
Nada menarik kopernya keluar dari bandara diikuti Deril dan Riko disebelahnya. Riko yang terlihat sedang bicara dengan seseorang lewat handphone nya dan Deril yang berjalan dengan santai sembari tangan dimasukkan ke dalam saku
Mata bulat gadis itu mengedarkan pandangan ke seluruh tempat sampai ia akhirnya mengulas senyum manis tatkala netranya menangkap seseorang yang sedang berdiri di antara kerumunan orang.
Deril juga melihat apa yang dilihat oleh Nada. Hatinya mencelos sadar kalau gadis itu aman kembali pada lelaki beruntung yang bisa bersamanya. Dengan gontai dan tanpa berpamitan ia pergi dari situ dengan diiringi tatapan heran Riko.
“Lo mau kemana?” tangannya menangkap pergelangan tangan Deril.
“Katanya keluarga gue udah nunggu diluar. Jadi gue duluan ya” kata Deril dengan menepuk pelan bahu Riko.
“Enggak pamitan dulu sama Nada?” tanya Riko yang merasa aneh dengan perilaku Deril.
“Nanti gue chat dia, gue gak mau ganggu tuh ada pacarnya” ucap Deril lempeng tanpa ekspresi.
“Pacar?” Riko mengikuti pandangan Deril dan mendapati seorang lelaki berperawakan tinggi dan tentunya memiliki wajah yang seperti dipahat indah. Deril pergi tanpa berkata apapun lagi pada Riko.
Riko mengendikan bahunya melihat kepergian Deril. Ia menyusul Nada yang sudah berjalan di depannya untuk berpamitan
“Na tunggu dulu” panggilnya membuat Nada membalikkan tubuhnya dan menatap Riko dengan alis terangkat.
“Gue mau pamit duluan, katanya papa gue nunggu di depan” ucapnya berpamitan.
“Oh ya udah. Hati-hati ya, Riko. Eh mana Deril?” ia tersadar saat tidak menemukan Deril di samping Riko.
“Deril tadi keluar duluan katanya keluarganya nunggu di depan juga” jelas Riko. Kemudian matanya menangkap seorang lelaki yang dikenalnya bernama Arkan mendekati mereka.
“Ya udah gue pamit Nad” Riko memutuskan untuk segera pergi dari sana. Tetapi sebelum berlalu ia menyempatkan untuk membungkuk sopan pada Arkan yang dibalas anggukan oleh lelaki itu
“Nada..” panggil pelan Arkan.
Nada menoleh pada Arkan yang berada tepat dibelakangnya. Ia sedikit termundur kaget dan mengelus pelan dadanya.
“Kaget tau” sungutnya. Tetapi dibalas Arkan dengan senyuman. Lelaki itu sering sekali tersenyum saat bersamanya.
“Aku kangen” katanya dan perlahan merentangkan kedua tangannya dengan. Nada terkekeh melihatnya tetapi tak urung ia mendekat ke arah Arkan dan masuk kedalam pelukan lelaki itu.
Arkan memeluk erat gadis dalam dekapannya dengan senyum yang terkembang.
“Perasaan aku cuma beberapa hari pergi deh” kata Nada
“Tapi aku rasa lama banget” ucap Arkan tak mau kalah.
“Iya deh, aku jadi bangga dikangenin sama tuan muda Arkan ini” ucap Nada sedikit meledek membuat dengusan keluar dari mulut Arkan.
Ia melepaskan pelukannya dan menatap dalam Nada. “Aku memiliki sebuah kejutan buat kamu” katanya.
“Kejutan? Apa kejutannya?” tanya Nada penasaran.
“Kalo aku bilang bukan lagi kejutan namanya” katanya seraya memukul pelan kening Nada.
“Aduh” Nada ngaduh pelan dan menatap sebal Arkan
“Ayo akan aku tunjukkan” ajaknya
“Sekarang?” tanya Nada tidak yakin.
“Iya, lagian ini sudah sore” katanya dan mengambil alih koper gadis itu lalu menggandeng tangan mungil Nada menuju mobilnya.
Arkan membawa Nada ke sebuah butik membuat Nada menatap penuh tanya pada lelaki itu.
“Kita ngapain kesini?”
“Ayo nanti kamu juga tau” setelah mengatakan hal itu ia keluar dari mobil yang diikuti Nada
“Saya ingin mencari baju yang cocok dengan dia” ucap Arkan dengan menunjuk ke arah Nada yang terdiam saja dari tadi.
“Baik. Mari Nona silahkan ikuti saya” ucapnya dengan hormat memberi jalan untuk mengikutinya.
Nada menatap Arkan bingung haru bagaimana tetapi lelaki itu hanya mengarahkannya untuk mengikuti wanita itu. Akhirnya ia pasrah dan mengikuti langkah wanita itu kesebuah ruangan yang berjejer gaun cantik.
“Nona bisa memilih gaun yang cocok menurut Nona” katanya dengan senyum manis
Nada melihat satu-persatu gaun yang digantung disitu. Tetapi matanya menangkap sebuah gaun yang menarik perhatiannya yaitu sebuah gaun dibawah lutut berwarna krem bermodel setengah lengan yang sangat elegan cocok dengan kulit putihnya.
“Kalo mau mencoba silahkan disana Nona” tunjuknya pada sebuah ruang ganti baju.
Nada mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu ia berjalan menuju ruangan itu dengan membawa gaun yang dipilihnya.
Sedang Arkan yang menunggu diluar dengan tenang. Matanya sesekali melirik ruangan yang dimasuki Nada. Sudah tiga puluh menit berlalu Nada masih belum keluar.
Sampai ruangan itu terlihat terbuka, Arkan menatap ruangan itu menunggu orang yang ditunggunya keluar. Betapa terkejutnya ia melihat seorang gadis yang sangat cantik keluar dari ruang itu dengan wajah tertunduk malu
Arkan masih tertegun melihatnya sampai sebuah suara menyadarkan dirinya. Ia mengalihkan pandangannya seraya berdehem canggung.
“Bagaimana tuan, Nona menjadi semakin terlihat cantik. Walau sebelumnya sudah cantik tetapi semakin terlihat kecantikannya sekarang” kata wanita itu seraya tersenyum.
“Kerja bagus” ucapnya singkat
“Ayo Nad kita pergi” ucap Arkan mengulurkan tangannya ke arah Nada.
“Udah saya transfer biayanya ya” ucapnya pada wanita disebelah Nada.
Nada yang melihat tangan Arkan yang terulur menyambutnya dengan ragu. Setelah tangan mereka bergandengan Arkan tersenyum sembari membawa Nada keluar dari butik dan menuju ketempat tujuannya. Tempat Arkan memberi kejutan kepada Nada.
Perjalanan cukup memakan waktu, entah kemana Arkan membawanya. Sampai di sebuah tempat mobilnya berhenti dan memarkir dengan aman.
“Kita sudah sampai” ucapnya.
Nada melihat tempat itu yang ternyata sebuah restoran yang entah ini berada dimana. Ia menatap Arkan dengan dahi berkerut.
“Kita dimana?”
“Coba tebak” ucapnya dengan senyum miring
Arkan terlihat mengeluarkan sebuah kain hitam, “Tutup mata kamu dulu” katanya membuat Nada semakin menatapnya curiga.
“Hapus pikiran buruk kamu dari otak kecilmu” katanya sembari menonjol pelan kening Nada.
Tangan lelaki itu memasangkan sebuah kain ke mata Nada lalu membawanya keluar dari mobil dengan pelan dan hati-hati.
Nada mencoba menebak apa yang akan dilakukan Arkan.
“Arkan masih jauh?” tanyanya dengan sebal karena dari tadi tidak sampai-sampai.
“Sebentar lagi” katanya singkat lalu Nada merasakan Arkan memberhentikan langkahnya.
“Kamu siap?” tanya Arkan di telinga Nada. Karena nafas Arkan terasa di telinganya membuat pipinya memerah ia hanya bisa mengangguk kaku.
Perlahan tapi pasti ikatan di matanya mulai dibuka perlahan oleh lelaki itu. Setelah dibuka sepenuhnya matanya masih mengerjap-ngerjap karena cahaya yang tiba-tiba masuk ke retinanya.
Setelah jelas barulah ia tercengang melihat apa yang ada di hadapannya. Ia menoleh pada Arkan yang berada di sebelahnya.
“Ini..?”