Dear Nada

Dear Nada
Arkan Merawat Nada



Setelah mengantar Nada pulang dia kembali ke sekolah karena ada yang harus dia selesaikan. Dia berjalan dengan tergesa-gesa di koridor seraya menampilkan raut wajah menyeramkan. Setelah menemukan kelas yang ditujunya dia mendorong pintu dengan kasar dan mengedarkan pandangannya mengabaikan tatapan terkejut murid di sana.


Arkan menghampiri Prissil dan teman-temannya yang menatapnya heran. Lelaki itu mengeluarkan tatapan seolah akan menelan orang.


“Lo tau gue diajarin buat gak main fisik sama cewe. Tapi itu pengecualian terutama buat Lo!” tuturnya dengan penekanan dan tatapan tajam ke arah Prissil.


“Apa-apaan sih Lo datang-datang ngancam gue” sahutnya tidak terima.


“Sekali lagi Lo nyakitin Nada, gue gak akan segan-segan membalas Lo lebih dari yang diterima Nada!” suaranya pelan tetapi ada ancaman yang nyata di setiap kata yang diucapkan nya.


“Lo siapanya Nada sih? Dibayar berapa Lo sama Nada, dibayar pakai tubuhnya?” ejeknya di sambut tawa oleh Dizzy dan Lesta.


Arkan menggeprak meja dengan keras membuat seisi kelas terkejut. Tatapannya makin mengerikan membuat Prissil langsung menghentikan tawanya.


“Nada gue bukan sepeti Lo! Dia jelas lebih baik dari Lo. ******!” bisiknya pelan saat mengucapkan kata terakhir di telinga Prissil. Gadis itu langsung mematung dan wajahnya seketika pias. Dia menatap terkejut Arkan yang tersenyum miring.


“Ingat kata gue di otak kecil Lo itu! Gue gak pernah main-main dengan ucapan gue!” lelaki itu kemudian berjalan keluar dari kelas itu diiringi tatapan penasaran oleh seluruh siswa di kelas itu.


Prissil yang masih mematung di senggol oleh Dizzy. “Dia bilang apa Sil? Kok Lo diam gitu” tanyanya penasaran.


Prissil menggeleng dan tidak mengatakan apapun dia keluar dari kelas dengan raut kesal yang menumpuk. Temannya yang lain hanya mengendikan bahu.


***


Nada membuka matanya perlahan, dia merasakan pening dan rasa berat di kepalanya. Dia memaksakan bangun karen tenggorokanmya kering, dia mengambil gelas di samping tempat tidurnya tetapi gelas itu kosong. Nada menghela nafas lalu menyingkirkan selimutnya dan bangun dengan sempoyongan.


Dia berjalan dengan pelan karena rasa pening di kepalanya semakin bertambah ketika dia berdiri. Sampai di dapur dia segera mengisi gelasnya dengan air putih. Tetapi karena tangannya yang terasa lemas dan bergetar, dia kehilangan pegangannya pada gelas dan membuatnya jatuh ke lantai dengan suara keras.


“Apa yang Lo lakuin?!” sentak seseorang yang baru datang seraya menarik tangan Nada dari pecahan gelas.


Nada mendongak melihat Arkan lalu menoleh lagi pada pecahan di lantai. “Mengambil pecahan gelas” jawabnya nyaris tidak terdengar.


Arkan menyadari suhu tangan Nada yang hangat, dia membulatkan matanya dan menaruh telapak tangannya di dahi Nada.


“Lo demam? Terus ngapain di sini?!” tanyanya dengan geram.


Nada menepis tangan Arkan yang menempel di dahinya, “Aku haus” jawabnya.


“Lo balik aja ke kamar! Nanti gue bawain air” perintahnya sembari mengarahkan Nada kembali ke kamarnya.


Setelah memastikan gadis itu aman di kamarnya, dia bergegas mengambilkan air minum dan membawanya ke kamar Nada. Lelaki itu melihat Nada yang terbaring.


“Na bangun dulu, ini air minum lo” seraya membangunkan Nada dan dia meminumkan langsung air itu ke mulut Nada.


“Kita ke dokter aja ya” ucapnya yang membuat Nada membulatkan matanya.


“Gak usah nanti sembuh sendiri kok setelah minum obat” tolaknya.


“Tapi..”


“Gue pesan bubur dulu aja sebelum Lo minum obat” ucapnya pasrah karena Nada tidak mau ke rumah sakit. Lalu dia memesan bubur lewat handphone nya, dia bukannya tidak ingin membuatkan sendiri tetapi dia tidak bisa memasak dari pada rasa buburnya jadi aneh lebih baik dia memesan saja.


“Sekarang sudah jam berapa?” tanya Nada pelan


“Jam 4 sore”


“Hah! Astaga aku udah telat ke restoran” Nada refleks bangkit dari tempat tidurnya.Arkan terlihat kaget ketika Nada yang bangun tiba-tiba.


“Eh mau kemana?” tanyanya ketika Nada yang hendak turun dari kasurnya.


“Kerja”


“Lo benar-benar ya! Udah gue izinkan kok kalo Lo sakit dan nggak bisa masuk kerja” ucapnya dengan memberengut kesal.


“Benaran?” tanya Nada memastikan.


“Lo kenapa jadi nyebelin sih” Arkan mulai menunjukkan raut dinginnya karena Nada yang keras kepala.


Nada menutup mulutnya lalu kembali berbaring dan tidak berbicara. Dia tau Arkan kesal dengan dirinya tetapi gimana lagi dia tidak ingin di pecat dari pekerjaannya karena itu tempat dia menggantungkan hidupnya.


Bubur yang dipesan Arkan sudah datang lelaki itu menenteng bubur menuju kamar Nada. Dia membuka wadahnya dan menyuruh Nada menyender untuk membuatnya nyaman. Gadis itu menuruti perkataan Arkan.


Nada memperhatikan Arkan yang mengaduk buburnya yang masih terlihat panas. Lalu menyendoknya dan mengarahkan ke arah Nada. Gadis itu mengerutkan keningnya, apa maksud Arkan.


“Sini gue suapin”


Nada membulatkan matanya dan menggeleng “Aku aja sendiri” Gadis itu ingin mengambil alih wadah bubur dari tangan Arkan tetapi lelaki itu menjauhkannya.


“Nurut deh sama gue” titahnya dengan tatapan tak ingin di bantah.


Nada akhirnya pasrah ketika Arkan menyuapinya bubur. Saat suapan pertama memasuki mulutnya dia merasa buburnya hambar. Sungguh dia ingin memuntahkan bubur di mulutnya. Tetapi dia melirik tatapan Arkan yang menyorotnya tajam dia dengan paksa meneguk bubur itu.


Suapan demi suapan dimakan Nada dengan sudah payah akhirnya habis. Setelah menyelesaikan makannya Arkan memberikannya obat penurun demam dan menyuruhnya meminumnya dengan dimasukkan ke dalam pisang. Dia tau Nada tidak bisa meneguk obat kalau tidak begini.


Nada merasa hatinya menghangat ketika Arkan bahkan tau dia tidak bisa meneguk obat. Lelaki itu terus merawatnya dengan telaten. Dia tidak tau mengapa lelaki itu sangat baik padanya. Kadang Nada ingin waktu berhenti sebentar di sini, tetapi dia tau itu tidak mungkin.


Setelah meminum obat mata Nada terasa berat mungkin karena pengaruh obat yang dia minum. Tanpa terasa dia mulai tertidur.


Arkan menatap wajah damai Nada saat tertidur. Dia terus-menerus memperhatikan wajah gadis itu. Lalu tangannya terangkat menyentuh anak rambut yang menutupi wajah polos Nada.


“Maaf gue terlambat datang. Harusnya gue nggak pernah tinggalin Lo sendiri” ucapnya dengan lirih dan tatapan melemah.


“Tapi sekarang gue udah datang jadi Lo bisa serahin beban Lo sama gue. Gak akan gue biarin satupun orang menyakiti Lo lagi” tangan Arkan yang berada di pangkuannya mengelak erat dan tangan yang satunya terus mengusap rambut Nada.


Lelaki itu tersenyum lembut lalu bangkit dari tempat duduknya dan mendekatkan wajahnya ke muka Nada. Dia mengecup pelan kening Nada dan setelahnya merapikan selimut gadis itu.