
Setelah Putri tenang dan berhenti menangis, mereka duduk menghadap jalan dengan diam.
“Kamu mau pulang?” tanya Nada.
“Gue gak mau pulang ke rumah Papa, tadi sebelum gue pergi gue sempat cekcok sama bokap” cetus Putri dengan datar.
“Terus kamu pulang kemana malam ini?” tanya Nada menatap Putri bingung.
“Kos-an Emma aja” putusnya.
“Ayo aku antar” ajak Nada berdiri dengan semangat.
“Lo bawa motor?” heran Putri karena setahunya Nada tidak pernah menggunakan kendaraan sendiri.
“Enggak, tapi aku antar pake grab” cengirnya ke arah Putri yang membuat gadis berambut sebahu itu melengos.
“Ye itu mah sama aja boong” cibir Putri.
Nada tidak menanggapi, dia memilih membuka handphone-nya dan memesan grab secara online. Setelah selesai ia mengernyit melihat sangat banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab.
Matanya membola ketika melihat pesan itu dari Arkan.
Kamu dimana Nada?
Aku gak ketemu kamu di luar
Baca pesan aku Nad!!
Kamu gak ada di rumah terus sekarang kamu dimana
Angkat telepon aku Odi, jangan bikin khawatir!!
Nada memejamkan matanya dan merutuk dalam hati. ‘Duh Arkan cari aku dari tadi lagi’ batinnya.
Putri yang menyadari keanehan ekspresi Nada pun mengernyit, “Kenapa Nad? Ada masalah?” tanyanya penasaran.
Nada menggeleng dan tersenyum canggung. “Kayanya aku gak bisa ikut ke kosan Emma. Kamu gak apa-apa kan sendiri ke sananya? Tapi aku udah pesanin grab kok jadi tinggal tunggu aja datang jemputan kamu” ucap Nada merasa bersalah karena tadi dia yang ingin menemani Putri ke kosan Emma.
“Santai aja, tapi lebih baik Lo batalin orderan grab. Gue ke sana pake ojek aja” ucapnya
“Gak bisa, kamu pakai grab aja biar aku tenang. Tuh kayanya udah datang” ucapnya sembari menunjuk pada sebuah mobil berwarna putih. Ia menghampiri pengemudi untuk mengkonfirmasi dan setelahnya berbalik ke arah Putri dan memanggil gadis itu mendekat ke arahnya.
“Pak anterin teman saya sampai tempatnya, pastiin sampai dengan selamat pak” pinta Nada pada pengemudia paruh baya itu. “Sudah saya bayar lewat aplikasi ya pak” tambahnya sembari mendorong Putri memasuki mobil.
Putri masuk dengan enggan dia menatap Nada serius, “Terus Lo gimana pulangnya, ini udah malam” ucap Putri khwatir.
“Gak usah khawatir, rumah aku gak jauh kok palingan nanti pake bus” ucap Nada meyakinkan Putri.
Gadis di dalam mobil itu menghela nafas pasrah, “Yaudah hati-hati” ucapnya sebelum mobil berjalan meninggalkan Nada sendirian berdiri di sana.
Nada menghela nafas panjang lalu mengambil handphone-nya, Ia hendak menelpon Arkan tetapi kebetulan lelaki itu kembali menelponnya. Dengan cepat Nada mengangkat panggilan itu.
Belum lagi Nada menjawab suara di seberang sana sudah menggema, terdengar ada nada marah dan khawatir yang menjadi satu.
“Aku dalam perjalanan pulang sekarang” jawabnya sembari berjalan menuju halte sambil berlari kecil karena bus itu sudah hendak berjalan. Ia sudah masuk ke dalam bus dengan sedikit ngos-ngosan dan mengedarkan pandangan mencari tempat duduk kosong.
“Sedang apa? Kenapa kamu terdengar seperti ngos-ngosan? Kamu habis lari?” suara Arkan di ujung sana memberondongnya dengan pertanyaan.
“Aku lagi di dalam bus, tadi itu sedikit lari mengejar busnya” Nada duduk di ujung samping jendela.
“Terus tadi kamu dimana saat aku keluar dari ruangan, restoran sudah sepi dan kamunya gak ada. Aku mengira kamu sudah pulang tapi saat sampai rumah aku tidak mendapati keberadaan kamu”
“Nanti aku ceritain pas sampai rumah, aku tutup dulu. Bye Arkan” Nada menutup telepon dengan cepat sebelum lelaki itu terus menginterogasinya.
Setelah itu ia sedikit terdiam lalu menatap ke samping dimana lampu kota yang begitu terang seolah tidak pernah tidur, bahkan di jam segini masih banyak orang yang berlalu lalang baik itu sendiri, bersama keluarga, teman atau justru orang terkasih. Nada menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dan menutup matanya sembari mendengarkan musik yang mengalun ringan di telinganya karena dia sudah memasang earphone di telinganya.
...***...
Nada memasuki pekarangan rumah Arkan yang luas dan ia menyapa ramah satpam yang membukakan pagar dan melenggang menuju pintu utama, gadis itu memencet bel dan tak butuh waktu lama seorang wanita paruh baya yang dia ketahui sebagai salah satu pelayan di rumah ini membukakan pintu untuknya.
“Ayo masuk non” ucapnya tersenyum ramah mempersilahkan Nada masuk. Setelah ia masuk ke dalam wanita itu menutup pelan pintu utama.
“Arkan udah lama pulang bi?” tanya Nada penasaran.
“Aden udah lama pulang dan tadi bibi liat Den Arkan gelisah gitu di ruang tamu. Terus sekarang udah masuk kamar kayanya” jelasnya yang diangguki Nada.
“Yaudah terima kasih ya bi, maaf ngerepotin harus bukain pintu malam-malam gini” Nada meringis tidak enak pada wanita itu yang disambut gelengan kepala dan senyum menenangkan terpatri di wajahnya.
“Gak ngerepotin atuh non, non Nada istirahat udah malam” ucapnya setelah mengatakan hal itu bibi itu pamit kepada Nada dan berlalu menuju kamarnya.
Setelah kepergian bibi itu yang menghilang dibalik dinding, ia juga melenggang menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar tamu berada. Gadis itu melangkah ringan menuju kamarnya dan memutar kenop pintu. Kamarnya itu terlihat gelap karena belum dinyalakan lampunya, ia melangkah pelan menuju sakelar yang ada tak jauh dari tempatnya berada.
Klik
Terdengar suara pintu di tutup, spontan saja Nada hendak membalikkan tubuhnya melihat siapa yang menutup pintu. Tetapi tubuhnya tiba-tiba saja membeku ketika sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya. Dia merasakan hembusan nafas hangat di lehernya membuat bulu kuduk gadis itu seketika meremang.
“Arkan..” lirihnya pelan nyaris tidak terdengar, ia sangat syok dengan perlakuan lelaki itu.
“Aku khawatir saat kamu bilang dari pandanganku, pikiran buruk selalu datang tanpa diundang di kepalaku. Nada kamu gak tau betapa paniknya aku saat tidak mendapati kamu di restoran dan di rumah” ucapnya dengan frustasi. Suaranya serak Arkan membuat Nada tidak bisa fokus, entah kenapa kali ini jantungnya tidak bisa diajak bekerja sama.
“A-aku..” suara Nada sudah terbata-bata.
“Janji satu hal sama aku, jangan pernah menghilang tanpa memberikan kabar padaku. Jangan buat aku khawatir dan cemas Nad” pintanya dengan suara lembut.
Nada hanya bisa mengangguk patah-patah, saat ini ada hal yang lebih penting yaitu menenangkan jantungnya yang makin berdetak tak karuan. Gadis itu melepaskan diri dari pelukan Arkan dan berbalik menatap lelaki yang terlihat kacau itu.
“Maaf tadi aku bertemu Putri dan aku kira kamu gak nyariin” ucapnya dengan kepala tertunduk.
Arkan menghela nafas lalu mengangkat dagu gadis itu hingga matanya bertemu dengan netra hitam Nada. “Lain kali jangan gini” ucapnya, yang diangguki Nada pelan.
“Istirahat, udah malam” ucapnya lalu keluar dari kamar Nada diikuti tatapan rumit gadis itu.