
Emma menarik tangan Nada mendekati dirinya dan Putri. “Gue punya sesuatu buat Lo sebagai hadiah ulang tahun” kata Emma menatap Nada sembari tangannya mengambil sebuah kado yang ada di atas meja bagian ujung.
“Gue juga” sahut Putri yang juga mengeluarkan kadonya dan menyerahkan kepada Nada.
“Boleh dibuka sekarang?” tanya Nada menatap mereka berdua.
“Buka aja malah kami senang” jawab Putri.
Nada membuka kado dari Emma yang pertama, ia melihat ada sepasang sepatu putih dengan garis hitam di sampingnya yang sangat indah.
“Gue gak tau Lo suka apa. Jadi gue kasih aja sepatu yang cople-an sama gue” katanya menunjukkan sepatu yang sama dengan yang dia pakai.
“Gue suka kok. Malah suka sekali” balas Nada dengan sumringah.
Setelah membuka kado dari Emma ia membuka kado dari Putri. Matanya berbinar ketika melihat Novel favorit yang menjadi hadiah ditambah ada pernak-pernik buku seperti parfum, poster, photo card.
“Nah gue sering nih liat Lo baca novel jadi gue putusin beri Lo kado novel. Gimana Lo suka?” tanyanya dengan menatap Nada.
“Sangat suka, novel ini kesukaanku” jawab Nada.
“Aku gak tahu harus bilang apa sama kalian. Yang pasti makasih banget udah nyiapin kejutan ini” ucap Nada dengan raut terharu
“Sebenarnya kejutan ini bukan ide kami tapi Arkan yang mengatakan pada Kafa yang akhirnya Kafa mengajak kami ikut dalam persiapan kejutan ini” kata Putri kepada Nada yang diangguki Emma.
“Arkan?”
“Iya pacar Lo yang rencanain” ujar Emma.
“Hei gadis! Sini makanan udah datang” panggil Kafa seraya mengarahkan para pelayan yang membawa makanan untuk menaruh diatas meja.
Semua para cewek menoleh ke arah Kafa dan berjalan mendekatinya.
“wih manggang dulu nih baru makan” ucap Emma agak speechless melihat tempat memanggang dan daging serta bumbu yang sudah di sediakan. Ya makanannya belum jadi karena Kafa sengaja ingin membuat makan malam ini berkesan buat semuanya.
“Ayo kita panggang dagingnya, kalian para cewe lumuri daging itu dengan bumbu. Nah kami yang akan memanggangnya, iya kan Ar” ucap Kafa menatap Arkan yang mengangguk saja.
Nada mengambil sepotong daging dan melumurinya dengan bumbu BBQ, setelahnya ia berikan pada Arkan untuk dipanggang.
Begitu juga dengan Putri dan Emma yang juga melumuri daging dengan bumbu lalu menaruhnya di atas panggangan dan membiarkan dua lelaki itu melakukan pekerjaan mereka.
Sembari menunggu para lelaki yang memanggang, Putri menata peralatan makan dibantu Emma dan Nada. Setelah matang daging yang mereka panggang lalu menaruhnya di atas piring yang ada di meja.
Suasana di rooftop malam itu terasa hangat dengan saling lempar candaan membuat senyum dan tawa terkembang pada setiap orang yang ada di sana.
Nada yang melihat pemandangan ini menjadi sangat senang, ia selalu berharap agar kebersamaan ini tidak cepat berlalu. Ia menoleh dan matanya bertemu dengan netra Arkan yang sedari tadi mengawasinya dari samping. Ia mengulas senyum yang dibalas Arkan dengan senyum manis pula.
***
Pagi ini merupakan hari pertama Nada turun setelah pulang dari Bandung. Serta hari pertama statusnya tidak lagi menjomblo. Ya ia pun tidak menyangka akan memiliki hubungan lebih dengan Arkan.
Saat ia sedang memasukkan buku pelajaran ke dalam tasnya, handphone nya berbunyi pertanda ada orang yang memanggil. Ia mengangkat handphone miliknya dan melihat kalau Arkan yang menelepon dirinya.
“Halo” ucap Nada setelah mengangkat panggilan itu.
“Selamat pagi, pacar” suara maskulin Arkan menyapa indera pendengarannya.
“Tebak sekarang aku lagi ada dimana?”
“Aku ada dirumah seorang gadis”
“Siapa?” Nada mulai menghentikan gerakannya memasukkan buku dan mendengarkan Arkan dengan serius. Ada rasa tidak suka saat Arkan mengatakan hal itu.
“Aku ada di depan rumah seorang gadis cantik dan semalam ia resmi menjadi pacar aku” katanya dan terdengar kekehan dari suaranya
Nada terkejut lalu dia mempercepat gerakannya dan memasang sepatunya dengan cepat pula lalu keluar dari rumah. Di depan ia melihat seorang lelaki dengan jaket denim nya duduk di atas sebuah motor dengan senyum terpatri ketika melihat Nada keluar dari rumahnya.
“Kamu gak bilang mau kesini” kata Nada setelah tiba di hadapan Arkan.
“Biar kamu terkejut, lucu liat kamu yang seperti itu” kata Arkan dengan kekehan kecil menambah pesona lelaki itu.
“Ayo kita berangkat” ucapnya lalu memberikan helm yang dibawanya kepada Nada.
Nada memasang helm ke kepalanya dengan cepat tetapi ia kesulitan untuk memasang talinya. Tapi sebuah tangan membantunya mengatupkan tali helmnya. Nada mendongak terpaku melihat Arkan yang perhatian seperti ini.
“Udah selesai, ayo naik jangan bengong” ucap Arkan menyadarkan Nada. Dengan cepat ia naik ke motor yang agak tinggi itu dengan bertumpu pada bahu Arkan.
“Ayo” kata Nada sesaat setelah ia duduk dengan aman. Tetapi Arkan tidak juga menjalankan motornya malah ia melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Nada.
“Nih buat nutupin” ucapnya dengan mengisyaratkan untuk menutupi paha Nada yang akan terekspos jika pake motor seperti ini.
“Aah, iya makasih” Nada mengambilnya dan lekas menutup pahanya dengan jaket dari Arkan.
Baru setelah itu lelaki itu menjalankan motornya dengan kecepatan rata-rata. Nada berpegang pada bahu Arkan membuat lelaki itu sedikit tertekan.
Kecepatan motor kian meninggi dan Nada menyadari itu, ia sedikit mengeratkan pegangannya pada bahu Arkan.
“Aku bakal ngebut Nad” ucap Arkan dengan suara nyaring.
“Pegangan yang erat!”
“A-apa?”
Belum sempat Nada bereaksi Arkan sudah melajukan motornya dengan sangat cepat membuat Nada refleks memeluk Arkan dari belakang.
Arkan yang melihat itu menyeringai tipis, ia menarik tangan Nada untuk lebih mengeratkan pegangannya pada perutnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di lingkungan sekolah apalagi Arkan tadi membawa motor dengan ngebut.
Nada turun perlahan dari atas motor Arkan dan melepaskan helm dari kepalanya. Ia menyerahkan helm itu kepada Arkan dan di sambut lelaki itu.
Melihat rambut Nada yang acak-acakan akibat memakai helm membuat Arkan tersenyum geli. Ia merasa lucu melihatnya, tangannya terangkat untuk merapikan rambut gadis itu dengan pelan.
Nada spontan ikut mengangkat tangannya untuk merapikan rambutnya sendiri. Ia merasa sedikit malu ketika menyadari rambutnya yang sedari tadi kacau balau. Nada memalingkan mukanya dari Arkan
“Aku malu tau” cicitnya pelan.
“Gak perlu malu kalo sama aku, sayang” ucap Arkan dengan santai tetapi membuat Nada kelabakan sendiri. Pipinya kian memerah dan jantungnya berdetak kencang.
Tidak tahan lagi ia pergi dari hadapan Arkan dengan langkah yang cepat, ia sudah terlalu malu dan hanya ingin menyembunyikan dirinya sendiri.
Arkan yang ditinggal Nada tidak bisa menyembunyikan tawanya lagi. Mengapa kekasihnya itu sangat pemalu.