Dear Nada

Dear Nada
Putri Yang Aneh



Suasana ramai kantin saat jam istirahat memang nggak main-main. Dan Arkan dengan Nada sedang berjalan bersama menuju kantin untuk mengisi perut. Arkan menggandeng tangan Nada seolah mengatakan kalau ia sudah menjadi kekasih gadis itu


Muka Nada terus saja tertunduk dari tadi karena banyaknya orang yang terus menatapnya dengan tatapan heran.


“Ar sini!” panggil Kafa dengan melambaikan tangannya pada Arkan dan Nada.


Mereka sudah duduk di meja yang sama dengan Kafa, Emma dan Putri.


“Lo berdua belum pesan kan?” tanya Emma menatap Nada dan Arkan yang dibalas gelengan oleh mereka berdua.


“Yaudah sekalian aja gabung sama pesanan mereka” kata Emma


“Gak apa-apa nih” ucap Nada merasa tidak enak karena Emma yang memesankan makanan.


“Kaya sama siapa aja Lo nad. Udah santai aja, sekarang sebutin deh apa pesanan kalian berdua” Emma meyakinkan kalau ia tidak masalah.


“Aku pesan nasi goreng aja sama es teh” ucap Nada menatap Emma.


“Samain” jawab Arkan saat Emma menatapnya untuk menanyakan pesanannya.


Setelah itu, Emma berlalu untuk memesan makanan.


Entah mengapa Nada merasa dari tadi Putri hanya terdiam dan terlihat raut wajahnya yang kusut. Ia juga melihat Kafa yang sesekali menatap Putri.


Ia menyenggol Arkan disebelahnya, “Mereka berdua kenapa ya?” bisiknya pelan di telinga Arkan.


Arkan menatap Nada dan menggeleng tidak tahu, ia juga sebenarnya merasa aneh dengan perilaku sepupunya itu.


“Kalian kenapa sih kaya orang musuhan” celetuk Nada tidak tahan lagi dengan keterdiaman mereka.


“Siapa yang musuhan?” kening Kafa berkerut.


“Lo lah” timpal Arkan.


Putri hanya menyimak dalam diam percakapan mereka. Tak sengaja matanya bertatapan dengan Nada, segera saja ia membuang pandangan kesamping. Melihat hal itu Nada tentu saja bingung.


“Makanan sudah datang” suara riang Emma menyala indera pendengaran mereka. Gadis itu dibantu dengan ibu penjual membawa makan dan minuman lalu menaruhnya di atas meja.


“Selamat makan” ucap Kafa memulai memakan makanannya dan menyendoknya perlahan hal itu juga diikuti oleh yang lainnya.


“Oh iya selama Lo gak ada di sekolah si nenek lampir juga enggak turun ke sekolah. Rasanya adem ayem deh nih sekolah” cetus Emma dengan raut wajah puas


Nada yang hendak menyuap makananya pun berhenti lalu menatap Emma penasaran, “Selama itu dia gak masuk?”


“Terakhir dia masuk waktu itu gue liat mukanya agak lebam enggak tau kenapa. Terus setelahnya gue gak ada liat dia lagi di sekolah” ucap Putri menjelaskan pada Nada.


Setelah mendengarnya, ia termenung sesaat, ia merasa ada yang tidak beres dengan gadis itu.


“Udahlah gak usah mikirin dia, bukannya bagus kalau dia tidak ada disini setidaknya tidak ada yang akan mengganggu kamu” ucap Arkan tidak suka kalau Nada terlalu penasaran dengan keadaan Prissil dan Arkan bisa menangkap sedikit kekhawatiran di mata Nada. Padahal gadis itu sudah menyakiti dirinya tetapi masih ada .erasa khawatir dengan keadaannya.


“Aku cuma merasa aneh aja” kata Nada pelan. Ia memutuskan tidak melanjutkan pembicaraan mengenai Prissil dan memilih mencari tahu sendiri nanti.


Mereka meneruskan makan dan dengan cepat menghabiskan makanan yang ada di meja. Para lelaki bangkit untuk membayar makanan tadi. Dan di meja tersisa Nada, Emma dan Putri.


“Gue tahu lo ada masalah Put” ucap Emma dengan menghela nafas pelan


Putri menoleh pada Emma, dia berusaha menetralkan ekspresinya agar tidak kaku


“Dan kalo Lo butuh tempat cerita kami siap kok pasang telinga buat dengerin cerita lo” tambah Emma dengan menatap lembut Putri.


Putri menatap dua orang temannya itu dengan terharu, matanya terasa berkaca-kaca. Masalah yang dia alami membuatnya tidak bisa berpikir jernih, dia janji akan mengatakan pada temannya saat ia sudah cukup siap. Saat ini biarlah hanya dia dan Kafa yang tau.


“Makasih guys. Kalian baik banget” ucapnya.


“Lo mah luarnya aja garang tapi dalamnya lembut banget” ejek Emma pada Putri yang dibalas dengusan oleh gadis itu.


“Wah kalian ngobrolin apa nih?” celetuk Kafa yang baru datang bersama Arkan


“Urusan cewek, cowok gak perlu tau” ucap Emma.


“Kalian gak ngomongin gue kan?” tanyanya dengan percaya diri.


“Dih buat apa ngomongin Lo gak ada faedahnya” sinis Emma dengan sengit.


“Kalo aja kalian ngomongin betapa tampan dan menawannya gue” ucapnya dengan meniup pelan rambutnya yang jatuh di jidatnya.


“Jijik gue” Arkan menimpuk kepala Kafa dengan botol air mineral yang sudah kosong membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.


“Nad coba liat cowo lo ngelakuin kekerasan sama gue” adunya pada Nada yang dihadiahi tatapan mengerikan Arkan


Nada tertawa melihat kelakuan Kafa dan kekasihnya itu. Untuk sejenak ia ingin waktu berhenti dulu, ia sangat ingin menikmati suasana seperti ini setiap saat.


Saat Nada mengalihkan pandangannya ke samping meja mereka ia melihat teman-teman Deril yang duduk tetapi tidak menemukan sosok Deril diantara mereka.


“Eh Lo pada tau gak kemana Deril?” tanya salah satunya yang Nada ketahui bernama Niel.


“Gak tau di chat juga gak ada yang bales” timpal lelaki berkaca mata bernama Trian.


“Tapi dia sempat bales chat gue katanya dia nunggu seseorang di rumah sakit dan benar-benar penting banget” kata seorang lainnya bernama, Haris.


“Merawat siapa dia? Mustahil bokap atau nyokapnya kan. Soalnya gue ada ketemu sama nyokapnya kemarin” ucap Niel bingung.


“Terus kenapa Lo gak tanya sama nyopaknya, Bambang?” ucap Trian greget pada temannya itu


“Ya gue gak kepikiran lah nanya gitu” kata Niel membela dirinya


“Udah kalian mah debat terus. Deril itu ke rumah sakit ngerawat Prissil” Haris menjelaskan pada dua temannya.


“Kenapa jadi Deril yang harus ngerawat Prissil?” tanya Niel penasaran.


“Gue gak tau” Haris mengendikan bahunya.


“Kamu ngapain bengong, sayang” suara Arkan membuat Nada tersadar dan ia menatap Arkan sebentar


“Gak papa kok aku cuma keingetan sesuatu aja tadi” ucapnya dengan seulas senyum.


Arkan tau Nada berbohong, gadis itu terlihat cemas dan gelisah sedari tadi. Ia merasa Nada mendengarkan pembicaraan tiga orang di samping mereka. Ia tidak bodoh pasti Nada memikirkan pembicaraan mereka.


Entah mengapa ia langsung merasa was-was, apakah Nada merasa terganggu akibat Deril yang menjaga Prissil di rumah sakit? Atau ada hal lain yang ia tidak tahu. Bisiknya dalam hatinya.


Dalam hatinya Nada sudah merasa khawatir, dia berharap apa yang dipikirannya tidak benar-benar terjadi. Huh semoga saja. Walaupun Prissil sudah berlaku tidak baik padanya tetapi Nada tau apa yang membuat gadis itu melakukan hal itu walau sebenarnya itu hak yang salah.