
Arkan berjalan memasuki sebuah bangunan yang penuh sesak dengan manusia dan suara musik yang nyaring. Tempat dimana banyaknya orang mencari kesenangan duniawi. Ya dia pergi ke sebuah bar yang cukup besar dan terkenal.
Ia melangkah diantara banyaknya orangnya sedang mabuk atau hanya menari-nari kecil. Ia menuju sudut ruangan dimana tergeletak seorang pemuda yang sudah mulai tidak sadar.
Melihat hal itu Arkan mempercepat langkahnya dan melirik kesal pemuda itu. Padahal ia sudah memperingati agar tidak mabuk parah seperti ini.
“Lo kenapa lagi sih?” tanyanya ketus. Yang ditanggapi dengan senyum bodoh Kafa yang tidak sadar lagi.
“Gue? Emang gue kenapa?” tunjuknya pada dirinya disertai racauan tidak jelas.
Arkan berdecak melihatnya, “Lo ngikutin gue ke Indonesia cuma ingin melarikan diri kan. Ck udah gue duga kenapa lagi sih sama Gressa”
Kafa tidak menjawab ia hanya menggumam tanpa arti dan menumpuk kepalanya di atas meja yang terdapat botol berserakan.
“Lupakan. Gue yang salah ngajak orang lagi mabuk ngomong” Arkan menghembuskan nafas jengah.
Ia bangkit dan menarik tangan Kafa agar beediri walau dengan gerakan yang sempoyongan. “Lo nyusahin gue tau gak” decaknya kesal tapi ia tetap aja mendatangi sepupunya itu saat sedang seperti ini.
“Gressa...Gressa kenapa kamu tinggalin aku dan milih orang lain” racaunya dengan sesekali memberontak membuat Arkan ingin mengumpat dengan kelakuan Kafa.
Dengan susah payah ia berhasil memasukkan tubuh Kafa ke dalam mobilnya dan dengan cepat membawa lelaki itu pulang ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen Kafa, Arkan turun sembari merangkul bahu Kafa agar tidak jatuh. Ia berjalan menuju unit no 235 milik Kafa. Setelah berhasil masuk ke dalam unit, ia menarik Kafa dan melemparnya ke atas sofa dan menghembuskan nafas kasar.
“Tiap gini aja Lo selalu ngerepotin gue” gerutunya.
Merasa gerah dan haus ia melipir ke dapur untuk mengambil minum atau sekalian aja buat kopi malam-malam gini.
Dengan kopi yang masih mengepul Pana itu, ia membawanya ke balkon dan berdiri melihat keindahan kota Jakarta yang padat akan manusia. Bahkan di jam selarut ini pun masih banyak orang yang berlalu lalang dijalanan.
“Lo disini”
Arkan berbalik dan melihat Kafa yang sudah terlihat lebih baik dari tadi. Ia mengangguk kecil dan kembali menatap pemandangan kota dari atas balkon
Mereka saling terdiam, Kafa ikut berdiri di samping Arkan menatap jauh ke depan.
“Udah lebih baik?” tanya Arkan tanpa menoleh.
Kafa tersenyum miris, “Setidaknya udah kurang rasanya”
“Gue gak akan menceramahi Lo atau sok tau dengan urusan Lo itu. Tapi gue gak bisa diam aja saat Lo udah jadi seperti ini. Dia gak pantes buat Lo kaya gini” ucap Arkan pelan.
Kafa tau di balik sikapnya yang agak ketus dan menyebalkan ia merupakan orang yang selalu memperhatikan orang terdekatnya.
“Gue tau, dia udah melewati batas”
“Apa yang dia lakukan kali ini?” tanyanya mengerutkan dahinya.
“Dia selingkuh sama rekan modelnya. Awalnya dia bilang cuma teman tapi aku sendiri memergoki dirinya sedang..”
“Udah ga usah diterusin, Lo terlalu berharap buat cewe kau dia. Mungkin ini saatnya Lo melepakan dan memulai hal baru” Arkan memotong ucapan Kafa dan memberikan tepukan di bahu lelaki itu.
“Jangan terharu, baru tau gue orangnya baik hati. Gue mau tidur” kata Arkan kembali ketus lagi dan meninggalkan Kafa yang menatap masam punggung Arkan yang menghilang di balik dinding.
“Lo gak pernah berubah bang” kekehnya kemudian menyusul masuk ke dalam meninggalkan balkon yang kembali dingin.
Keesokan harinya Nada sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit karena keadaan sudah membaik walau masih ada jejak pucat di mukanya.
Sekarang ia berada di dalam ruangan dokter yang berbicara dengan Deril semalam.
“Jadi Nada tau kan diperkirakan kamu mengidap suatu penyakit serius. Tapi masih belum bisa diperkirakan kebenarannya karena harus melakukan tes dulu. Dan tesnya baru bisa paling cepat keluar Minggu depan” jelasnya seraya membetulkan kacamatanya.
Nada mengangguk lesu, “Tapi bisa aja saya tidak mengidapnya kan dok?” tanya Nada memastikan.
“Itu mungkin saja, tapi beberapa gejala awal sudah kamu alami kan? Tapi semoga saja itu bukan hal yang benar” ucapnya dengan tegas.
“Dok nanti kalo sudah keluar hasil tesnya bisa kirimkan ke Jakarta aja dok?” kata Deril meminta pada Dr. Erik.
“Bisa, nanti kalian tinggalkan alamatnya biar kalo keluar bisa langsung dikirimkan” ucapnya dengan menyodorkan sebuah kertas dan pulpen untuk menuliskan alamat.
Nada mengambilnya dan menuliskan alamat rumahnya, dan setelahnya ia mengucapkan terima kasih pada dokter itu dan berlalu dari ruangannya bersama dengan Deril.
Mereka berjalan dengan pikiran memenuhi isi kepala masing-masing. Sampai di depan mereka bertemu dengan Bu Yeni dan Riko yang mendatangi Nada dan Deril.
“Udah semua selesai? Nada udah enakan mana?” tanya Bu Yeni begitu Nada dan Deril mendekat.
Nada mengangguk saja dan memberikan seulas senyum meyakinkan kalau dia sudah baik-baik saja
Bu Yeni dan Riko menghela nafa lega mendengarnya. Semalam mereka sudah sangat khawatir karena tiba-tiba Nada pingsan tepat setelah mereka menyelesaikan soal mereka.
“Oh iya Bu, bisa tidak mengenai saya yang masuk rumah sakit jangan di beritahu pada yang lain” pinta Nada. Tepatnya ia tidak mau membuat orang terdekatnya khawatir dengan keadaanya apalagi Mommy dan Arkan sampai tau.
“Tapi kenapa?” tanya Bu Yeni heran
“Saya mohon bu” kata Nada dengan memelas.
Bu Yeni menghela nafas pasrah dan berkata, “Baiklah ibu tidak akan mengatakan apapun mengenai hal ini”
“Terima kasih bu” ucap Nada dengan tulus.
“Ya udah ayo kita pergi, hari ini akan diumumkan siapa yang akan menjadi juara”
Mereka berangkat kembali menuju tempat untuk mengumumkan hasil pertandingan kemarin. Suasana yang ramai dengan banyak raut muka cemas dan tidak sabar terlihat.
“Duh gue tiba-tiba jadi gugup gini” celetuk Riko terlihat mukanya seperti tidak nyaman
“Yakin saja kita udah berusaha semampu yang kita bisa” ucap Deril memberi semangat.
“Baik saya akan mengumumkan sekolah siapa yang berhasil menempati Juara ketiga dalam olimpiade fisika kali ini jatuh kepada...selama SMA Dharmawangsa!” suara pembawa acara mengalun keras di ruangan itu disertai tepuk tangan meriah.
“Untuk juara kedua dalam olimpiade fisika jatuh kepada...Selamat SMA Garvalin!!”
“Dan yang ditunggu-tunggu ialah Juara pertama olimpiade fisika kali ini adalah...Selamat kepada SMA Wechler”
Sontak saja Nada, Deril dan Riko bangkit dan saling berpelukan haru karena mereka mendapatkan juara satu kali ini.
Bu Yeni juga terlihat sumringah ketika anak didiknya mendapatkan hasil yang memuaskan.