Dear Nada

Dear Nada
Kepribadian Tersembunyi Nada



Dia lain tempat, lebih tepatnya di sebuah bangunan kosong di tempat terpencil. Terlihat Glen menepuk kasar pipi Nada, ia sudah merasa bosan menunggu gadis itu bangun


Mata Nada terbuka sedikit dan menutup lagi. Dia terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya lalu netranya menemukan Glen yang ada di depannya sedang duduk dikursi dengan kaki diangkat ke atas.


“Sudah bangun” monolog Glen sembari membuang cerutunya ke samping.


Nada menatap lurus Glen, matanya menyorot tajam dan datar kepada Glen. Tentu saja lelaki itu tertawa melihat tatapan Nada yang seperti itu.


“Mau marah? Sayang sekali saat ini kamu ada di genggamanku dan hidup mati kamu aku yang menentukan” ucapnya dengan nada mengejek.


Gadis itu sama sekali tidak bereaksi, ia hanya diam menatap datar Glen.


Raut Glen mulai berubah, ia bangkit berjalan mendekati Nada. Rasa tidak puas hinggap dihatinya karena Nada yang tidak terlihat takut dan menangis seperti biasanya.


“Aku paling tidak menyukai tatapan seperti itu! Kau mengingatkanku pada Papamu yang mati itu!” Glen mencengkram kuat dagu Nada hingga wajah gadis itu terangkat ke atas.


“Tapi tenang saja, asalkan kau memohon padaku dan menandatangani surat perpindahan saham kepemilikanmu di perusahaan aku akan melepaskanmu dan ibumu yang saat ini ada di rumah sakit” tawar Glen dengan senyum miring dan melepaskan cengkeramannya.


“Cuih” decih Nada dengan meludah kesamping.


Senyum diwajah Glen memudar dan wajahnya memerah menatap Nada penuh amarah. Ia menampar kuat Nada hingga wajah gadis itu tertoleh ke samping dan sudut bibirnya robek mengeluarkan darah.


Tetapi tatapan matanya tidak berubah masih menatap tajam Glen. Tidak ada rasa takut terlihat diwajahnya seolah emosinya menghilang begitu saja.


Melihat itu Glen menjadi sangat geram ia kalap dan kembali menampar Nada berkali-kali. Nada terkekeh dengan hidung dan bibir yang mengeluarkan darah. Ia tertawa sembari menatap Glen mengejek.


“Anda kira saya akan memohon belas kasihan pada anda hah! Mimpi saja sana!” ucap Nada tajam.


Ucapannya membuat Glen tambah murka pada Nada, tangannya mengambil pisau yang ada di sampingnya dan hendak mengarahkan ke tubuh Nada.


Tetapi sebuah tangan menghalanginya dan menepis kuat hingga membuat pisau itu terjatuh ke lantai. Glen menatap kaget orang yang melakukan hal itu.


“Yah anda sendiri yang membuat semua menjadi seperti ini. Apa boleh buat lagi” ucap Nada dengan ringan dan seringai terbentuk di wajahnya yang cantik sembari berdiri dari duduknya dan melepaskan ikatan di kakinya. Dari awal ia sudah melapaskan tangannya dari ikatan itu.


“Ba-bagaiaman kamu bisa” Glen menampikan ekspresi bingung dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tanpa sadar ia mundur dari tempatnya berdiri.


“Tentu saja bisa. Anda kira setelah apa yang terjadi saya masih menjadi gadis naif dan polos seperti dulu? Sayang sekali anda sedang tidak beruntung saat ini” Nada terkikik melihat pamannya yang menatap waspada dirinya.


Ia mendekati Glen berdiri kaku di depannya, “Kenapa diam? Bukankah permainannya belum usai?” tanya Nada dengan main-main dan mengejek Glen.


“Kau pasti bukan Nada! Nada tidak mungkin bisa melakukan hal ini” Glen menggeleng tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Nada.


“Apa mata anda buta sampai tidak bisa melihat saya ada disini!” ucap Nada dengan sarkas.


Glen menggeleng kencang lalu ia maju dan mengangkat tangannya hendak memukul Nada. Tapi Nada lebih dahulu menangkisnya dan balas memukul lalu menendang keras perut Glen sampai ia tersungkur ke belakang.


Mata Glen semakin melotot ia menatap geram Nada. Tetapi gadis itu tidak terpengaruh.


Nada melirik lelaki berwajah datar yang berjalan mendekati tempat mereka. Lalu Nada mendengus lalu mengerucutkan bibirnya seolah takut dengan kedatangan lelaki yang bernama Aska itu.


“Kamu gak akan bisa melawanku Nada, hahaha” tawa Glen menggelegar di ruangan itu.


Tetapi tanpa dia sadari sudut bibir Nada terangkat melihat pamannya yang sangat puas tertawa.


‘Kau yang memulai permainan ini tapi kami yang akan mengakhirinya’ batin Nada


Langkah kaki Aska berhenti di belakang Glen, tangannya menangkap lengan Glen dengan kasar membuat lelaki paruh baya itu menatap tidak percaya dengan apa yang dilakukan Aska.


“Aska...kamu kenapa saya yang kamu tangkap! Cepat lepaskan!” ucap Glen sembari menggerakkan giginya kuat.


Tetapi telinga Aska seolah tuli, ia tidak melepaskan cengkramannya dan mengangkat kasar lelaki itu lalu ia berbisik ditelinga Glen.


“Bagaiamana rasanya terpojok seperti ini? Bukankah menyenangkan” bisiknya rendah lalu menyeringai melemparkan Glen ke lantai hingga terjatuh ke depan.


Senyum puas menghiasi wajah Nada, ia mendekati Aska dan berdiri di sampingnya. Glen melotot melihat mereka bergantian. Semakin ia berpikir semakin marah dan murka ia ketika tahu orang kepercayaannya malah menghianati dirinya.


“Bagaimana rasanya dihianati oleh orang yang anda percaya?” tanya Nada dengan tatapan menusuk. Andai matanya itu pisau maka sudah bisa melukai Glen berkali-kali.


“Kalian yang diluar cepat masuk! Hei pejaga!” teriak Glen ke arah luar agar para penjaganya masuk ke dalam. Tetapi tidak ada yang masuk, jangankan masuk menyahut saja tidak ada seorangpun. Aska menyunggingkan senyum sinis melihat usaha Glen.


“Anda pikir kami bodoh sampai membiarkan ada orang yang berjaga? Saya terkejut dengan kebodohanmu kalau begitu” ucap Nada sinis dengan melempar tatapan meledek.


Glen mematung ditempatnya, ia melihat sekeliling yang sudah tidak ada satupun orang selain dirinya dan Nada serta Aska. Ia tergelak menyadari posisinya.


“Jadi kalian sudah merencanakan dari lama hal ini?” tanya Glen.


“Untuk apa kami memberitahu orang mati” timpal Aska dengan dingin.


“Dari dulu saya selalu bertanya-tanya apa yang membuat anda ingin merebut perusahaan dan membunuh Papa saya. Saya bahkan tidak pernah sedikitpun terbesit dalam pikiran saya akan ada saatnya kita menjadi musuh seperti ini” kata Nada sembari melangkah mendekati Glen dengan tatapan datar.


Mendengar perkataan Nada, Glen terdiam menutup mulutnya. Tatapan matanya mulai tajam dan menusuk tapi ada sedikit kesedihan yang ditekan di dalamnya.


Ia melirik Nada yang berdiri di depannya dengan tatapan mengejek. Lalu netranya beralih pada lelaki yang dulu merupakan orang kepercayaannya.


“Dibayar pakai apa kamu Aska, apa gadis ini memberikan tubuhnya agar kamu berhianat kepadaku?”


“Jaga mulut anda!” desis Aska tidak terima.


Lelaki paruh baya itu tertawa kencang, “Dan kamu keponakan kecilku. Ckck ternyata demi balas dendam kamu jadi seperti ini, untuk Papa kamu yang jahat itu”


Tatapan Nada kembali menajam, ia mendesis tidak terima dan marah saat lelaki itu mengatakan Papanya jahat padahal bukankah lelaki itu yang lebih jahat karena membunuh Papanya.


“Jangan bicara omong kosong! Jawab saja pertanyaan saya” seru Nada mendesak Glen untuk menjelaskan. Ia ingin sekali lagi mendengar kalau ia membunuh Papanya dam apa alasannya.