
“Kenapa diam?!” bentaknya membuat Nada dan Deril yang terdiam tersentak kaget.
“Kenapa kamu keluar? Lo masih belum pulih” ucap Deril mendekati Prissil.
“Jawab gue! Kenapa dia disini?” tunjuknya pada Nada.
“Prissil...a-aku” ucap Nada terbata menatap Prissil dengan panik.
“Lo pasti mau ngetawain gue, kan? Lo pasti berpikir kalo gue semenyedihkan itu!” ucapnya lagi dengan tatapan nyalang.
“Aku gak maksud gitu. Aku cuma mau–”
“Halah Lo gak usah sok baik gitu! Lo pasti seneng kan liat gue gini!”
“Atau Lo caper ke Deril dengan sok datang ke sini dan mengasihani gue” tuduh Prissil dengan tajam. Nada menggeleng kuat dengan mata berkaca-kaca.
“Udah Sil Nada itu bermaksud baik, dia cuma mau jenguk lo” Deril akhirnya angkat suara ia merasa Prissil sudah keterlaluan terhadap Nada, padahal gadis itu selalu menghawatirkan dirinya.
“Belain aja terus! Lo emang suka kan sama dia jadi mau bagaimana dirinya tetap aja dimata Lo baik!”
“Tapi Lo yang salah asal tuduh Nada gitu aja” balas Deril berusaha menjelaskan dengan pelan
“Terus gue tanya tujuan Lo ke sini itu apa?!” Prissil menatap tajam Nada.
Nada tidak tahu bagaimana menjelaskannya, apa yang harus ia jawab. Kalo dia bilang ingin menjenguk maka tentu saja Prissil tidak akan percaya. Tapi jika dia bilang ia ingin memastikan keadaanya tetap juga tidak bisa. Memangnya mereka sedekat apa? Dan ia tidak bisa mengatakan kalau dia adalah sahabatnya.
Karena itu ia memilih bungkam dan pergi dari situ. Jika tidak pergi ia tak yakin bisa menahan air mata yang hampir jatuh dipelupuk matanya.
Deril berusaha mencegah Nada tapi tidak berhasil. Ia beralih menatap Prissil yang wajahnya masih memerah karena amarah.
“Lo bisa nggak sekali aja pake hati nurani Lo? Selama ini sikap Lo tuh kekanakkan tau gak. Memangnya hanya kamu yang punya masalah disini?! Lo gak tau kan Nada nunggui Lo sampai Lo sadar tanpa setahu Lo. Yang bahkan teman-teman muna Lo itu gak ada yang jenguk satupun. Dan apa balasan Lo ke Nada” tertawa sumbang. “Lo nggak pernah bisa ngehargain orang gimana bisa orang ngehargain diri lo” ucapnya menusuk tepat pada perasaan Prissil
Saat Deril pergi dari hadapannya, ia bahkan tidak bergeming di tempatnya dan terpaku menatap lantai. Ia mencengkram erat dadanya yang berdenyut nyeri mendengar perkataan dari lelaki itu.
“Apa aku sejahat itu dimata Lo Ril?” tanyanya lirih berbicara sendiri.
“Gue cuma mau melindungi apa yang berharga buat gue. Apa gue salah? Andai Lo enggak jatuh cinta sama Nada gue gak akan menjadi seperti ini” gumamnya dengan air mata mengalir dipipinya.
“Nona kenapa anda keluar? Anda belum pulih, mari saya antar ke dalam kamar” ucap seorang suster dengan sigap menopang tubuh Prissil yang hampir jatuh.
Suster itu membantu Nada masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan gadis itu dengan perlahan ke atas kasur rumah sakit. Setelah memastikan Prissil sudah berbaring dengan aman ia pergi dari ruangan itu.
...***...
Perasaannya saat ini begitu kacau, ada bagian dari hatinya yang terluka ketika melihat orang yang dulu menjadi sahabatnya terus menatapnya dengan asing dan penuh kebencian.
Kakinya membawanya ke sebuah taman di depan rumah sakit. Di sini banyak pasien yang berjalan-jalan menggunakan kursi roda atau dipapah oleh keluarganya. Ada juga yang ditemani suster.
Ia duduk di sebuah kursi dan menghapus air matanya dengan kasar. Ia sudah memaki dirinya agar menghentikan air mata itu, tapi ia tidak bisa.
Hari ini perasaannya masih kacau, biasanya ia bisa lebih tahan dari pada ini tapi kali ini ia tidak bisa.
“Kakak cantik kenapa nangis?” tanya seseorang dengan suara kekanak-kanakan, membuat Nada mengangkat kepalanya dan mengusap pelan air matanya.
“Kakak gak nangis cuma kelilipan” ucap Nada berusaha tersenyum.
“Kenapa orang dewasa suka menutupi sesuatu dengan senyuman kaya Mama sama Ayah? Kakak enggak kelilipan kan tapi kakak nangis” celetuk anak itu dengan mulut dimajukan.
“Nama aku Edo” jawabnya dengan bersemangat. Edo mengenakan baju pasien berwarna biru, entah dia dirawat karena apa Nada juga tidak tahu.
“Edo sendiri ke sini, Mama Edo kemana?” tanya Nada pelan.
“Tadi Edo kesini sendiri karena bosan dikamar terus” ucapnya dengan cemberut.
“Kamar? Edo sakit ya”
“Edo pernah dengar Mama bicara sama Ayah kalau penyakit Edo gak bisa sembuh terus mereka nangis dan bilang hidup Edo tinggal sedikit” jelasnya dengan wajah biasa.
Ya Tuhan, batin Nada. Ia tidak menyangka kalau anak sekecil itu sudah mengidap penyakit separah itu. Mungkin karena Edo masih kecil ia tidak mengerti atau entah lah Nada juga tidak tahu.
“Kakak kenapa nangis lagi? Kelilipan lagi?” tanya Edo memiringkan kepalanya dengan polos.
Hati Nada terenyuh mendengar pertanyaan polos dari anak itu, ia lekas saja menggelang dan mengusap air matanya.
“Edo tau? Kamu hebat sekali bahkan kakak tidak bisa seperti itu. Edo benar kalau orang dewasa suka berbohong bahkan dengan dirinya sendiri. Tapi itu cara mereka bertahan. Mungkin Mama Edo seperti itu karena dia tidak ingin Edo khawatir” ucap Nada berusaha menjelaskan.
“Kalian terlalu rumit, Edo tidak mengerti” balasnya dengan gelengan kepala.
“Enggak papa kalo Edo gak ngerti” ucap Nada dengan tersenyum pada Edo.
Lalu Edo terus bercerita dengan Nada, ia kelihatan sangat senang bertemu dengan orang lain. Nada menatap rumit anak kecil yang tertawa di hadapannya itu.
“Edo!!” panggil seorang wanita di dekat gazebo dengan wajah panik.
Edo lantas menoleh tapi ia kembali berbalik menatap Nada yang arah pandangannya pada wanita di sana.
“Edo gak tau masalah kakak apa, tapi Edo berharap kakak akan selalu kuat. Nanti kalo kita ketemu lagi Edo mau kakak nggak nangis lagi. Udah ya Edo mau ke mama. Bye bye kakak cantik” ucapnya dengan tersenyum dengan menampilkan giginya yang rapi, ia memberikan Nada sebuah permen. Lalu berbalik berlari kecil menuju wanita yang Nada duga adalah ibunya.
“Bye bye Edo semoga kita masih memiliki kesempatan untuk saling bertemu” gumam Nada dengan tatapan sendu.
Ia tidak tahu apakah ini sebuah takdir dia bertemu dengan seorang anak yang juga mengidap penyakit bahkan usianya sudah divonis. Dia bahkan masih anak-anak, mereka masih belum merasakan banyak hal dalam hidup.
Dari tempat ia duduk, Nada dapat melihat ekspresi lega dari wanita yang kemungkinan ibu dari Edo. Wanita itu memeluk dengan erat anaknya seolah menyiratkan kelegaan yang begitu besar.
Sebuah tangan menepuk bahunya dari samping. Ia menoleh dan menemukan Deril menatapnya dengan khawatir. Lelaki itu bisa menemukan ada yang tidak beres dari Nada saat gadis itu datang pertama kali.
“Maafin Prissil Na, emosinya masih belum stabil pasca insiden ini. Walau aku tidak menyangka reaksinya akan sebesar ini” Deril membuka suara pertama kali.
“Aku tau. Salah aku juga yang gegabah ingin menjenguknya, harusnya aku jangan sampai terlihat olehnya” balas Nada dengan senyum kecil di wajahnya yang sembab.
Deril duduk di samping Nada, karena kursi itu masih terasa luas untuk diduduki dua orang.
“Kamu ada masalah lain?” tanyanya dengan hati-hati.
Terlihat Nada gelagapan dengan pertanyaan dari Deril. “Nggak ada masalah kok” ucapnya seraya berusaha menormalkan suaranya.
“Jangan boong Na. Apa ini masalah yang di Bandung itu?” tanyanya dengan menelisik.
Mendengari pertanyaan dari Deril, Nada menatap sekeliling dengan pandangan menerawang. “Aku tadi bertemu dengan seorang anak kecil yang hebat Ril”
“Anak kecil?”
“Ya, namanya Edo. Dia anak yang sangat unik” ucapnya lagi. Tatapannya terarah pada sebuah permen di tangannya.