Dear Nada

Dear Nada
Hal Yang Tak Terduga



Nada menatap gerbang tinggi di depannya dengan seksama, ia memanggil satpam yang ada di situ.


“Pak bisa tolong bukain saya ingin bertemu dengan Prissil” ucapnya dengan sopan.


Pak satpam itu mendekati Nada yang berada di luar gerbang, “Non siapanya Non Prissil ya?”


“Saya temannya pak” jawab Nada dengan senyum.


“Tapi non Prissil tidak ada di rumah, kemarin non Prissil dilarikan ke rumah sakit” ucap satpam itu menjelaskan.


Nada terlihat terkejut,“Ke rumah sakit? Prissil sakit apa pak?” tanya Nada dengan khawatir.


“Aduh saya tidak enak bilangnya, Non Prissil melakukan percobaan bunuh diri untung saja den Deril datang dan mencegah. Tapi non Prissil sudah kehilangan banyak darah” ucap pak satpam dengan sedikit berbisik pada Nada.


Nada tertegun mendengarnya, ‘Lagi?’ ucapnya dalam hati. “Terus dia dirawat dimana pak?” tanyanya lagi.


“Setahu bapak di rumah sakit Citra Medika” kata bapak itu setelah berpikir sebentar.


“Makasih pak. Saya pamit dulu” ucap Nada berpamitan dengan bapak itu.


Sekarang ia sudah menyetop taksi untuk pergi ke rumah sakit Citra Medika. Selama diperjalanan ia terus memikirkan kejadian yang dialami Prissil.


Setelah turun dari taksi begitu sampai di rumah sakit, ia bergegas menuju meja resepsionis untuk menanyakan dimana ruangan tempat Prissil di rawat


“Permisi sus, saya mau tanya apa ada pasien dengan nama Swelista Prisscilla?” tanyanya pada seorang suster yang bertugas di meja resepsionis


“Sebentar saya cari dulu ya mba” katanya dengan ramah dan segara mencari di catatan nama pasien.


“Oh ada mba atas nama pasien Swelista Prisscilla yang masuk kemarin” ucapnya begitu menemukan nama Prissil.


“Sekarang dia ada di ruangan mana ya, sus?” tanya Nada lagi.


“Mba siapanya pasien, ya?” ucap suster dengan tatapan menyelidik


“Saya teman sekolahnya sus” jawab Nada dengan senyuman agar semakin membuat suster itu percaya.


“Baik, ruangan pasien terletak di ruang VIP no 2. Berada di latak atas mba” jawab suster itu walau sebelumnya sempat ragu.


Setelah mengucapkan terima kasih, segera saja Nada menuju ruangan yang sudah di sebutkan oleh suster itu. Ia menyusuri ruangan demi ruangan sampai di depan sebuah ruangan bertuliskan VIP 2.


Sebelum masuk terlebih dahulu ia mengetuk pintu, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Tangannya terangkat untuk memutar kenop pintu dan untungnya tidak di kunci. Ia membuka sedikit pintu itu dan melihat tidak ada orang di dalam.


Nada masuk perlahan dan mendekat ke arah tempat tidur pasien yang ada seorang gadis terbaring menutup mata di sana. Ia memperhatikan Prissil yang dibantu alat penunjang kehidupan yang melekat di tubuhnya.


“Cilla” ucap Nada lirih menatap sendu gadis itu.


“Apalagi yang kamu alami kali ini. Aku kangen kamu Cilla. Sungguh aku sangat sedih melihat kamu kembali seperti ini. Aku sudah gagal jaga kamu lagi kan, apa mereka jahatin kamu lagi. Harusnya aku lindungin kamu tapi aku malah lengah lagi” ucapnya bicara pada Prissil yang sedang menutup matanya.


Dulu sekali Nada dan Prissil merupakan sepasang sahabat yang saling melengkapi. Tetapi kecelakaan hebat yang dialami oleh Prissil membuatnya kehilangan ingatan dan melupakan Nada. Tentu saja kejadian itu sangat membuat Nada terpukul.


Terlebih setelah itu orang tua Prissil membawanya keluar negeri dan Nada tidak bisa lagi menemuinya. Kejadian itu sudah terjadi saat mereka kelas 8 sekolah menengah pertama.


Sampai mereka bertemu lagi saat memasuki sekolah menengah atas tetapi bukan lagi sebagai sahabat tetapi malah sebagai musuh. Prissil tidak menyukai Nada yang menurutnya mendekati Deril, padahal tidak pernah sekalipun Nada mendekati lelaki itu.


Ia menerima semua Bullyan dari Prissil karena itu satu-satunya cara untuk bisa dikenal oleh Prissil. Katakan lah ia bodoh, tapi perasaannya tidak.


Cklek


“Lho kamu ada disini Na?” tanya Deril terkejut.


Nada berbalik dan melihat Deril yang menatapnya terkejut. Lelaki itu berjalan mendekati Nada yang saat ini mengusap air matanya yang turun tanpa ia sadari.


“Kamu tau dari mana kalau Prissil di rumah sakit ini?” tanyanya lagi setelah duduk di sofa yang tersedia sebagai fasilitas untuk kamar VIP. Nada pun mengikuti Deril duduk berhadapan dengan lelaki itu.


“Tadi aku mendatangi rumahnya tapi kata satpamnya, Prissil di rawat di rumah sakit dan ia memberitahukan dimana rumah sakitnya. Dan akhirnya aku ada disini” jelas Nada.


Terdengar helaan nafas kasar dari Deril, “Seperti yang kamu liat, dia koma dan lucunya lagi tak ada satupun keluarganya yang menjenguk dirinya sejak ia dilarikan ke rumah sakit” ucap Deril dengan miris.


“Dia kenapa sampai melakukan hal ini lagi?” tanya Nada tidak mengerti.


“Seperti yang kamu tau, sama seperti yang lalu masalah orang tuanya lagi” kata Deril dengan nada kesal.


Nada melirik ke arah Prissil yang dengan damai terbaring di sana. Ia menghela nafas panjang, bukan kali ini saja percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Prissil. Dan percobaan pertamanya berhasil digagalkan oleh Nada.


“Kata asisten rumah tangganya, Papanya akan menikah dengan selingkuhannya karena wanita itu sedang mengandung dan terjadi pertengkaran di antara Papa dan Mamanya. Mamanya tidak terima dengan hal itu terlibat cekcok dan seperti yang sudah-sudah, dia selalu menjadi pelampiasan Mamanya saat sepeti ini. Dia dipukul oleh Mamanya karena tidak mendapatkan nilai bagus” Kata Arkan dengan menatap Nada yang terlihat sangat marah.


Gadis itu mengeratkan kepalan tangannya dengan gigi bergemeletuk hebat. Sungguh orang tua Prissil tidak pernah berubah dari dulu. Rasanya sekarang ia ingin melampiaskan amarahnya pada kedua orang tua bodoh itu. Mereka selalu mengabaikan Prissil dan tidak pernah memberikan kasih sayang yang sangat ingin dirasakan olehnya.


“Na kamu baik-baik aja?” tanya Deril ketika melihat gejolak emosi Nada yang tak terkendali.


Mendengar itu Nada berusaha menetralkan emosinya dan menenangkan hatinya. “Aku baik-baik aja kok. Jangan khawatir” Kata Nada meyakinkan Deril.


“Terus gimana kamu tau Cilla yang ingin bunuh diri?”


“Asisten rumah tangganya nelpon dan bilang dia tidak keluar dari kamar dan menolak makan. Ia khawatir kalau Prissil melakukan hal nekat” kata Deril dengan menatap Prissil dengan lekat.


Nada bangkit dan mendekati ranjang Prissil, ia mengambil telapak tangannya dan memegangnya erat. “Ayo bangun Cilla, bukannya kamu harus memberi pelajaran pada Nada. Jangan tidur terus kamu harus bertahan, aku akan selalu ada di belakangmu” ucap Nada lirih dengan suara yang serak karena ia tidak bisa lagi menahan air matanya.


Deril yang melihat itu merasa miris. Hubungan yang terjadi di antara mereka benar-benar aneh tapi saling menyayangi walau juga menyakiti