Dear Nada

Dear Nada
Api Unggun



Nada terkekeh miris lalu menegakkan tubuhnya untuk duduk tepat di samping depan Prissil.


“Kamu selalu berburuk sangka sama orang ya. Tapi kejadian waktu itu aku gak ada niatan lain dan benar katamu kalau tidak ada orang yang sangat baik di dunia ini. Terlebih aku bukan orang sebaik itu, aku masih bisa marah, sedih dan terluka”


Hening. Prissil tidak menyangka Nada akan membalasnya seperti ini.


“Lalu kenapa Lo ngelakuin hal itu?” tanya Prissil lagi.


“Kenapa ya? Mungkin karena Lo mirip seseorang yang sangat berarti buatku. Seseorang yang aku sangat berutang banyak kepadanya dan tidak bisa dibayar dengan apapun” sorot mata Nada melemah dan suaranya kian lirih.


“Apapun itu, kamu gak usah pikirin apa yang aku lakukan. Hanya jadilah dirimu sendiri dan nikmati hidupmu. Ada banyak orang yang menganggap kamu berarti, bahkan jika ada yang menyia-nyiakan dirimu seharunya dirimu sendiri tidak melakukannya”


Setelah mengatakannya Nada pergi keluar dari tenda meninggalkan Prissil yang hatinya seakan tercubit, semua yang dikatakan Nada membuatnya memikirkan betapa kejamnya dia pada dirinya sendiri.


Sedangkan Nada yang keluar dari tenda menemukan tenda Putri tidak jauh dari tempatnya. Dia melihat Putri melambaikan tangan, dia tidak sendiri melainkan bersama Emma.


“Prissil gak ganggu Lo kan Na?” tanya Putri begitu Nada sampai di depannya.


Nada menggeleng sebagai balasan, “Kalian udah selesai membuat tenda?”


“Sudah. Kelompok gue mah enak karena Frida anak Pramuka dan Debi anak PA jadi bikin tenda sat set sat set aja selesai” ucap Emma mencengir seolah begitu bangga.


Putri menoyor kepala Emma dan berkata dengan sinis, “Dan Lo cuma jadi beban Frida sama Debi aja bangga. Gue mendadak kasihan sama mereka berdua yang kurang beruntung sekelompok sama Lo”


Emma mencebik kesal lalu menyentuh hidungnya malu. Nada yang dari tadi hanya menonton mereka berdua tidak tahan untuk tidak tergelak karena ekspresi lucu diwajah Emma.


Tak lama kemudian suara tepukan tangan terdengar dan ada perintah untuk segera berkumpul. Nada beserta kedua sahabatnya berjalan menuju kerumunan yang didepan terdapat para panitia.


“Berhubung harinya mulai menjelang gelap, kalian semua bisa mencari kayu bakar untuk membuat api unggun malam nanti” ucap kak Alfi dengan pengeras suara agar terdengar jelas.


“Kak mencarinya sesuai kelompok atau terserah aja?” tanya seorang perempuan yang berkuncir kuda.


“Tidak sesuai kelompok, jadi kalian bebas mencari bersama siapa. Tapi ingat jangan jauh-jauh dari sini karena hari sudah hampir gelap. Kalo kalian hilang atau kenapa-kenapa yang rugi kalian sendiri dan selalu pastikan keamanan diri dan teman kalian” ucap Kak Alfi tegas.


“Baik ini ada sedikit kata dari ketua OSIS kita yang sudah berhadir disebelah saya, silahkan” kak Alfi memberikan kesempatan Deril memberikan kata-kata.


Nada memiringkan kepalanya ketika melihat Deril yang berdiri di depan setelah ia tidak melihatnya dimana-mana. Ternyata lelaki itu juga sebagai pendamping dan panitia di kegiatan ini.


“Sebelumnya terima kasih kak Alfi dan teman-teman yang sudah dengan tertib mengikuti kegiatan ini. Tapi aku akan sedikit menambahkan kalau nanti malam akan ada pertunjukan bakat setiap orang atau kelompok dan ada reward jika penampilannya bagus”


Kata-kata Deril menimbulkan keriuhan diantara semua murid dan ada terlihat semuanya sangat menikmati dan senang dengan apa yang diucapkan Deril.


“Apa yang bakal Lo pada tampilin nanti malam?” tanya Emma menatap Nada dan Putri bergantian.


Mendengar pertanyaan Emma membuat Nada memikirkannya juga. Dia sedikit bingung tentang apa yang akan dia tampilin nanti. Terlebih ia begitu gugup kalo diperhatikan orang banyak.


“Gue cuma punya bakal mukul orang. Jadi apa gue harus pukul orang disitu?” ucap Putri dengan polos membuat Emma dan Nada tercengang.


“Sebaiknya jangan deh, ntar yang ada anak orang babak belur kamu yang repot” saran Nada agar Putri mengurungkan niatnya itu.


Nada dan Emma menggeleng dan mengendikan bahu bersamaan.


Kini mereka mencari kayu untuk api unggun bersama. Disana ada juga Arkan dan Kafa dibelakang mereka serta Candra yang tau-tau sudah bergabung dengan mereka saja.


Saat dijalan tadi Nada sempat merasa lemah dan pusing untung Arkan segera menopang tubuhnya. Tapi rasa sakit itu hanya sebentar lalu normal lagi. Arkan menyuruhnya untuk kembali dan membiarkan mereka mencari kayu tapi Nada tidak setuju.


“Nanti jangan jauh-jauh dari aku, kalo sakit lagi bilang Na” ucap Arkan mengingatkan Nada.


“Khem...khem.. yang dibelakang tolong dong berhenti mesra-mesraan dulu. Awal kena azab bikin para jomblo iri” sindir Kafa.


Arkan tidak peduli, ia hanya menatap malas Kafa seolah dan mendengus. “Gak ada yang nganggap Lo bisu kalo gak ngomong sebentar aja”


“Whahaha...parah makanya lebih baik Lo diam aja deh jangan ganggu mereka terima aja nasib jomblo lo”


Emma tidak tahan untuk tidak tertawa melihat wajah Kafa yang masam usai mendengar perkataan Arkan.


“Diem Lo! Nyadar woi Lo juga jomblo! Jadi sesama jomblo jangan saling menghina deh” Kafa menyeringai menatap Emma yang tak berkutik.


Nada ikut tertawa melihat kedua temannya malah bertengkar sendiri. Dia mengajak mereka segara mengumpulkan kayu agar lebih cepat mereka kembali ke tenda karena sudah jam 5 sore.


Sembari mencari kayu, Candra mendekati Putri yang mematahkan kayu agar lebih mudah membawanya.


“Lo kenapa ngikutin gue kesini?” tanya Putri dengan raut tidak senang. Sebenarnya ia sudah tidak tahu harus bagaimana menghadapi Candra.


“Ini gue lagi berusaha tau gak. Semangatin kek, doain gitu biar orang yang lagi gue perjuangin bisa melihat perjuangan gue”


Sedikit rona kemerahan di pipi Putri terlihat tapi ia segera menutupinya dengan berpaling dan tidak melihat Candra.


“Terserah Lo aja!” Putri berlalu sembari membawa kayu yang cukup banyak di tangannya dan mendekati teman-teman yang juga membawa kayu hasil carian mereka.


....


Semua murid yang mengikuti camping terlihat mengelilingi api unggun yang mulai dinyalakan oleh para panitia. Setelah api dinyalakan mereka mulai menyanyikan yel-yel yang sangat bersemangat.


“Sesuai perkataan Deril tadi, malam ini akan ada pertunjukan bakat dan setiap orang bebas mengeluarkan bakatnya. Jangan malu-malu lagian ini buat senang-senang jangan terlalu tegang” ucap Kak Alfi membuka kegiatan yang dilakukan saat api unggun.


Nada duduk disamping Arkan, sedang kedua temannya duduk di sampingnya. Kafa duduk di samping Arkan lalu Candra disamping Putri seolah ia tidak bisa jauh-jauh dari Putri.


Satu persatu siswa maju ke depan, ada yang bernyanyi, ada yang berkelompok dan menyanyikan yel-yel, bahkan ada juga yang dance.


“Ayo siapa lagi yang bakal maju, semakin rame aja nih kalian berbakat semua soalnya” ucap kak Alfi dengan senyum bersemangat.


Arkan menoleh pada Nada dan memberikan kode lewat mata. Nada sempat menggeleng karena ia tidak percaya diri tapi terlambat ia sudah ditarik ke depan oleh Arkan membuat seluruh pasang mata menatap ke arah mereka berdua.


“Arkan apaan sih?! Aku gak mau. Malu!” bisik Nada sepelan mungkin.


“Percaya aja deh” senyum Arkan seolah mengatakan tak apa-apa.