Dear Nada

Dear Nada
Masuk Rumah Sakit



“Ingat jangan gugup dan rileks saja” saran Deril pada Nada dan Riko yang kentara sekali tegangnya apalagi ini menghadapi final. Ya mereka sudah lolos di semifinal dan tinggal menghadapai final aja.


Di final ini akan ada 100 soal yang akan diberi waktu satu jam setengah untuk mengerjakannya. Jadi mereka harus ekstra cepat dalam pengerjaan.


Waktu pengerjaan sudah berjalan 40 menit dan mereka sudah menyelesaikan 50 soal jadi tinggal 50 lagi. Tapi entah kenapa tiba-tiba kepala Nada rasanya berat sekali, ia terlihat sesekali memeganh kepalanya dengan tangannya disela-sela mengerjakan soal.


Riko yang melihat hal itu berbisik di telingan Nada dengan pelan sekali, “Lo gak pa pa Na?” tanyanya.


Nada menoleh sekilas lalu menggeleng sambil tersenyum seolah menyiratkan ia tidak apa-apa.


Waktu makin tipis yaitu tersisa sekitar 20 menit lagi, dan selama itu Nada mulai merasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Sampai ia merasakan ada yang mengalir dari hidungnya, dengan cepat ia menyumpalnya dengan tisu dan berusaha tanpa terlihat Deril dan Riko yang sedang fokus mengerjakan soal.


“Akhirnya selesai juga” helaan nafas lega terdengar dari mulut Deril.


“Iya banyak banget untung aja Nada cepat ngerjaiinya” sahut Riko menyentuh bahu Nada ringan. Tetapi ia mengerutkan kening ketika Nada yang hanya diam dengan menunduk sampai ia merasa ada yang tidak beres.


“Ril Nada kenapa?” tanyanya.


“Nad” panggil Deril dengan sedikit mengguncang bahunya lalu Nada mengangkat mukanya yang sudah banyak darah dari hidungnya yang coba ia tutupi.


Deril dan Riko sontak saja syok berat, Deril bahkan langsung berdiri lalu menunduk melihat Nada yang sudah pucat pasi itu.


“Ril..” lirihnya pelan sekali nyaris tanpa suara. Kemudian tanpa peringatan ia jatuh pingsan dan langsung ditangkap oleh Deril.


“Nad..Nada kamu kenapa? Bangun Nad” ucapnya panik dengan menepuk pelan pipi Nada.


Para peserta dan juri yang melihat itu sontak saja ikut berdiri menghampiri tempat Nada yang pingsan.


“Cepat bawa ke rumah sakit!” seru seorang juri menyuruh Deril membawanya ke rumah sakit terdekat.


Deril mengangguk lalu dengan cepat mengangkat Nada yang sudah terkulai lemah menuju mobil salah satu juri yang berbaik hati memberikan tumpangan ke rumah sakit.


Bu Yeni terlihat sangat cemas melihat keadaan anak didiknya. Ia saat ini berada di kursi depan di samping pengemudia dengan mata yang selalu melihat keadaan Nada.


Sampai di rumah sakit Deril dengan cepat menggendong Nada dan berteriak mencari suster. Seorang suster bergegas mendorong brangkar menuju Deril yang membaringkan tubuh Nada di atasnya.


Mereka mendorongnya menuju UGD untuk ditangani lebih lanjut. Deril hendak mengikuti sampai masuk tetapi dihalangai oleh seorang suster.


“Anda tidak diperbolehkan masuk pak, silahkan tunggu disini” perintahnya lalu suster itu masuk ke dalam ruangan meninggalkan Deril yang sedang kalut dan pikiran yang dipenuhi kecemasan.


Bu Yeni mendatangi Deril yang sedang terpaku di depan pintu bertuliskan UGD.


“Tenang aja Nada sudah ditangani oleh dokter. Sekarang kamu duduk dulu” ucap Bu Yeni mengarahkan Deril untuk duduk di kursi.


Cukup lama mereka berdiam diri menunggu dokter keluar dari ruangan itu dan selama itu juga mata Deril tak pernah lepas dari ruangan yang tertutup.


“Deril, Ibu mau mengurus administrasi dulu ke sana” Bu Yeni pamit pada Deril yang diangguki oleh Deril lemah. Ia seolah tidak punya tenaga untuk berbicara.


Menit demi menit terlewati setelah kepergian Bu Yeni. Saat itu juga pintu yang sedang di tatap Deril terbuka dari dalam. Lekas saja Deril bangkit dan berjalan cepat mendatangi dokter yang keluar itu


“Dok gimana keadaan Nada dok?” tanyanya dengan tidak sabar.


“Anda siapanya ya?” tanya sang dokter dengan menerutkan kening.


“Saya..saya pacarnya dok” putus Deril lalu menatap dokter itu.


“Apa tidak ada keluarganya?”


“Keluarganya ada di Jakarta dok” jawabnya heran kenapa dokter itu mencari keluarga dari Nada.


Deril bisa melihat Dokter bernama Dr. Erik itu menghela nafas pasrah lalu menatap serius Deril. “Bisa ikut saya, kita bicara di ruangan saya saja”


...***...


Nada mengerjapkan matanya pelan mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Setelah ia terbiasa matanya melirik melihat Bu Yeni yang terkejut melihat dirinya yang sudah membuka mata.


“Nada kamu udah sadar? Sebentar Ibu cari dokter dulu” setelah mengatakan hal itu ibu Yeni keluar dari ruangan dan mencari dokter.


Nada melihat sekeliling dimana saat ini ia terbaring di salah satu brangkar dan tangannya yang ter infus. Bau obat-obatan begitu menusuk indera penciumannya.


Tak lama datang seorang dokter yang diikuti Bu Yeni dibelakangnya. Dokter itu mendekati Nada dan mengecek keadaan Nada.


“Syukurlah ia sudah tidak apa-apa” ucapnya dengan senyum.


Nada memberikan seulas senyum pelan ke arah dokter itu dan setelah tidak ada yang dilakukannya sang dokter pamit untuk mengecek pasien lainnya.


“Gimana perasaan kamu saat ini? Masih terasa sakit?” tanya Bu Yeni mendekati Nada dan mengelus pelan kepala Nada.


“Kamu nggak tau kaya apa khawatirnya ibu dan teman kamu yang lain waktu kamu tiba-tiba mimisan dan pingsan” ucap Bu Yeni dengan dalam.


Nada hanya menatap Bu Yeni diam tanpa mengatakan apapun, saat ini ia sepeti kehilangan tenaga untuk berbicara.


“Oh iya tadi ibu suruh Deril menjaga kamu malah sekarang dia menghilang gini” gerutu Bu Yeni


Benar ia tidak melihat Deril sedari tadi, kemana lelaki itu pergi.


...***...


Di taman rumah sakit


Deril duduk terdiam di sebuah kursi dengan tatapan kosong. Matanya menerawang jauh entah apa yang dipirkannyanya. Ia sudah seperti itu sejak keluar dari ruangan dr. Erik.


Sudah berkali-kali ia menghela dan menghembuskan nafas kasar dengan wajah tertekuk. Ingatannya kembali ke beberapa saat yang lalu saat ia masih di ruangan dr. Erik.


“Sebenarnya ada apa dok?” tanyanya setelah duduk di depan dr. Erik.


Dr. Erik terlihat menghela nafas pelan sebelum berkata dengan nada berat.


“Kamu tau sudah berapa lama gejala mimisan ini terjadi pada pacar kamu?” tanyanya.


Deril menggeleng. Ia tidak tahu kalau Nada pernah mengalami mimisan.


“Pantas saja. Sepertinya pacar kamu mencoba merahasiakannya atau ia tidak tau dan malah menganggap hal itu hanya karena kelelahan” ucapnya dengan ekspresi tidak berdaya.


“Maksudnya apasih dok?” tanya Deril tidak sabar lagi.


“Saya menduga pacar kamu mengidap penyakit leukimia. Yang tentu saja hal ini masih belum pasti, lebih baiknya dicek dahulu apakah ia benar mengidap leukimia dan sudah berada di stadium berapa” terang dr. Erik yang bagaikan petir menyambar di telingan Deril.


Badannya seketika kaku dan pikirannya kosong. Omong kosong apa yang dia dengar ini, Nada mengidap leukimia. Sungguh ini lelucon paling tidak lucu yang pernah ia dengar.


“Hal ini gak benar kan dok?”


“Kalo menurut gejala yang saya lihat memang menunjukkan adanya indikasi mengidap leukimia. Tapi kita harus memastikan lagi lewat cek laboratorium. Dan disini saya menanyakan apakah anda keberatan kalau harus mengambil sampel darah pacar kamu untuk di cek?” ucap dr. Erik menjelaskan dan sekaligus meminta persetujuannya.


Deril menyetujuinya karena dia masih tidak percaya Nada mengidap penyakit berbahaya itu. Ia keluar dari ruang dokter dengan muka tertekuk terlebih dia harus menunggu beberapa saat untuk bisa hasilnya keluar.


Dan disini lah dirinya sekarang, ia belum siap bertemu dengan Nada jadi ia menenangkan diri dulu disini.


“Aku harap ini hanya bohongan Nad dan kamu enggak mengidap penyakit apa-apa” lirihnya sendu.