
Suasana di depan rumah Nada kini kian terasa canggung dengan keterdiaman mereka semua. Arkan dengan tatapan datarnya menatap Nada yang berada dirangkulan Deril. Dan Nada yang tidak tahu harus berbicara atau berbuat apa.
Arkan mulai melangkahkan kakinya perlahan, tetapi setiap ayunan langkah kakinya membuat jantung Nada kian berdenyut dengan tatapan menusuk lelaki itu.
“Dari mana?” tanyanya dengan nada datar dan menatap lurus Nada yang terkesiap.
Nada tidak tahu harus menjawa apa pertanyaan lelaki itu. Apa ia harus mengatakan kalau ia habis dari rumah sakit gitu dan nanti malah Arkan mengetahui rahasianya.
“Kenapa diam?” tanyanya lagi ketika melihat Nada yang hanya diam menatap dirinya seolah sangat sulit untuk mengatakan kemana mereka berdua tadi
“Bisa gak kalo–”
“Lo bisa diam atau lebih baik pulang aja sana. Lo udah gak dibutuhin disini, dan itu lebih bagus buat lo” potong Arkan melirik Deril tajam.
Nada melepaskan rangkulan Deril dan menyuruh lelaki itu untuk pergi saja dari sini. Karena ia butuh ruang untuk dirinya dan Arkan berbicara.
Terlihat dari gerakan tubuh Deril, ia tidak ingin pergi dari sana. Tetapi permintaan dari Nada dan tatapan tajam dan menusuk yang Arkan arahkan padanya membuatnya dengan berat hati meninggalkan Nada disana bersama dengan Arkan.
Nada menelan ludah menarik nafas dalam-dalam, matanya melirik sedikit ke arah Arkan yang mana lelaki itu terlihat sangat murka. Lalu ia dengan cepat menunduk
“Aku gak nyangka kalo baru aja datang terus langsung ke rumah kamu berharap ada kamu yang nyambut aku dengan bahagia dan terkejut dengan kedatanganku yang lebih cepat. Tapi apa? Malah aku yang terkejut melihat kamu pulang dengan lelaki yang nyata-nyatanya menyukai kamu!!” ucap Arkan dengan sedikit membentak
Tidak bisa-bisa berkata-kata itu yang tepat untuk menggambarkan situasi Nada saat ini. Rasanya jantungnya bagai diremas saat melihat tatapan Arkan yang penuh kemarahan kekecewaan padanya
“Nggak! Bukan gitu Arkan, dengerin aku dulu. Deril itu cuma nganterin aku aja soalnya aku lagi gak enak badan. Gak lebih beneran” ucap Nada menggeleng keras dengan bibir bergetar. Sungguh ia tidak ingin lelaki di hadapannya ini salah paham padanya.
“Tapi kamu bisa minta tolong yang lain kan, kamu juga bisa naik taksi gak perlu bareng sama dia!” cerca Arkan dengan tatapan masih tajam dan wajahnya memerah karena marah.
Bukan sepeti itu. Ingin sekali Nada menjerit dan bilang kalau hal ini tidak seperti yang dipikiran Arkan. Tapi ia juga tahu saat ini lelaki itu tidak dapat menerima penjelasan apalagi pembelaan dari dirinya.
“Kamu gak khianatin aku kan?”
Mata Nada membelalak kaget begitu mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir lelaki itu. Entah apa yang terjadi hingga ia menuduh dirinya menghianati cinta mereka.
“Aku gak pernah khianatin hubungan kita. Kamu gak percaya sama aku, Arkan?” tanya Nada dengan tatapan tidak percaya.
Tatapan Arkan sedikit rumit dimata Nada. Ia merasa lelaki itu mulai curiga kepadanya. Padahal ia sedikitpun tidak pernah terbersit dipikirannya untuk menghianati hubungan mereka.
“Kayanya kamu butuh istirahat, lelah kan? Jadi lebih baik kamu pulang dan tenangin pikiran kamu termasuk aku sendiri. Setelah itu baru kita bicarakan lagi dengan kepala dingin” ucap Nada berusaha tenang dan menyuruh Arkan pulang untuk istirahat.
“Kamu usir aku?” tanya Arkan dengan tatapan tidak percaya.
“Bukan ngusir tapi seperti yang pernah kamu bilang. Kita butuh waktu untuk mendinginkan kepala dan prasangka kita”
Lagian saat ini kondisi tubuhnya sedang lemah, ia tidak bisa lama-lama berdiri dan harus segera istirahat.
Akhirnya lelaki itu pamit pada Nada dan berlalu dari rumah pacarnya itu. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang berkembang dikepalanya beserta ketakutan yang sedang menghantuinya. Ia akui Deril itu tidak kalah tampan darinya dan ia juga berprestasi serta lelaki itu juga begitu tulus mencintai Nada.
Sedang Nada yang sendirian di teras rumahnya memutuskan untuk masuk dan segara menuju kamar. Saat ini semua bagian tubuhnya terasa sangat sakit. Ia hanya ingin tidur dan mengistirahatkan seluruh tubuhnya.
***
Rencananya hari ini ia ingin mengajukan surat untuk resign dari pekerjaannya. Ia membutuhkan banyak waktu untuk penyembuhan dan ini juga perintah dari Bian yang tidak mau Nada terlalu lelah.
Ia memasuki restoran yang sudah terlihat ramai karena sudah pukul 10 siang. Ia menyapa beberapa pekerja yang dikenalinya. Kakinya terus melangkah menuju ruangan di bagian dalam restoran dimana ruangan itu merupakan tempat manajer restoran, Mas Abdi.
Mengetuk lebih dahulu dan setelah ada sahutan dari dalam, Nada menarik kenop pintu dan mendorongnya pelan. Ia melirik mas Abdi yang sedang sibuk dengan berkas-berkasnya.
“Eh Nada, bukannya hari ini kamu libur. Kenapa malah disini?” tanyanya begitu melihat Nada yang masuk dan mendekati mejanya.
“Cuma mau datang buat ngurus sesuatu mas” jawab Nada dengan tersenyum canggung
“Duduk dulu gih” tangannya memberikan isyarat untuk menyuruh Nada duduk di kursi yang berada tepat di depannya. Nada mengangguk dan duduk dikursi depan mas Abdi.
“Nah sekarang kamu mau ngapain nemuin mas disini?” tanya mas Abdi setelah melepas kaca matanya dan memfokuskan menatap Nada.
Nada tidak menjawab tetapi ia membuka Tote bag yang di awalnya dan mengambil sebuah amplop berisi sebuah kertas.
Mas Abdi mengambil amplop itu sembari terus menatap Nada meminta penjelasan. Tapi sayangnya Nada tidak memberikan penjelasan apapun. Perlahan ia membuka amplop itu dan membaca kata yang tertulis di selembar kertas itu.
Terlihat ia terkejut dan menatap Nada seolah tidak percaya, “Yang kamu serahkan ini benar?” tanyanya memastikan
Nada mengangguk mantap. “Iya mas, itu udah keputusan Nada”
“Tapi kenapa? Bukankah kamu udah nyaman bekerja disini” balas mas Abdi lagi. Sungguh sayang ia melepaskan karyawan yang memiliki banyak kebisaan.
“Cuma mau lebih fokus ke pelajaran aja mas. Kan gak lama lagi ujian kenaikan dan kelas dua belas nanti sudah harus benar-benar fokus” ucap Nada dengan sungguh-sungguh.
“Kamu sudah benar-benar yakin?” tanya mas Abdi sekali lagi dan Nada mengangguk lagi dengan pasti.
“Baiklah kalau begitu, mas akan setujui permintaan resign kamu dan nanti jangan lupa ambil gaji terakhir kamu di bagian keuangan” ucap mas Abdi dengan pasrah.
“Terima kasih banyak mas” ucap Nada dengan senyum terkembang di bibirnya.
“Sama-sama, nanti kalau butuh bantuan bisa langsung bilang sama mas” ucap mas Abdi juga dengan senyum simpul.
Setelah itu Nada keluar dari ruangan mas Abdi, ia ingin mengatakan pada Vika tapi, ini belum waktunya shift Vika jadi ia akan menunggu sembari ikut membantu yang lainnya karena saat ini restoran sedang rame sekali.