Dear Nada

Dear Nada
Hampir Ditabrak II



Arkan sudah duduk dengan tenang di sofa ruang tamu rumah Nada, sedang Nada duduk di seberangnya. Lelaki itu menyilangkan tangannya di dada dengan tatapan lurus ke arah Nada.


“Coba jelasin” ucapnya.


“Harus banget?” tanya Nada dengan sedikit enggan untuk menjelaskan.


“Harus” tekan Arkan.


“Tadi itu aku gak sengaja ketemu Deril, dia menyelamatkan aku yang hampir tertabrak tadi-”


“Tertabrak?! Kamu hampir tertabrak kenapa enggak bilang dari tadi. Kamu baik-baik aja atau ada yang luka?” tanya Arkan memotong perkataan Nada dengan ekspresi khawatir terlihat jelas.


Nada tersentak ketika melihat Arkan mendekatinya dan menelisik apakah dirinya ada memiliki luka sampai netra Arkan menangkap sebuah plester luka di siku Nada dan sebuah lebam kecil di lengan Nada yang satunya.


“Tenang aja udah diobati kok sama Deril tadi” ucap Nada menenangkan Arkan yang rautnya sudah berubah dari tadi.


“Tetap aja! Harusnya aku mengikuti kamu kemanapun agar gak ada kejadian kaya gini lagi” ucap Arkan penuh sesal.


“Lagian aku gak pa pa kok cuma luka kecil aja” Nada meyakinkan Arkan dengan sungguh-sungguh.


“Gimana kalo ini terjadi lagi dan aku gak ada sama kamu?” tanyanya dengan kalut.


“Hush..malah ngomong yang gak baik. Emang kamu mau aku ditabrak lagi” sahut Nada sedikit kesal. Iya sih lelaki itu memang khawatir tapi gak kaya gini juga kali.


“Ya enggaklah”


“Kamu gak pulang” ucap Nada setelah mereka diam-diaman.


Arkan mendelik kecil, “Kamu ngusir aku?” sahutnya tidak terima.


“Bukan ngusir sih, tapikan ini udah malam banget”


“Ya udah aku pulang” Arkan bangkit dan berjalan keluar diikuti Nada di belakangnya.


“Hati-hati” ucap Nada mengingatkan Arkan.


“Kamu juga, tidur yang nyenyak” ucapnya dengan seulas senyum ringan lalu masuk ke dalam mobil menyalakannya dan membawa keluar dari pekarangan rumah Nada.


Setelah mobil Arkan berlalu dari hadapannya, ia menghela menghembuskan nafas panjang dan masuk ke dalam rumah. Ia mengunci pintu dengan erat dan mendudukkan dirinya di sofa.


“Mereka siapa?” gumamnya pelan.


“Apa yang mereka inginkan sebenarnya” lirihnya karena beberapa hari ini ia selalu merasa diikuti dan diawasi sampai puncaknya hari ini yang dia hampir di tabrak mobil.


Ia bukan orang yang ceroboh tapi tadi sebenarnya dia memang melihat ada mobil yang sedang berhenti. Tentu saja ia tidak pernah berpikir mobil itu akan dengan sengaja menabrak dirinya.


Tangannya terangkat memijit pelan kepalanya yang terasa semakin pening. Entah kenapa juga kepalanya akhir-akhir ini sering terasa sakit. Nada akhirnya memutuskan menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.


***


“Nad...hey Nada” panggil Putri dengan melambaikan tangannya di depan wajah Nada membuat gadis itu tersentak kaget.


Ia menatap satu persatu temannya yang menatapnya aneh, terlebih lagi tatapan Arkan yang terlihat khawatir.


“Lo gak pa pa kan Nad?” tanya Emma dengan cemas.


Nada menggeleng, “Emang aku kenapa?” tanya Nada balik.


“Lo bengong aja dari tadi kaya orang kesambet tau” sahut Putri sesekali bergidik memikirkan kalau Nada kesambet penunggu sekolah kan berabe.


“Enak aja enggak lah ya kali” ucap Nada sebal.


“Lo ngeri kalo ketawa berasa kaya ketawanya sapi” ejek Kafa dengan songong dimata Putri yang mendelik memelototi Kafa.


Emma memukul Kafa dengan mata memicing menahan tawa. “Lo pernah liat sapi ketawa?”


“Tuh gue udah liat” tunjuknya pada Putri dengan terkikik.


“Ketawa aja terus” sungut Putri kesal. “Emang cuma Nada yang ngerti gue” ucapnya menatap Nada dengan terharu.


“Memangnya sapi ketawanya kaya Putri?” tanya Nada menggoda Putri yang membuat tawa Kafa semakin kencang. Dia bahkan sampai memukul Arkan disebelahnya yang membuat lelaki itu menatap sinis sepupunya.


“Lo...kok ikut-ikutan sih Nad, gue kira kita spesial ternyata tidak” ucap Putri pura-pura kecewa yang membuat tawa Nada pecah melihat muka melasnya Putri.


Di tempat mereka yang ceria dan dipenuhi canda tawa lain lagi dengan seseorang di meja yang agak jauh dari mereka yang mengepalkan tangan erat.


“Gue akan pastikan tawa Lo itu berubah jadi tangisan suatu hari nanti! Lo udah rebut milik gue!” desisnya sembari menyeringai dan tangan yang menggenggam erat sampai kukunya menancap ke telapak tangan.


***


Pulang sekolah ini Nada, Deril dan Riko akan belajar bersama lagi di perpustakaan. Nada dan Riko sudah duduk di sebuah kursi dekat jendela. Selama mereka belajar bersama ini Nada memang sudah lumayan kenal dengan Riko, sebelumnya dia hanya tau lelaki itu teman sekelas Deril yang menjabat sebagai ketua PA di sekolahnya.


Lelaki itu selain pintar dia juga menyukai aktivitas di alam yang berbeda dari orang kebanyakan. Nada tau setelah kelar olimpiade Riko bakal pergi ke gunung bersama anak pecinta alam lainnya.


“Na ini gimana ngerjainnya sih?” tanyanya dengan menggaruk kepalanya bingung. Nada melirik buku yang diberikan Riko dan membacanya.


“Oh ini gini ngerjainnya” ucapnya menjelaskan pada Riko dengan teliti. Mereka sama-sama fokus dimana Riko fokus mendengarkan sembari memahami penjelasan Nada.


“Eh Na Lo! Hidung Lo berdarah!” seru Riko panik melihat darah menetes dari hidung Nada.


Nada mengangkat tangannya mengusap hidungnya yang terus mengalir darah segar.


“Ini usap dulu darah lo” sekotak tisu diberikan oleh Riko pada Nada yang di sambutnya.


“Aku ke toilet dulu” Nada langsung keluar dari perpustakaan tanpa menghiraukan Riko yang hendak mencegahnya. Ia lekas-lekas berjalan sembari memegang hidungnya dengan tisu.


Sampai di toilet dia menuju wastafel dan membasuh hidungnya yang keluar darah dengan air. Terlihat cukup banyak memang kali ini yang keluar, mungkin karena dia terlalu lelah. Ia mematikan kran air karena darahnya sudah berhenti keluar.


Sebenarnya kejadian ini bukan kali pertama, ia kalo terlalu lelah sering mimisan sepeti ini. Tapi akhir-akhir ini memang agak sering, ia merasa karena belajarnya terlalu di forsir banget.


Setelah merasa baikkan, ia keluar dari toilet dan kembali ke perpustakaan. Ia yakin Bu Yeni dan Deril sudah datang ke perpustakaan.


“Lo gak papa Na?” tanya Riko ketika Nada sudah duduk di kursinya.


“Gak papa” sahut Nada dengan mengulas senyum tipis.


Deril yang mendengar itu mengerutkan keningnya, “Memangnya Nada kenapa?” tanyanya


“Gak ada kok, oh iya hari ini kita technical meeting kan?” Nada mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan hal lain.


Deril mengangguk, “Iya setelah menyelesaikan materi terakhir baru kemudian kita mengulangnya saja” jelas Deril.


“Seperti yang kalian tau kita akan mengikuti olimpiade yang diselenggarakan di Bandung jadi kita akan berangkat sehari sebelum dimulai, yaitu besok lusa” beritahu Bu Yeni.


Nada, Deril dan Riko mengangguk mengerti perkataan Bu Yeni.


“Jadi ibu harap kalian bisa berusaha dengan maksimal di olimpiade ini” ucap Bu Yeni penuh harap pada anak didiknya.


“Kami pasti akan membanggakan sekolah bu” jawab Deril dengan yakin.


“Ya sudah ayo kita teruskan materinya” ucap Bu Yeni sembari membuka bukunya dan mulai menjelaskan.