Dear Nada

Dear Nada
Kepergok Mommy



“Bagaimana informasi terbaru tentang anak itu?” tanya seorang lelaki seraya menghisap cerutunya.


Lelaki berjas hitam lengkap yang berdiri di belakang lelaki yang duduk itu menundukkan kepalanya.


“Saya dapat info kalau anak itu divonis sakit parah” jawabnya dengan suara datar.


“Sakit parah? Haha bagus sekali rupanya takdir memihakku” ucapnya sambil tertawa keras.


“Dia mengidap penyakit apa?” tanyanya lagi sembari menyesap wine dengan pelan


“Leukimia” sahutnya singkat.


“Luar biasa! Dengan begitu akan memudahkan untuk menyingkirkannya” ucapnya dengan seringai tersemat di sudut bibirnya.


“Aska! Kerja bagus. Terus amati pergerakan gadis itu selama kita ada di sini. Huh rasanya aku tidak sabar lagi untuk memusnahkan dirinya” lelaki itu menengok sedikit ke arah lelaki di belakangnya yang dia panggil Aska.


Aska menunduk mendengar perkataan lelaki di depannya. “Baik tuan” sahutnya pelan tanpa emosi. Lalu hendak berlalu dari sana.


“Tunggu! Sudah kamu selidiki siapa lelaki yang ke rumah gadis itu” ucapnya dengan tatapan menajam mengingat penghinaan yang dilakukan oleh lelaki remaja itu.


“Dia merupakan anak dari tuan Gerald dan pewaris utama keluarga Wechler” jawab Aska. Sedikit senyum seringai terlihat di sudut bibirnya tetapi tidak ada yang menyadarinya.


“Sial!! Mengapa sampai di ikut campur! Usahakan jangan sampai dia mengetahui rencana kita!” ucap Lelaki itu seraya melempar kesal gelasnya ke segala arah.


“Baik tuan” setelah mengatakan itu ia lekas berlalu dari hadapan bosnya.


***


Sepeti yang sudah Nada janjikan, hari Sabtu pagi ia sudah siap-siap untuk menuju rumah Mommy Arkan. Ia tidak memberitahu lelaki itu akan berangkat jam berapa. Yang pasti dia mungkin tidak menyangka Nada akan tiba di rumahnya pagi.


Sesampainya di depan rumah Arkan, ia memencet bel sambil sesekali membetulkan kotak yang dibawanya. Kotak itu isinya kue yang sudah dibuat oleh Nada, karena dia tau Mommy Arkan menyukai kue apalagi buatannya.


Tak membutuhkan waktu lama pintu di depannya pun terbuka menampikan wajah terkejut Mommy.


“Lho sayang, kamu kenapa enggak bilang mau datang” ucap Mommy seraya membawa tubuh Nada masuk ke dalam rumahnya.


Nada mengulum senyum, “Biar kejutan gitu Mom. Emang Arkan gak bilang kalo akhir pekan aku ke rumah Mommy?”


“Dasar anak itu, palingan dia lupa lagi” sungut Mommy kesal dengan anaknya.


“Oh iya, ini Nada bawain kue bikinan sendiri moga Mommy suka, ya” Nada mengangkat kotak itu menunjukkan pada Mommy.


“Duh sayang, harusnya kamu gak usah repot-repot bawa ini segala. Mommy jadi gak enak sama kamu” ucap Mommy dengan raut merasa tidak enak pada Nada.


“Enggak ngerepotin kok Mom, Nada malah senang bikin kue gini buat Mommy” sahut Nada cepat.


“Yaudah Mommy bawa ke dapur dulu. Kamu duduk aja dulu di sofa atau mau ke kamar Arkan, soalnya dia belum bangun tuh” ucap Mommy dengan gelengan kecil dan kekehan tertahan.


Nada mengangkat alisnya, “Arkan belum bangun Mom?”


“Iya belum bangun” ucap Mommy lagi.


“Yauda aku ke kamar Arkan boleh Mom?” tanya Nada meminta izin.


“Gak apa-apa” kata Mommy dengan senyum lembut. Lalu Mommy pergi ke dapur meninggalkan Nada yang masih berdiri di sana.


Mendengar persetujuan Mommy, Nada memutuskan untuk melenggang menuju kamar kekasihnya itu. Ia menyusuri bagian rumah itu sampai tiba di depan sebuah pintu berwarna coklat.


Begitu pintu terbuka, suasana remang-remang menyambut netra Nada. Ia melihat kamar yang masih gelap, matanya mengedar sebelum jatuh pada gundukan di atas kasur. Ia menduga itu pastilah Arkan yang sedang tertidur.


Nada melangkah masuk dan mendekati gorden yang masih tertutup lalu menariknya untuk membiarkan cahaya masuk. Setelah terbuka sepenuhnya ia barbalik melihat ruangan yang ternyata memiliki cat tembok warna gelap sesuai dengan kamar lelaki pada umumnya.


Karena cahaya yang terang memasuki kamar lewat gorden, membuat mata Arkan mengerjap pelan terganggu. Ia membuka matanya perlahan tapi ia memejamkan lagi matanya begitu melihat Nada yang ada di hadapannya.


“Bahkan kamu masuk ke dalam mimpi aku Na” gumamnya pelan.


Ia tertawa kecil lalu membuka kembali matanya tetapi Nada masih ada didepannya dengan menatap heran. “Kok masih ada juga” ia kembali bergumam tidak percaya.


“Kamu kenapa?” tanya Nada tidak tahan melihat Arkan yang aneh.


“Bisa bicara juga ternyata” ucapnya lagi dengan tercengang


“Jelas saja aku bisa bicara! Kamu kenapa sih aneh” sungut Nada jengah. Ia menempelkan tangannya di dahi Arkan membuat lelaki itu terlonjak karenanya


“Nada?!” ucapnya nyaris berteriak.


Nada menatap datar Arkan, ia mengerti pasti lelaki itu mengira ia ada di dalam mimpinya. Dasar batin Nada.


Terlihat Arkan mendudukkan dirinya dan mengusap wajahnya serta menyugar asal rambutnya yang acak-acakan.


“Kamu kok ada di kamar aku?” tanyanya menatap Nada lama.


“Kata Mommy kamu belum bangun dam suruh aku bangunin kamu” ucap Nada. Lalu ia menjatuhkan dirinya di sisi pinggir kasur dan duduk seraya menatap wajah Arkan yang baru bangun tidur itu.


“Kamu lucu tau kalo habis bangun tidur gini” ucapnya mata tak lepas dari memandang Arkan.


Mendengar perkataan Nada, Arkan menatap tidak percaya pada kekasihnya itu. “Lucu?!” ia mendelik tidak terima


Arkan mendekati Nada yang duduk menyamping itu, ia memajukan wajahnya hingga jaraknya sangat dekat dengan wajah Nada.


Melihat hal ini, Nada menelan ludahnya kasar. Kini lelaki itu terus memandanginya intens dan dalam. Ia hanya bisa terpaku ketika tangan Arkan mulai melingkar di pinggangnya.


Jarak mereka sudah sangat dekat dimana Arkan yang dari tadi menatap lekat Nada. Saat ini jantung gadis itu rasanya seperti maraton berdetak tidak terkendali. Ia hanya bisa berdoa agar Arkan tidak mendengarnya.


Entah kapan tepatnya Nada juga tidak tau, tiba-tiba saja bibir mereka sudah menyatu. Ia merasakan sepeti ada kupu-kupu di perutnya apalagi saat merasakan yang awalnya hanya kecupan berubah menjadi ******* pelan dan tidak menuntut.


Nada yang tidak terlalu bisa hanya membalas sebisanya dan terasa kaku sekali walau ini bukan kali pertamanya sepeti ini dengan Arkan.


Arkan melepaskan pagutan mereka ketika merasakan tangan Nada menepuk dadanya. Matanya menatap dalam netra hitam gadisnya, seulas senyum terbit di wajahnya. Bibir gadisnya itu manis sekali rasanya membuat ia candu untuk mencicipinya.


Entah Semerah apa wajah Nada saat ini, ia hanya bisa menundukkan wajahnya tidak berani menatap Arkan.


Brakk


Refleks Nada dan Arkan menoleh pada pintu kamar yang terbuka. Memang tadi Nada tidak menutup pintu itu.


“Ups! Mommy gak liat apapun!” ucapnya Mommy cepat dan dengan tergesa pergi dari situ.


Sungguh saat ini Nada hanya ingin mencari lubang untuk ia bersembunyi. Mau di taruh dimana mukanya saat bertemu dengan Mommy nanti.


Sedang Arkan menatap tidak percaya ke arah pintu, jadi sedari tadi Mommynya mengintip mereka. Ia menghembuskan nafas kasar, Mommynya memang luar biasa ajaib.