Dear Nada

Dear Nada
Masih Di Rumah Sakit



Nada menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki yang berat terdengar mengalun di telinganya. Ia diam melihat Deril yang mendekat dengan raut muka tak terbaca.


“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lirih. Nada tidak tahu apa yang menyebabkan lelaki itu terlihat sekacau ini.


“Emm... udah baikan” jawab Nada dengan mengangguk


“Na...” di mata Nada ia terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi entah mengapa ia malah terdiam.


“Ada yang mengganggu kamu Ril?” tanya Nada penasaran. Deril membuang muka dengan hembusan nafas kasar seolah menyiratkan sesuatu yang berat untuk dikatakan.


“Ini mungkin nggak bener dan mungkin saja salah” gumamnya yang menggeleng berusaha tidak mempercayai perkataan Dokter tadi.


”Apa...yang kamu maksud itu sesuatu yang buruk” terka Nada menatap lekat Deril.


Detil tercekat mendengarnya, lidahnya kelu ia berusaha menguatkan hatinya.


“Kamu... sakit Na” ucapnya dengan menunduk, tak mampu melihat Nada.


“Sakit? Maksudnya?” Nada bangun dan berusaha duduk mukanya yang pucat menatap bingung Deril. “Aku tahu aku sakit tapi cuma butuh istirahat sebentar juga bakal sembuh”


“Enggak Na sakit kamu tidak akan sembuh hanya dengan istirahat” sanggah Deril dengan putus asa.


“Kamu kenapa sih Ril memangnya aku sakit apa coba?” gestur tubuhnya ada berubah Ia menatap Deril tidak mengerti.


“Leukimia” ucap Deril singkat sungguh ia berusaha mati-matian untuk bisa mengatakan satu kata ini.


Nada tertegun telinganya masih berfungsi dengan baik jadi dia masih mendengar perkataan Deril. Ia tertawa sumbang yang penuh dengan kebimbangan, ketidak percayaan, dan keputusan.


“Kamu bercanda kan” cerca Nada tidak percaya.


Deril diam tidak ikut tertawa ataupun tersenyum. Nada menelisik mimik muka Deril dan tidak dia temukan ekspresi bercanda atau senyum tidak serius. Yang dia lihat hanya ekspresi kesedihan, kekalutan dan ketakutan yang dalam.


“Ternyata tidak bercanda, ya” monoloh nada dengan tatapan kosong tak bisa digambarkan lagi betapa hancurnya dirinya saat ini. Tentu saja ia tahu apa yang diwakili oleh kata leukimia tak pernah sedikitpun terbesit di pikirannya akan ada saatnya dirinya akan mengalami hal ini.


“Tapi bisa saja dokter itu salah, belum tentu juga kamu mengidap penyakit itu, kan” ucap Deril dengan tatapan meyakinkan.


“Lalu apa? Kalo hal itu benar bagaimana?” tanyanya yang entah ditujukan pada siapa.


Deril kehabisan kata-kata, ia termangu. Benar juga kalo hasil tes itu memang benar sesuai apa kata dokter. Bagaimana?


“Aku mau sendiri dulu” ucap lirih Nada membuang muka ke samping.


Deril ingin tetap berada di sana, tetapi ia tahu Nada membutuhkan waktu untuk menerima ini semua. Lelaki itu bangkit dan berjalan keluar dari ruangan tempat Nada di rawat.


Sepeninggalan Deril, Nada menutup mukanya dengan kedua tangannya dan terdengar isakan pelan. Bahunya naik turun dengan nafas memburu.


Mengapa?


Tanyanya dalam hati, apa tidak cukup cobaan yang dia alami hingga harus mengidap penyakit itu. Dadanya sangat sakit seolah dunianya runtuh, dalam benaknya berseliweran pikiran buruk. Apakah dia akan mati secepat ini? Atau separah apa sudah penyakitnya.


Dia menjerit dalam hatinya seraya memukul pelan dadanya yang kian terasa sesak. Ia masih memiliki tanggungan, gimana mamanya kalau dia sakit atau buruknya malah tiada.


Atensinya teralihkan ketika handphone nya berbunyi, ia cepat-cepat menghapus air matanya dan mengambil handphone yang terletak di atas meja samping brangkar. Tertanda nama sang penelepon adalah 'Arkan'


Nada menetralkan suaranya dan emosinya lalu mengangkatnya.


“Halo, Nada”


Suara maskulin Arkan masuk ke telinganya.


“Halo, ada apa?” tanyanya berusaha agar suaranya tidak bergetar.


“Kamu kenapa? Suara kamu berbeda”


“Benarkah? Terus kapan kamu pulang?” suara diujung sana terdengar memelas.


“Emang kenapa kalau aku pulang” ucap Nada dengan terkekeh kecil. Memang Arkan bisa membuatnya melupakan sejenak hal yang baru saja terjadi.


“Mau aku kurung biar aku tidak tersiksa rindu seperti ini”


“Oh ya udah kalau gitu aku sering-sering aja pergi biar kamu rindu terus sama aku” kelakar Nada membuat decakan terdengar dari seberang sana.


“Mommy katanya khawatir sama kamu. Dia bilang firasatnya enggak enak jadi dia ingin aku menanyakan hal ini. Kamu baik-baik aja kan sekarang?” nada suara Arkan terdengar serius


Nada terdiam sebentar ternyata naluri Mommy begitu kuat, dia bahkan merasakan kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja.


“Bilang ke Mommy aku baik-baik aja. Semuanya aman kok jadi dia gak perlu khawatir” ucap Nada berusaha tersenyum walau tidak ada yang melihatnya.


Bohong


Ya ia berbohong mengenai hal ini nyatanya tidak begitu.


“Arkan udah dulu ya, udah malam aku lelah habis mengerjakan soal tadi”


“Ohh...oke aku tutup. Selamat malam Nada-ku, tidur yang nyenyak” ucapnya setelah itu sambungan telepon mati.


Tangan Nada yang memegang handphone nya jatuh terkulai lemas. Ia menaruh handphone nya ke tempatnya kembali dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan berusaha memejamkan matanya sambil berharap hal yang terjadi hari ini hanya mimpi.


...***...


Di Jakarta, rumah Arkan.


Arkan yang sedang berada di balkon kamarnya terdiam setelah ia menutup telepon dari Nada. Entah kenapa perasaannya mengatakan ada yang berbeda dari Nada. Ia berharap itu hanya perasaanya saja.


Matanya melirik handphone nya yang menyala dan menampilkan kalau ada orang yang memanggilnya. Ia mengangkat panggilan itu dan menempelkan handphone nya ke telinganya.


“Bagaimana?”


“Sudah aku duga, ingat perketat keamanan gadisku jangan pernah lengah” nada suaranya menajam seketika mendengar apa yang disampaikan seseorang di telepon itu.


“Lelaki itu tidak akan menyerah semudah itu, dia pasti akan berusaha untuk mencelakai keponakannya lagi”


“Baik kerja bagus, terus amati dia”


Setelah menutup panggilannya dan menyimpan handphone nya. Arkan menaruh tangannya di atas pembatas balkon dan tatapannya menerawang jauh. Menghembuskan nafas panjang dan tatapannya menjadi tajam ketika mengingat saat itu Nada hampir di tabrak adalah ulah paman dari Nada.


“Pria itu begitu tamak akan harta, huh” dengusnya dengan menyeringai mengerikan.


Ia mengangkat handphone nya lagi ketika mendengar sebuah notif pesan. Tertera nama pengirim pesan itu adalah Kafa, sepupu gilanya.


Kafa


Woi nyet Lo gak mau ke sini bentaran?


Temenin gue barang


Eh malah dibaca aja, bales kali dianggurin baek.


Arkan mendengus melihat pesan yang dikirimkan Kafa, ia tahu lelaki itu pasti berada di bar. Seperti dugaannya tidak mungkin lelaki itu mengikutinya tanpa maksud. Kelihatannya ia ada masalah dengan seseorang atau sedang menghindari seseorang itu.


Arkan


Kirim alamatnya. Tunggu gue


Ingat jangan mabuk Lo!