril maupun orang lain” sahutnya dengan senyum kemenangan.
Nada menggeleng pasrah, dia merasa saat ini lelaki itu menjadi kekanak-kanakan tingkah lakunya. Nada memilih menatap luar ke arah luar dan dirinya melihat seorang wanita paruh baya yang sedang berjualan sembari menggendong anaknya di punggung. Nada merasa sosok seperti itu sangat luar biasa, dia jadi mengingat ibunya sendiri yang saat ini sedang dirawat. Menghembuskan nafas mengusir pemikiran randomnya yang sering muncul.
Mobil Arkan sudah sampai di parkiran restoran, Nada membuka seatbelt dan mendorong pintu mobil untuk keluar. Setelah keluar dia menatap heran karena Arkan malah ikutan turun menyusul dirinya.
“Mau ngapain?”
“Masuk lah” jawabnya sembari melangkah meninggalkan Nada yang masih terpaku di tempatnya. Setelah sadar kalau sosok Arkan sudah menghilang dia baru beranjak menuju pintu belakang. Masalah Arkan dia hanya menduga mungkin saja lelaki itu ingin makan di sini.