
“Benar aku berusaha merebut perusahaan dari Papamu dan aku juga yang merencanakan pembunuhan Papamu! Salahkan saja dengan takdirnya yang terlalu beruntung itu!” jawab Glen menggebu-gebu dan nafas yang memburu.
Langsung saja hal itu membuat Aska yang berdiri di belakang Nada maju dalam sekejap dan memberikan pukulan yang kencang ke wajah Glen hingga ia terjatuh dan darah menetes dari sudut bibirnya yang robek.
Rasanya masih begitu sakit walau ia sudah tahu tapi mendengar langsung hal ini tetap membuatnya merasakan sesuatu yang menusuk dalam relung hatinya.
Nada menghela nafas panjang dan memejamkan matanya berusaha mengendalikan dirinya.
“Apa masih ada lagi?” tanyanya lagi setelah membuka mata.
“Tebak, hahaha!” ucapnya sembari tertawa.
Nada berjongkok dan menarik kasar kerah baju Glen, wajahnya sudah dipenuhi amarah yang membara begitu melihat lelaki di depannya ini
“Sebaiknya anda bicara sekarang atau pisau ini yang berbicara!” ucap Nada mengancam sembari ia mengacungkan pisau yang ia ambil dari Aska.
Walau sekejap Nada dapat menangkap ketakutan tersembunyi di mata Glen. Ia tersenyum karena mengetahui lelaki yang berstatus pamannya itu takut terkena pisau. Dibanding pistol Nada lebih memilih pisau untuk mengancam Glen hak itu tak lepas dari ia yang mengetahui trauma Glen terhadap pisau.
“Katakan!” seru Nada semakin mendekatkan pisau ke leher Glen .
“Baik akan aku katakan” ucapnya sedikit bergetar karena ketakutan
“Dulu kakekmu, ayahku dan ayah dari Papamu merupakan orang yang pilih kasih. Hanya karena kakakku itu lebih pintar, lebih penurut dan...dan ia dilahirkan oleh istrinya yang sangat ia cintai itu. Bertahun-tahun aku hidup dalam bayang-bayang Papamu, hah rasanya sangat memuakkan!” ucapnya tatapan penuh kebencian.
Nada tidak tahu hal ini dan begitu terkejutnya ia ketika tahu kalau Papanya dan pamannya ini tidak satu ibu. Ia tidak menjawab hanya diam menunggu kelanjutan perkataan Glen
“Papamu punya teman yang sangat banyak, sedang aku tidak. Ia disukai oleh semua guru, hidupnya sangat penuh keberuntungan. Sedang aku, aku hanya orang tidak penting di keluarga itu. Semua memanjakannya dan aku hanya dianggap pembuat onar terus menerus!”
“Puncaknya saat perusahaan diserahkan pada Papamu dan aku hanya dapat sedikit saham itupun sama seperti orang luar yang menaruh sahamnya disana. Aku marah saat itu! Kau tahu aku sudah berusaha sangat keras diperusahaan itu bahkan aku hanya tau bekerja saja setelah lulus kuliah. Tapi kenapa?! Kenapa Papamu yang akhirnya menduduki posisi itu? Harusnya aku yang berada di sana bukan dia!” serunya sampai urat-urat lehernya terlihat.
Nada termangu tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Tapi dalam sekejap ia memantapkan hatinya lagi. Bukankah lelaki di depannya ini juga lebih jahat lagi. Hanya demi harta mampu membunuh orang lain terlebih lagi masih ada hubungan darah.
“Tapi hal itu juga tidak memberi anda hak untuk membunuh Papa saya dengan sepeti itu!” sangkal Nada dingin.
“Bukan hanya pak Khalid yang terbunuh di sana, bahkan ayah saya juga!” timpal Aska dengan tatapan tajam dan menggeram marah.
“Ahh ternyata kamu menghianati aku karena Ayahmu juga” celetuk Glen dengan senyum mengejek.
Dengan geram Nada memukul muka Glen hingga tertoleh kesamping, tetapi lelaki paruh baya itu tidak mau mengalah ia juga membalas pukulannya ke arah Nada.
Tapi apa daya walau sudah berusaha ia masih kalah karena yang dilawannya merupakan orang yang sedang dikuasai emosi. Terlihat tubuh Glen yang mulai berdarah karena kuatnya pukulan Nada. Gadis itu sungguh melampiaskan emosinya dengan sangat brutal.
“Kau sungguh iblis!!” teriak Nada sembari menghadiahkan satu tonjokan lagi di wajah Glen.
Nada tidak menyangka, ia kira hanya Papanya yang menjadi korban Glen tetapi bahkan kakeknya yang notabenenya ayah dari Glen saja ia tega membunuhnya.
Andai tidak ditahan oleh Aska mungkin Nada akan menerjang Glen lagi sampai ia puas.
“Nada udah berhenti, kamu gak perlu mengotori tangamu dengan darah bajingan ini!” ucapnya lalu memeluk Nada untuk menenangkan gadis itu.
“Tapi kak Bian dia itu sudah begitu jahat, kak dia pantas untuk itu” ucap Nada sembari memberontak dari pelukan lelaki di belakangnya.
“Kakak tau. Tapi biar kakak aja yang melakukannya jangan kamu” Aska atau nama aslinya yaitu Bian memberikan pengertian pada Nada.
“Uhukk menyenangkan sekali melihat drama kalian, haha” sembari terbatuk Glen tertawa lagi. Entah mengapa lelaki ini maniak sekali dengan tertawa.
Nada dan Bian tidak memerdulikan perkataan bernada sarkas yang dilontarkannya oleh Glen. Bian melepaskan Nada yang sudah lumayan tenang.
“Anda tau kenapa kakek tidak memberikan perusahaan pada anda dan memilih memberikannya pada Papa saya. Itu karena ia tahu anda merupakan orang yang licik dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan kehendak anda sendiri” sarkas Nada dengan melempar tatapan sinis.
“Anda hanya terpaku pada pendapat anda dan pandangan anda tanpa pernah mengerti banyak hal. Bukankah selama ini anda merasa paling tersakiti, paling tersisih, begitu. Tapi pernahkah sedikit saja anda memikirkan kenapa hal itu terjadi. Pernahkah memikirkan kalau itu bisa saja kesalahan anda sendiri” serang balik Nada dengan penuh ketegasan.
Perkataannya membuat Glen tidak bisa membantah lebih banyak lagi. Kalau dipikirkan memang Glen tidak pernah mencoba bertanya mengapa banyak hal terjadi. Ia hanya memikirkan dan menyiksa dirinya sendiri dari sudut pandang dan pemikirannya.
“Tidak pernah kan. Betapa kasihan Papa sudah sangat menyayangi adiknya yang tak pernah dia pikirkan akan membunuhnya dan ayahnya. Dan betapa kejam dan kejinya anda melemparkan kesalahan pada orang yang bahkan anda bunuh itu” ucap Nada lirih. Kemudian ia tertawa sumbang, tawa yang penuh luka dan rasa kehampaannya yang nyata adanya.
Glen hanya diam menatap kosong ke arah depan. Ia tak mampu berkata-kata. Nampaknya dua orang di depannya ini sangat dalam membencinya dan akan tanpa ragu membunuhnya balik.
“Anda tau baik saya maupun kak Bian rasanya sangat ingin membunuh Anda untuk melampiaskan seluruh rasa benci. Bukankah ada pepatah kalau darah dibalas dengan darah. Rasanya bagian dari diri kami selalu memiliki mimpi membuat anda juga merasakan apa yang dirasakan orang tua kami. Tapi kami tidak bisa melakukan hal itu. Jika saja kami membunuh Anda, maka apa bedanya kami dengan anda?”
Tatapan Nada melemah, air mata bahkan menetes dari pelupuk matanya. Ia masih tidak tega untuk membunuh Glen, walau ia sudah banyak melakukan kejahatan bahkan menghancurkan keluarganya. Tapi ia tetap tidak mampu.
‘Pah, Mah, om Dev, kakek tidakan Nada sama kak Bian sudah benar, kan?’ tanyanya lirih dalam benaknya.