Dear Nada

Dear Nada
Pasar Malam



Film horor itu sudah selesai setelah satu setengah jam. Nada dan Arkan berjalan keluar dari dalam bioskop dengan bergandengan tangan.


“Setelah ini kita mau kemana?” tanya Nada pada Arkan.


Terlihat Arkan berpikir sebentar setelahnya mengangkat tangannya dan melihat jam. “Masih banyak waktu, kamu punya rekomendasi tempat?” tanya Arkan melirik Nada meminta pendapat


Dengan tangan mengetuk-ngetuk dagunya dengan ekspresi berpikir membuat Arkan menjadi gemas dan ingin mencubitnya.


“Emm aku tau! Ayo kita pergi aku tunjukan jalannya” serunya lalu menarik tangan Arkan mengikutinya.


Kening Arkan mengerut, kemana tujuan mereka kali ini. “Dimana tempatnya?” tanyanya.


“Ada aja, nanti kamu juga tau” balasnya seraya tersenyum begitu mereka sampai di parkiran dan memasuki mobil.


“Nanti sampai di pertigaan belok kanan” arah Nada yang diangguki oleh Arkan.


Mobil Arkan terus menyusuri jalanan yang kian banyak mobil dan kendaraan berlalu lalang. Dengan tujuan yang berlainan, ada yang sedang berkendara dengan keluarganya, ada yang denga temannya, pacarnya atau para ojek yang mengantar para penumpang.


“Ini kemana lagi Na?” tanya Arkan ketika sudah belok kanan


Mata Nada melihat sekitar dan ia berkata, “Lurus dikit, nanti ketemu pasar malam nah kita kesitu” ucap Nada dengan senyuman dibibirnya.


“Jadi kita ke pasar malam” seloroh Arkan dengan kekehan pelan.


Arkan memarkirkan mobilnya agak jauh karena parkiran terlihat cukup penuh. Setelah terparkir rapi mereka keluar dari dalam mobil dengan raut wajah Nada yang sumringah


“Kamu sering kesini?”


Nada menoleh sekilas ke arah Arkan lalu ia kembali menatap sekeliling yang penuh dengan orang berjualan makanan.


“Dulu sering kesini. Waktu Papa masih ada” jawabnya dengan senyuman masih terpatri di wajahnya.


Arkan menoleh cukup lama pada Nada, ia bisa melihat raut sendu sekilas di wajah Nada. Tapi dengan cepat itu menghilang digantikan senyuman.


“Aku baru tau pasar malam itu rame banget”


“Belum pernah ke pasar malam?”


“Belum. Kan aku pindah ke Jerman waktu kecil, jadi gak pernah tau kalau pasar malam itu serame ini” ucapnya dengan takjub


“Kayanya aku harus sering-sering bawa kamu kesini deh” kata Nada dengan tertawa kecil. Tawa itu rupanya menular pada Arkan.


“Baik kedepannya lebih sering bawa aku ke tempat ini” ucap Arkan sembari memperagakan gerakan tangan meminta. Membuat mereka saling tertawa dengan geli


Semakin memasuki area pasar malam, maka semakin banyak juga orang yang menjual makanan yang sangat menggugah selera makan Nada.


Ia berlari menuju suatu penjual yang menjual permen kapas dengan berbagai bentuk. Tentu saja ia langsung membelinya satu. Ketika ia akan membayar tanpa terencana tangan Arkan juga terulur dengan selembar uang untuk membayar permen kapas yang dibelinya.


“Aku aja” kata Arkan menyodorkan uangnya pada penjual.


Nada menatap Arkan dengan perasaan yang tidak enak, bagaimana tidak tadi saja saat mereka nonton dan membeli yang lainnya Arkan yang membayarkan.


“Nanti aku ganti ya” ucapnya setelah mereka kembali berjalan.


“Gak usah, kalo kamu ganti malah aku akan marah” ancamnya dengan wajah serius.


Nada menghela nafas panjang dan pasrah dengan perkataan Arkan. Ia kembali melihat-lihat makanan yang sekiranya enak. Dan matanya menangkap stand diamsn cilok, siomay dan teman-temannya yang lain berada.


“Ayo kita kesitu” tunjuk Nada dengan antusias.


Arkan hanya mengikuti langkah kaki Nada saja. Matanya melirik makanan yang diberi saos kacang dan saos tomat yang kelihatannya menggiurkan. Matanya beralih lagi melirik Nada yang melihat makan itu dengan mata terpaku.


“Kamu mau ini?” tunjuknya pada makanan dihadapan mereka. Tentu saja hal itu diangguki dengan cepat oleh Nada.


“Mbak ini sama ini dan ini masing-masing dua porsi ya” tunjuknya pada cilok, siomay sama batagor.


Nada menoleh pada Arkan, “Kamu mau beli ini”


“Saosnya apa mas?” tanyanya pada Arkan dengan nada dibuat sehalus mungkin.


“Nah saos apa biasanya kalo kamu makan ini?” tanya Arkan


“Biasanya aku pake saos kacang pedas” sahut Nada.


“Oke mba saosnya seperti yang disebutkan pacar saya” tekannya pada kata pacar, ia juga merasa risih saat mba penjual itu terus saja melihat dia.


“Baik mas” ada guratan kecewa pada wajahnya saat Arkan mengatakan kalau Nada pacarnya.


Tak lama menunggu pesanan mereka sudah siap, Arkan mengajak Nada untuk duduk di sebuah kursi yang disediakan dan ada meja kecilnya. Mereka menaruh makanan itu di atas meja.


“Ini apa namanya?” tanya Arkan dengan menunjuk ke arah siomay.


“Oh ini siomay. Enak banget beneran apalagi saosnya kacang.


Arkan terlihat tertarik, ia mengambil sepotong siomay dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Lalu ia mengangguk merasa makanan ini memang enak sekali.


Melihat Arkan yang menyukai makanannya, membuat Nada tersenyum lalu ikut memakan makanannya.


Mereka terus makan dengan dibarengin oleh rasa ingin tahu Arkan terhadap makanan yang dibeli Nada. Menghabiskan waktu seperti ini rupanya sangat mengasikkan bahkan mereka tidak menyangka hari sudah selarut itu.


Akhirnya setelah puas, mereka beranjak pulang dengan Arkan yang mengantarkan Nada kembali kerumahnya. Sungguh hari ini begitu berkesan buat Nada maupun Arkan.


Bahkan sampai di tempat tidur pun mereka masih mengingat satu sama lain bahkan diam-diam berharap agar bertemu di dalam mimpi.


...***...


Begitu sampai di rumahnya dan Arkan sudah pulang dari rumahnya. Ia melangkah menuju pintu tetapi atensinya teralihkan begitu melihat sebuah paket kecil.


Ia mengambilnya dengan pelan, dan menelisik melihat nama pengirimnya dan ia menemukan nama rumah sakit yang ada di Bandung. Dengan cepat ia membuka pintu rumah dan masuk ke dalamnya.


Setelah masuk ke dalam ia dengan cepat membuka paket itu dan menemukan amplop putih. Membuka amplop dan menemukan sebuah kertas berisi hasil pemeriksaan medisnya.


Matanya menelusuri dengan teliti tiap kata yang tercantum di berkasnya. Setelah selesai ia kembali melipat kertasnya dan memasukkan ke dalam amplop lagi. Tatapan matanya rumit begitu melihat amplop itu.


Nada menghela nafas dan menghembuskan nafas panjang. Lalu membawa amplop itu ke dalam kamar dan menaruhnya di lemari.


...***...


Pagi di hari Minggu ini rencananya Nada akan pergi ke rumah sakit. Ia ingin melihat keadaan Prissil walau dari jauh.


Sampai di rumah sakit, ia langsung menuju lantai tiga dimana tempat Prissil di rawat. Tapi ia tidak masuk ke dalam ruangnya melainkan cuma berada di depan pintu.


Netranya melihat Prissil yang sedang makan dengan disuapi olah Deril. Terlihat ia sudah baikkan walau masih agak pucat. Dalam hatinya tak hentinya bersyukur saat melihat Prissil sudah baik-baik saja.


Tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan Deril. Ia melihat lelaki itu memberikan ia kode untuk menunggu di depan dan diangguki oleh Nada.


Sekitar sepuluh menit kemudian Deril keluar dari ruang rawat Prissil dan mendatangi Nada yang duduk di depan ruang rawat itu.


“Udah lama Na?” tanyanya basa-basi.


Nada mendongak melihat Deril, “Nggak juga kok” balasnya dengan senyum kecil.


“Prissil udah lumayan tenang Na, terus kemarin ia sudah konseling sama psikolog. Jadi kamu bisa tenang sekarang” ucap Deril menjawab pertanyaan yang tidak Nada ajukan.


“Semoga ia tidak mengulanginya lagi” kata Nada dengan pelan.


“Aku nggak ngebolehin Papa sama Mamanya menjenguk karena kata dokter ditahan dulu. Persoalan orang tuanya yang menjadi penyebabnya melakukan hal ini harus dihindari untuk saat ini” jelas Deril dengan membetulkan rambutnya yang jatuh ke atas dahinya.


“Makasih banget Ril kamu udah mau bantu aku dengan melakukan hal ini. Aku gak tau harus apa kalo gak ada kamu” ucap Nada penuh syukur.


“Maksudnya apa?!” tanya seseorang perempuan yang memegang infusnya dan berdiri di ambang pintu. Sontak saja Nada langsung berdiri dari duduknya dan menatap panik Prissil.